Immortal

19 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

I am a superior being, but I am not immortal.” * – Khan


Khan Noonien Singh adalah milik Gene Roddenberry, Veronica Neary/Roberta, Sarina Kaur adalah milik Greg Cox.

Didasarkan dari novel The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Vol 1 & 2) oleh Greg Cox dan Star Trek Into Darkness – J.J. Abrams & Paramount.

Event terjadi lima tahun sebelum Star Trek Into Darkness, tahun 2254.

Ndak ngerti Star Trek? Ini bisa dinikmati non-trekkie kok.


Peraturan pertama: jangan bertanya.”

-o0o-

“Aku ingin menawarkan sesuatu.”

Pria itu menoleh dengan elegan. Gerakannya begitu anggun, sekaligus tegas. Mengingatkan kepada singa yang siaga. Tak ada ketakutan dalam sorot mata gelapnya. Seperti lautan dalam, begitulah air mukanya sekarang, tenang tanpa riak. Padahal belum lama itu tersadar dari lelap panjang.

“Keabadian.” Suara perempuan menjadi satu-satunya suara lain dalam ruangan, selain angin yang menderikkan kertas-kertas. Angin berkesiur dari luar ruangan, menghentak daun jendela hingga terbuka lebih lebar. Tangan perempuan itu mengenggam sebuah kertas dan pena. Sesaat kedua sosok beragah dan saling sengap. Helaian rambut hitam panjang bergoyang di sebelah pipi putih perempuan itu karena arus udara.

“Aku menawarkan kepadamu keabadian.”

-o0o-

1974

Sudut ruangan merupakan tempat langganan anak perempuan berambut hitam itu duduk dan membaca. Hari ini, ia berkonsentrasi pada The Divine Comedy karya Dante Alighieri yang terbuka di tangannya. Kedua tangannya menutup telinga, memblokir dengung obrolan dari anak-anak di dalam ruangan yang sama. Deret aksara memenuhi pandangan matanya, menguntai menjadi kalimat-kalimat yang meresap di otaknya.

Anak perempuan berumur empat tahun itu mampu membaca cepat dan mengerti. Namun, The Divine Comedy dianggapnya sebagai salah satu karya sastra yang harus dinikmati. Noon mungkin akan mencemoohnya karena menghabiskan waktu terlalu lama untuk sebuah buku. Setidaknya, dengan memahami maknanya, ia bisa memiliki sedikit lebih banyak yang Noon mengerti. Lalu mereka bisa berdebat, seperti biasa.

Matanya menilik kepada anak lelaki sebaya yang duduk tekun agak jauh darinya. Rambut hitamnya tersisir rapi. Seapik pakaian yang dikenakannya. Memiliki ibu seorang berkebangsaan India, tidak membuat Noon tampak mewarisi darah tersebut. Kulitnya putih pucat, kontras dengan sampul buku The Epic of Gilgamesh yang dibacanya. Seluruh perhatiannya terfokus pada lembaran kisah yang ditulis pada masa sebelum masehi.

Bibir anak perempuan itu menyunggingkan senyuman. Lalu mulai menulis kutipan yang ditemukannya di The Divine Comedy pada sebuah buku catatan. Kalau hari ini ia bisa menamatkan buku ini, besok ia sudah tahu apa yang akan dibacanya. Esok hari pula, ia bisa mengajak Noon bicara tentang The Divine Comedy. Bagi anak perempuan itu berbincang dengan Noon membuatnya nyaman. Ia tak pernah bertanya, mungkin sikap Noon itu hasil dari sifat superiornya.

L’amor che move il sole e l’altre stelle

the love that moves the sun and the other stars.”

― Dante Alighieri, The Divine Comedy

-o0o-

“Katanya seekor kucing dapat mengetahu siapa yang sebenarnya raja. Itukah alasan kamu begitu tertarik memperhatikanku?”**

Sejenak perhatian anak perempuan itu teralih dari The Epic of Gilgamesh di pangkuannya. Kalimat itu seolah dibisikkan ke telinganya. Padahal kepadanya kalimat itu dibisikkan, melainkan pada seekor kucing. Ia meraih buku catatan, tanpa sadar mencatatkan kalimat itu.

Seekor kucing hitam berada di pelukan Noon. Anak lelaki itu begitu protektif ketika satu persatu teman-temannya mendekat. Lego, puzzle, lukisan, buku, alat musik, mendadak kurang mendapat perhatian dibanding kucing itu. Kerumunan itu begitu riuh, penuh dengan antusiasme dan kegembiraan. Anak perempuan di sudut tidak tertarik untuk bangkit, ia kembali menekuni bukunya, seraya menangkap suara-suara. Kali ini rasanya, tidak perlu anak perempuan itu menutup telinga demi bisa membaca. Ekspresi menggebu Noon menyenangkan untuk dirasakan.

“Arianna, kamu tidak ingin menggendongnya?”

Anak perempuan yang dipanggil namanya mendongak. Tatapan matanya seperti orang bingung. Noon memeluk kucingnya erat-erat saat membaca perubahan roman muka Arianna. Di sisi Arianna, The Epic of Gilgamesh yang kemarin dibaca Noon terbuka lebar. Tiba-tiba Noon mengingat sesuatu—ini bukan kali pertama terjadi. Perasaan bersalah bergulir di hatinya. Noon menurunkan kucingnya ke lantai, lalu berjongkok. Sepasang mata cokelat muda itu memandangi Noon dengan khawatir.

“Arianna,” panggil Noon.

Anak perempuan itu terkesiap.

Peraturan pertama: jangan bertanya. Noon melanggarnya.

-o0o-

Pada sebilah papan di dinding, perempuan itu menempelkan dua lembar kertas berjejeran. Sebelah kiri, merupakan kopian artikel yang dipotong dari koran, terlihat sudah lama disimpan dan menguning. Sisanya, terpaksa dicetak karena di masa itu tak ada lagi yang memproduksi koran cetak. Hobinya membuat scrapbook yang dianggap kuno menolongnya dalam mendokumentasikan sesuatu.

Dua ratus enam puluh tahun berlalu sekedipan mata. Mata perempuan itu beranjak pada artikel di bagian kanan bilah papan. Bertahun 2249, mengenai penemuan S.S. Botany Bay—pesawat penjelajah kuno dari hampir tiga abad lampau. Muatan sleeper ship tersebut dibawa ke bumi untuk diteliti lebih lanjut. Menurut pihak berwajib, tak ada rekaman data mengenai  penerbangan pesawat. Juga, tak disebutkan apa ‘muatan’ dari pesawat arkais tersebut.

Perempuan itu tahu, dalam arsipnya yang lain, ia menyimpan carikan informasi mengenai pesawat yang tiba-tiba hilang dari hanggar di Area 51 pada Januari 1996. Berita menarik, tetapi sayangnya dilarang beredar di mana-mana. Warta yang ditutup-tutupi karena manusia dianggap belum dapat menerima dan mungkin bisa memicu kesenjangan sosial. Pesawat tersebut, sebuah sleeper ship yang dinamai DY-100 oleh anggota proyek—memuat sebuah teknologi terbaru. Tabung-tabung cryonic—krionik—yang menjanjikan keabadian.

Keabadian semu.

Kebetulan, pada saat yang sama, kabar lain terdengar hingga telinga perempuan itu. Benteng merah seorang tiran di Chandigarh di Kota Punjab, India telah rata dengan tanah, menewaskan seluruh penghuninya. Kedua lokasi itu, Area 51 dan Chandigarh jauh dari tempat perempuan itu tinggal dan dia tak punya campur tangan apapun. Dia hanya manusia biasa, bukan seseorang yang ditakdirkan mengubah dunia.

Sekarang, lima tahun sejak penemuan S.S. Botany Bay, tak ada lagi liputan tentang hal tersebut. Perempuan itu menunggu bahwa suatu hari mereka—para sejarahwan dan arkeolog—yang bertanggung jawab atas temuan berharga tersebut akan memamerkannya di museum. Nyatanya, itu tak pernah terjadi. Tentu saja, kargo dari kapal tersebut lebih berharga dari apapun. Perempuan itu mungkin jauh lebih tahu dibanding ahli-ahli tersebut.

Saksi mata.

Namun tak akan ada yang percaya. Perempuan itu tak acuh, sebab dia punya rencana.

-o0o-

“Siapa kamu?”

Tangan perempuan itu melayang pada pipi pria di depannya. Pria itu tak terlihat kaget dengan perlakuan yang diterimanya. Tak ada kernyit rasa sakit maupun amarah. Warna wajah itu tetap pucat, seperti seseorang yang lama tak tersentuh sinar matahari. Mereka bersemuka, masing-masing tanpa emosi tergambar di parasnya.

“Kamu melanggar peraturan pertama: jangan bertanya.”

Vokal perempuan itu dalam dan tenang. Seolah-olah, intonasi itu sudah dilatih bertahun-tahun untuk menyembunyikan afeksi. Pria itu memindai penampilan lawan bicaranya. Dia tampak seperti warga biasa—bukan prajurit, staf pemerintah, mata-mata, maupun pemberontak. Apa yang dikenakan perempuan itu begitu berbeda dengan masanya hidup dulu. Informasi yang dimilikinya sekarang, ras perempuan itu adalah mongoloid, rambut hitam panjang, tubuh sedang, dan bola mata cokelat terang.

Pandangan pria itu teralih. Dia ingin mengajukan pertanyaan lain, tetapi ada yang menganggu pikirannya sekarang. Sorot mata itu seakan pernah dikenalnya. Tatapannya menjelajahi kamar bercat putih yang minim interior. Meja besar di sudut, begitu berlawanan dengan semua yang dilihatnya—kertas-kertas bertebaran, buku-buku berantakan di sana. Dia berusaha mencari tahu di mana dan kapan saat ini. Sama sekali tak ada hal yang bisa membantunya untuk mengetahui, selain bertanya lagi.

Mereka kembali bertatap muka. Mata cokelat terang itu yang pertama mencuri perhatian si pria. Mata tak pernah bohong. Matamu tak pernah bisa menyembunyikan apapun.

“Arianna.”

Perempuan itu membisu beberapa jenak.

“Aku punya banyak nama,” jawabnya datar.

“Apa yang kamu inginkan?”

Sekali lagi sebuah tamparan diterima oleh pria itu. Meski pukulan itu cukup keras, pria itu hanya merasakan sedikit sakit. Dia kembali mengabaikan peraturan yang dibuat.

“Menyelamatkanmu.”

-o0o-

1974

Kabut biru itu tak pernah lekang dari ingatan. Rasa tubuh yang meleleh, serta hilang dan melayang masih jelas dalam memori Noon. Sekejap saja denging sirene tanda bahaya hilang dari pendengarannya. Tak ada lagi asap, tak ada teriakan gaduh, ruangan itu begitu sepi. Noon mengamati teman-teman sekelasnya yang berdiri di sekelilingnya. Ketakutan terpancar jelas dari wajah mereka, beberapa anak perempuan mulai menangis.

Logika Noon seakan tak bisa menerima. Diawali dengan melihat kucing hitamnya yang mengubah diri menjadi sosok perempuan dewasa. Tidak lama kemudian, tempat tinggal yang dikenalnya selama bertahun-tahun hancur oleh penyusup. Noon bahkan tidak tahu bagaimana kabar ibunya di sana. Suara teman-temannya memanggil nama mentor mereka yang juga tak kelihatan sosoknya.

Tahu-tahu pintu ruangan terbuka. Beberapa anak langsung mendekat kepada Noon. Dia adalah pemimpin mereka. Ibunya, Sarina Kaur, selalu mengatakan bahwa Noon dilahirkan istimewa, berbeda dengan manusia di luar tempat tinggalnya yang inferior. Dia adalah manggala.

Pandangan Noon pertama menemukan keberadaan kucing hitam yang familiar di sisi pintu. Dia terbelalak, namun tetap bersikap tenang. Kepanikannya hanya akan memancing teman-temannya bereaksi lebih buruk lagi. Diikuti sosok lain yang muncul mengiringi kucing hitam.

“Kalian sudah aman sekarang,” ujarnya, tersenyum.

Wajah perempuan itu sudah pernah mereka lihat. Noon malah berkenalan khusus dengannya.

“Dr. Veronica Neary,” sapanya tanpa ragu.

Perempuan itu menatap Noon, kembali tersenyum, lalu berpaling kepada anak-anak lainnya.

“Aku Roberta,” ia memperkenalkan diri.

Perempuan dengan banyak nama.

-o0o-

“Mengenai tawaranmu…”

“Ah ya,” perempuan itu menarik kursi mendekat. “Aku punya dua permintaan yang harus kamu penuhi. Sebagai pertukaran membangunkanmu dan keabadian. Masihkah kamu menginginkan itu? Dunia di tanganmu?”

Pandangan pria itu menajam. Tidur yang panjang tidak membuatnya lupa akan tujuan yang diembannya. Takdir yang harus dia penuhi.

“Aku lebih baik dari siapapun di dunia ini. Aku dilahirkan dengan komposisi genetika terbaik. Superior.”

Perempuan itu menyunggingkan senyum. Dia tahu jawaban itu bahkan sebelum pria itu mengatakannya. Kadang-kadang baginya dunia berjalan terlalu lambat. “Pertama, menikahlah denganku. Aku akan membangunkan keluargamu.”

Tak ada yang berubah dari ekspresi wajah pria itu.

“Kedua, untuk pertukaran dengan keabadian itu, aku akan memberitahunya nanti. Kamu harus berjanji, Noon.”

Keduanya saling pandang. Saling curiga, namun tak menampakkannya.

“Aku berjanji.”

“Dan, Noon, berhentilah merencanakan untuk melenyapkanku. Setelah semua ini selesai kamu bisa melakukannya.”

Apa yang diucap perempuan itu sama dengan yang terbersit di benak si pria. Perempuan itu memanggilnya ‘Noon’, nama kecil yang tak pernah lagi orang-orang gunakan untuk menyapanya sejak berumur 14 tahun. Ketika di depan matanya sendiri dia melihat orang-orang yang seharusnya dilindunginya tak terselamatkan. Saat keputusan untuk membuat dunia lebih baik menguasai seluruh dirinya. Dia adalah manggala—pemimpin yang tercipta untuk menjadikan dunia seperti harapannya.

“Khan. Namaku adalah Khan.”

…bersambung


* Kutipan dari The Eugenics Wars, vol II

** Kutipan dari The Eugenics Wars, vol I, chapter 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Immortal at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: