Jarak 21 Tahun

21 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

Judul oleh Arga Pandiwijaya

 

Sayup-sayup terdengar lantunan Frank Sinatra di beranda belakang rumah itu. Cahaya beranda itu berasal dari ruangan yang ada di belakangnya. Dari sana bisa terlihat sebaran titik-titik lampu yang ada di kota Bogor. Malam itu bulan sabit menggantung rendah di ujung langit. Di tepi beranda sepasang perempuan dan laki-laki berdansa pelan.

“Kamu tahu, Alana, album ini berusia 21 tahun lebih tua daripada umurku.”

Songs for Swingin Lovers. Tahun 1956. Jadi, aku tahu umurmu sekarang,” balas Alana sambil memandang wajah laki-laki di yang memeluk tubuhnya itu.

Laki-laki itu, Leo, menatap Alana sambil tersenyum. Ia mengeratkan tangannya di pinggang Alana dan mengajaknya terus berdansa. Angin sepoi mengembus, membuat suasana makin syahdu antara mereka. Dari mulut Leo, Alana bisa mendengar bagaimana laki-laki itu menyenandungkan pelan lagu I’ve Got You Under My Skin. Alana tidak pernah bertanya kepada Leo mengapa Leo tidak memilih jalan menjadi penyanyi alih-alih komposer musik karena suaranya yang indah.

“I’ve got you under my skin. I’ve got you deep in the heart of me. So deep in my heart that you’re really a part of me.”

Bagaimana Leo menyanyikan itu sambil memandangi Alana benar-benar membuat hati Alana menghangat. Rasanya ingin sekali selamanya Alana ada dalam momen ini. Di mana ia bisa berdua dengan Leo menikmati malam tanpa harus khawatir dengan apapun. Alana menyentuhkan jarinya ke rahang Leo yang tertutupi cambang tipis.

I love you.” Leo berkata tanpa suara.

Alana tersipu-sipu, lalu merebahkan kepalanya di atas dada Leo. Kalau bisa membayar dengan apapun untuk mengabadikan momen ini, Alana pasti akan melakukannya. Lama sekali ia tidak merasa setenang dan senyaman ini, merasa penuh dicintai dan mencintai. Alana melepaskan napas perlahan. Sayangnya kesempatan itu tidak pernah ada, meski Alana bisa selamanya memilih mencintai Leo.

“Malam ini, maukah kamu tinggal di sini bersamaku, Leo?” tanya Alana penuh harap.

Sesaat rona wajah Leo meredup. Sejenak Leo hanya diam saja. “Aku harus pulang malam ini, Alana. Lusa aku akan kembali lagi.”

“Mungkin… kembali lagi?”

“Akan kuusahakan untuk kembali.”

“Oke,” sahut Alana pendek.

“Alana, sekarang aku ada di sini untukmu.”

“Ya, sekarang,” dengus Alana kesal.

“Kamu ingat waktu kali pertama kita ketemu? Dari beranda ini kamu berteriak kepadaku….”

“Ngapain sih kita harus ngingat-ngingat gimana kita ketemu pertama kali, sementara kita akan berpisah?!” potong Alana sambil berteriak kepada Leo.

Alana langsung melepaskan diri dari dekapan Leo. Mereka berdua bertatapan dengan sorot keras, beda sekali dengan beberapa menit yang lalu.

“Alana….”

“Pulang ke Eva! Pulang ke istrimu! Besok ulang tahunnya kan?!”

Seluruh tubuh Alana gemetaran ketika berteriak kepada Leo. Tatapan Alana terpanjang pada wajah Leo yang pias, tidak menyangka aku akan semarah itu. Leo tidak pernah tahu apa yang dirasakan Alana jauh di lubuk hatinya. Leo boleh terkejut dengan sikapnya yang barusan tadi, namun semestinya Leo tahu Alana sudah menahan emosi yang tadi meledak selama berbulan-bulan. Dalam waktu-waktu itu Alana menghibur diri dengan alasan-alasan yang tidak rasional demi tetap bertahan pada hubungannya dengan Leo.

Alana mundur ketika Leo bergerak maju ke arahnya. Leo bergerak lebih gesit dibanding Alana, ditangkapnya tubuh Alana dan dipeluknya erat-erat. Ia menarik napas panjang berulang kali. Tangannya menyusuri rambut panjang Alana, mengelusnya pelan-pelan. Di antara jari-jemari Leo terselip helai-helai rambut Alana, beberapa bulan lalu bahkan tidak separah ini. Leo tahu, Leo ada di sana ketika Alana baru saja divonis menderita kanker pankreas oleh dokter. Sore itu, Leo hendak menjemput Eva, istrinya untuk makan malam. Di depan ruangan tempat Leo menunggu itulah ia bertemu Alana yang bercucuran air mata dan diantar oleh dokter keluar ruangan. Pada saat itu juga, Leo mengerti kalau Alana sudah tahu fakta tentang dokter perempuan tersebut yang selalu memajang foto keluarnya di atas meja adalah istri Leo.

“Lebih baik kamu pulang, Leo,” ujar Alana masih dengan isak kecil.

Leo mengecup punya kepala Alana. Ia menghapus dengan lembut air mata yang membahasi pipi merah muda Alana. Lalu tanpa kata-kata Leo menggandeng Alana dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Alana tidak lagi memberontak seperti tadi, ia mengikuti Leo dengan patuh. Leo membawa Alana sampai ke ruang makan, di atas mejanya ada sebuah kue ulang tahun dengan lilin, sebuket bunga lili, dan sebuah kotak berpita. Dilepaskannya genggaman Leo pada tangan Alana. Di belakang Alana, Leo berdiri seraya meletakkan kedua tangannya pada bahu Alana.

“Selamat ulang tahun, Alana,” bisik Leo pelan di telinga Alana.

Alana terdiam, kedua matanya terarah lurus pada perayaan kecil di atas meja itu. Dihelanya napas panjang beberapa kali. Alana pernah mendapatkan kejutan lebih meriah dan mewah daripada ini. Akan tetapi, justru perayaan sederhana ini membuat hatinya tersentuh. Lagi-lagi air mata Alana turun dari kelopak matanya.

“Aku tahu ini semua sehari lebih cepat. Tapi aku ingin tahu, kamulah yang nomor satu. Kamu yang aku cintai, Alana.”

Perkataan itu membuat Alana segera berbalik dan memeluk Leo lagi. Perbedaan umur mereka yang belasan tahun, status yang mengikat Leo, dan sakit yang diderita Alana tidak bisa menghentikannya untuk mencintai Leo. Perasaan kagum yang berawal dari komposisi La Campanella milik Paganini yang dimainkan dengan memesona oleh Leo, lagu-lagu Frank Sinatra favorit mereka berdua, penghargaan Leo terhadap lukisan-lukisan Alana, kunjungan-kunjungan singkat Alana ke studio Leo, dan semua itu cukup menjadi alasan Alana jatuh cinta kepada Leo. Selama berbulan-bulan perasaan itu makin membesar dan memenuhi hati Alana. Awalnya, Alana tidak menyangka Leo membalas perasaannya. Akan tetapi, Leo berhasil meyakinkan Alana jika ia memiliki harapan yang sama dengan Alana.

Harapan itu kandas ketika Alana tahu siapa istri Leo, dokternya sendiri yang merawat Alana selama ini. Dokter perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri, yang selalu menyemangati Alana untuk sembuh. Seseorang yang selalu meyakinkan Alana bahwa hidupnya berharga dan bernilai bagi orang lain. Pada Leo, Alana menemukan betapa berharga dan bernilainya dia.

Ketika Alana sudah agak tenang, Leo membimbing Alana untuk duduk di salah satu kursi. Leo menyiapkan lilin untuk ditiup Alana di atas strawberry cheesecake kesukaan mereka berdua.

“Jangan lupa mengucapkan permintaan sebelum meniup lilinnya, Alana,” ujar Leo dengan senyum memenuhi wajahnya.

Kedua kelopak mata Alana terpejam. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta dan aku ingin terus jatuh cinta di sisa umurku, Tuhan. Dada Alana terasa sesak ketika merangkai harapan itu dalam benaknya. Dia menggosok kedua tangannya, lalu mengucapkan amin sendirian. Setelah itu, Alana menatap wajah tampan Leo, kedua mata gelap yang menyorot cerah, hidungnya yang sering Alana tarik, dan cambang di sekitar wajahnya yang suka sekali Alana elus. Alana tersenyum dan meniup lilin itu hingga padam.

“Aku senang, tidak merayakan ulang tahun ini sendirian lagi. Terima kasih, Leo.”

“Bunga lily ini,” kata Leo seraya menyerahkan buket itu ke arah Alana, “untukmu. Dan ini.” Kotak berpita itu dijulurkan Leo untuk Alana. “Hadiahmu.”

Alana meraih kotak itu dari Leo.

“Buka hadiahmu,” ujar Leo.

“Apa?”

“Buka. Dan aku punya satu permintaan….” Leo menatap Alana sungguh-sungguh.

Pita di atas kotak itu ditarik perlahan oleh Alana. Saat kotak itu akhirnya terbuka, Alana bisa melihat sebuah gaun warna putih gading di dalamnya.

“Untuk pameran lukisanmu nanti,” jelas Leo sewaktu Alana mengangkat gaun itu dari dasar kotak, “ tapi sebelum itu, bolehkah aku melihatmu memakai gaun itu, sekarang?”

Alana mengangguk pelan. “Ini bagus sekali, Leo.”

Alana membawa gaun itu ke dalam kamar dan memakainya sambil menangis. Saat ia mematut dirinya di depan kaca, bahkan gaun itu masih kelihatan indah dipakainya meski wajah Alana benar-benar becek oleh air mata sekarang. Akhirnya, Alana mencuci wajah dan merapikan rambutnya. Leo duduk di depan piano saat Alana keluar dari kamar. Perangkat audio yang tadi memutar Frank Sinatra sudah dimatikan. Ruangan itu seluruhnya sepi. Di atas piano Alana melihat buket bunga lily miliknya. Dengan isyarat, Leo meminta Alana duduk di sebelahnya.

Beberapa saat kemudian ruangan itu dipenuhi dengan alunan komposisi Debussy yang terkenal, Clair de Lune, salah satu favorit Alana. Alana menatap jari-jari Leo yang menari lincah di atas tuts-tuts piano. Alana sekejap mengerti mengapa Leo lebih memilih menjadi komposer, sebab ia lebih bahagia saat bisa bersama alat-alat musik, seolah semua itu adalah bagian hidup Leo.

Bersama Leo, Alana bisa bahagia. Di benak Alana terbentang khayalan saat Alana melukis dan Leo berlatih nada-nada baru dengan pianonya. Sesekali mereka akan saling memperhatikan, lalu bertukar senyum dan meneruskan pekerjaan masing-masing. Mereka hidup bersama dan saling menginspirasi satu sama lain. Khayalan selalu indah, saat Alana memikirkan realitanya, itu seolah menampar dirinya sendiri. Alana tahu, seberapa besar cinta Leo kepadanya, Alana tak akan bisa mendampingi Leo sampai tua nanti. Penyakit yang mengerogoti tubuhnya ini membuat setiap harapan yang Alana punya seolah gelembung sabun tipis yang begitu mudah pecah. Bahkan harapan yang Alana punya sekarang tentang cintanya kepada Leo, Alana tahu itu salah, tapi Alana punya berhak bahagia.

Semua pikiran Alana terhenti ketika alunan Clair de Lune itu berakhir.

“Selamat ulang tahun, Alana,” ujar Leo ke sekian kali seraya membela pipi Alana.

Alana cepat-cepat menyelipkan tangannya di lengan Leo. Berharap dengan itu, Alana bisa menahan Leo pergi lebih cepat.

“Aku berharap bisa lahir 21 tahun lebih cepat, Leo.”

Leo menelan ludah saat mendengar perkataan Alana.

“Aku dan Eva berbagi tanggal lahir yang sama, bulan yang juga sama. Hanya waktu yang membedakan kelahiran kami. Dia datang ke dunia 21 tahun lebih cepat daripada aku.”

Jari-jemari Leo turun dan mengisi celah di antara jari-jemari Alana.

“Aku sering bertanya-tanya, Leo, mengapa kamu mau menikah dengan perempuan yang beberapa tahun lebih tua darimu? Namun aku tidak pernah sampai hati untuk menanyakannya untukmu. Waktu aku tahu kalian suami istri, aku mengerti bagaimana Eva benar-benar mencintaimu. Membayangkanmu pernah jatuh cinta padanya itu menyakitkan bagiku, tapi aku tahu itu terjadi dulu…. Atau apakah mungkin sekarang masih terjadi? Kau mencintaiku dan Eva serta anak-anak kalian?”

Alana mengeratkan genggaman tangannya kepada Leo.

“Cinta bisa membuat hal mustahil bisa terjadi. Sebab alasan apapun bisa menjadi rasional karena cinta. Seperti kita sekarang. Padahal, mungkin tidak ada orang di dunia ini yang mau jatuh cinta dan mendapatkan segudang masalah. Tapi aku hanya ingin bahagia, Leo. Aku bahagia jatuh cinta dan mencintaimu, Leo.”

Kedua tangan Leo meraih pipi Alana. Tatapan mereka saling bertemu. Jarak antara kedua wajah itu pelan-pelan habis. Kecupan sederhana di bibir Alana itu berubah menjadi sebuah ciuman yang menyala-nyala antara keduanya. Biasanya Alana selalu menyukai gerak bibir Leo yang lembut dan renyah di bibirnya. Hampir selalu Alana mengingini perasaan yang hadir oleh kepak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya ketika Leo menyentuhnya. Tidak pernah Alana bisa menolak perasaan hangat yang membebat tubuhnya saat ia bisa mendengar dan merasakan desah napas Leo begitu dekat dengannya.

Untuk pertama kalinya, Alana menerima dan membalas ciuman Leo dengan air mata berjatuhan membasahi parasnya.

Saat ciuman itu berakhir, Leo memeluk Alana lama sekali. Waktu pun membuat Leo harus menyudahi pelukan itu. Tanpa suara ia pergi menuju pintu, meninggalkan Alana dengan hati berat. Rasanya Leo ingin sekali tetap berada di tempat ini dan memeluk Alana sepanjang malam.

Alana berdiri di balik pintu sambil memeluk buket bunga lili itu. Tubuhnya merosot pelan-pelan sementara suara BMW X6 yang akrab di telinga Alana terdengar makin jauh. Air matanya mengalir deras tak tertahan. Sementara itu sayup-sayup suara Frank Sinatra masih terdengar bernyanyi di dalam kepala Alana.

 

I’ve got you under my skin

I’ve got you deep in the heart of me

So deep in my heart that you’re really a part of me

I’ve got you under my skin.

I’d tried so not to give in

I said to myself: this affair never will go so well

 

Bogor, 11-10-2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jarak 21 Tahun at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: