Immortal ch. 3

21 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

Is there anything you would not do for your family?*” – Khan


Khan Noonien Singh adalah milik Gene Roddenberry; Veronica Neary/Roberta Lincoln, Gary Seven adalah milik Greg Cox.

Didasarkan dari novel The Eugenics Wars: The Rise and Fall of Khan Noonien Singh (Vol 1 & 2) oleh Greg Cox dan Star Trek Into Darkness – J.J. Abrams & Paramount, serta novelisasi Star Trek Into Darkness oleh Alan Dean Foster.

Event terjadi lima tahun sebelum Star Trek Into Darkness, tahun 2254.


Peraturan ketiga: jangan meminta.”

-o0o-

2249

“Aku akan dikirim ke Mutara Sector. Starfleet menyiapkan tim ekspedisi untuk memeriksa kondisi S.S. Botany Bay.”

John Harrison menyampaikan kabar gembira kepada Jasmine pada suatu sore selepas bekerja. Sesaat Jasmine terperangah, mengabaikan tulisan yang sedang dikerjakannya. Suaminya menyeret kursi dan duduk dekat dengannya. Ada senyum terhampar di roman mukanya.

“Kapan kamu berangkat?” tanyanya, saat merasakan John memeluk jari-jari tangannya.

“Minggu depan. Aku akan rajin berkirim pesan dari sana. Aku pasti akan merindukanmu,” jawabnya, memberikan senyum semringah. John memandang mata cokelat muda istrinya, mengingatkan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan. Mengetahui sebuah fakta mengenai Jasmine, membuatnya belajar untuk tidak melangkahi peraturan lisan yang diajukan istrinya. Pun, dirinya sendiri tidak ingin resah.

Selamat sesaat, ruang kerja Jasmine begitu hening. Hingga lantunan piano Chopin yang diulang Jasmine dari tadi terdengar lagi. Dia membelai pipi suaminya, mengamati mata birunya yang hangat. Kadang-kadang, dia merasa menyesal telah memberitahu hal itu. Menyimpan rahasia dari orang yang dicintai kadang bagai neraka dan Jasmine tak bisa.

Kini, dia ingin John bertanya, agar dia bisa mendapatkan jawaban. Namun, dia tahu John takkan melakukannya dan dia berusaha untuk tidak memancingnya bertanya. Semua akan baik-baik saja.

Jasmine tertawa kecil menanggapi suaminya. “Aku juga akan merindukanmu.”

Beberapa hari kemudian, Jasmine melepas John pergi ke Mutara Sector. Tanpa pertanyaan. Hanya ucapan selamat tinggal. Beberapa hari kemudian, John mengirimi Jasmine sebuah pesan.

Kau tidak akan percaya, Sayang, apa yang kami temukan dalam kargo Botany Bay. Pesawat ini bukan pesawat biasa, sejak awal aku sudah mengiranya. Pantas saja mereka menutup-nutupi tentang hilangnya DY-100 tahun 1996 dulu. Karena orang yang kita anggap sudah mati selama ini, ternyata masih hidup dan bernapas. Menunggu saat untuk dibangkitkan kembali!

Ya Tuhan, aku masih tidak percaya apa yang aku lihat! Aku harap bisa diam-diam mengirimu foto seperti aku memberitahumu berita ini. Admiral Marcus tidak mengatakan apa-apa tentang ini, jadi aku merasa kamu pantas untuk tahu.

Aku melihatnya! Melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Khan Noonien Singh yang kukagumi. Bahkan dalam tidur, kharismanya begitu kuat, membuat aku merasa gugup. Dia memang superior, hasil dari sekumpulan gen-gen terbaik. Dia—Khan—sesungguhnya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, aku percaya. Aku harap jika dia bangun nanti, dia menjadi sosok yang lebih bijak.

Kami tidak bisa membangunkannya di sini. Seluruh muatan Botany Bay akan dibawa ke Bumi sesegera mungkin. Semoga Starfleet engineer bisa memecahkan cara membangkitkan para superhuman ini dengan cepat (terdengar seperti Necromancer ya?). Aku tidak sabar untuk bicara dengan Khan tentang abad 20.

JH

P.S.1 Dia tampan seperti yang kamu bilang, tapi aku jauh lebih tampan.😀

P.S.2 Aku tidak sabar untuk kembali ke London dan bertemu denganmu. Love you.

Membangunkan. Jasmine membaca berkali-kali isi pesan itu. Mereka menemukan keluarganya yang lama hilang. Setelah menanti begitu lama, dia tahu hari ini akan datang.

Mereka membutuhkan kunci. Kode untuk dapat menyadarkan penguni cryosleep tersebut. Jasmine menyimpannya dalam kepalanya selama dua ratus tahun lebih.

Sampaikan salamku kepada Yang Mulia Khan.😀

Cepat kembali. Aku merindukanmu.

Love, JS

-o0o-

Lyanna Clarke tiba di depan sebuah pintu metal. Kodenya persis sama dengan yang diingatnya. Dia menggunakan ID-nya untuk membuka pintu. Terdengar suara pintu yang bergeser terbuka. Menyelinap ke dalam sini tak sesulit yang dia kira sebelumnya.

Dia melangkah masuk dan pintu tertutup otomatis. Lampu ruangan tersebut menyala satu persatu. Ruangan beratap tinggi tersebut disetel dengan suhu dingin, untuk menjaga temperatur cyrotube. Di sana, Lyanna melihat kapsul-kapsul cryosleep dari S.S. Botany Bay diatur dalam barisan yang begitu rapi. Keharuan merebak di benaknya. Sikap emosionalnya, mendorong untuk membawa selembar foto polaroid yang sudah buram dan menguning di dalam tas tangannya. Tulisan tangan di bawahnya masih bisa terbaca, Lot Epsilon, 1974. Seperti bereuni, meski tak lengkap.

Lyanna berjalan cepat, mengamati sekilas wajah-wajah yang dikenalnya, laki-laki dan perempuan. Namun hanya satu yang membuatnya terhenti. Dia mendekat ke sisi kapsul, menatap dari celah kaca yang menampakkan sosok di dalamnya. John benar, sosok itu seakan abadi, tak menua sedikit pun. Terbungkus dalam pakaian berwarna keemasan yang melekat erat di kulitnya. Wajah yang terpejam itu mengingatkannya pada anak laki-laki tampan bermata gelap di Lot Epsilon, Noon.

Tidak banyak waktu yang Lyanna punya. Dia segera membuka panel di sisi kapsul. Kunci—kode sekuens—yang dicurinya dari anggota Seven beberapa bulan lalu. Dia berharap ini bisa bekerja. Lyanna mengeluarkan pena tipis langsing berwarna perak. Menekan salah satu sisinya hingga muncul layar hologram. Selanjutnya, Lyanna meletakkan pena itu di sisi bawah panel, hingga ukuran layarnya sesuai dengan panel. Dengan beberapa kali sentuh, superkomputer Alpha 6 yang juga diambilnya dari salah satu anggota Seven dan sudah diretasnya, mengerjakan perintah Lyanna.

Jantungnya berdegup kencang. Dia menggigit bibirnya, menunggui komputernya bekerja. Kesalahan kecil yang dia lakukan bisa membunuh Noon. Sedetik kemudian terdengar suara berdesis. Lyanna ternganga ketika menatap pintu kapsul yang terbuka perlahan.

Selamat datang, dunia baru.

Lyanna menanti hingga sepasang mata itu terbuka sepenuhnya. Mata gelap itu menjelang kepadanya. Lyanna tak kuasa untuk tersenyum. Dia menutup mulut pria itu. Tangannya yang lain meraih pena peraknya.

Dia benci perjalanan dengan cara ini.

Garis-garis cahaya dan asap biru menyelimuti Lyanna dan Noon. Sekejap saja, ruangan itu kembali kosong.

-o0o-

Sebelum darah di lantai menyentuh flip-flop yang digunakannya, John beranjak dari dapur. Sekarang, tak ada yang akan menganggu. Dia berkeliling di apartemen kecil itu. Dimulai dari kamar yang dia tempati beberapa hari lalu.

Dia mulai memeriksa arsip-arsip dan menyalakan PC milik Maurent. Dari berita yang ditontonnya tadi, dia tahu sekarang berada di tahun 2254. Di tempat yang agak tersembunyi, dia menemukan catatan-catatan lama Maurent. Di beberapa buku banyak halaman yang disobek paksa. Serta, John mendapatkan juga kliping berita tentang The Eugenics Wars. Semuanya tersimpan dalam kondisi baik, meski tidak bisa dipungkiri sudah rapuh termakan usia.

Dia membutuhkan strategi baru untuk bisa melanjutkan takdirnya. John tidak membutuhkan waktu lama untuk mampu mengoperasikan PC. Dimulai dengan mencari tahu apa yang terjadi selama dua ratus tahun terakhir. Mengecek nasib saudara-saudaranya—The Augments, begitu mereka diberi nama—yang tersisa, namun informasi tersebut begitu langka. Beberapa menit kemudian, dia berhasil meretas arsip milik badan intelejen beberapa negara. Menjumpai catatan-catatan yang agak lebih terperinci mengenai nasib The Augments setelah kepergiannya dengan S.S. Botany Bay. Pada masa kini, seluruh Children of Chrysalis sudah dianggap tiada, termasuk Khan dan pengikutnya. Senyum muncul di bibirnya.

Sekarang dia sudah kembali. Bangkit dari kematian.

John mencari tahu pula mengenai Admiral Alexander Marcus, Starfleet, dan Federation. Otoritas penanganan ‘artefak’ yang berasal dari S.S. Botany Bay dilakukan oleh Starfleet. Lebih jauh dia menggeledah, dia menemukan dokumen mengenai Section 31 yang memproses ‘artefak’. Di mana pun Marcus menyimpan saudara-saudaranya, dia yakin akan menemukannya. Marcus tidak akan menghancurkannya, karena tahu manusia-manusia superior itu akan berguna baginya atau Starfleet. John menyadari benar akan itu dan tidak akan membiarkan kalau sampai Marcus membahayakan keluarganya.

Sejarah Starfleet yang sedang dibaca, mengingatkan pada kemunculan sosok Gary Seven di bentengnya, beberapa menit sebelum Morning Star melakukan proses melubangi ozon. Seven membawakan sebuah tawaran dengan pertukaran kode penghancuran satelit Morning Star. Satu keputusan yang masih begitu jelas dalam memorinya setelah ratusan tahun.

Think of it, Khan: the challenge of conquering an alien world, of forging a new civilization where no man or superman has gone before. You could be a new Columbus, found a new dynasty light-years from Earth.”**

Di sinilah dia sekarang, hampir tiga abad berlalu sejak Seven meyakinkannya. Kini, penjelajahan luar angkasa sudah dimulai dan berkembang pesat. Keputusan yang diambilnya dua setengah abad lalu sama sekali tidak salah. Dia bisa meneruskan keinginannya untuk berkuasa, memimpin manusia-manusia inferior ke dunia yang lebih baik. Memenuhi takdir yang selalu disampaikan ibu kepadanya.

Sekarang, dia harus segera membangunkan saudara-saudaranya dan menyusun tujuan baru. Menciptakan imperium yang bukan hanya menguasai seluruh dunia, tetapi juga wilayah-wilayah di luar bumi. Dengan keabadian yang segera akan dimilikinya, Seven akan menangis dalam kubur dan kembali melontarkan makian kosong tentang betapa seharusnya Seven membiarkannya mati bersama kehancuran Chrysalis.

Tis not too late, to seek a newer world . . .

To strive, to seek, to find . . .

And not to yield.

—Tennyson, Ulysses

-o0o-

1994

“Sejauh mana yang kamu ketahui?”

“Apa yang diberitakan media,” Arianna terdiam sejenak. Dia tidak ingin menjawab lebih banyak, tetapi pandangan menyelidik Claudia mengusiknya. Tangan Claudia masih memegang pena perak yang sama—kini untuk menulis. “Aku tahu Hunyadi, ‘Hawkeye’ Morrison, beberapa nama lain.”

Nama-nama yang terlontar itu mengingatkannya pada dua puluh tahun lalu. Kadang-kadang Arianna berpikir apa yang akan terjadi jika laboratorium bawah tanah Chrysalis masih berdiri sekarang? Mungkin Children of Chrysalis—begitu Claudia menyebutnya, anak-anak yang didesain menjadi manusia superior di bawah proyek Chrysalis—akan bernasib lebih baik. Dunia juga tidak akan sesemwarut sekarang. Saudara-saudaranya tidak perlu saling menyerang satu sama lain. Mereka adalah satu.

“Mengapa kamu menyelamatkan kami?”

“Kami tidak punya alasan untuk membiarkan kalian mati di sana,” Claudia tersenyum tipis. Pandangannya menerawang ke dinding putih kosong di belakang Arianna.

“Kamu menyesal?”

Pertanyaan itu membuat Claudia melepaskan penanya dan mengempaskan tubuhnya ke punggung kursi. Dia bersedekap, sekilas Arianna bisa menangkap kerling kesedihan di matanya. Pikiran Claudia yang sedari tadi tenang, mendadak ramai. Arianna bisa mendengar suara-suara dan melihat kilasan-kilasan kenangan dalam kepalanya.

“Aku berjumpa dengan Noon dua kali. Tahun 1984, ketika Seven menyelamatkannya dari kerusuhan di New Delhi setelah kematian Indira Gandhi. Lalu, tahun 1989, ketika dia datang ke apartemenku di New York dan meretas superkomputer Beta 6 untuk mengambil data-data Children of Chrysalis.” Senyum Claudia meredup. “Pada saat itu, aku mengutuknya, mengutuk diriku sendiri karena dulu tidak membiarkannya mati dalam ledakan di Chrysalis.”

“Terima kasih, Roberta, sudah menyelamatkan kami.” Arianna menelan ludah. Memalingkan tatapan ke arah lain. Jari-jarinya saling memeluk di bawah meja. “Kadang-kadang aku berpikir, kalau kami tewas mungkin saudara-saudaraku tidak akan saling berperang. Tetapi, hidup punya makna yang kadang kita tahu setelah sesuatu menimpa. Aku mengingatkan diri sendiri jika mereka berperang demi dunia yang lebih baik. Meski aku membenci apa yang sudah mereka lakukan.”

“Kamu berbeda…”

“Aku bukan penghuni asli kelas Lot Epsilon. Sebelumnya aku melewati tahun-tahun di DDU dengan diagnosa paranoid dan histeria berlebihan,” potong Arianna. Dia memejamkan mata sejenak ketika mengenang masa-masa di DDU yang tak pernah bisa terlupakan.

Claudia memandang Arianna simpati. Tak ada yang sempurna. Dia mencoba menelisik mata Arianna, mencari kepercayaan diri seperti yang selalu tampak pada Noon. Namun, Claudia tak menemukan apa-apa, kecuali mata jernih yang tak mengandung obsesi. Claudia tahu ini saatnya untuk mengungkapkan alasannya membawa Arianna ke sini.

“Kamu mungkin pernah mendengar Necrotizing fasciitis.”

“Semacam bakteria?”

Flash-eating bacteria. Bakteri karnivor. Strain yang dikembangkan oleh Sarina Kaur di Chrysalis. Berpotensi besar sebagai senjata biologi. Kalian yang dilahirkan di bawah proyek Chrysalis didesain memiliki kekebalan pada bakteri tersebut. Untuk itulah kami membutuhkan bantuanmu.”

-o0o-

“Dia mengagumimu. Dia bilang sebenarnya kamu bisa menjadi pemimpin yang baik.”

John tidak bisa menahan kekagetannya, meski tidak menunjukkannya. Matanya mengagah sengit pada sosok di birai pintu.

“Aku pemimpin. Aku butuh cara untuk menyatukan dunia di bawah kendaliku. Aku memilih jalanku sendiri. He who wishes to be obeyed must know how to command,” katanya mengutip Niccolo Machiavelli, menutup buku yang di halamannya terselip foto pernikahan Jasmine Summer dan John Harrison, meletakkan lagi di atas meja. “Dia bukan siapa-siapa yang pantas menilaiku baik atau tidak.

Maurent mendekat kepada John seraya membersihkan sisi kepalanya yang bernoda darah dengan handuk basah. “Dia dikirim ke Sektor Mutara untuk menilik Botany Bay dan tak pernah kembali.”

John menarik tangan Maurent, mengamati luka di kepalanya.

“Aku bilang, kamu tak akan bisa membunuhku.”

“Mustahil.”

“Kamu sudah melihatnya.”

“Bagaimana…?”

Pertanyaan itu belum selesai ketika tamparan keras mendarat di pipi John.

“Peraturan pertama: jangan bertanya,” ujar Maurent. Selama bertahun-tahun, Maurent belajar mengendalikan kekuatan fisiknya. Sampai akhirnya, dia bisa mengukur ketika harus memperlakukan orang lain dengan kasar. Pipi John memerah karena tamparan yang jauh lebih kuat dibanding kali pertama Maurent melakukannya.

“Aku superior sepertimu. Jangan lupa,” Maurent berdecak, “dan aku tidak bisa mati.”

John menentang Maurent. Namun tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku tidak akan mendapatkan kemampuan fast healing dan biological immortality ini kalau bukan karena dirimu.”

Pandangan John kian berbisa. Dia tidak menyukai intimidasi yang dilakukan Maurent kepadanya. Akan tetapi, John menyadari sekarang bukan saatnya untuk berbuat masalah dengan perempuan itu. Maurent adalah satu-satunya rekan yang dimilikinya sekarang. Kunci untuk membangkitkan tujuh puluh dua krunya serta rahasia keabadian itu ada di dalam kepala Maurent. John tahu, dia harus bermain apik untuk bisa memenangkan semuanya.

Dia belajar banyak dari The Eugenics Wars—strategi dan waktu yang tepat adalah kunci untuk memenangkan peperangan. Di akhir perang yang dia lakoni, terlalu banyak emosi yang menguasai hatinya. Perasaan muak terhadap saudara-saudaranya, dendamnya kepada Roberta Lincoln dan Gary Seven karena menyebabkan kematian ibunya, serta sentimen kepada pihak-pihak luar yang turut mencampuri urusannya. Semua itu membuat rakyatnya terbengkalai karena dia lebih memberatkan urusan perang, serta tak awas akan mata-mata yang ada di sekitarnya. Pulau Chrysalis dan sejata pemusnah masal yang diproduksinya, Necrotizing fasciitis, hancur sebelum sempat dipergunakan. Menyisakan dirinya di tengah benteng yang dikepung dan siap dirudal oleh Amerika Serikat. Dalam keadaan terdesak, dia masih tidak mau menyerah dan memutuskan pilihan terakhir—menghancurkan dunia, termasuk dirinya sendiri lewat Morning Star.

Tunduk di bawah orang lain tak pernah ada dalam kosakata hidupnya. Tidak pula untuk kali ini.


“What though the field be lost?
All is not lost; th’ unconquerable will,
And study of revenge, immortal hate,
And courage never to submit or yield.”
– John Milton, Lucifer

… bersambung ke bagian terakhir.

*kutipan dari film Star Trek Into Darkness

** kutipan dari The Eugenics Wars, vol. II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Immortal ch. 3 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: