Setelah Dua Musim Berlalu

11 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

Judul oleh Netty Virgiantini

2002. Musim semi pertamaku di New York dan aku masih jatuh cinta.

Dua musim berlalu dan di seberang apartemen itu aku kembali berdiri. Aku tidak menghitung sudah berapa lama aku berada di sana. Sebab ini bukan yang pertama aku lakukan. Pun aku terlalu malas untuk mengingat-ingat sebanyak apa aku pernah mematung di depan toko buku kecil itu. Namun bibi penjaga toko buku itu jelas tahu jika aku sedang menunggu seseorang keluar dari apartemen di seberang.

Aku membenahi topiku, menurunkannya sedikit ketika pintu apartemen di seberang terbuka. Berpura-pura aku memasang headset iPod-ku, sementara tanganku yang lain memainkan harmonika merah pemberian ayahku. Ingat, aku pernah berjanji memainkan When I Fall in Love untukmu. Aku mengenang selalu ucapanku itu, menunggu kamu menagihnya. Namun aku menyadari mungkin aku yang harus datang sendiri untuk memenuhi janjiku itu.

Pintu apartemen itu terbuka sesaat kemudian. Kutundukkan kepalaku agar tidak terlihat oleh siapa pun yang keluar dari sana. Mungkin kamu tidak pernah memperhatikan jika aku mengenal tetangga-tetangga yang tinggal satu lantai denganmu. Pegawai IT di ujung lorong yang tinggal dengan pacarnya yang selalu dengan senang hati memberi aku tips menggunakan iBook-ku; arsitek perempuan muda enerjik yang selalu menyarankan aku untuk masuk Cornell University, seperti dia; sampai bibi penjaga toko depan yang apartemennya berseberangan dengan apartemenmu. Maka, kamu pun tidak akan tahu aku berdiri di sini, menunggumu, dan aku sendiri tidak ingin kamu tahu.

**

2002. Musim dingin pertamaku di New York dan aku patah hati.

Di seberang apartemen itu aku berdiri. Terpaan angin dan salju membuatku menggigil. Sayangnya semua itu tidak berhasil mematahkan niatku untuk beranjak dari situ. Kutarik topi wolku sampai menutupi telingaku dan kueratkan syalku, namun terjangan dingin itu sama sekali tidak berkurang. Kumasukkan tanganku ke kantong mantel. Kugerakkan kakiku yang kupakaikan sepasang sepatu Nike hadiah darimu dengan menendang-nendang salju yang menumpuk.

Tanganku menyentuh dua benda yang ada di dalam kantong mantelku, iPod dan harmonika yang selalu kubawa ke manapun aku pergi. Hanya dua benda tersebut yang selalu menemaniku setelah kamu membiarkan aku pergi. Memang kelihatan menyedihkan mengatakan itu semua, namun kupikir aku memang laki-laki, tapi aku punya perasaan. Mungkin memang aku tidak pantas untukmu, seperti yang kamu selalu bilang jika aku hanyalah anak kecil.

“Berapa umurmu?”

“17 tahun.”

Matamu membulat dan kamu tertawa. “Sudah kukira. Bagaimana bisa kamu sampai di New York sendirian?”

“Ayahku. Ayahku membawaku ke sini.”

“Di mana ayahmu?”

“Di rumahnya. New Jersey.”

“Kenapa kamu nggak di sana?”

“Aku nggak suka lihat ayahku dengan perempuan itu.”

Tatapanmu berubah.

“Ibu tiriku,” jawabku pelan.

Tanganmu menggenggam milikku. “Aku nggak yakin apakah keputusan ini bijaksana. Tapi kupikir kamu boleh tinggal di sini.”

Aku menatapmu tidak percaya.

“Untuk sementara saja.”

Pintu apartemen itu terbuka dan sosokmu muncul dari balik pintu. Selalu stylish seperti biasanya dengan mantel dan sepatu boot favoritmu. Benar-benar mencerminkan mahasiswa Parsons. Kamu menjinjing pakaian-pakaian hasil rancanganmu yang hari ini entah mau kamu presentasikan ke mana lagi. Sepulang dari presentasi kamu selalu menceritakan bagaimana komentar entah siapa dari majalah atau butik apa, kadang penuh kritik, kadang ada pujian. Menurutku rancanganmu bagus, meskipun agak aneh. Namun aku tidak pernah berani mengatakan itu ganjil, karena tidak sekompeten juri-jurimu.

Terlihat agak kerepotan, karena biasanya ada aku yang membantu membawakannya sampai kamu masuk ke taksi. Tidak lama kemudian kamu berhasil mendapatkan taksi. Sesaat sebelum menutup pintu taksi, kamu sempat menatap ke arahku. Aku buru-buru menundukkan kepalaku, berharap kamu tidak melihatku. Tidak usah, aku tidak ingin kamu tahu aku masih menunggu di sini.

Taksi itu sudah membaur dengan kemacetan jalanan New York ketika aku menegakkan kepala lagi. Aku sudah tidak bisa mengenali taksi mana yang kautumpangi. Namun aku tidak mau pergi, aku akan masih di sini sampai kamu pulang.

“Narendra, Nak, kamu tidak ingin masuk ke dalam? Aku punya cake dan cokelat panas.”

Aku menoleh kepada bibi penjaga toko buku.

“Ayo, masuklah, di luar dingin sekali.”

Kusunggingkan senyum kecil.

“Dia tidak akan segera kembali. Aku tidak akan membiarkanmu membeku di depan tokoku, Nak,” katanya sambil menarik tanganku.

“Terima kasih, Bi.”

**

2001. Musim gugur pertamaku di New York dan pertama kali aku jatuh cinta.

Aku tidak berada di depan apartemen itu. Aku jatuh cinta pada Central Park. Di sana aku bisa duduk berjam-jam setelah mengikuti kelas persiapan masuk universitas. Aku bisa bebas menggambar dan mempelajari lagu baru dengan harmonikaku. Rasanya senang tidak ada yang menganggu kegiatanku, orang-orang di sini terlalu sibuk untuk peduli orang lain.

Orang-orang bisa saling tidak acuh, namun aku tidak. Perempuan itu, yang menduduki bagian kosong dari bangkuku berulang kali muntah. Membuatku berkali-kali menarik pensil dari atas buku sketsa dan mengamatinya. Rambutnya kusut, mukanya pucat, dan ia kelihatan tidak sehat.

“Kamu baik-baik aja?” tanyaku pelan.

Pertanyaanku tidak dijawabnya, ia hanya terus mengeluarkan isi perutnya di kotak sampah. Dia hanya menatapku sekilas dengan ekspresi datar dan kembali muntah. Aku mengeluarkan botol minumku (kebiasaan di Malang yang kubawa sampai ke sini karena aku masih belum terbiasa minum begitu saja dari keran) dan menyerahkan kepadanya.

“Terima kasih,” katanya dalam Bahasa Indonesia.

Perempuan itu memang ternyata orang Indonesia, sama sepertiku.

“Sama-sama. Habisin aja nggak apa-apa,” ujarku kepadanya.

“Terlalu banyak minum,” bilangnya tanpa kuminta, “harusnya aku pulang ke apartemenku, tapi aku lebih ingin melihat musim gugur di Central Park. Favoritku.” Lalu dia menjulurkan botol minumku yang sudah tandas isinya.

Akhirnya sisa pagi itu kuhabiskan untuk mengantarnya pulang ke apartemennya. Aku menggendongnya naik ke lantai tiga di mana apartemennya berada. Tidak tega membiarkannya sendirian, aku pun menunggunya sampai dia bangun dari tidurnya. Baru aku tahu namanya adalah Carissa.

Carissa adalah namamu. Perempuan itu adalah kamu.

**

“Rissa, ini udah terlalu malam. Aku harus pulang.”

Kamu masih sering berjengit ketika aku memanggilmu dengan nama Rissa, bukan C atau Icha, seperti yang lain.

“Kenapa pulang? Kamu bilang kamu nggak suka ada di rumahmu.”

“Iya… aku harus pulang.”

“Menginap aja di sini.”

“Ngg… nggak apa-apa?”

Kamu tertawa kecil, lalu duduk di sebelahku. “Iya, nggak apa-apa. Soalnya kamu baik dan nggak macam-macam, bocah kecil.”

Aku tersenyum kecil dan menundukkan kepalaku. Kamu selalu menganggapku anak kecil dengan perbedaan umur kita yang hanya empat tahun.  

“Nggak usah malu gitu. Anggap aja apartemen sendiri,” katamu lagi.

Jantungku berdebur saat mendengarmu berbicara begitu dekat denganku. Dentum-dentum jantungku kian mengencang saat kamu menyandarkan kepalamu di bahuku.

“Kamu tahu. Kadang-kadang aku kesepian di sini. Nggak ada temen bicara. Mereka yang datang ke sini, yah, kamu tahu kan ngapain. Senang-senang lalu pergi.”

Aku menelan ludah.

“Kamu di sini aja ya.”

 **

“Kamu tidak bosan menggambar Bethesda fountain?”

Aku menggeleng.

“Kita ke Wollman rink yuk. Skating,” ajakmu sambil menutup buku sketsamu.

“Aku nggak bisa, Sa.”

“Nanti aku pegangin. Santailah. Kamu itu kadang terlalu takut melakukan hal-hal yang nggak pernah kamu coba.”

“Nggak semua hal baru itu baik.”

“Kita nggak akan tahu sebelum mencoba, bocah,” katamu, lalu mengambil buku sketsaku.

Buku itu keburu berpindah tangan sebelum sempat kutahan. Perhatianmu langsung berpindah dari Wollman Rink ke lembar-lembar buku sketsaku.

“Gambar-gambarmu bagus,” pujimu setelah tahu jika aku sangat sering membuat sketsa wajahmu. “Kamu nggak pernah bilang suka menggambar sketsa wajah orang. Soalnya selama ini aku tahunya kamu gambar bangunan dan lanskap.”

Aku hanya nyengir.

“Kapan-kapan gambarin aku kayak si Rose di Titanic ya?” ujarmu sambil menatapku dan menyerahkan buku itu.

Aku melongo mendengar permintaanmu. Sementara itu kamu hanya terkikik kecil.

“Ayolah. Kan udah biasa. Pasti kamu bisalah ngegambar begitu doang,” bujukmu lagi.

“Aku nggak tahu. Aku nggak pernah gambar begitu. Nanti hasilnya pasti jelek.”

Kamu mengerucutkan bibir. Tapi aku buru-buru memasukkan buku sketsaku ke dalam tas ransel hitamku. Aku tahu, kalau aku diamkan permohonanmu itu, sebentar lagi juga kamu akan lupa.

“Ayolah,” kataku sambil mengguncang tanganku dan membuat beberapa isi ranselku berhamburan keluar. Pensil-pensil, buku Delirious New York, iPod, dan harmonikaku berserakan di antara lantai yang lembap karena salju yang mencair. Buru-buru aku menyelamatkan buku Delirious New York yang selalu ada di ranselku itu. Lalu memungut pensil-pensil dan iPodku. Saat aku akan mengambil harmonikaku, kamu meraihnya lebih dulu.

“Kamu main harmonika juga?” tanyamu seraya memutar-mutar harmonika itu di tanganmu.

“Nggak lagi,” kataku seraya mencoba merebut harmonika itu.

“Aku mau balikin. Tapi, kamu harus janji dulu.”

“Janji apa?”

“Mainin buat aku.”

“Aku nggak bisa,” tolakku.

“Kamu bohong, Narendra.”

“Aku ingat ayah dan ibuku berpisah kalau aku mainin itu.”

“Terus kenapa kamu masih simpan?”

“Itu pemberian ayah.”

“Kamu punya aku, bocah,” katamu kemudian dan memberikan harmonika itu kepadaku. Tentang ayah dan ibuku, kamu pasti sudah hafal ceritaku tentang mereka. Bagaimana mereka berpisah, bagaimana ibuku meninggal, dan bagaimana aku bertengkar dengan ayahku beberapa minggu lalu. Aku tidak punya siapa-siapa di New York.

“Aku tahu. Terima kasih, Sa.”

Suatu malam di musim dingin itu aku pulang. Aku dan kamu sudah tiga bulan tinggal bersama. Tentu saja aku sangat senang sekali. Padahal, di satu pagi di musim gugur setelah malam pertama kamu membolehkah aku menginap di apartemenmu itu, saat aku ada di ranjangmu karena bersenang-senang malamnya, kupikir kamu akan mengusirku. Tapi kamu tidak melakukannya, kamu tidak mengatakan apapun. Hanya seulas senyum yang kamu sunggingkan untukku ketika pertama kali membuka matamu. Kuanggap itu sebagai persetujuan jika aku boleh bersamamu.

Sesederhana itu saja aku jatuh cinta.

Malam itu, saat aku membuka pintu alangkah terkejutnya aku saat melihatmu bermesraan di sofa. Aku hanya diam beberapa saat, melihat laki-laki itu menciumimu penuh nafsu. Kamu tidak menolak, kamu membalas perlakuan laki-laki itu. Sampai pintu di belakangku menutup dengan sendirinya barulah kamu sadar akan kehadiranku. Pada saat itu kamu hanya diam dan menatapku. Aku mundur dan membuka pintu lalu pergi.

Sesederhana itu saja aku patah hati.

 **

 2002. Musim semi pertamaku di New York. Masih di hari yang sama.

“Narendra, Nak, ayo temani bibimu ini minum teh dan makan cookies.”

Kuikuti perempuan yang sebenarnya lebih pantas kupanggil sebagai nenek itu duduk di belakang konter. Aroma buku-buku baru bercampur buku-buku tua mengisi ruangan toko yang tidak besar itu. Semenjak pergi dari apartemenmu, aku sering berada di sini, membantu bibi menjaga dan membereskan koleksi buku-bukunya.

Selain Central Park dan apartemenmu, mungkin tempat ini juga akan aku rindukan. Kusesap teh bikinan bibi yang rasanya selalu enak ini. Mataku masih berulang kali melirik ke arah pintu apartemenmu. Namun pintu itu tak kunjung terbuka lagi. Aku melirik jam dinding, ternyata hari sudah semakin sore.

“Aku mau pulang, Bi.”

“Carissa belum pulang, Narendra. Kamu boleh menunggunya di sini sampai toko ini tutup.”

“Bukan, Bi. Aku mau pulang ke Indonesia.”

Bibi Rosie terdiam dan menatapku tak percaya.

“Bagaimana dengan Cornell-mu? Aku sudah menyisihkan buku-buku arsitektur lama yang kupunya untukmu, Narendra. Dan Jackie, pasti kecewa kamu batal masuk Cornell, dia bilang kamu sangat berbakat,” ujar bibi dengan nada membujuk.

“Ayah meninggal sebulan lalu, Bi,” potongku.

Bibi Rosie mengelus bahuku penuh kasih sayang.

“Aku pikir aku mau pulang saja daripada aku harus tinggal dengan ibu tiriku. Dia tidak suka padaku.”

Kami berdua sama-sama terdiam. Hanya suara klakson dan deru kendaraan yang lewat di jalan raya yang mengisi ruangan itu. Aku buru-buru menghabiskan teh dalam cangkirku.

“Kapan kamu pulang, Nak?”

“Sore ini.”

“Cepat sekali. Kamu tega pada bibimu ini, pulang dengan tiba-tiba. Kamu nggak akan menunggu Carissa untuk pamit?”

“Aku pikir nggak perlu, Bi.”

“Kamu nggak mau menitipkan sesuatu untuk dia?”

Aku teringat buku sketsaku, namun kemudian aku mengurungkan niatku. Kugelengkan kepalaku.

“Jangan bilang apa-apa padanya, Bi. Aku mau lupa dan aku ingin dia lupa. Aku harus pergi sekarang, Bi.”

Aku bangkit dari kursiku dan membiarkan bibi memelukku erat-erat. Seakan-akan sedang melepas anaknya yang akan pergi jauh. Dadaku ikut sesak saat melihatnya menghapus air mata.

“Baik-baik di sana ya, Nak. Kirimi aku surat dan kartu pos,” katanya terisak sambil mencium kedua pipiku.

Bibi mengantarku sampai tepi jalan dan menyetopkan taksi. Untuk terakhir kali aku mengamati benar-benar apartemen itu. Mencoba mencari sosokmu di balik jendelamu. Namun tak ada bayangan apapun. Aku melambai kepada bibi Rosie yang kini sedang menangis. Saat taksi itu mulai berjalan, aku melihat sosokmu keluar dari balik pintu apartemen. Aku menatapmu dari balik kaca taksi dan aku melihatmu melakukan hal yang sama—memandang taksiku.

Semua kenangan jatuh cinta dua musim bersamamu kembali hadir. Akan tetapi, aku harus tetap pergi.

**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Setelah Dua Musim Berlalu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: