Cinta

29 September 2013 § 9 Komentar

(sumber gambar: weheartit)

Setiap orang nggak punya cukup waktu untuk mengalami semua hal. Melalui pengalaman orang lainlah, kita diberi kesempatan untuk merasakannya.

**

Empat hari empat malam aku terjebak di kamar kosku, menemani sahabatku, Nadira, meratap. Sebelum tidur dan pagi sesudah bangun tidur adalah jadwalnya menangis. Atau, terkadang bisa saja tanpa kenal waktu ia tersedu sedan seperti kesetanan.

Semua itu gara-gara Rendra. Pria yang baru saja memutuskan hubungan dengannya setelah dua tahun bersama.

Aku kenal dengan Rendra, meski tidak terlalu baik. Aku tahu naik turun kisah asmara mereka berdua. Sejak pertama saling mengenal, hingga saat akhirnya orang tua keduanya tahu dan tidak merestui. Seluruh cerita selalu meluncur dari bibir Nadira tanpa kuminta.

Maka, setiap kali tangisnya meledak, aku duduk di sampingnya. Mendengarnya menyabak tentang manta kekasihnya, mengenai betapa jahat Rendra yang sekarang sudah pamer kemesraan dengan pacar barunya, dan bagaimana Nadira masih begitu cinta. Ia membodoh-bodohi dirinya sendiri atas segala hal yang sudah dilakukannya. Rela melintasi satu benua demi menemui Rendra. Ia menggantungkan mimpi-mimpinnya untuk diraih dengan Rendra. Sekarang, Rendra mengempaskannya bagai ampas kelapa tiada guna.

Aku mengangguk-angguk. Mengiyakan ini dan itu. Semua perbendaharaan kata kusimpan di ujung lidah, jangan sampai melompat keluar. Karena bagiku yang sudah lama tidak punya kisah cinta dengan orang lain, semua itu tampak menggelikan. Aku mencoba bersimpati dengan tidak melontarkan celaan-celaan, tetapi itu tidak membuat pikiranku berubah menganggap tindakan Nadira sekarang sebagai hal yang tragis. Dramatis ya, tetapi kalau tragis, masih banyak kisah yang lebih menyayat hati dari pada itu dan menimbulkan jatuh korban jiwa.

Hari kelima, aku menyerah. Ini terasa sureal. Bukan aku yang patah hati, mengapa aku ikut capek segala? Maka, ketika pagi hari Nadira kembali menangis, aku hanya mendiamkan. Meneguk kopi seraya menonton ulang episode ‘A Scandal in Belgravia’ dari serial Sherlock.

I’ve always assumed that love is a dangerous disadvantage.

Aku mengamini kata-kata Sherlock tersebut. Lihat saja Nadira sekarang. Ia yang selalu cantik dan rapi, mendadak berubah menjadi mengerikan dan mengenaskan seperti sekarang. Salah satu orang paling logis yang kukenal, tiba-tiba kehilangan kewarasannya. Sama seperti Irene Adler yang terlalu menikmati permainannya hingga tidak bisa menahan diri jatuh pada pesona Sherlock. Terakhir, ia menjadi seorang yang menikmati kekalahan dari permainan yang dimainkannya.

Poor girl.

Aku merasa bagai juara sekarang.

**

Aku baru saja menonton Scandal in Belgravia ke-462781927649 kali. hehe… Duh nggak sabar nih nunggu Sherlock season 3. Benedict Cumberbatch awwwww…

Move on, bro! Gue punya Agents of SHIELD nih. Episode terakhir Shingeki no Kyojin juga. Oh ya, Atlantis juga udah gue donlotin nih. Jadi, ngambil Batman vs Superman, kan?

Duh, kapan sempet ketemu ya? Aku masih ngurusin si Nadira. Kemarin dateng nangis-nangis ke kosan. Aku terjebaaaak nggak bisa keluar. Help!

Gue anterin aja deh.

Asiiik! Titip piza ya! Satu pan regular. Rasanya pengin aku makan sendiri semuanya.

Ok.

**

Lain hari, sahabatku yang lain, Sheila, datang tanpa kabar berita, seperti angin, tiba-tiba ia menyelip masuk di kamarku. Wajahnya tampak lelah, serupa Frodo yang baru saja tiba di Mordor. Ia tersenyum kepadaku, menawarkan piza favoritku yang dibawanya. Namun aku tahu horor yang tersembunyi di balik pandangannya. Aku tahu apa yang menggumpal di dadanya dan menunggu untuk dimuntahkan kepadaku.

Pertama-tama, aku tahu harus makan terlebih dahulu. Ini akan jadi malam yang panjang.

Setelah aku menghabiskan potongan ketiga piza dan episode ‘The Angels Take Manhattan’ dari serial Doctor Who yang kutonton selesai, mata Sheila sudah berkaca-kaca. Aku mendekatkan sekotak tisu kepadanya. Lalu, begitu saja semuanya membanjir. Air mata dan kata-kata. Ia yang sengsara dan aku yang merana memikirkan akhir sedih dari Amy Pond dan Rory Williams, teman seperjalanan The Doctor.

Tetapi, tenang saja. Aku sudah terlatih membagi pikiran di saat seperti ini. Aku akan mendengarkan dengan baik-baik, karena ini adalah cerita tentang Khrisna. Pria tampan, cerdas, tetapi suka sekali menghajar Sheila.

Sheila menunjukkan lebam di lengannya karena cengkeraman Khrisna. Pertengkaran mereka kali ini karena aku mengajak Sheila nonton di bioskop. Ikut juga bersama kami, Martin, si pemasok segala jenis rupa tontonan yang mendekam di HDD eksternalku. Waktu itu, Khrisna sedang ada di luar kota dan pulang lebih awal. Sheila yang sedang nonton bersamaku tidak bisa ia hubungi. Akhirnya, beberapa hari kemudian Khrisna marah dan mengatakan kepada Sheila, lalu Sheila menyampaikan kepadaku kalau aku adalah teman yang punya pengaruh buruk baginya.

Oh, fuck him.

Rasanya ingin sekali menjajalkan tiga kutukan tak termaafkan kepada Khrisna.

Tentu saja, seperti saranku yang sudah-sudah (karena kasus ini memang sudah terjadi berkali-kali), aku tanpa ragu menyuruhnya untuk mengakhiri hubungan. Sama sekali tidak ada untungnya membangun dan merencanakan hidup dengan tukang pukul begitu. Sheila terus tersedu ketika aku melakukan diplomasi sampai berbusa, memberinya segudang alasan untuk tidak takut mendorong Khrisna dari hidupnya.

“Aku nggak bisa, La. Aku cinta sama dia,” ujar Sheila sesenggukan.

Pada saat itu, aku serasa ingin membentur-benturkan kepala ke dinding.

Saran yang kupunya untuk Sheila tentu bukan hanya karena alasan Khrisna yang telah menyakiti secara fisik dan mental. Aku adalah salah satu saksi kedekatan mereka dari awal. Dari saling membantu di tugas kuliah, hingga akhirnya terjebak cinta diam-diam. Hingga akhirnya mereka saling bersama tanpa deklarasi cinta. Dari situ dimulailah cerita-cerita yang tak pernah kuduga tentang Khrisna. Pesan-pesan kasar yang ditujukan Khrisna ke Sheila, sampai, kini aku melihat sendiri bekas pukulan yang menghitam.

“Laporin polisi aja.”

“Jangan, plis. Jangan ya, Lola. Kamu jangan cerita sama siapa-siapa. Kasihan dia. Dia dari kecil memang diperlakukan gitu oleh orang tuanya yang bercerai.”

“Iya, tapi bukan berarti dia pantes memperlakukan kamu begitu dong!” protesku sengit.

“Iya. Nanti aku akan bilang dia. Tapi, plis, kamu jangan cerita ini ke siapa-siapa ya.”

Pernahkah Sheila bertanya betapa berat aku menyimpan rahasia sebesar ini dari orang lain? Hanya agar mereka bisa terus bersama tanpa ada orang yang terusik. Tetapi, aku memikirkan itu. Membayangkan apa lagi yang akan dilakukan Khrisna kepada Sheila.

Setelah lelah menangis, aku membiarkan Sheila beristirahat sementara aku melanjutkan menonton Docto Who. Aku berharap tiba-tiba Doctor datang di halaman kosku dengan TARDIS, lalu mengajakku pergi berlibur ke planet antah berantah. Alih-alih, Doctor yang hadir, malah pesan singkat dari Martin yang menyerbuku.

**

Martiiiiiin! Aku mau Hannibalnya dong!

Hannibal-nya Mads Mikkelsen? Atau versi Anthony Hopkins?

Yang mana aja boleh deh. Lagi pengin makan orang nih.😦

Kenapa? Kenapa? Cerita dong.

Biasa, si Sheila dan Khrisna.😦

Mereka masih pacaran?

Masih😦

**

“Dan mereka menikah.”

“Iya, mereka menikah. For real. For real.” Aku menelan ludah. “Aku masih nggak percaya. Masih nggak rela.”

Mataku menyalang ke arah pelaminan, Sheila dan Khrisna dalam balutan baju pengantin berwarna putih. Khrisna terlihat tampan, sementara Sheila sangat cantik. Pernikahan yang meriah dan mewah. Aku pernah menginginkan pesta sebesar ini, tetapi aku tidak memimpikan pasangan seperti Khrisna. Meskipun, cerita terakhir dari Sheila yang kudengar adalah Khrisna sudah benar-benar berubah. Pria itu tak pernah lagi memukul Sheila atau mengucapkan kata-kata kasar. Namun, aku tak pernah percaya. Aku merasa jauh lebih trauma daripada Sheila.

Aku dan Martin berdiri di sudut. Ia memegang mangkuk berisi es krim yang tadinya dibawakan untukku, tetapi aku menolak. Padahal ia sudah makan berkali-kali, tetapi masih tersedia celah untuk es krim itu di perutnya. Luar biasa. Aku sendiri, melihat Khrisna dan Sheila berdiri bersama sudah menghilangkan nafsu makanku.

“Mungkin dia udah bener-bener berubah,” komentar Martin. “Mikir positif ajalah. Dulu, lo benci Jaime Lannister setengah mati karena bikin Brandon Stark cacat. Sekarang, lo tergila-gila sama Jaime setelah denger cerita dia ke Brienne. Setiap orang punya alasan.”

“Itu cuma fiksi tau….” Aku mendesah, melirik sengit kepada Martin yang memberi contoh amat tepat sasaran.

“Tuh, lihat, Nadira aja udah move on. Udah dapet pengganti Rendra.” Martin menunjuk dengan sendok ke arah pasangan dengan busana batik yang motifnya sama. Nadira dan Tristan, pacar barunya.

Aku masih sendiri, meski Nadira sudah berganti pacar 3-4 kali. Bersama Tristan, aku sama sekali belum mendengar komplain apa-apa dari Nadira. Tunggu saja. Tik tok tik tok… waktu berjalan terus.

Selain, Nadira dan Tristan aku adalah pendengar setia dari Riana yang menjalani LDR, Demi yang punya pacar pengangguran, dan Rosa yang kekasihnya tertimpa sakit keras. Mereka semua bertahan karena cinta. Setiap kali kesedihan melanda mereka datang padaku dan bercerita. Aku belajar banyak dari pengalaman mereka menjalani hubungan. Bagaimana cinta tak terpisahkan dari rasa sakit. Bagaimana cinta seharusnya sejalan dengan kebahagiaan.

Ketika bahagia mereka membaginya ke jejaring media. Aku sama sekali tak masalah dengan itu. Yang penting mereka nggak menganggu waktu kencanku dengan Benedict Cumberbatch, Matt Smith atau serial entah apalagi yang sedang kugandrungi.

Aku pernah berpikir kalau suatu hari nanti Martin juga akan bertemu jodohnya. Lalu, masihkah dia bersedia menjadi sumber dari tontonanku? Atau aku akan kehilangan partner nonton? Seseorang yang bersediah kuhubungi malam-malam hanya karena kabar Benedict Cumberbatch mundur dari proyek Crimson Peak milik Guillermo del Toro, atau ketika ia digosipkan bergabung dengan Star Wars, serta saat Peter Capaldi resmi menjadi Doctor ke-12 dan Peter Jackson bersedia menyutradarai salah satu episode di musim tayang ke-8 Doctor Who.

Aku nggak mau membayangkan hal itu.

**

Lola, gimana kalau kita barengan aja?

Maksudnya?

Barengan. Sama-sama. 

Aku nggak ngerti.

Aku suka kamu dari dulu. 

Aku juga suka kamuuu… sumber isi HDD-ku!

Bukan, La. Aku suka kamu. Sayang sama kamu. 

Kamu cinta aku?

Ya gitu deh… dari dulu. Sampai sekarang. Dari jaman Naruto masih diajar Ero Sennin sampai sekarang udah jagoan.

Demi Old Gods and New, kamu nggak serius, kan? Ini lucu banget.

Aku serius, La. Demi Lord of The Light. Aku serius. I love you.

**

La, jangan diemin aku dong. Aku ke sana ya, bawain piza. Katanya mau nonton Star Wars episode 1-6.

**

La, judul episode spesial 50th Anniversary Doctor Who itu The Day of The Doctor. Udah tau, kan? Jenna Coleman dan Billie Piper! Ada Matt Smith dan David Tennant juga. 

**

La, tahu kan Mark Gatiss ikut gabung ke Game of Thrones season 4?

**

La, udah baca berita di ScreenRant? Si Benedict kabarnya ikutan di Star Wars 8 dan 9. 

**

La, aku dapet pinjeman DVD Parade’s End. Kamu masih mau nonton, kan? Aku juga dapet kiriman majalah yang isinya Benedict Cumberbatch nih dari temenku di Jepang. Kamu cari-cari belum dapet, kan?

**

La, aku bener-bener kangen kamu.

**

La, i’m sorry.

Bogor, 29/9/2013

§ 9 Responses to Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cinta at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: