Danyang

14 Juli 2013 § 4 Komentar

Cerpen finalis event #ProyekMenulis Kejutan Sebelum Ramadhan @nulisbuku. Dimuat dalam buku antologi “Kejutan Terbaik Sebelum Ramadhan”.

**

Apakah dia danyang?

**

Benjamin menempati salah satu meja restoran itu. Letak restoran di atas bukit membuatnya bisa melihat jauh ke depan. Pada Borobudur yang kakinya masih berselimut kabut. Ia terbiasa sendiri sejak beberapa tahun lalu. Hitungannya teramat jelas dalam benaknya, delapan tahun. Di momen itulah Benjamin menemukannya—sosok yang membuatnya tak pernah alpa akan hitungan tahun yang ia miliki.

Seseorang yang seharusnya sudah mati.

Sebelum sosok itu beranjak pergi, Benjamin sudah menghampirinya. Nama itu pernah begitu akrab, namun seiring waktu lenyap seperti keberadaan pemiliknya. Nyatanya, nama itu masih begitu mudah terucap dari bibir Benjamin.

“Jayton?”

**

Benjamin dan Jayton berjalan cepat menuju masjid. Ayah dan kakek sudah berangkat lebih dulu, ketika mereka berdua mengeluh kekenyangan sehabis berbuka. Suara orang mengaji terdengar, namun tidak bisa mengusir kengerian di benaknya. Ia tidak suka gelap, tetapi itulah yang Benjamin temui sepanjang jalan. Ada Jayton di depannya, yang tak pernah gamang akan apapun. Meski begitu, tetap saja tidak bisa mengusir bayangan Benjamin akan cerita nenek tentang danyang—makhluk halus—di balik tanaman pisang.

Benjamin bergidik, langkahnya makin cepat. Pada saat yang sama mendadak angin berembus. Gemerisik daun menyadarkan Benjamin kalau baru saja ia lewat serumpun tanaman pisang. Ia menelan ludah, kakinya nyaris selip dan nyaris membuatnya jatuh. Ia pun mendapati kalau Jayton tidak ada di sekitarnya.

“Jayton?”

**

Belum genap tiga hari Ayah wafat, Benjamin memutuskan untuk kembali bekerja. Ruangan CEO yang dulu milik ayah, sekarang menjadi kepunyaannya. Sama sekali tidak ia sangka akan secepat ini menempati kursi CEO. Benjamin merasa kecil di sana, tetapi ia tahu inilah tempatnya. Banyak hal besar yang bisa ia ciptakan. Berbagai rencana sudah tersusun rapi di kepalanya. Maka, sudah seharusnya kursi itu menjadi miliknya.

Setelah beberapa tahun Benjamin mendapatkan kabar terakhir tentang Jayton dari ayah, sekarang Benjamin mendapatkan salinan surat keterangan kematian satu-satunya saudara yang ia miliki. Jayton Arka Danubrata, meninggal akibat organ failure dikarenakan kanker yang diderita. Sama seperti mama.

Tak ada lagi kenangan akan Jayton atau mama mampir kepada Benjamin saat pengacara mulai menjelaskan kepemilikan saham Danubrata Grup. Ayah mewasiatkan membagi saham tersebut untuk kedua anaknya. Ketiadaan Jayton, membuat seluruh saham ayah jatuh ke tangan Benjamin. Ia akan meneruskan dan membesarkan perusahaan itu seorang diri. Sejak dulu, ia merasa pantas menduduki jabatan CEO dibanding Jayton yang berandalan dan suka berbohong.

**

“Pembohong!”

Suara ayah menggelegar di ruang tengah dini hari itu. Benjamin duduk dengan kepala tertunduk, tak punya nyali sedikit pun menatap ayah. Seluruh tubuhnya masih gemetaran sejak insiden yang terjadi di pesta tadi.

“Saya hanya membela diri.”

Nada bicara Jayton seolah sama sekali tidak tersentuh kemurkaan ayah. Benjamin tidak punya keyakinan untuk bisa bicara setegas dan sejelas itu saat ini. Bahkan mengeluarkan suara pun rasanya tidak memungkinkan baginya.

“Jangan berbohong!”

Benjamin memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang. Kalau saja mama masih ada, ayah mungkin tidak akan semarah ini. Sumber keberangan ayah karena remaja yang Jayton pukul adalah anak dari pejabat berkuasa yang banyak memberi bantuan pada perusahaan.

“Kamu juga!”

Bentakan ayah mengagetkan Benjamin. Ia nyaris terlonjak di kursi. Telinganya terpasang baik-baik, siap menerima dampratan ayah.

“Benjamin nggak salah. Ini semua kesalahan saya.”

“Jangan membela adikmu!”

**

“Bukan salah Benjamin, Ma.”

Benjamin bungkam, ayah pasti mencari-cari keberadaan mereka di masjid. Tetapi, ia tidak mau datang sendiri ke masjid tanpa Jayton. Terlebih dengan keadaan Jayton yang seperti sekarang. Kalau ia yang ada di posisi Jayton sekarang, mungkin tangis kesakitan sudah tidak bisa ditahannya. Sementara, di sisinya, Jayton sama sekali tidak mengeluh nyeri atas luka yang dideritanya.

Benjamin memperhatikan mama membersihkan kepala Jayton. Namun darah tidak berhenti mengucur dari pelipis. Baju koko putih pemberian nenek penuh bercak di bagian depan.

“Tadi Jay lari ninggalin Ben. Jay kesandung batu dan jatuh, Ma,” ujar Jayton meringis kesakitan. Wajahnya tampak pucat di bawah sinar lampu neon.

“Lain kali kamu hati-hati ya, Sayang,” ujar Mama, khawatir, “Ben, kamu juga jagain kakakmu.”

**

Pesan mama di Ramadhan terakhir yang mereka lalui bersama, gagal Benjamin tunaikan. Beberapa bulan setelah itu, mama meninggal karena kanker. Benjamin tumbuh dewasa bersama Jayton, jarak umur mereka yang hanya setahun lebih membuat keduanya begitu dekat, bahkan sering dianggap sebagai anak kembar.

Setelah kejadian pemukulan itu, ia dikirim untuk kuliah di Boston. Selama itu ia tidka pernah mendengar kabar tentang Jayton. Ayah selalu mengalihkan pembicaraan ketika Benjamin menghubungi dan menanyakan tentang kakaknya. Setelah beberapa tahun, Benjamin kembali lagi ke Jakarta. Satu orang yang paling ingin ditemuinya adalah Jayton. Ramadhan kali ini, ia bisa melewatinya bersama ayah dan Jayton. Ayah menyusul Benjamin di bandara sendirian.

“Ayah, di mana Jay sekarang?”

“Jayton pergi dan tak ada kabarnya. Mungkin sudah meninggal,” ucap ayah tak peduli.

**

“Jayton?”

Pria itu menoleh. Ekspresi wajahnya keras dan tatapan matanya tajam. Tubuh tegapnya terbalut kaus putih dilapisi jaket kulit hitam. Semua tampak begitu berbeda sekaligus familiar bagi Benjamin. Ia tidak bisa begitu saja memastikan kalau memang benar itu Jayton.

“Anda salah orang,” katanya, berlalu dari Benjamin.

“Tunggu,” tahan Benjamin. Cara pria itu mengucapkan kata ‘salah’ membuatnya kian yakin.

Langkah pria itu terhenti di tepi teras restoran. Cahaya matahari menerangi paras tegasnya. “Ada apa lagi?”

Pandangan menusuk yang Benjamin dapatkan dari pria itu—tak pernah dilupakannya.

Malam itu, delapan tahun lalu, polisi datang dan menggelandang Jayton dari rumah. Penganiayaan, begitu ujar mereka dengan surat penangkapan resmi. Tak ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Ia hanya duduk kaku bagai patung, menatap kakaknya dibawa pergi. Tatapan Jayton malam itu sama seperti yang barusan Benjamin dapatkan.

Peristiwa di pesta itu terekam jelas dalam ingatannya. Jayton memukul anak lelaki itu karena mengerjai Benjamin. Malam itu, Benjamin berusaha mengerti posisi ayah dan Jayton sekaligus, hasilnya, ia hanya bisa bungkam.

Seharusnya ia berani bicara.

**

“Jayton?”

Suara tawa terdengar dari arah tanaman pisang. Benjamin menggigil. Ia memberanikan diri menoleh. Bayangan putih muncul perlahan dari balik pelepah. Angin berembus makin keras. Ia terus mencari Jayton, tetapi tak ada di mana pun. Sosok putih itu kian jelas.

“Apa dia danyang?”

Benjamin membungkuk, mengambil sebuah batu yang agak besar. Katanya saat Ramadhan setan-setan dibelenggu. Sekali saja, Benjamin harus berani. Melawan kegentarannya, Benjamin melayangkan batu itu ke arah si bayangan.

Tawa mistis yang dibuat-buat itu terhenti, berganti suara mengaduh.

“Kak?” panggil Benjamin.

“Aduh, aku bukan danyang!” omelnya.

Jayton keluar dari sesemakan seraya memegangi kepalanya. Baju koko putihnya yang kebesaran berkibar tertiup angin saat mendekat pada Benjamin. Sewaktu Jayton melepas tangan untuk menertawakan Benjamin yang ketakutan, kedua anak lelaki itu melihat darah. Malam itu keduanya batal ikut salat tarawih. Di rumah, Mama berusaha mengobati luka Jayton. Namun akhirnya memutuskan untuk membawanya ke puskesmas. Malam itu, Jayton mendapatkan tiga jahitan.

Karena jatuh tersandung.

**

“Kak….”

“Anda salah orang.”

Pria itu tersenyum dan berlalu. Benjamin melihatnya, luka di pelipis.

Dia bukan danyang.

**

§ 4 Responses to Danyang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Danyang at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: