Kotak Pandora

17 September 2013 § Tinggalkan komentar

Beberapa orang terlahir sebagai pemberontak.

Akan tetapi, aku tidak pernah benar-benar yakin mereka hidup di antara manusia biasa. Aku orang biasa, nyaris seumur hidup tak pernah bersentuhan dengan hal-hal di luar norma. Hidup sederhana, menikah dengan orang yang kucinta, dan semua berjalan nyaris seperti yang kuduga. Bukan, aku bukanlah cenayang, hanya suka mengira-ngira.

Dan membaca. Dari membaca itulah kutemukan sosok-sosok pemberontak. Ingat Bong, sahabat Mpret, dari cerita Petir yang ditulis Dewi Lestari? Katanya ia seperti balon gas. Ia mengisi dirinya dengan pengetahuan, lalu lepas, terbang sesuka hati. Yang lebih familier, mungkin Sirius Black dalam kisah Harry Potter, rela pergi dari keluarga karena perbedaan prinsip.

Kemudian, dia datang, karakter hidup—si pemberontak.

Aku duduk di salah satu sisi meja, laksana alien di tengah tawa riang para lelaki yang ada di sekitar. Salah satunya suamiku, Narendra. Sisanya, sahabat-sahabat suamiku, Jayton, dan Antares. Mataku mengikuti gerak Antares yang mengeluarkan sebuah kotak dari dalam ransel yang sudah pantas disebut barang antik. Narendra menepuk bahuku, memberi isyarat agar aku pergi dari kerumunan tersebut.

Kugelengkan kepalaku, tetap duduk di sana. Pandanganku tak lepas dari Antares dan kotak peraknya. Seringai menghiasi wajahnya yang tirus, memperlihatkan lesung pipi. Wajahnya pastilah tampan kalau saja ia mau sedikit saja mengurus diri. Jaketnya kedodoran di tubuh kurusnya. Ia memakai gelang kulit yang tak pernah sekalipun lepas. Jari-jarinya yang panjang perlahan membuka kotak perak itu—Narendra dan Jay sama perhatiannya denganku. Seolah-olah Antares sedang menunjukkan isi kotak pandora.

Ia mengatakan dirinya adalah kotak pandora.

**

Pada saat itu senja sedang turun. Aku duduk menemaninya di halaman belakang untuk merokok. Ia datang ketika suamiku sedang keluar kota. Mendesak katanya. Sebelumnya, aku belum pernah benar-benar berdua saja dengan Antares. Kalau Narendra tidak ada, maka ia harus meberitahukan seluruh situasinya kepadaku.

Tentang Jay, Jayton. Katanya ia dalam kondisi pelik sekarang. Adiknya, Benjamin, meninggal dunia. Semua rahasia yang selama ini disimpan pun harus dibeberkan.

“Narendra keluar kota beberapa hari.”

Antares berdecak. Ia menarik knit cap-nya dengan brutal.

“Aku juga akan keluar kota.” Ia menenggak bir yang dibawanya sendiri, sementara aku mengikuti dengan menyesap teh camomile bercampur madu. “Kalau begitu kamu saja,” Antares menujukku dengan kaleng bir di tangannya. “Tidak sulit kok. Cuma menengok saja. Dia juga sudah kenal kamu, kan?”

Mulutku sedikit terbuka, tidak tahu harus menjawab apa.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku, menaikkan tudung jaket merahku.

“Kamu tidak tahu? Sudah baca koran pagi tadi?” Ia merepet karena ketidaktahuanku. Sepengetahuanku, ia memang seseorang yang suka bicara—bermonolog. Lewat kalimat-kalimat filosofis dan penuh makna. Aku senang mendengarnya bicara, mengutip tulisan John Milton atau Shakespeare. Dia hafal itu semua seperti dia dengan baik mengingat posisi bintang di langit. Padahal, langit malam selalu bergerak, tetapi dia tahu, karena dia mengaku bintang. Antares adalah bintang merah.

Aku menggeleng. Ia mengetik sesuatu di iPhone-nya dengan cepat, lalu memperlihatkannya layarnya kepadaku. “Baca,” katanya menyodorkannya.

Skandal CEO Palsu Menggoyang Danubrata Group

Dahiku berkerenyit. Foto di bawah judul berita itu memang benar mirip sekali dengan Jay. Namun yang ini tampak rapi dengan setelan jas dan dasi. Jay yang kukenal sama sekali berbeda–jins yang sobek di lutut, kaos, dan jaket kulit hitam yang juga belel. Keterangan di bawah foto menyebutkan sosok itu adalah Jayton Danubrata.

Lalu melirik pada Antares. “Ares, Mas Jay… itu Jayton Danubrata?”

Pertanyaanku disahuti hening sesaat. Lalu, derik jangkrik kembali terdengar. Angin senja turun dan menggoyangkan lonceng angin di sisi atap gazebo. Antares menatapku dengan sepasang matanya yang tajam. Lebih tepatnya pandangan itu seakan mencengkeram dan membuatku sulit berpaling. Ia tak mengangguk, tak bereaksi apa-apa. Pemahaman itu muncul sendiri dalam benakku.

“Boleh aku merokok?”

“Aku mengajakmu ke sini, agar kamu bisa bebas merokok.”

Tak ada terima kasih, melainkan ia langsung bergegas menyalakan rokok dari pemantik yang sudah tersedia di tangannya.

“Kayak fiksi ya?” komentarku, menyerahkan lagi iPhone itu kepada Antares. Jari-jariku tak sengaja menyentuh kulit tangannya yang begitu dingin. Dari dulu ia memang selalu terlihat pucat, meski kadang sepulang dari perjalanan kulitnya terbakar, tapi tak lama ia akan kembali seperti ini. Sekarang, di bawah sorot lampu belakang rumah, ia tampak seperti patung.

Aku belum pernah bicara kepadanya dalam posisi sebagai penulis dan penulis. Aku menulis fiksi. Dia pun sama denganku. Kami ada di penerbit yang berbeda. Aku membaca buku-bukunya, tapi aku tak pernah bertanya apakah dia membaca buku-bukuku.

“Kamu tahu nggak kalau Narendra itu bangga banget sama kamu? Dia selalu cerita ke semua orang tentang tulisan-tulisan kamu. Maksa semua orang buat beli dan baca.”

Sejak datang ke rumah, ini kali pertama aku melihat Antares tersenyum. Ia mengacak rambutku. Segalanya terasa ganjil selama beberapa menit. Aku tak pernah berinteraksi seintim ini dengannya. Bersama Jay, aku masih merasa lebih leluasa. Ia seperti kakak bagiku dan Narendra. Suamiku tak pernah bercerita di mana ia menemukan orang ini, lalu berteman dengannya. Aku tak ingat Narendra pernah menceritakannya, atau aku yang lupa?

Ia menarik alas cangkirku, menjadikannya asbak. Bara api di ujung rokoknya menyala tiap kali Antares menghirupnya. Menjatuhkan satu-satu abu ke atas meja. Aku tidak protes. Kadang-kadang aku menikmati pria ketika mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Diam tanpa kata, menebak-nebak apa yang terbersit di otak mereka, selain seks dan wanita.

“Kalau ada yang bertanya siapa orang paling penting dalam karir kepenulisanku. Orang itu adalah Jay, Nareswari. Aku keluar rumah umur 21 tahun. Kabur dari kampus. Memilih untuk menggembel ke mana-mana.” Suara tawa Antares terdengar pelan. “Naif ya?”

Aku tidak menjawab, memilih meminum tehku yang sudah dingin. Tangan Antares memainkan kaleng bir yang berkeringat. Titik-titik airnya membasahi permukaan meja kayu tempatku dan ia menumpu tangan.

“Awal-awanya aku hanya menghabiskan tabunganku ke sana kemari sambil bekerja serabutan. Aku bertemu dengannya di Bali. Dia bekerja sebagai supir dan menyupiri rombonganku dari Denpasar sampai Ubud. Ia bahkan tampak lebih mengenaskan dariku.” Antares tertawa lagi, entah apa yang lucu dari ceritanya.

“Malamnya aku bertemu dia lagi di sebuah kafe. Kami mengobrol banyak. Kami bertukar cerita tentang pekerjaan ini itu yang pernah dijalani. Ia menceritakan bagaimana terpaksa keluar dari rumah. Aku bertutur tentang bagaimana memilih keluar dari rumah.”

Kalimat terakhir yang terucap mengubah seluruh ekspresinya. Tilikannya terarah sembarang, ada yang ia lihat tak tak kutemukan. Rumpun kamboja jepang itu hanya diam, bunga merah mudanya tampak indah di bawah sinar lampu taman. Pastilah bukan itu yang sedang diamati Antares. Mungkin yang membisukannya adalah kenangan-kenangan yang tak sengaja datang.

Aku jadi membayangkan ia ketika masih muda. Adu mulut dengan orang tuanya. Sepedas apa ia dulunya? Antares bukan seseorang yang ingin kuajak berdebat, mulutnya lebih berbisa daripada ular sendok. Akan tetapi, mungkin beda saat ia berhadapan dengan keluarga sendiri. Apakah dia menangis ketika pergi?

“Bagaimana rasanya… keluar dari rumah?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dariku.

Antares berdecak. “Kamu juga keluar dari rumah, kan, setelah menikah. Bagaimana rasanya?”

Sedih, tetapi kasus kami tidaklah sama. Kami menyengapkan satu sama lain. Aku terpekur bersama memoriku saat baru saja menikah. Haru dan bahagia bercampur jadi satu waktu itu. Aku memutar-mutar cincin di jari manisku seraya mengamati lawan bicaraku.  “Beda,” jawabku pelan.

Kepalanya tertunduk selama beberapa detik. Masih dalam posisi yang sama, ia menoleh, menyunggingkan senyum yang terasa pilu, sekaligus hangat.

“Ada orang-orang yang dilahirkan menjadi pemberontak. Pengkhianat. Seluruh keluarga besarku masuk ke UI. Ayahku guru besar di UI, ibuku juga menjadi dosen senior di sana. Kakak-kakakku pun lulus dari sana, satu menjadi seorang dokter bedah, satunya mengikuti jejak orang tuaku menjadi dosen. Aku sama sekali tidak berminat ke sana. Lulus sekolah aku diterima di UGM. Orang tuaku kecewa. Aku nggak bertahan lama untuk kuliah, kemudian aku meninggalkannya. Orang tuaku kecewa. Dua kali lipat.

“Aku ingat melihat ibuku menangis. Ayah yang berteriak kepadaku. Kakak-kakakku yang diam ketika aku mengungkapkan untuk berhenti kuliah. Aku bertengkar dengan ayahku. Beliau sama sekali tidak menyuruhku pergi, akulah yang melepaskan semuanya. Membuang yang sudah kupunya untuk hidup sesuai pilihanku. Aku sedih dan senang di saat yang sama. Aku hanya yakin memilih jalan yang benar.

“Aku adalah kotak pandora. Pada saat itu, yang kupunya cuma harapan.”

Rokoknya sudah habis. Senyumnya terkikis. Sisa pendeknya tergeletak bercampur abu di atas tatakan yang digunakan sebagai asbak. Semua itu tak lama, karena ia langsung menghidupkan sebatang lagi. Rokok itu seperti bahan bakar agar ia terus bisa bercerita. Aku membiarkannya. Kurasa ia sedang butuh didengarkan. Dan aku senang bisa membuatnya berbagi tanpa harus kupaksa.

“Dan Jay, ia pantas mendapatkan apa yang dimilikinya sekarang. Ia dibuang. Kalau sekarang ia mendapatkan haknya sebagai pewaris Danubrata, itu sudah seharusnya. Tapi, apa yang media bilang, mereka nggak tahu apa-apa. Ia sedih dan bingung. Aku hanya minta tolong padamu untuk sedikit merawatnya. Narendra pasti akan mengizinkannya,” katanya, meneguk lagi sampai habis isi kaleng birnya. “Dan itu sama sekali bukan fiksi, little red.” Antares menyentuh dahiku dengan ujung telunjuknya.

“Kamu masih bisa hidup hanya dengan berbekal harapan,” aku menepis tangannya yang dingin dan basah.

“Harapan seperti api, menghangatkanmu pada takaran yang pas. Membakarmu dalam porsi berlebih.” Ia menyalakan pemantiknya, mengamatinya. “Jangan bermain api.”

“Hidupmu menarik.”

Antares terbahak. “Itu karena kamu tidak menjalaninya, Nareswari.”

“Tapi kalau aku punya kesempatan….” Satu-satunya tanggapan yang dapat kuberikan untuknya. Api di tangannya masih menyala, memancar kekuningan ke paras pucat Antares. Cahaya kuning itu meliuk karena aliran udara, lalu mati.

“Kamu nggak akan ingin,” potongnya. “Nggak semua orang diberi kemampuan untuk menjadi pemberontak. Butuh hati yang besar untuk melakukan hal-hal yang orang lain anggap salah dan kita meyakini itu benar.”

**

Bagiku Antares selalu menarik.

Kotak perak di tangannya sudah terbuka. Daun-daun kering berwarna gelap memenuhi kotak itu. Jay mengacungkan jempolnya. Narendra cengar-cengir seperti biasa. Aku hanya mematung, seakan tak berada di sana.

Tiba-tiba di tangan Antares sudah muncul selembar kertas kecil. Ia meletakkan kotak itu di atas meja. Sekali lagi, Narendra menendang kakiku dengan lembut—menyuruhku undur diri dari pertemuan kecil itu.

“Aku mau lihat. Apa sih?!” bentakku pada Narendra.

Jay terkekeh. Lengan kemejanya digulung hingga siku. Jas serta dasi tersampir di punggung kursi. Rambutnya yang tadi tertata rapi, kini lebih berantakan. Helaian-helaian yang terkumpul jadi satu, jatuh di depan dahinya. Bergoyang setiap kali ia bergerak. Beberapa kali, ia mencoba menyingkirkan bagian rambut itu ke belakang, bersatu dengan lainnya, tetapi usahanya sia-sia. Justru rambut itu membuatnya tampak terlihat seksi, mengingatkanku pada Mas Jay yang dulu, bukan Jayton Danubrata yang CEO sebuah korporasi.

“Aku ada meeting besok pagi. Jadi, aku nggak ikutan.” Jay mengangkat tangan ketika Antares menyerahkan satu linting yang sudah jadi.

Antares melengos. Tangannya tetap terjulur kepada Jay.

“Besok hari Minggu,” ujarku.

Teleconference,” sebutnya santai, meraih pemberian Antares.

“Gila,” dengus Antares. “Aku lebih suka kamu ketika begadang bermalam-malam untuk mengurusi orang-orang di pengungsian. Atau berhari-hari nggak mandi karena harus menyusuri daerah bencana mencari korban yang hilang. Kursi direktur itu tampaknya sudah menancapkan akarnya kepadamu, Jay.”

Suara tawa meledak dari Jay. “Aku juga merindukan itu, tapi aku hanya menunaikan kewajibanku. Kita bertukar tempat yuk?”

“Dibayar senilai Danubrata Group?”

Pertanyaan Antares menjadikan ia sasaran pelemparan tisu bekas Narendra. Jayton tertawa merdu melihat ulah keduanya. Antares balas melontarkan tisu yang dibuang kepadanya untuk Narendra. Ini sudah lepas tengah malam dan mereka masih bertingkah seperti anak-anak. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, seraya merapatkan resleting jaket merahku.

“Dari mana kamu dapat itu? Itu kan ilegal?” celetukku, menunjuk kotak di tangan Antares.

Keriuhan pun berakhir. Tak sekalipun aku pernah mendengar Jay atau Narendra menggulirkan pertanyaan itu. Apakah itu semacam teka-teki sakral yang tabu diucapkan dalam kelompok kecil ini? Kupandangi mereka satu persatu. Bahkan suamiku, tak berniat menjawabnya.

Antares mencibir, kedua alisnya terangkat. Tatapannya menjelang penuh binar kepadaku, layaknya anak kecil yang diminta memberitahu di mana menyembunyikan pintu rahasianya. “Kamu nggak ingin tahu.”

“Pelit.”

“Kamu nggak akan ingin…,” sahutnya cepat.

Pandanganku menentangnya. Namun ia tidak balas mengawasiku, malah sibuk dengan suamiku.

Little red,” ucapnya sekali lagi.

Aku menghela napas, mengamati semuanya satu persatu. Kucium bibir suamiku sambil mengucapkan selamat malam, sebelum beranjak. Antares dan Jay tampak tidak peduli.

Aku tidak akan memaksa Antares bercerita. Bisa jadi itu bukti dirinya sebagai pemberontak. Yang jelas aku mengerti, rahasia itu sudah pasti merupakan isi kotak pandoranya.

Bogor, 14-17 Sept 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kotak Pandora at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: