Jejak Cinta di Bukit 15

23 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

Judul oleh Agus Musriana

Jarum pendek di jam tanganku sudah menyentuh angka lima. Rambutku sudah kuikat model ekor kuda dengan rapi agak berantakan karena angin yang tidak henti berembus. Di atasku burung-burung berterbangan ramai-rama ke kembali ke sarang. Langit sudah bersemu kejinggan dan matahari bahkan sudah bersiap untuk pulang. Namun aku masih akan tetap di sini, belum saatnya untuk pergi.

Aku berdiri di atas rerumputan yang dihiasi rumput berbunga warna putih dan kuning. Jangan bayangan rerumputan di atas bukit itu terhampar ini seperti Bukit Teletubbies atau Bukit Campuhan yang terkenal di Ubud itu ya. Bukit ini, Bukit 15, adalah salah satu lahan praktek mahasiswa pertanian. Sebelah sisi bukit sudah penuh tanaman dan lubang tanam yang belum diisi. Tapi entah mengapa sisi lainnya dibiarkan liar, ditumbuhi beberapa pohon Bungur yang berbunga ungu, ilalang serta rumput berbunga tadi. Oleh karena itu, Bukit 15 ini selain digunakan untuk praktik juga berfungsi untuk tempat menyepi bagi beberapa orang, termasuk aku yang hobi menulis dan membaca di sini.

Sekarang jarum pendek di jam tanganku sudah bergeser sedikit dari angka lima. Sejenak angin bertiup lebih kencang dan menerbangkan kelopak-kelopak bunga bungur ke arahku. Aku nyengir, rasanya seperti musim gugur saja. Ya, itulah salah satu khayalan favoritku di sini, menikmati musim gugur. Akan tetapi, kalau bisa kutahan angin dan bunga berguguran itu ke beberapa menit nanti. Kupikir gugurnya bunga-bunga bungur itu akan bagus sekali untuk memperkuat efek romantis jika terjadi drama di Bukit 15 ini. Andai saja aku punya remote multifungsi seperti Adam Sandler di film Click.

Sejak tadi, selain mengintipi jarum-jarum jam tangan yang terus bergerak, mataku tidak lepas dari jalan setapak menuju puncak bukit ini. Aku menghela napas panjang melihat kekosongan di sana. Namun aku akan terlonjak kaget jika tiba-tiba ada suara aneh atau kukira ada seseorang yang datang. Langsung saja jantungku berdetak tak karuan. Sejak tadi memang sudah berdegup kencang sekali. Mungkin jantungku akan jungkir balik kalau dia benar-benar datang.

Kalau dia datang….

Kudenguskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhku di salah satu batang pohon bungur. Warna kemerahan jelas sudah mencemari langit sekarang. Aku mau saja menunggu sampai malam, tapi tidak mungkin melakukannya di sini. Bukit itu tidak punya lampu penerangan untuk malam hari. Aku memang menyukai laki-laki itu, sayangnya aku tidak segila itu untuk menunggu dia di bukit gelap dan sepi seperti ini. Lagi pula aku tidak mungkin melewatkan waktu Magrib hanya untuk menanti sesuatu yang tidak jelas.

Perasaan bosan mulai menyergapku, saat jarum pendek jam tanganku sudah berada di antara angka lima dan enam. Aku mengigit bibir, mulai kehilangan fokus untuk tetap mengamati jalan setapak itu. Beragam pikiran mulai muncul di kepalaku dari kemungkinan dia datang, sampai keyakinan dia pasti akan tetap muncul di sini walau senja sudah habis. Semua mungkin, aku hanya akan tahu jawabannya jika aku sabar menunggu di sini.

Kelihatannya aku makin punya alasan untuk menghubunginya dan mengingatkan jika sore ini aku memintanya menemuiku. Hatiku yang lain menolak mentah-mentah usul itu karena terasa tidak bijak. Jika dia menghargai pertemanan kami dan aku, dia pasti datang. Kuurungkan niat untuk mengambil ponsel dari tas selempangku, alih-alih malah mengambil komik Yotsubato! volume 11 yang baru kubeli. Baru saja aku akan membaca, konsentrasiku sudah terusik oleh sosok seorang pria yang melangkah di atas jalan setapak.

Sesaat aku merasa seolah akan terhuyung jatuh sampai-sampai aku harus mengeratkan peganganku di batang bungur itu. Isi perutku serasa berjumpalitan setiap kali sosok itu mengurangi jarak yang ada di antara dia dan aku. Aku perlu menarik napas panjang berkali-kali untuk meredakan kegugupanku setelah sosok itu tersenyum padaku barusan. Tahu-tahu saja dia sudah ada di depanku masih menyunggingkan senyum simpul khasnya itu.

“Hai Seruni,” sapanya.

“Langit,” balasku seraya memasukkan komik itu ke dalam tasku.

Sorry, aku datang terlambat. Aku telat menemukan Yotsuba.”

Aku nyengir, “Kukira Yotsuba tersesat untuk mencari kumbang sebelum datang padamu.”

“Bisa jadi sih. Tapi aku membawa dia sekarang bersamaku kok, jadi nggak mungkin ke mana-mana lagi,” katanya sambil mengangkat tangannya, ada action figure Yotsuba di sana yang di antara tangan mungilnya terselip selembar kertas.

Cengiranku berubah menjadi senyuman. Kutatap lembut Yotsuba di tangan Langit. Saat pandanganku terantuk pada lembaran kertas itu mulailah aku gelisah kembali. Kurasakan dingin yang muncul di tanganku. Duh, rasanya mau menatap Langit pun aku terlalu malu. Selama sesaat itu kami berdua sama-sama dia. Aku sendiri tidak tahu harus bicara apa, padahal banyak sekali topik pembicaraan dan kalimat-kalimat penting yang harus kusampaikan kepada Langit. Dalam sedetik kedatangan, semua itu buyar, aku cuma bisa merasakan lidahku yang kelu dan kerongkonganku yang mendadak kering.

“Aku nggak tahu kalau di sini seindah ini,” komentar Langit.

Kudongakkan kepalaku untuk mencari tahu apa yang barusan dikomentari oleh Langit. Kuikuti arah pandangnya yang ternyata ke area gedung-gedung kampus kami.

“Kamu nggak pernah ke sini?” tanyaku.

“Nggak. Nggak pernah sama sekali.”

“Ya, sih. Kamu kan anak komunikasi, makanya nggak pernah turun ke lapangan.”

Pada saat itu, seperti tahu isi hatiku, sekawanan angin menyerbu dan menggoyangkan ranting-ranting bungur hingga bunganya kembali berjatuhan kepada aku dan Langit. Semua ini sudah benar sekali, layaknya dalam fiksi. Sepasang perempuan dan laki-laki berdiri di atas bukit untuk berbagi senja ditemani bunga-bunga bungur yang berguguran. Aku tidak boleh kehilangan momen tersebut. Tidak dengan diam yang berkali-kali menyusup di antara kami.

“Selamat ulang tahun ya, Langit.”

Kutatap wajahnya dari arah samping, menyusuri keningnya, turun ke bentuk hidungnya yang sempurna, lalu bibirnya yang kelihatan manis. Perhatianku terusik ketika sebuah bunga bungur tersangkut di bahu kemeja biru tua yang dipakainya hari ini. Aku hampir mengambil bunga itu saat dia menoleh kepadaku. Buru-buru aku menarik tanganku menjauh dan menundukkan kepalaku. Rasa panas yang mengaliri wajahku mungkin membuat warnanya akan begitu merah. Hal tersebut pasti memalukan untuk dilihat oleh Langit.

“Terima kasih ya, Seruni,” katanya pelan.

Aku masih menunduk dan sama sekali tidak menyahuti apa-apa.

“Berdiri di sini bikin aku ingat kampung halamanku. Dulu waktu aku kecil setiap hari Minggu sehabis pulang dari gereja aku biasa main-main di bukit dekat situ dengan teman-temanku. Karena sekarang sudah pindah tempat tinggal di kota, aku jadi nggak pernah lagi main-main ke bukit. Entahlah gimana nasib bukit itu sekarang, katanya sih di bawah bukit itu ditemukan kandungan batu bara. Mungkin sudah habis bukitnya sekarang jadi sasaran penambangan.”

Kudengarkan dengan khidmat Langit berkisah tentang masa kecilnya. Aku membuat senyum kecil di bibirku mendengar ceritanya. Bukit 15 ini ternyata lebih mampu memancing Langit bercerita dibanding aku.

“Oh ya, aku sudah membaca suratmu. Terima kasih lagi ya, Seruni.”

Perkataannya barusan menghenyakkanku. Kuremas-remas kedua tanganku sambil terus-terusan menghela napas. Kalau aku boleh mengandaikan, seperti ada naga mengamuk dalam perutku sekarang. Perasaanku kacau balau, akhirnya merembet kepada tubuhku yang ikut gemetaran. Meski begitu aku masih bisa mengingat jelas paragraf-paragraf dalam suratku itu.

Kepada Langit,

Terima kasih sudah menjadi teman baikku selama ini. Selama kita berteman, ternyata aku merasakan sesuatu yang berbeda terhadapmu. Aku tidak bisa mengenyahkan perasaan betapa aku tertarik kepadamu. Kita memang jauh berbeda, dari segi apapun. Tapi justru itulah yang membuat aku menyukaimu. Jangan bertanya mengapa aku bisa jatuh cinta kepadamu. Itu rahasia, karena hatiku bahkan tidak mau membaginya kepadaku. Satu-satunya alasan yang mungkin menurutku adalah karena cintaku jatuh kepadamu, hati tidak pernah salah memilih.

 

Seruni.

Ps: Aku ingin bertemu denganmu di Bukit 15 jam 5 sore ini. Datang ya. Semoga Yotsuba tidak tersesat mengantarkan surat ini. J

Aku juga tidak bisa lupa perasaan ketakutan yang menyertai usahaku menyelipkan surat itu ke dalam tasnya pagi tadi. Kupaksa dia meminjam novel trilogy Hunger Games milikku. Lalu sekali lagi aku memaksa untuk memasukkan semua itu ke dalam tas ranselnya, sekalian aku mengirim Yotsuba untuk melaksanakan tugasnya. Lalu, akhirnya sampai di sore ini, di atas Bukit 15, di mana ada aku dan Langit.

“Seruni, aku….”

Aku memandangi Langit. “Nggak usah. Jangan terusin. Aku nggak minta jawaban, Langit,” ucapku memotong kalimat Langit, walau sesungguhnya aku tidak tahu apa yang lain akan katakan. “Aku nggak bertanya apa-apa di dalam surat itu.”

“Oh, baiklah. Tapi terima kasih sudah mau jujur,” bilang Langit. “Itu membuatmu lega, kan?”

Lega? Aku tidak tahu sejujurnya. Kutanggapi pertanyaan Langit itu hanya dengan senyuman kecil. “Mungkin gitu, Langit,” sahutku pendek.

Perasaanku terasa amburadul, aku bahkan tidak mengerti apa yang ada di dalam hatiku sekarang. Lega, senang, sedih, kesal, bercampur jadi satu. Aku jelas tidak minta jawaban dari Langit karena aku tahu bukan akulah orang yang dia sukai selama ini. Selama menyukai Langit, aku banyak mencari tahu tentang dia, termasuk ketika aku tahu siapa yang dia taksir selama ini. Sayangnya, hal itu juga tidak membuatku berhenti memikirkan dan merindukannya. Pikiranku selalu memberi harapan bahwa aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari—apapun bisa terjadi, bahkan jika suatu hari Langit akan berbalik mencintaiku.

Hanya satu hal yang menghalangiku berjuang dan berharap lebih keras kepadanya: keyakinan kami yang berbeda.

“Yotsuba itu kamu bawa pulang ya. Pasti dia suka tinggal di kamarmu,” kataku dengan kekeh terpaksa. “Ini udah terlalu sore, aku harus kembali karena sebentar lagi waktu Magrib.”

“Oh iya, nggak apa-apa. Aku juga harus pergi sekarang untuk mempersiapkan acara di gerejaku minggu depan. Terima kasih sekali lagi ya, Seruni.”

Senja itu, di bawah langit yang memerah, kami berjalan bersama menuruni Bukit 15. Kami mengobrol seperti tidak terjadi apapun antara kami barusan. Kusempatkan menoleh ke puncak bukit yang ditumbuhi pohon-pohon bungur. Kutinggalkan jejak cintaku di sana. Angin akan terus menerus berembus, mengugurkan bunga-bunga bungur yang rapuh. Bersama kelopak-kelopak bunga bungur yang berterbangan itu kuselipkan harapanku tentang cinta ini, biar terbang dan menjauh.

Bogor, 10-10-2012

Kayaknya ini udah pernah kuposting… biarlah repost.😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jejak Cinta di Bukit 15 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: