Satu Rindu Sehari

10 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

Judul oleh Ratna Rara (@_raraa)

Birkin di atas meja penuh kertas catatan, Louboutin di rak sepatu yang dipenuhi sandal jepit serta sneaker buluk, dan mantel Burberry di tengah-tengah jas lab yang tergantung. Awalnya aneh melihat semua itu di sana, namun kurasa setelah beberapa bulan berlalu aku sudah terbiasa. Saat pertama aku menemukan Birkin itu di atas mejaku, aku sempat terpaku begitu lama. Menyentuh pun aku tidak berani, selain karena gajiku sendiri selama setahun sebagai asisten kepala Laboratorium ini juga sama sekali tak memadai untuk membeli Birkin, juga karena ini laboratorium, jangan tanya betapa banyak racun bergentayangan di sini.

Saat aku tahu pemilik Birkin tersebut, aku agak ragu apakah dia memang benar-benar ingin datang ke lab ini. Sebagai salah satu laboratorium forensik, tempat ini jarang dikunjungi perempuan cantik seperti dia. Bukan berarti penyidik, polisi, atau dokter tidak ada yang memiliki kecantikan seperti dia. Hanya saja, sebagai perempuan pun, aku mengakui jika perempuan di depanku ini memang menawan. Tidak, aku tidak naksir, aku masih ‘lurus’ dan benar-benar tertarik dengan makhluk hidup yang berjalan dengan dua kaki serta memiliki jakun, dan intelegensia.

Setiap hari berkutat di laboratorium, berserta literatur medis serta biologi, tidak membuatku kurang mencari tentang apa yang tren di antara perempuan-perempuan di luar laboratorium. Maka, aku bisa tahu mengapa Birkin, Louboutin, dan Burberry tidak terjangkau gajiku. Ternyata perempuan manis itu tidak salah tempat sebab yang mengajaknya datang ke tempat ini adalah Abimantra, kepala laboratoriumku. Usianya masih muda, tidak jauh denganku, tapi jangan tanya betapa encer otaknya dan betapa handalnya dia dalam melakukan prosedur tes DNA.

Abi, begitu aku menyapanya tanpa embel-embel ‘Pak’ seperti yang seharusnya kulakukan, nyaris tidak pernah membawa orang lain ke laboratorium ini, perempuan ini yang pertama, Amber namanya. Dengan frekuensi kunjungan lumayan sering, akhirnya aku pun menjalin pertemanan dengan Amber. Sebab Abi sering tidak mau diganggu saat bekerja, maka Amber pun ganti merecokiku. Bertanya ini itu tentang apa yang sedang kulakukan, alat apa yang kupakai, bagaimana hasilnya, dan sebagainya. Kalau aku mulai terganggu, aku tidak akan menjawab satu pun pertanyaan darinya, lalu Amber akan menyingkir dan sibuk bersama iPad atau buku sketsanya.

Kupikir ketika pertama kali aku melakukan hal itu kepadanya dia akan marah. Ya, seperti banyak sifat-sifat orang-orang high class yang begitu, kan? Tapi ternyata tidak, malah dia yang meminta maaf duluan telah mengangguku. Sejak itu aku dan Amber berteman baik. Amber bahkan sering datang mengantarkan makan siang atau makan malam saat aku dan Abi harus lembur.

“Kalian kakak adik?” Itu pertanyaan yang kuluncurkan kepada mereka ketika kali pertama kami santap siang bersama.

Abi dan Amber tertawa.

“Menurutmu?” sahut Abi yang tersenyum kepada Amber. Kuakui Abimantra yang biasanya pendiam dan galak kepada orang di sekitarnya, mengalami perubahan signifikan setelah bertemu Amber. Pelan-pelan dia mulai lebih ramah dan menghargai orang lain, bahkan dalam selera berpakaiannya pun terdongkrak jauh sejak ada Amber. Tentu saja, Amber kan seorang perancang dan pemilik butik.

Kuamati mereka berdua sambil menyuap makan siangku. Mata mereka berdua benar-benar serupa, warna dan bentuk kelopaknya sama sekali mirip. Lainnya cukup berbeda, meski jika mereka sama-sama tersenyum, sekali lagi mereka akan kelihatan punya senyum yang sama. Kalau mereka bukan kakak dan adik, maka keduanya pasti berjodoh karena mirip. Banyak orang bilang kalau jodoh maka paras wajah si pasangan tersebut punya kesamaan.

“Kalau dia adikku, kamu pasti sudah kenal sejak dulu, Adeline,” ujar Abi lagi. Lalu Amber menyambar tangan Abi dan mereka saling menautkan jari-jemari hingga makan siang selesai. Aku hanya menanggapinya dengan ‘oooo’ panjang.

“Jadi bagaimana kalian bisa bertemu? Kalian berdua tuh kayak langit dan bumi. Kayak penghuni surga dan penghuni neraka,” kataku sambil melirik Abi saat mengucapkan kata ‘neraka’ dengan tertawa meledek.

“Kami ketemu di parkiran mall. Aku nggak sengaja ngejatuhin kunciku. Eh, dia ngejer-ngejer aku, kupikir dia orang jahat. Aku ikutan lari dong, Del. Waktu dia ngacung-acungngin kunciku ya aku baru sadar kalau kunci mobilku memang jatuh,” kisah Amber dengan senyum manis. “Setelah itu ya… gitu aja. Ketika aku ngeliat ke mata dia. Ada yang beda. Ada perasaan yang… ya gitulah.” Amber tersipu-sipu.

“Mungkin semacam cinta pada pandangan pertama, ya?” sahutku.

“Ya, betul itu.” Mereka berdua menjawab berbarengan.

“Terus apa kuncinya biar mesra terus? Kayaknya cinta pada pandangan pertama itu kan nggak awet?” tanyaku lagi seolah-olah sedang melakukan wawancara. Toh, aku senang-senang saja dengan obrolan ini karena mereka berdua terlihat sangat senang menjawab pertanyaanku. Meski cinta itu kasat mata, aku bisa melihat jelas pada mereka berdua, pasangan yang sedang dimabuk cinta.

“Kami selalu berbagi satu rindu sehari, Adeline,” jawab Amber seraya menatap Abi penuh sayang.

**

Prolematika pasangan tersebut dimulai menjelang ulang tahun ke-24 Amber. Abimantra kelihatan benar kelimpungan untuk mencari hadiah yang pas untuk Amber. Kebetulan Amber agak sibuk dengan butiknya sehingga tidak sering datang ke laboratorium.

“Tapi, Amber udah punya segalanya, Del,” protes Abi saat aku mengajukan usul lain sebagai hadiah untuk Amber.

“Yeee… nggak mungkin juga kamu beliin dia Birkin lagi atau Louboutin lagi, kan? Bisa nggak makan kamu berbulan-bulan,” kataku.

Abi mengacak rambutnya, lalu mengusap-usap wajahnya. “Gimana dong?”

“Gimana apanya? Tiap hari aku ikut kamu lembur mikirin itu….”

Terdengar dengus napas kesal Abi.

“Eh, bagaimana kalau DNA artwork aja!” cetusku tiba-tiba.

Wajah Abi mendadak kembali bersemangat mendengar ideku.

“DNA-ku atau DNA-nya?” gumamnya.

“DNA dia dong, masa DNA-mu sih.”

“Biar dia inget aku terus! DNA kami berdua aja deh. Biar adil!” serunya tanpa bisa lagi dibantah.

Lewat sebuah website yang menyediakan usaha pengcetakan DNA menjadi artwork, Abi langsung memesan DNA kit yang akan digunakan untuk mencetak DNA menjadi artwork. Setelah DNA kit itu datang, maka kedatangan Amber yang berikutnya digunakan untuk mencuri DNA-nya. Dan itu sama sekali bukanlah pekerjaan yang sulit, karena Amber sangat suka mengobrol, seraya membicarakan keluarganya aku dengan mudah mendapatkan kesempatan itu.

Dari obrolan itu, selain DNA, aku juga berhasil tahu jika Amber bukanlah anak kandung dari keluarganya. Orang tuanya tidak bisa memiliki anak sehingga mengangkat Amber dari salah satu panti asuhan. Aku memuji orang tua Amber yang begitu baik dan selalu menganggapnya seperti anak sendiri (itu menurut cerita yang kudapat dari Amber sih). Entah mengapa cerita Amber itu mengingatkanku pada kisah Abi yang dulunya juga tinggal di panti asuhan. Mungkin karena itulah mereka berdua mudah dekat. Kalau aku berpikir lebih dramatis, maka aku akan membayangkan mereka berdua adalah teman kecil sepanti asuhan yang saling jatuh cinta. Setelah sekian lama berpisah akhirnya mereka bertemu lagi dan jatuh cinta lagi. Duh, betapa manisnya….

“Kamu nggak mau mengetesnya sendiri? Ngeliat sendiri?” tanyaku ketika membereskan DNA kit yang sudah berisi DNA Abi dan Amber untuk dikirim kembali.

“Mungkin nanti,” jawab Abi yang masih sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk elektroforesis.

“Aku sudah simpan untukmu di lemari pendingin, kalau kamu mau ya.”

**

Beberapa hari sebelum hari ulang tahun Amber, artwork itu akhirnya datang. Aku memohon kepada Abi agar bisa melihatnya, namun Abi dengan tegas menolak membukanya dan malah menyimpannya ke dalam ruangannya. Minggu yang sibuk itu kemudian membuatku lupa tentang itu. Di hari ulang tahun Amber aku terpaksa pulang lebih cepat karena Amber ingin merayakannya berdua dengan Abi.

Padahal aku masih punya pekerjaan, namun malah Abi yang memintaku menyingkir dari laboratorium. Meski aku percaya, Abi tidak akan membuat laboratorium mengalami kerusakan atau kontaminan, tapi tetap saja. Merayakan pesta ulang tahun di rumah akan jelas lebih menyenangkan. Sampai di parkiran aku baru ingat kalau aku meninggalkan kunci mobilku di dalam ruang laboratorium. Aku sudah kembali dan sampai di depan pintu laboratorium lagi saat aku mendengar isak tangis dari dalam. Tak ada suara lain, hanya sedu sedan Amber. Hal tersebut mengurungkan niatku untuk masuk. Aku pun memilih pergi dan menginapkan mobilku di sini malam ini.

Esok harinya, pagi-pagi sekali aku datang untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Aku melihat bagian depan laboratorium yang agak berantakan. Tak ada tanda-tanda sisa-sisa pesta, hanya kertas-kertas dan hasil esktrasi DNA bagian dari berkas-berkas pekerjaan Abi yang belum sempat dibereskan. Aku duduk dan merapikan dokumen tersebut. Lama aku sempat tertegun saat melihat salah satu hasil pemeriksaan di salah satu lembarnya. Aku tahu mengapa Amber menangis semalam.

Lebih dramatis dibanding yang aku bayangkan.

Satu rindu sehari yang mereka punya ternyata memiliki asal yang sama.

                                                                          **

Amber masih selalu datang ke laboratorium seperti biasa. Abi dengan penuh cinta menyambutnya. Tak ada yang berubah dari hubungan mereka. Sementara aku menyimpan rapat-rapat apa yang kutahu. Aku masih mengingat jelas hasil pemeriksaan DNA yang kulihat malam itu. Ada dua hasil ekstrasi DNA, lebih tepatnya DNA mitokondria untuk pemeriksaan keturunan maternal. Satu dilabeli Ab dan lainnya berlabel Am. Dari situ juga aku tahu mengapa Abi tidak mau membuka hasil DNA artwork itu di depanku, karena aku pasti akan langsung tahu, jika mereka berasal dari satu cinta yang sama.

DNA mereka serupa. Akan tetapi mereka memilih untuk tetap saling jatuh cinta.

Bogor, 9-10-12

Sumber gambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Satu Rindu Sehari at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: