Nah, Keretaku Datang!

28 Juli 2013 § 5 Komentar

sumber gambar: weheartit

Hujan yang turun akan berhenti. Kereta yang singgah akan segera pergi.

Pertemuanku dengan stasiun ini hampir selalu terjadi di waktu yang sama, lima kali dalam seminggu. Bangku deretan kedua seakan sudah hafal dan menyediakan dirinya bagiku. Pada malam yang melarut, di bawah atap stasiun yang ujung-ujungnya berkarat, menaungi lampu neon yang dari hari ke hari cahayanya kian melarat–aku memiliki momen paling kutunggu. Aku akan membuka buku yang kubawa dan mulai membaca. Sesekali aku melayangkan tatapan ke peron seberang.

Nah! Dia datang.

Kemudian kata-kata pada lembaran buku seolah menguap begitu saja melewati otakku. Tiap beberapa kalimat terlewat, aku mengangkat wajah. Menatap salah satu sisi peron beberapa detik. Kusembunyikan senyumku di balik buku. Dia tidak akan tahu.

Nah! Keretaku sudah datang. Aku harus segera pulang.

**

Aku selalu membawa buku. Bukan hanya untuk menutupi wajahku yang tersipu.  Juga, untuk menunjukkan kalau aku banyak ingin tahu. Kadangkala aku membawa buku tentang budaya, lain kali aku membaca tentang sains, pernah juga literatur sastra klasik yang bahasanya membuatku mengernyit, seri detektif terkenal, komik ninja berambut pirang yang begitu terkenal, komik superhero yang lahir jauh lebih dulu dari aku, fiksi fantasi populer yang diadaptasi menjadi TV show, dan masih banyak lagi. Aku punya pendapat, buku bisa menjadi salah satu magnet untuk menarik perhatian orang lain–lawan jenis, khususnya.

Akan tetapi, itu tidak pernah benar-benar bekerja. Mungkin, belum saatnya. Dari sekian usaha yang kulakukan, baik untuk dia maupun orang lain–semua nyaris gagal. Setiap kali dia duduk di peron, kabel iPod menjuntai dari telinga, kemudian seluruh perhatiannya tersedot kepada iPhone. Sesekali dia mengangkat wajah untuk menyapa kenalan yang dia temui. Peristiwa yang langka. Senyum yang diterakan di wajahnya pada momen itu, masih terus tersimpan di otakku. Aku ingin merekam detailnya, sayangnya kami berdua terpisah oleh lalu lintas kereta.

Pernah juga aku mengamatinya tersenyum pada iPhone-nya. Membuatku sontak menyalakan layar iPhone-ku, ikut menyunggingkan senyum. Aku tersenyum bukan karena yang kulihat, tapi karena dia. Dan dia tersenyum, entah karena apa. Bisa jadi karena tweet lucu yang dibacanya, artikel online yang menggelikan, atau apa saja. Apapun itu, aku senang melihatnya tersenyum.

Malam itu tak lagi dingin.

Nah! Keretanya sudah datang.

**

“Namanya William.”

Aku terkesiap saat ibu-ibu petugas loket karcis kereta menyerahkan kartu dan kembalian padaku. Senyum terkembang di wajahnya, seakan barusan tak mengucapkan apa-apa.

“William,” ucapku, seraya menerima pemberian si petugas.

Beberapa hari lalu, aku yang entah mendapat dorongan dari mana, membeli karcis kereta ke arah berlawanan menuju ke rumah. Aku tidak peduli harus terlalu malam untuk kembali. Sesekali, aku ingin duduk di peron yang sama dengannya. Di satu bangku panjang yang lengang, di bawah lampu neon yang dikerumuni serangga malam, dan stasiun berbau campuran hujan dan keringat orang-orang yang bekerja seharian.

Aku menahan napas ketika dia duduk di ujung yang berlawanan denganku, menyisakan kekosongan yang mestinya bisa kutepis. Ketika itu, aku malah berusaha untuk tidak menarik perhatiannya. Aku mencoba bernapas begitu pelan, untuk menikmati momen sekaligus meredakan benak yang digemuruhi ombak rasa. Kusibak lembaran majalah National Geographic yang kubaca dengan lembut. Gambar-gambar menarik yang biasanya bisa menarik kekagumanku bermenit-menit, terasa berubah hambar dan senyap.

Berkali-kali aku mengerling rahasia kepadanya. Pura-pura melihat ke arah datangnya kereta demi sekilas mendapatkan citranya di mataku. Biar bertambah koleksiku tentangnya. Tentang jaket kulit hitamnya, kemeja biru favoritnya, flat cap yang dipakainya hari ini, juga sepatu boots yang membuat kakinya tampak kokoh.

Nah! Kereta yang dia tunggu sudah datang.

Sorot lampu yang mendekat ke peron menariknya untuk bangkit. Ia menyimpan iPhone dalam saku dalam jaketnya. Suara petugas stasiun berkumandang lewat pengeras suara, mengingatkan penumpang untuk menunggu dengan tertib di belakang garis kuning dan ini adalah kereta terakhir.

Aku tetap duduk di bangku. Menatap bentuk tubuhnya dari belakang. Bagaimana jari-jarinya bergerak-gerak mengikuti musik yang mengalun di telinganya. Aku tersenyum sendiri, menutup majalah di pangkuanku. Kereta itu berhenti, penumpang turun satu persatu, dan dia menunggu. Pada saat itu, untuk kali pertama pandangan kami bertemu.

Kereta yang singgah sudah pergi. Menyisakan memori dan perasaan tak terperi. Aku bangkit berdiri. Peron itu kutinggalkan dalam sepi. Giliranku menanti kereta terakhirku yang belum kunjung datang malam ini.

**

“Namanya William.”

Dalam tiga hari aku mendapatkan informasi bertubi-tubi. Sahabatku, seorang jurnalis, membombardirku dengan pesan elektronik panjang berisi cerita, tautan, serta beberapa foto. Ini terlalu banyak, tetapi aku menyukai semua yang kutahu. Bagian favoritku berkisah tentang ia yang dikenal sebagai seseorang yang tulus dan suka menolong.

Aku memindahkan salah satu fotonya ke iPhone-ku. Rambut ikal berantakan, mata gelap bagai lubang hitam, tubuh kurus yang tampak liat dan kuat, dibalut mantel gelap yang membuatnya bagai seorang aristokrat.  Menjadikan foto tersebut gambar layar, hingga setiap saat aku bisa dengan mudah menatapnya. Sekarang, aku bisa seperti dia–tersenyum kepada layar iPhone. Senyum yang hadir karenanya.

“Dia jauh lebih populer dari yang kamu kira. Banyak kenalan gue yang bilang dia unyu, manis, charming, pokoknya gitu deh. Pada ngaku naksir, tapi nggak seorang pun bisa berhasil jadian sama dia.”

Single?”

“Dia selalu ngaku ngitu, setelah putus dari pacar 12 tahunnya. ”

Aku tersenyum. Bunga-bunga harapan mulai mekar.

“Tapi jangan terlalu ngarep deh. Apa yang keluar dari mulut dia belum tentu benar. Siapa sih yang tahu apa yang ada di pikiran cowok?” tambah sahabatku. Saran yang begitu dekonstruktif.

Nah! Keretaku kini datang.

Seakan ada yang merekatkan tubuhku ke bangku tunggu. Kubiarkan kereta itu berlalu. Untuk kesekian kali, dia berhasil menahanku.

**

Perasaan-perasaan resah mulai sering hadir. Aku memandangnya lama-lama sebelum tidur, jauh lebih lama saat aku membuka mata di pagi hari. Membayangkan dia di sisiku, balas menatapku dan menorehkan senyum untuk mewarnai seluruh hari yang akan kulewati. Hingga aku bisa membelai rambut ikal miliknya, menguntainya dengan jari telunjukku. Membiarkannya mengecupku dan mengucapkan selamat pagi.

Perjalanan pulang menjadi hal yang kutunggu-tunggu. Debar jantung yang tak keruan sudah dimulai ketika menaiki angkutan umum menuju stasiun. Langkah limbung dan kaki gemetar begitu terasa saat memijak tangga menuju peron. Dunia tak pernah semenyenangkan sekaligus mengkhawatirkan seperti sekarang.

Sebelum dia datang aku akan menebak-nebak pakaian apa yang digunakannya hari ini. Siapa tahu kami sehati dengan memilih warna yang sama. Orang bilang, sewaktu seseorang jatuh cinta, perlahan-lahan ia akan berubah menjadi sosok yang dicintainya itu. Mungkin saja itu benar. Aku mulai berani menanggalkan high heels-ku dan mencoba memakai boots maskulin. Aku membeli flat cap yang entah kapan akan kupakai. Aku senang bisa melihat dirinya dalam diriku.

Pada satu titik, cinta tak perlu hadir tanpa alasan. Cinta tak perlu tumbuh tanpa harus mengenal–tahu saja tentang dia itu cukup. Cinta yang hadir menyemaikan harapan, sepasti kereta yang selalu datang.

Nah! itu dia!

**

Aku tidak suka malam-malam berhujan. Gerimis masih kumaklumi, tetapi guyuran deras membuatku sulit mengamati peron seberang. Hujan besar memanggilkan kabut dan seringkali mengacaukan jadwal kereta. Aku harus terdampar lebih lama di stasiun, tanpa bisa memerhatikannya secara langsung. Setidaknya, gambar di layar iPhone-ku dapat menjadi penghiburan dalam menghalau dingin.

Hujan malam ini berbeda. Seakan selang di langit ditutup paksa oleh tangan tak terlihat. Air yang sedari tadi bah langsung berhenti. Stasiun terasa lembap dan basah. Ujung-ujung atas meneteskan butir-butir sisa hujan yang berkilau karena sinar lampu. Serangga-serangga mulai berdatangan lagi, mendekat pada sumber cahaya. Lampu-lampu itu tak pernah berkeberatan dihinggapi puluhan serangga. Bahkan meski paginya banyak di antara serangga itu yang meregang nyawa, esok hari lampu kembali dikerubuti penggemarnya.

Pada saat itulah dia datang. Seorang perempuan berjalan di belakangnya. Tangan mereka bertautan. Keduanya saling bicara, tertawa satu sama lain. Bangku sebelahnya yang biasanya kosong kini terisi. Mereka berbagi earphone dari iPod-nya. Menatap ke layar ponsel yang dipegangnya. Lalu kembali tertawa.

Aku lupa dengan buku yang sedang kubaca. Aku mengamati mereka tanpa mengedipkan mata. Rasa tak percaya tumbuh seperti benalu di dalam semai-semai harapanku. Di bawah atap yang berkarat, lampu yang cahayanya sekarat, hatiku melisut.

Mataku berkaca-kaca. Degup jantung yang biasanya penuh semangat, kini seolah berdetak satu-satu. Hatiku seakan telah dicuri, kini tinggal kosong di sana. Hampa yang tak terasa ringan sama sekali, malah menyesakkan.

Nah, keretaku sudah datang. Stasiun ini bahkan tak mengharapkan kehadiranku lebih lama.

**

Aku memutuskan menghindarinya, meski begitu berat. Kupilih kereta lebih awal. Kembali aku berkutat dengan novel-novel romansa kesukaanku. Mencari pembenaran tentang apa yang kurasakan. Mencari nasib yang lebih buruk dari patah hatiku. Mencari saran untuk melupakan dengan mudah apa yang sudah terjadi.

Aku jatuh cinta terlalu dalam kepadanya.

Sulit untuk membebaskan diri. Aku terjerat dan menikmati sensasinya. Kini aku mengerti, mustahil untuk jatuh cinta tanpa mencicipi sakitnya.

Berhari-hari aku berpikir tentang cintaku yang tak masuk akal. Kami tak pernah bertukar nama. Kami tak pernah bicara satu sama lain. Kami tak saling mengenal, tetapi aku begitu saja jatuh kepadanya. Tak ada yang salah dengan cinta, hanya kadang ia datang di waktu dan tempat yang tidak semestinya.

Aku mulai berpikir untuk berhenti. Namun sebuah kutipan di buku yang kubaca membuatku tertegun. Seperti yang Niki Yan katakan, ‘At least I know what love is. Like clouds love the sky, ocean loves sand, winter loves snow, snow loves breeze, it’s all connected. It’s called unconditional love.’

Siapa yang bisa berkehendak untuk menghentikan cinta? Bahkan, hati belum tentu punya kuasa. Aku masih bisa mencintainya, tanpa syarat, tanpa mengharap balasan. Aku benci kenyataan bahwa cinta tak bisa memiliki, tetapi itu menjadi alasan untuk bertahan.

Malam itu aku menunggu lebih lama. Hujan sudah berhenti.

Aku, seperti kereta pada stasiun. Masih ada pemberhentian yang lain.

Nah! Kereta kami sudah datang!

**

Bogor, 28/7/13

untuk yang hatinya patah

 

§ 5 Responses to Nah, Keretaku Datang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nah, Keretaku Datang! at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: