Immortal, ch. 2

20 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

“Strange are the twists of fate.*” – Khan


Khan Noonien Singh adalah milik Gene Roddenberry; Veronica Neary/Roberta Lincoln, Gary Seven adalah milik Greg Cox.

Didasarkan dari novel The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Vol 1 & 2) oleh Greg Cox dan Star Trek Into Darkness – J.J. Abrams & Paramount, serta novelisasi Star Trek Into Darkness oleh Alan Dean Foster.

Event terjadi lima tahun sebelum Star Trek Into Darkness, tahun 2254.


Peraturan kedua: jangan membantah.”

-o0o-

Sekali ini saja, biarkan aku jadi pencuri.

Tidak, mungkin dua kali kesempatan saja, perempuan itu menambahkan dalam hati. Dalam balutan seragam abu-abu di bawah langit London dengan rona serupa, dia melangkah menuju Kelvin Memorial Archive. Sisi jalanan itu penuh oleh komuter yang bergegas mengambil haluan ke tempat kerja masing-masing. Meski automaton dan presensi virtual sudah lazim sekarang, beberapa perkejaan masih membutuhkan kehadiran nyata dari stafnya. Masa depan tak sesepi yang pernah perempuan itu bayangkan.

Dia berbelok masuk ke dalam gedung yang menjadi destinasi. Rambut hitamnya terikat rapi dan bergoyang tiap kali menjejakkan kaki. Perempuan itu mengeluarkan ID dan tas tangan yang diserahkan ke petugas jaga sebelum melewati mesin pemindai. Petugas jaga tersenyum kepadanya ketika mengembalikan barang-barangnya, memberikan anggukan.

“Selamat pagi, Ms. Clarke.”

Hari ini namanya belakangnya adalah Clarke. Lyanna Clarke, seorang staf dari Starfleet.

Perempuan itu membalas dengan senyum lebih lebar dan ucapan selamat bertugas. Tempat ini sudah pernah dikunjunginya beberapa kali. Fasilitas perpustakaan dengan koleksi buku-buku tua serta arsip-arsip digital yang bisa diakses oleh publik membuatnya senang. Membaca adalah kebiasaan yang tak pernah luntur darinya. Namun, hari ini tujuannya bukanlah perpustakaan, melainkan lokasi lain di bawah gedung ini.

Dia memasuki lift bersama serombongan pekerja lain. Ketika lampu indikator lantai di bagian atas lift mulai menyala—sebuah doa terpanjat di dalam hatinya. Lorong-lorong metal mengingatkannya pada suatu malam di tahun 1974. Dia mengulang lagi doanya, lebih keras, di dalam hati.

-o0o-

1974

Untuk pertama kalinya Arianna merasa ketakutan. Dia bergerak mendesak di antara anak-anak berumur empat dan tiga tahun yang lain, untuk berada di dekat Noon. Sejak kali pertama tiba di Lot Epsilon, Noon sudah menarik perhatiannya. Anak lelaki itu tak bicara sebanyak yang lainnya, selalu terlihat bersama buku. Namun ada hal yang membuat Arianna percaya dan merasa menurut kepadanya, seperti halnya teman-teman sekelas yang lain. Noon jugalah yang pertama kali menyapanya untuk merekomendasikan buku Paradise Lost karya Milton dan The Prince karya Niccolò Machiavelli untuk dibaca.

Ruang kelas Lot Epsilon berbeda dengan tempat Arianna sebelumnya di Developmental Deviations Unit (DDU). DDU merupakan salah satu unit di Chrysalis yang digunakan untuk menampung anak-anak yang memiliki kekurangan. Tempat itu menakutkan bagi Arianna karena anak-anak di sana sering berbuat hal-hal yang tidak dia sukai. Tak lama, karena kelakuannya yang baik, Arianna dipindahkan ke Lot Epsilon.

Lokasi tempatnya berada sekarang, bukan area yang familiar. Di situ hanya ada Arianna bersama teman-teman sekelas, tanpa mentor-mentor mereka. Di mana mereka semua? Apakah Arianna dan teman-temannya tersesat di salah satu bagian Chrysalis? Tanpa sadar Arianna memegangi bagian belakang piama Noon.

“Kalian semua sudah aman sekarang.”

Suara ramah seorang perempuan yang pernah berkunjung ke Lot Epsilon beberapa hari lalu tampak di mata Arianna. Perempuan yang membawa kucing hitam ke ruang kelas. Kucing hitam itu ada di sisinya sekarang. Busana dan rambut perempuan itu agak berantakan. Di tangannya, dia mengenggam sebuah pena perak.

“Dr. Veronica Neary.”

Arianna mendengar Noon menyebut sebuah nama.

“Aku Roberta,” ujarnya. “Kalian akan berada di sini untuk sementara.”

Pandangan Arianna bertumbukan dengan Roberta. Arianna tak akan pernah melupakan nama itu. Tangannya mencengkeram erat piama Noon hingga pemiliknya menoleh. Bibir Roberta masih mengucapkan beberapa kalimat lain, tetapi tak satu pun tertangkap oleh Arianna. Dalam kepalanya Arianna melihat sesuatu—bayangan yang tidak membuatnya senang.

“Arianna,” panggil Noon. “Kamu baik-baik saja?”

Noon melanggar lagi peraturan antara mereka.

Arianna tidak menjawab, hanya menatap Noon dengan bingung dan air mata menggenang di pelupuk.

Momen itu, terakhir kalinya Arianna melihat sepasang mata gelap milik Noon.

-o0o-

2248

“John Harrison dan Jasmine Summer dengan resmi aku mengumumkan kalian sebagai suami istri.”

Di antara tepukan tangan yang sepi, John tersenyum. Tangannya menyeka helaian rambut hitam panjang yang jatuh di sisi wajah Jasmine. Mata cokelat muda di hadapannya seakan menyedot seluruh dirinya. Dia menarik tubuh perempuan itu mendekat dan mencium bibirnya. Kehangatan menyembur di dalam rongga dadanya.

Jasmine merasakan pelukan suaminya di pinggangnya mengerat. Dia membelai tulang pipi tinggi John dengan tangan yang terbalut sarung berenda. Memori tentang pertemuan pertama mereka mendadak hadir dalam ingatan Jasmine—beberapa bulan lalu di perpustakaan Kelvin Memorial Archive. Perkenalan yang terjadi nyaris seperti di dalam fiksi—saat keduanya menginginkan buku yang sama. John akhirnya mengalah dan menyerahkan buku tentang sejarah perang abad 21 itu kepada Jasmine.

Akhirnya, keduanya malah saling berbincang tentang ketertarikan mereka kepada sejarah. John menceritakan mengenai ketertarikannya tentang The Eugenics Wars yang terjadi sekitar tahun 1990-an. Mengeluhkan tentang pemerintah yang menyimpan arsip-arsip mengenai perang tersebut, bahkan tidak mudah juga menemukan informasi tentang itu di media. Dia begitu menggebu-gebu mengisahkan tentang sepak terjang Khan Noonien Singh dan menyayangkan bagaimana beliau tewas dengan begitu mengenaskan. Jasmine hanya mengangguk-angguk, menimpali dengan penuturan tentang tiran di India pemicu perang tersebut yang dia ketahui. Selanjutnya, keduanya kian dekat dan makin sering bertemu. Pada suatu hari, John menceritakan tentang proyek penelitian tentang The Eugenics Wars yang melibatkan dirinya.

“Bukan untuk membuat manusia superior baru. Tetapi, studi sejarah mengenai perang tersebut.”

“Bagaimana caranya?” tanya Jasmine, heran.

“Pihak dari Starfleet mengatakan menemukan data-data terbaru mengenai perang tersebut. Mereka—ehm, aku dihubungi langsung oleh Admiral Alexander Marcus—merekrutku sebagai salah satu ahli sejarah yang mengetahui dan peduli tentang The Eugenics Wars.”

Tidak lama setelah itu, pernikahan ini terjadi. Kenangan itu terhenti saat Jasmine menyudahi ciumannya. Senyumnya semringah dan lebar. Jasmine bersyukur John bukan seseorang yang suka menelisik sorot mata seseorang. Namun, Jasmine meyakinkan dirinya bahwa pernikahan ini terjadi karena cinta.

-o0o-

“Aku hidup selama 250 tahun lebih.”

Meja makan itu terletak di tepi jendela. Langit hitam menggantung tanpa bintang, kalah bersaing dengan lampu-lampu gedung tinggi.

“Aku tahu. Aku melihatmu dengan jelas.”

Perempuan itu menyediakan menu makan malam yang lebih istimewa dari biasanya. Dia mempelajari cara meramu makanan ini ketika masih remaja. Ayam yang dimasak dengan rempah-rempah dan yoghurt, salah satu makanan khas India. Berkali-kali dia gagal, sampai akhirnya menemukan resep yang pas dengan lidahnya. Rasa yang mengingatkannya pada tempat yang sering dirindukannya.

Hari-hari lalu perempuan itu hanya menyediakan bubur bernutrisi untuk makanan sehari-hari pria itu. Meski kemampuan tubuhnya berbeda dengan manusia biasa—beradaptasi setelah tertidur dua setengah abad lebih tidak akan mudah. Dalam dua hari ingatannya telah pulih seluruhnya. Fisiknya kembali fit selepas tiga hari. Pria itu melatihnya menggunakan gerakan-gerakan yoga, serta olahraga ringan lainnya. Waktu istirahat nyaris tiga abad tidak melunturkan kharismanya—begitu cemerlang dan bergas. Ini hari keempat, ketika pria itu menolak untuk berbaring seharian di ranjang, memaksa Arianna harus mengawasi seharian. Dan akhirnya, membuat mereka saling bicara.

Untuk kali pertama, setelah beberapa hari, perempuan itu melihat senyum di wajah pria yang kini duduk di seberangnya. Senyum yang hadir melukiskan nuansa di paras pria itu, menegaskan ketampanan memesona. Menggunakan tangan, pria itu menyobek daging ayam di piring. Pelan-pelan dia mengunyah, mencecap rasa yang awalnya ganjil, hingga kembali familier. Ingatannya mengantarkan sosok ibu—satu-satunya orang tua kandung yang pernah dimilikinya. Ketika ibu punya waktu untuknya, beliau menyuapi makanan favoritnya ini sambil menceritakan tentang DNA rekombinan serta strain antibiotic-resistant Streptococcus yang sedang diteliti di laboratorium. Dia mengenang ketika pertama kali tinggal bersama orang tua angkatnya, jauh dari teman-teman sekelasnya, mentor, serta ibunya yang meninggal dalam ledakan di Chrysalis. Baginya, India menjadi tanah kelahirannya, meski dia sama sekali tampak seperti warga lokal pada umumnya. Ibunya, Sarina Kaur, kepala proyek Chrysalis sendiri yang mendesain dirinya.

Tandoori chicken buatanmu lezat, Arianna,” puji pria itu.

Perempuan itu menengadah, tersenyum. “Terima kasih. Aku senang kamu menyukainya.”

Keduanya sama-sama membisu sejenak. Apartemen kecil itu sunyi.

“Maurent. Namaku Maurent, Noon,” ucap perempuan itu, membuyarkan senyap yang ada.

Pandangan pria itu terangkat. Sorot matanya tertuju tajam kepada perempuan itu. Selama beberapa hari bertatap muka dengan perempuan itu, akhirnya dia mengucapkan namanya. Pria itu mengira dia adalah Arianna. Namun, ternyata Maurent adalah nama yang terucap dari bibir perempuan itu.

“Berhenti memanggilku Noon, Maurent,” sahut pria itu dengan vokal bariton. Dia memberikan penekanan ketika menyebut nama kecilnya, versi singkat dari Khan Noonien Singh.

Namamu adalah John. John Harrison.

-o0o-

1994

Umur Arianna baru beranjak 24 tahun ketika seorang perempuan bernama Claudia menemuinya. Dia terburu-buru dari ruang kuliah pascasarjananya sewaktu Claudia mencegatnya. Nama Arianna terucap dari bibir perempuan asing itu.

“Aku bersyukur kamu dalam keadaan baik.”

Mata Arianna menyipit, mengamati lawan bicaranya dari atas ke bawah. Tampak terpelajar dan sesuai dengan lingkungan kampus sekarang. Arianna kira Claudia mungkin adalah salah satu staf pengajar di universitas.

“Siapa kamu?”

“Claudia. Aku sudah menyebutkan namaku tadi,” katanya, ramah.

Senyum yang tersungging di bibir perempuan itu terasa bersahabat sekaligus asing. Kedua mata Claudia tertutup oleh kacamata gelap. Tak ada yang dapat Arianna baca dari perempuan itu, bahkan pikirannya begitu senyap.

“Aku ingin kamu ikut ke mobilku,” pintanya, “aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu.”

Sekali lagi, perempuan itu tidak memberi Arianna kesempatan untuk mendapatkan jawaban. Tiada pertanyaan terlontar, hanya permintaan yang juga tak bisa Arianna tolak.

“Jadi, Noon tidak menemukanmu.”

Arianna terhenyak mendengar nama itu meluncur dari bibir Claudia.

“Aku harap kamu tidak punya keinginan untuk bergabung dengan Noon—Khan.”

Pernyataan itu disambut gelengan kepala.

“Bagus. Aku ingin minta bantuanmu,” Claudia menatap Arianna. Dia mengeluarkan sebuah pena perak dari tas tangannya. “Tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu di sini. Aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih aman.”

“Tidak…”

Claudia mengerutkan kening. Kabin mobil itu lengang untuk sesaat.

“Apa ini ada hubungannya dengan Noon?”

Pertanyaan Arianna tidak terjawab. Muncul cahaya berkilat, yang disusul kabin itu penuh dengan asap biru. Kepanikan melandanya, dia berusaha mendorong pintu mobil, tapi usahanya sia-sia. Dia menangkupkan tangan ke hidungnya. Dia tak boleh mati di sini. Dia tak ingin meninggal sekarang. Chrysalis hanya masa lalu. Dia bahkan tak punya banyak ingatan tentang itu.

“Claudia?”

Tak ada sahutan. Arianna merasa tubuhnya seakan meleleh.

-o0o-

Maurent duduk di samping John, memandang ke arah layar yang menampilkan berita malam. Tangannya mengenggam gelas berisi chai tea dingin yang disesapnya sedikit demi sedikit. Di layar, Admiral Alexander Marcus didampingi kepala Kelvin Memorial Archive sedang memberikan pernyataan tentang ‘artefak’ yang hilang atau dicuri. Warta tersebut tidak menjelaskan ‘artefak’ apa yang lenyap, tetapi menyebutkan bahwa benda obsolet tersebut berasal dari tiga abad lampau. Sekarang pihak Starfleet memindahkan artefak sisanya ke tempat yang lebih aman.

“Dia tidak berhasil membangunkanmu,” komentar Maurent satiris.

“Manusia inferior. Dia tidak akan melampaui kita,” ujar John, “aku ingin kita segera membangunkan tujuh puluh dua saudara kita yang masih tertidur dalam cryosleep.” Artikulasi bicaranya begitu tegas—lebih seperti raja yang memberi titah tanpa bisa dibantah.

“Segera. Setelah aku membuatmu abadi.”

Tahu-tahu John menyambar lengan Maurent, hingga gelas di tangannya terjatuh ke lantai. Dia mendorong Maurent ke tepi meja, satu tangannya yang lain melingkari leher perempuan itu.

“Aku tidak mempercayaimu,” katanya berdesis. Tilikanya layaknya singa hendak menerkam mangsa.

Maurent menemukan sesuatu yang tak pernah dilihatnya pada Noon, beringas pada mata John. Sudah dia kira, perjumpaan ini tak akan mudah. Namun jauh di dalam hati, Maurent tahu di balik segala yang John lakukan di masa lalu—dia masih punya hati. Di antara bayang-bayang yang muncul di kepala Maurent, pemuda itu punya harapan dan loyalitas pada keluarganya.

“Siapa yang menyuruhmu? Roberta Lincoln? Gary Seven?” tanyanya, tajam.

Maurent merasakan kekuatan besar pria itu menekannya. Lengannya begitu ngilu. Jantungnya berdebar kencang. Kengerian merambat dalam benak Maurent, menggetarkan kaki-kakinya. Maurent tak pernah menyepelekannya—pria di hadapannya adalah orang yang sudah memicu The Eugenics Wars. Ratusan ribu nyawa melayang, jutaan jiwa menjadi korban karena perang terkutuk tersebut.

“Ro-roberta sudah meninggal. Aku tidak tahu di mana Seven. Tapi ini semua murni keinginanku,” jawabnya tertahan. Serentetan memori dan bayangan merasuk dalam pikirannya. Termasuk apa-apa yang tak ingin Maurent lihat dan tahun. Dia memalingkan wajah dari John, menggigit bibirnya kencang.

“Kamu bersembunyi selama ini dari aku dan saudara-saudaramu. Kamu bersembunyi untuk keselamatanmu sendiri, sementara kami memerangi satu sama lain.”

Maurent menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia membenci perang itu. “Bukan urusanku.”

“Sekarang apa yang kamu inginkan?” John menyentak Maurent hingga terguncang.

Sesaat keduanya bertukar pandangan. Detik selanjutnya, mata Maurent mendelik, lalu terpejam rapat-rapat. John bisa merasakan tubuh itu menggigil begitu keras. Dia mengingat pertama kali anak perempuan yang datang dari DDU itu bergabung di ruang kelas Lot Epsilon. Aneh dan tak sempurna—itu yang terbersit di benaknya.

Tangan Maurent menggerapai, mencoba merentak cekikan John. “Lepaskan aku,” bisiknya lirih. Air mata meleleh di pipinya. “Mereka saudaraku. Kamu saudaraku. Aku ingin menyelamatkanmu.”

“Aku tidak membutuhkanmu.” John menyalang bagai singa garang. Berang tampak di paras dan matanya yang gelap. “Aku bisa menyelamatkan mereka seorang diri.”

Maurent berusaha merenggut udara masuk ke dalam aliran napasnya, tetapi himpitan tangan itu menguat.

“Kamu tidak bisa membunuhku, Noon.”

Sesaat kemudian, Maurent merasa tubuhnya terhempas. Kepalanya dihajar oleh benda keras yang menimbulkan rasa sakit teramat sangat. Bagi Maurent, sisanya adalah gelap.

-o0o-

Bersambung…

*Kutipan dari The Eugenics Wars vol. II


The lion cannot protect himself from traps, and the fox cannot defend himself from wolves. One must therefore be a fox to recognize traps, and a lion to frighten wolves.”

― Niccolò Machiavelli, The Prince

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Immortal, ch. 2 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: