Sebelum Pergi

14 Juli 2013 § 1 Komentar

Sepasang foto mampir ke kotak masuk surat elektronikku.

Satu merupakan fotomu dan sahabatmu. Sisanya, foto sahabatmu melambaikan tangan–perpisahan. Goodbye, seperti judul yang tertera di muka email.

Arianna yang menyampaikan surat itu kepadaku. Seperti sebuah permohonan agar aku kembali. Untuk menemuinya dengan menjadikan alasan keberadaanmu.

Empat atau lima tahun, aku tidak tahu persisnya. Aku bahkan lupa kapan berhenti menghitung.

Buat apa membilang hari-hari yang tidak kita lalui bersama lagi?

Tak ada untungnya bagiku, karena bahkan kamu juga tidak akan tahu. Kesedihan pun larut bersama waktu. Seraya aku membangun harapan baru dan menungganginya. Menjadikannya perisai ketika kenangan tentangmu hadir bertubi-tubi.

Hatiku bisa menyangkal, namun Arianna tahu betapa aku masih mencintaimu.

Empat atau lima tahun, rasanya lebih dari itu. Sejak pertama kamu menyapaku dan menyunggingkan senyum, detik itu aku jatuh kepadamu. Setelah beberapa waktu, kamu pun tahu. Tanpa banyak ragu, kita jadi satu.

Sebelas tahun, masih jelas hitungannya dalam ingatanku.

Kuarahkan pandanganku pada pesan pendek yang tertulis pada email. Tiga atau empat hari dia akan ada di sini. Dia menanyakanmu kepadaku. Dia masih mencintaimu. Aku tahu.

Kamu datang lagi ke kota ini, setelah selalu pergi dan kembali tanpa sanggup kuikuti. Aku menetap, sesekali melakukan perjalanan yang tak mungkin kamu sertai.

Lebih baik kita ambil jalan sendiri-sendiri, suatu hari, mungkin kita akan bersimpang lagi.

Itu katamu dulu.

Sekarang, tak ada sepatah kata tentang kedatanganmu. Arianna yang bilang. Maka, aku akan tetap pergi. Kalau aku cepat kembali, bisa jadi kita bisa bertemu.

Kereta sudah membawaku menjauh dari kota, saat pesan pendek darimu masuk ke ponselku.

Sebelum pergi, bisakah kita bertemu?

Aku punya pekerjaan di luar kota.

Aku di sini sampai tiga hari mendatang.

Aku nggak janji bisa menemuimu.

Baiklah. Sebelum pergi, aku harap kita bisa bertemu. Aku merindukanmu.

Kamu mau pergi ke mana?

**

Pesan itu tak terbalaskan sampai aku kembali. Atau mungkin balasanmu tertolak karena aku berada di tempat yang tak terjangkau sinyal selular dan internet berhari-hari. Keluar dari stasiun kereta, Arianna menjemputku. Dia mengatakan mencoba menghubungiku berkali-kali, begitu juga sahabatmu dalam foto waktu itu.

Arianna membujukku untuk ikut dengannya, menemuimu.

Aku ingin menolak, tapi hatiku memaksaku hingga patuh.

Sebelum pergi, aku harap kita bisa bertemu.

Arianna membawaku ke sebuah lapangan terbang. Berkali-kali ia menatap jam tangan, seakan takut terlambat. Tentu saja, kamu punya jadwal ketat yang tak bisa dihambat. Bukankah itu yang membuat kita tak lagi lekat?

Seharusnya aku tahu.

Kamu bilang, kamu akan pergi.

Aku melihat sahabatmu berdiri dengan setelan jas hitam. Bayang-bayang pesawat  menimpanya. Aku mengenali kakak, juga ibumu. Kengerian merambati benakku. Kutatap Arianna.

Tangisnya meledak.

Kecelakaan mobil. Katanya, kamu sedang mengetik pesan di ponsel ketika dari arah berlawanan sebuah truk menghajar mobil yang kamu kendarai. Kamu pergi di tempat. Pergi saat itu juga.

Aku berlari menuju peti yang akan dinaikkan ke pesawat–ke kota kelahiranmu. Kalau saja aku tahu, tiga hari yang kupunya seharga kepergianmu. Tiga hari yang seharusnya bisa kuhabiskan untuk memandangimu tersenyum terus-menerus. Aku tak pernah bosan. Kamu tak pernah lelah membagi senyummu.

Kamu membelokkan jalan kepadaku, namun aku malah berbalik menjauh. Aku melempar kesempatan untuk bersilang jalan lagi denganmu. Sekarang, kamu pergi tanpa bisa kukejar.

Aku tertunduk di petimu. Membiarkan butir-butir air mata berjatuhan. Jarak itu ilusi, kita berdua tahu. Namun karena begitu nyata, akhirnya kita tunduk padanya. Padahal, kita tahu masih sama-sama cinta.

Tubuhku terguncang. Tanganku merangkul peti yang dingin.

Aku merindukanmu.

**

“Kamu pergi ke mana?”

Pesan itu terbaca jelas dan membuat si penerima termangu. Ke mana? Mendadak si penerima lupa ke mana tujuan ia memacu mobilnya.

“Kembali. Ke sisimu.”

Tulisan itu terpampang di layar. Namun sesaat kemudian ponsel itu terlontar dari tangan karena benturan keras. Si penerima melihat moncong truk mengarah kepadanya. Suara logam berderit, menusuk tubuhnya, menghimpitnya. Ia tak bisa lari ke mana-mana. Hingga dorongan itu terhenti, ia masih bisa melihat sinar matahari siang itu.

Ia menarik napas yang rasanya begitu berat. Rasa sakit menderanya. Apa pesannya sudah terkirimkan? Wajah perempuan yang dicintainya terlintas. Sebelum pergi, ia harap bisa bertemu, melihatnya untuk terakhir kali. Tetapi, itu mustahil. Malam rasanya datang lebih cepat. Gelap meliputinya. Seperti sudah waktunya tertidur, meski ia terus mencoba mengingat. Namun, dia tak bisa lagi, ia harus berhenti. Berhenti dan pergi.

**

Bogor, 14/7/13

Habis lihat foto-foto sedih. Sudah ah…

§ One Response to Sebelum Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sebelum Pergi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: