Dua Tahun

26 September 2013 § Tinggalkan komentar

Dua tahun berlalu. Oh tidak, dua tahun tujuh bulan tepatnya.

Jayton merapikan jasnya. Matanya mengamati pantulan dirinya di cermin. Antares belum berhenti menceramahinya lewat telepon sejak beberapa menit lalu.

“Aku nggak keberatan menemani,” katanya.

“Nggak.” Jay menggeleng.

“Atau sebaiknya kamu bawa teman perempuan kencan lain. Erika misalnya. Atau Nareswari. Eh tunggu, mereka sudah bersuami. Atau Tika, editorku, mungkin dia mau diajak menemanimu. Atau nggak adakah perempuan yang dekat denganmu dua tahun terakhir ini?”

Intonasi Antares meninggi. Jayton menyunggingkan senyum, meski tak ada siapapun di restroom. Ia mendorong pintu perlahan.

“Cuma Olivia,” jawabnya.

“Itu nggak dihitung dong. Ia masih adik iparmu.”

Jay tergugu di samping mejanya. Lacinya terbuka, tangannya membeku—hendak mengambil sesuatu dari sana.

“Oke. Dia janda adikmu.”

“Aku harus segera pergi,” ujarnya, menahan gemuruh di dada. Ia bergegas mengambil sebuah kotak dari laci. Merenggut kunci mobil dari atas meja.

**

Dua tahun. Plus tujuh bulan. Berjalan sekedipan mata saja. Jayton dengan kesibukan yang menyita hampir seluruh waktu dan hidupnya. Selama bertahun-tahun ia tidak pernah memimpikan akan berada di posisi ini lagi. Ia bahkan sudah melupakannya.

Kematian Benjamin mengubah segalanya. Jayton bisa memilih pergi, namun akhirnya ia tetap di sini. Permintaan Ben yang membuatnya kembali. Lagi pula, semua ini memang seharusnya ia miliki. Ketenaran, kemewahan, puja-puji, nama besar, semestinya ia dan Ben berbagi itu semua. Awalnya Ben menginginkan seluruhnya sendiri. Situasilah yang memaksa Ben untuk mengakui. Jay, mau tak mau, memaafkannya.

Sejak kecil mereka berbagi banyak hal. Tak ada yang Jay tidak ketahui tentang Ben, juga sebaliknya. Mereka tidak kembar. Tetapi, ditinggalkan ibu di usia muda, menyadarkan mereka untuk melindungi satu sama lain. Itu tak berjalan mulus seperti yang ia harapkan. Sebuah insiden membalikkan nasibnya—ia harus angkat kaki dari rumah.

Perpisahan selama empat belas tahun menjadikan keduanya orang asing satu sama lain. Ben mencoba untuk mengurangi jarak antara mereka, tetapi Jay membatu. Rasa dikhianati itu tak pernah sirna dari dalam hati. Ketika ia akhirnya menjalani kehidupan milik Ben, sedikit-sedikit ia mulai mengerti seberat apa tekanan yang dilakoni adiknya. Ia mencoba untuk mengerti dan mendalami. Terlalu dalam hingga ia jatuh hati.

**

Dua tahun berjalan sekejapan mata bagi Olivia. Kota tempat tinggalnya selama bertahun-tahun ini masih terasa familier. Ia masih mengingat restoran favorit yang sering dikunjunginya bersama Ben. Ia belum lupa jalan menuju rumah yang ditinggalkan dan dibiarkan kosong. Kembali ke kota ini seperti membuka kotak memori tempat Olivia menyimpan kenangan tentang Ben.

Bran duduk manis di sisinya. Olivia merasa beruntung memiliki Bran. Anak laki-laki berumur lima tahun itu tidak lagi rewel seperti dulu. Semenjak pindah ke Tokyo, Bran lebih penurut dan dekat dengannya. Seolah-olah Bran mengerti apa yang menimpa mereka—bahwa mereka saling memiliki satu sama lain setelah Ben pergi.

Andai saja Ben masih di sini dan bisa melihat betapa miripnya Bran dengannya sekarang. Bocah lucu itu mewarisi bentuk wajah Ben, seakan-akan paras itu dibuat dari cetakan yang sama dengan milik Ben.

“Om Jay mana, Ma?” tanya Bran.

“Om Jay masih di jalan. Sebentar lagi sampai, Sayang,” jawab Olivia, mengelus kepala Bran.

Yang paling Olivia khawatirkan tak pernah terjadi. Diam-diam ia selalu bersyukur akan itu. Pilihannya pergi ke Tokyo untuk menjauhkan Bran dari Jay merupakan hal baik. Ia tahu Jay keberatan, tetapi ia tak pernah melarang. Jay bukan siapa-siapa bagi mereka berdua.

Jay yang selalu memulai percakapan antara mereka. Email-email rutin yang Olivia balas, kadang ia tambahi foto Bran jika Jay meminta. Beberapa kali Jay mampir ke tempat tinggal mereka di Tokyo, membawakan buah tangan dari Indonesia. Sebelum datang Jay selalu bertanya, apa yang ia dan Bran butuhkan. Beberapa hari kemudian Jay akan datang dengan semua pesanan tanpa kurang suatu apapun. Berapa pun banyaknya ia meminta, Jay akan membawakannya.

Olivia tak bisa menolak. Jay selalu mengulang permohonan bahwa sudah seharusnya ia ikut menjaga Olivia. Setelah Ben tiada, tinggal Olivia dan Bran keluarga yang ia punya. Tak lupa ia menghadiahi Bran mainan baru dan sepasang Louboutin putih untuk Olivia. Warna yang sama sejak Jay tahu Olivia menerima pemberiannya.

Semua itu sama sekali tak bisa Olivia hindari. Meski tinggal berjauhan, ia tahu hubungannya dengan Jay lebih baik daripada dulu. Mereka lebih banyak bicara dibanding saat tinggal serumah. Kebanyakan tentang Bran, sesekali Jay bercerita tentang perusahaan keluarga yang dikelolanya. Jay mengingatkan Olivia kepada Ben saat bertutur dengan semangat. Namun Olivia tak akan pernah mengusirnya lagi hanya karena sosok Jay mengacaukan ingatannya tentang Ben. Meski Ben sudah ada di dunia yang berbeda, ia masih tetap hidup dalam memori Olivia, pada diri Jay. Olivia mencoba menerima, walau awalnya sulit.

**

Dua tahun lebih dan Olivia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Setelah bertemu dengan keluarganya, orang yang ia hubungi selanjutnya adalah Jay. Ada sesuatu yang ia harus sampaikan kepada Jay. Di restoran ini, pada jam makan malam, ia meminta Jay untuk hadir.

Bran jauh lebih tak sabar dibanding Olivia ketika ia memberi tahu bahwa Jay akan makan malam bersama mereka. Anak lelaki berambut ikal itu sudah bertanya belasan kali sejak pagi tadi. Sampai sekarang, Bran masih menganggap Jay salah satu sosok favoritnya. Olivia berharap kesan itu akan tertanam pada Bran hingga dewasa, tanpa Bran harus tahu apa yang sudah terjadi dulu.

Olivia langsung mengenali sosok yang baru saja masuk ke dalam restoran. Dalam keadaan yang masih begitu rapi meski sudah seharian bekerja, pria itu balas menatapnya. Senyum menghiasi wajahnya saat menghampiri meja yang ditempati Olivia dan Bran. Tangan kanannya menjinjing kantong-kantong kertas. Olivia membaca sekilas salah satunya, Christian Louboutin. Setelah malam ini mungkin Olivia akan memintanya berhenti memberikan sepatu-sepatu lagi.

Bran menyerukan nama Jay. Parasnya begitu sumringah saat menyosong Bran. Tanpa meminta izin Olivia, Jay mengangkat Bran dalam gendongannya. Di kursinya, Olivia duduk tersenyum melihat itu semua. Olivia mengenali perbedaan-perbedaan yang ada pada Jay sekarang dan dulu. Ia tahu bahwa keputusannya pergi dari Jay adalah sesuatu yang tepat. Mereka punya hidup sendiri-sendiri, bukan memasrahkan diri karena sama-sama tersakiti dan terjalin dalam kenangan tentang Benjamin.

Jay mencium kedua pipi Olivia sebelum duduk di salah satu kursi yang kosong. Kantong-kantong di tangannya sudah berada di sisi kursi Olivia. Malam ini, ia memakai salah satu sepatu pemberian Jay. Sepatu warna putih bersol merah yang mempercantik kaki jenjangnya.

“Aku akan tinggal lama di Jakarta,” ujar Olivia.

“Baguslah. Aku senang mendengar kabar itu,” sahut Jay antusias. “Aku akan menyuruh orang untuk membereskan rumah Pakubuwono. Kamu akan menempatinya lagi?”

“Nggak, Jay.”

**

Dua tahun dan Jay selalu berharap rumah itu terisi lagi oleh suara tawa Bran. Sesekali Jay masih sering sengaja lewat atau mampir untuk merokok di sana. Warna putih yang mendominasi rumah itu menebalkan kesan lengang dan dingin. Jay menganggap kunjungannya sebagai ziarah, sebab sepinya kuburan menyamai sunyi tempat itu. Serta, di sana, Jay bisa mengenang hari-harinya bersama Olivia dan Bran, serta sosok Ben.

Tanpa sadar tangannya sudah merogoh ke dalam saku.

“Tinggal dengan Claudia atau Mama?” tanya Jay.

Olivia menggelengkan kepalanya lagi. Jay menelan ludah. Rumah Pakubuwono yang dulu ditinggali Olivia bersama Ben sepertinya menyimpan banyak kenangan menyakitkan.

“Sudah menemukan rumah baru, Liv?”

Ada cercah senyum di paras manis itu.

Apartemenku selalu terbuka untukmu dan Bran, Liv. Atau kita bisa mencari rumah tinggal yang lebih layak daripada apartemenku yang sempit. Rumah tinggal yang siap diisi memori-memori baru, tentang Bran. Tentang kita.

Tangan Jay mengenggam kotak di bawah meja. Ia menyukai Olivia yang tersenyum, terlebih jika ditujukan kepadanya. Ia mengenali kerut-kerut di tepi mata yang membuat wajah perempuan itu tampak lebih menarik. Garis tawa yang membingkai bibirnya yang tipis. Bibir yang terlihat begitu lembut dengan sapuan gincu merah muda pucat. Olivia tampak begitu ayu dengan rambut panjang bergelombang yang tergerai dalam ombak senada.

Benjamin tidak jatuh cinta kepada orang yang salah. Tidak juga Jayton.

Ia tahu getar-getar di dada yang tak pernah hilang selama dua tahun terakhir. Ia bisa mengidentifikasi perasaan itu dengan baik. Ia tak salah. Cinta tak pernah salah.

“Olivia,” panggilnya.

Di bawah meja, kotak itu terbuka. Jay mengerling sesaat, memastikan isinya masih sama. Kilauan itu menyapa matanya, membuatnya tersenyum bercahaya.

Suara Bran menyeru pada seseorang menahan kelanjutan kalimat Jay.

**

Jay nyaris tak mengenali bayangan dirinya sendiri di cermin. Tuksedo itu begitu pas di tubuhnya, membalutnya dengan kokoh dan gagah. Ponselnya berdering berkali-kali, namun tak dihiraukannya. Hari ini adalah hari besar, tidak perlu Jay mulai dengan mendengar ocehan Antares.

Di atas meja tergeletak sebuah undangan. Nama Olivia tersulam di sana. Tetapi bukannya dengannya, karena kotak berisi cincin yang dua bulan lalu di bawanya masih tersimpan di laci meja.

 

Bogor, 26/9

 Cuma kangen sama Antares dan Jay aja. Ya, ya, kangen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dua Tahun at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: