Tentang Riset dalam Menulis Fiksi

25 September 2013 § 3 Komentar

Gara-gara lagi ngeriset sesuatu untuk bahan tulisan, gue jadi kepikiran untuk menulis pengalaman gue dalam melakukan riset. Nggak bisa dipungkiri kalau riset untuk tulisan itu penting banget. Riset menghindarkan kita dari fakta-fakta yang salah, kurang tepat, atau kurang update, sehingga kita bisa menyajikan tulisan yang terasa nyata, natural, serta bisa dimengerti pembaca.

Bagi penulis pemula, riset sih biasanya hanya mencakup latar (yep, latar bisa banget jadi pelajaran awal untuk memulai riset yang efektif dan efisien). Namun, sebenarnya dalam sebuah cerita banyak banget hal yang bisa diriset (kalau mau), kecuali kita udah mengalami sendiri ‘hal’ yang mau ditulis tersebut. Ya, meski udah pernah menjalani, tapi tetep aja untuk jadi fiksi kita butuh perubahan di sana-sini. Nah, improvisasi butuh ide dan kreativitas, agar beda dari yang lain kita butuh riset untuk tahu sejauh mana perbedaan yang bisa kita ciptakan.

Riset adalah salah satu bagian paling menyenangkan dalam menulis, selain nyusun karakter dan mengakhiri cerita (hahaha!). Selain latar, riset bisa meliputi karakter (profesi, hobi, skill, kondisi fisik atau psikologis, dan sebagainya), latar (tempat-tempat, waktu kejadian), topik tertentu yang dibahas dalam cerita, atau hal-hal trivia lainnya, kayak event tertentu yang mau dijadikan bagian dari cerita, dan banyak lagi, sesuai dengan kebutuhan tulisan.

Kegiatan riset ini bisa tricky banget dan ngabisin waktu kalau nggak tahu apa yang dibutuhkan dalam tulisan. Oleh karena itu, seringnya gue ngelakuin tiga kali tahapan riset, yaitu riset awal, riset pendalaman, dan riset tambahan.

Riset awal untuk nyusun sinopsis, biasanya berupa karakter, latar, serta tema cerita. Ini sih singkat aja, yang penting udah punya dasar cerita meski belum mendalam. Biasanya sih dimulai setelah punya premis. Gue ngebandingin premis dan tema yang gue punya dengan tulisan-tulisan yang udah ada sebelumnya. Kadang-kadang kalau lagi rajin gue akan bikin daftar tulisan dengan tema serupa, serta konflik, latar, dan karakternya secara singkat. Sehingga, gue bisa dapet gambaran besar seperti apa tulisan-tulisan yang udah ada. Jadi, setidaknya, meski sama-sama nulis roman, gue bisa pede kalau tulisan gue beda dengan yang lain. Riset awal ini sih bisa dibarengin dengan nulis yang lain, masih santai deh pokoknya.

Riset pendalaman (halah bahasa gue…), yang gue lakuin setelah punya sinopsis. Di riset pendalaman ini barulah gue bikin poin-poin mendetail apa yang ingin gue sampaikan dalam cerita dan belum gue tahu, serta hal-hal yang harus gue ketahui, meski belum tentu dimasukkan dalam cerita. Di sini udah mulai agak serius nih. Juga mesti pilih-pilih banget hal-hal apa aja yang mesti diriset.

Batasan dalam ngeriset tentu aja waktu, selain itu kemudahan akses sumber riset (seperti narasumber, kunjungan ke lokasi, dan literatur) juga mesti dipertimbangkan. Itu batasan dari penulis ya. Bisa juga bikin batasan dari cerita itu sendiri. Misalnya, tentunya tujuan tulisan kita apa, bisa juga dengan bikin POV pertama (sehingga cerita terbatas dari pengetahuan si karakter utama) atau jangka waktu cerita tersebut berjalan. Itu bisa banget jadi batasan.

Contohnya, gue nulis tentang karakter yang mengidap rhabdomyosarcoma.

Di riset awal gue cuma nentuin, oke, gue pengin bikin cerita tentang orang yang menjalani hari-hari terakhirnya karena kanker dan gimana akhirnya dia ngaku kalau sakit ke kekasihnya yang lagi sekolah ke luar negeri.

Berarti gue akan bikin karakter cowok dan cewek. Si cowok sakit. Si cewek sedang kuliah di luar negeri. Kemudian gue cari tahu tentang kanker. Dari sekian banyak kanker dan cerita tentang itu, apa sih yang bisa bikin beda? Gue mulai ngeriset tentang penyakit kanker dan cerita-cerita yang mengandung tema serupa. Setelah menemukan rhabdomyosarcoma, gue mulai riset awal tentang itu, sambil nulis sinopsis.

Setelah sinopsis jadi, barulah gue ngelakuin riset menyeluruh tentang kanker tersebut. Kayak gimana kondisi setelah terserang kanker. Berapa lama waktunya. Tahapan-tahapan sampai si cowok kena kanker. Gimana caranya si dokter ngejelasin apa itu rhabdomyosarcoma. Obat-obatannya apa aja. Detail terapi-terapinya. Rasa sakitnya kayak apa.

Itu baru dari penyakitnya doang.

Kalau mau bikin ada karakter dokter yang termasuk karakter pembantu utama. Tentu juga harus riset tentang si dokter spesialis kanker ini. Misalnya, hal-hal trivia tentang dokter dan sebagainya. Kalau pun gue pakai POV pertama, gue juga mesti tahu-tahu tentang si dokter ini.

Terus tentang kondisi psikologis si cowok. Psikologis keluarga si cowok. Gitu-gitulah.

Dan sebagainya, dan sebagainya.

Oh ya, riset pendalaman ini bisa banget ngubah sinopsis awal yang udah ditulis. Nggak usah takut dengan perubahan yang terjadi, toh itu terjadi karena kita juga berproses dari nggak tahu jadi tahu dan mengerti.  Apa yang mau kita tulis memang berdasarkan hasil riset yang benar.

Setelah checklist yang ada lengkap atau minimal tercukupi, gue akan nyusun outline cerita. Detail bab per bab atau adegan per adegan, enaknya aja gimana. Outline juga udah dilengkapi dengan hasil riset dan hal-hal apa yang harus ditulis di bab/adegan tersebut. Barulah habis itu gue nulis.

Gue sendiri orang yang bakal berhenti nulis di tengah-tengah kalau ada hal yang ngeganjel, jadi gue lebih suka ngelengkapin semuanya di awal. Meski makan waktu, tapi ketika nulis bisa lancar jaya. Yang penting ketika melakukan riset atau kegiatan persiapan menulis beri batasan waktu berapa lama, jadi nggak terlalu banyak materi yang diserap dan nantinya malah bingung nulisnya. Berpeganglah pada sinopsis dan daftar riset kamu yang udah dibuat. hahaha…

Kelihatannya ribet ya? Padahal nggak sih. Semua nanti seiring sejalan kok. Ketika membangun cerita, biasanya otomatis kita tahu apa-apa yang dibutuhkan. Kalau masih bingung ada baiknya sharing dengan teman-teman deket yang suka nulis atau mau diajak konsultasi.

Riset tambahan itu biasanya muncul ketika nulis. Pas nulis biasanya bakal banyak improvisasi dan mulai deh ketemu apa-apa yang belum pas atau tersedia. Nah ini bisa dicatat terlebih dahulu, terus dicari sesudah selesai. Atau pas nulis, barengan dengan cari ini itu. Tergantung enaknya aja sih.

Sebenarnya riset nggak perlu dibuat ribet. Santai aja tapi serius. Makin banyak yang kita tahu tentang apa yang ditulis makin baik. Tapi, jangan sampai semua hal yang kita tahu dipaksain masuk ke dalam cerita. Bahkan kalau memilih pakai POV pertama, bukan berarti kita/penulis boleh nggak tahu beneran, tapi tetap harus tahu. Karena pengetahuan kita bakal tersalurkan lewat karakter-karakter yang lain, baik deksripsi maupun dialog.

Jangan sampai juga, hasil riset kita ditulis apa adanya. Maksudnya, malah jadinya kayak diktat kuliah atau artikel yang sengaja kita comot terus diganti-ganti doang. Bungkus pengetahuan hasil riset kamu itu dengan bahasa (karakter)mu. Kalau memang tulisanmu buat remaja dan temanya romansa, ya jelaskan dengan cara yang mudah dimengerti remaja.

Kayaknya gitu aja sih pengalaman gue waktu ngelakuin riset. Btw, ngeriset juga bisa dipakai untuk modus #halah, yang ini jangan ditiru. Yah, maksudnya bisa ketemu orang baru, tentu dapet pengetahuan yang nggak pernah kita ketahui selama ini. Pokoknya ngeriset untuk tulisan itu kegiatan yang fun banget. Semoga cerita dari gue ini bisa membantu risetmu ya.

Selamat menulis!

Bogor, 25/9/13

§ 3 Responses to Tentang Riset dalam Menulis Fiksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Riset dalam Menulis Fiksi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: