The Reveal

13 Agustus 2013 § 2 Komentar

Semua bermula dari sebuah nama.

“Jacques Leonard William.”

Hening membentang dalam ruangan tempatnya berlutut. Kesunyian absolut. Detak-detak tak teratur jantungnya terdengar begitu jelas. Telinganya tiba-tiba berdenging, membuatnya menutup mata dan mengernyitkan dahi.

“Ucapkan sekali lagi.”

Ia, yang berlutut, di tengah ruangan itu menundukkan kepala. Pertanyaan itu terdengar dari segala penjuru. Sejak tadi, ia mengira berbicara pada sosok di balik kerai sutra gelap di hadapannya. Gorden itu berumbai-umbai meski tak ada angin yang berembus. Ia tak bisa melihat apa yang ada di sana, kecuali cahaya merah pucat yang berdenyut-denyut. Itu mengingatkannya pada lampu yang dipijarkan di belakang sekantung darah segar.

Suara barusan kering dan serak, seolah sudah begitu lama tak digunakan untuk bicara. Namun vokal penuh wibawa dan menunjukkan sikap berkuasa. Menghadirkan pula perasaan takut yang menggelincir seperti es dalam benaknya. Ia tak pernah dengan sengaja mencari kesempatan langsung untuk berbincang dengan sosok tersebut. Bahkan, dalam ratusan tahun kehidupan yang telah dijalaninya, percakapan mereka tak lebih dari jari kedua tangan.

Ia menarik napas. Melepas rekatan kedua kelopak mata. Membuka mulutnya sedikit demi sedikit. Pada saat ini, ia ingat untuk berdoa, meski entah kepada siapa doa itu ditujukan. Kedua tangannya saling menggenggam, menguatkan dirinya sendiri. Ruangan luas tempatnya berada sekarang menciptakan kesan dia merupakan makhluk tak berdaya. Pilar-pilar besar bersepuh emas yang diukir dengan aksara-aksara arkaik menopang langit-langit yang bercahaya. Warna biru muda menghampar di bawah atap, tampak laksana jagat sungguhan. Sementara itu, dimensi ruangan itu bagai tak terukur. Ketika masuk tadi, ia memandang sekeliling dan melihat pilar yang tak habis-habis hingga jauh. Sempat ia tergoda untuk menyusuri, tetapi langkahnya terjaga tetap lurus di atas karpet Persia lembut berwarna nila.

Serentak ngiang di telinganya lenyap. Ia nyaris terlonjak, lututnya goyah hingga posisinya tak lagi sempurna. Ia menelan ludah, kengerian menggerayangi punggungnya.

Jack. Jacques Leonard William.”

Ia menggigil. Suaranya yang bergetar memantul-mantul dalam ruangan itu, mengulang nama yang sama. Nama yang selalu hadir dalam pikirannya beberapa tahun terakhir. Bagai benalu, nama itu muncul di mana-mana, tak bisa dihapusnya. Sebab nama itu bukan hanya berdiam dalam kepala, tetapi sudah berakar di hatinya.

“Dia akan mendapatkan permintaanmu.”

 **

“Jack! Jack! Jaques Leonard William!

Pria pemilik nama berdiri di atas karpet merah. Tuksedo hitam membalut tubuh tinggi kurus berototnya. Ia melambaikan tangan ke segala arah, sembari menyunggingkan senyum. Ekspresinya begitu semringah. Ia tak peduli pada angin sore yang mengacaukan rambut ikal keemasannya. Publisisnya menempel di belakang, terus menerus mengingatkan untuk segera masuk ke studio. Ia hanya menganggukkan kepala, mengerti akan permintaan tersebut, tetapi sebelumnya ia ingin menemui penggemar-penggemarnya terlebih dahulu.

Jack berjalan ke salah satu sisi karpet merah. Pagar pengaman setinggi pinggang menjadi penanda perbedaan status di sana. Remaja-remaja serta perempuan muda berdiri berjejal, meneriakkan nama Jack berkali-kali. Mengacungkan poster dirinya, membawa papan-papan berisi dukungan dan terima kasih. Walau terkadang, kemunculan penggemar menghilangkan privasi dalam hidupnya, seringkali Jack pun menyukai ada di tengah mereka. Perasaan dipuja, dihargai, dan didukung oleh banyak orang yang tak ia kenal dari berbagai belahan dunia benar-benar mengguncang benaknya. Ia menyadari betul tak bisa bersinar tanpa mereka. Menyapa mereka ketika acara penayangan perdana filmnya adalah sesuatu yang wajib dilakukannya.

Senyum Jack terus merekah. Ia menandatangani poster, majalah, buku, yang disodorkan ke hadapannya. Ia menyeringai mendengarkan celotehan penggemar-penggemarnya, sesekali menanggapi. Kilatan lampu kamera berkali-kali menghantam matanya, tetapi ia sudah terbiasa akan hal itu. Publisisnya sudah menghampiri lagi untuk kesekian kali, memberitahunya hal yang sama. Jack mendekat seorang perempuan muda dengan warna rambut oranye gelap yang dipotong begitu pendek. Bibirnya yang dipulas jingga tersenyum tipis. Ia hanya membawa buku catatan kosong.

“Senyummu seindah matahari, Jacques Leonard,” pujinya.

Thanks,” balasnya, menggoreskan tanda tangan di halaman buku catatan itu.

“Kau akan hidup selamanya.”

Jack tersenyum kecil. “Ya, aku akan hidup selamanya.”

“Kau abadi, Jacques Leonard.”

Tatapan mereka bersemuka. Jack mengamati bola mata hitam milik perempuan itu, seperti gerhana di permukaan Venus. Gelap yang seakan menyedotnya, hingga tak mampu berpaling. Jack tahu ada sesuatu yang ganjil, tetapi tak bisa mengenalinya. Tangan perempuan itu terulur, membelai rahang Jack. “Mereka akan menemukanmu.”

Jack terperanjat. Perempuan itu seakan berbisik langsung di telinganya. Apa yang dikatakannya terdengar jelas oleh Jack, tanpa terpolusi keriuahan yang mengelilingi mereka. Ia tahu tidak semua penggemarnya bersikap tulus, beberapa memiliki niat aneh atau buruk kepadanya. Kewaspadaannya langsung menyala. Ia mengambil langkah mundur. Menjaraki dirinya dari sekumpulan orang yang tak dikenalnya itu. Di saat seperti ini, pagar besi yang ada begitu berguna. Ketika publisisnya mendorong Jack dari situ, ia menyadari bahwa catatan perempuan oranye masih tertinggal padanya. Ia segera menghentikan langkah, menoleh pada kerumunan. Namun perempuan oranye itu tak ada lagi di sana. Jack hendak menyerahkan buku tersebut pada publisisnya saat lembar selanjutnya disingkap angin.

Tulisan itu terbaca jelas oleh Jack.

“Pertama, kau harus mati.”

**

Bersambung…

Dipost lagi kalau udah lengkap semua ceritanya.😄

§ 2 Responses to The Reveal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Reveal at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: