Pria Bermata Biru di Balik Gerbang Kayu

28 Oktober 2013 § 8 Komentar

Hujan bertamu lewat jendela. Maka, setiap kali langit bertingkah seperti amuba, aku mendorong daun jendela hingga menempel pada dinding. Angin berpesta, menyapa ranting dan pucuk-pucuk pohon. Membawa daun-daun kering sampai ke ujung kakiku.

Mama bilang, tidak baik membuka jendela saat hujan—mengundang petir. Aku tidak peduli. Di sofa merah marun yang hangat, aku duduk bergelung. Suara hujan dan guntur bisa jadi hiburan paling menyenangkan sepanjang hari. Meja kayu bulat di sebelahku diisi buku dan seteko teh hangat.

Beberapa hari terakhir perhatianku tersita pada pintu kayu di seberang halaman. Serat-serat dan warna pudar menunjukkan betapa kayu itu sudah berumur. Berupa gerbang besar yang menjadi pintu masuk sebuah rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Aku melihatnya, terbuka.

Pria itu menggendong kucing serona dengan langit nyaris gerimis. Kelabu. Ia menyeberang setapak kecil, lalu tiba di halaman dan menurunkan kucingnya. Aku mengabaikan bukuku, menatapnya tanpa kedip. Di samping semak asoka pria itu berdiri. Kucing abu-abu itu berkeliling halaman, lalu kembali ke buaiannya. Tepat sebelum rinai dimulai, pria itu sudah menghilang di balik gerbang kayu.

Pada beberapa hari lalu, aku mengamatinya keluar di tengah hujan. Ia tak menggenggam payung. Membiarkan titik-titik air membasuh tubuhnya yang terbalut sweter tebal. Rambutnya yang selalu tersisir rapi langsung melemas. Ia berdiri di antara celah gerbang kayu tak lebih dari lima menit. Tatapannya tertuju ke setapak. Ia seakan sedang menunggu.

Sesaat sebelum hujan renyai yang lain, ia membalas tatapanku. Tak ada senyuman, meski aku sudah memberikannya. Daun-daun mahoni tertiup ke arahnya. Ia bagai sedang ada di panggung teater dan aku adalah penontonnya. Di hujan itu, aku kembali memergokinya keluar dari gerbang kayu di tengah hujan. Ia basah kuyup, tetapi tak peduli. Durasinya berada di situ lebih lama. Pandangannya hanya pada setapak yang dinaungi pohon-pohon mahoni tanpa seorang pun melintas.

“Siapa yang kautunggu?”

Aku memberanikan diri di lain hari. Berkunjung ke halaman sebelum hujan turun. Duduk di bawah pohon mahoni yang berkesiur. Kucing kelabu mengendus kakiku.

“Buba, jangan ganggu!”

Hardikannya terdengar merdu. Pria itu bergegas mendekatiku. Sweternya berwarna kelabu.

“Nggak apa-apa kok.” Aku menggaruk belakang telinga si kucing.

“Sori,” katanya, mengangkat si kucing ke dalam gendongan.

“Beneran nggak apa-apa.”

Ia membagi senyum melelehkan. Matanya berwarna biru.

“Hei, aku baru melihatmu….”

Punggungnya menghadapku sebelum sempat aku menyelesaikan kalimat untuknya. Ia melangkahi halaman dengan cepat, lenyap di balik pintu kayu yang tampak berat.

Deras sudah berganti rebas-rebas. Aku masih bergelung di sofa marun. Menyerana melintasi jendela yang terbuka. Ia tak muncul dari balik gerbang kayu kali ini. Mungkin yang dinantinya sudah kembali.

Namun, ia hadir tak terduga di bawah langit cerah. Kucing kesayangannya berada dalam dekapan, tampak nyaman. Pandangan kami bertemu, aku melambai kepadanya. Aku ingin menghampirinya tetapi rasa segan karena tiba-tiba ia meninggalkanku hari lalu, teringat lagi.

Langit dengan cepat berubah muram. Ia masih di sana. Duduk di bawah pohon manohi yang daun keringnya berguguran. Si kucing tak tampak di dekatnya. Hingga rintik-rintik mulai jatuh, ia masih di situ. Terpekur sendiri. Kesepian.

Tingkah langit sudah bagai amuba. Bergerak-gerak cepat dan gelisah seolah tak tahan untuk membelah diri. Aku tahu dalam hitungan menit langit akan menumpahkan semua isinya. Tak peduli pria bermata biru itu masih duduk di sana atau tidak.

Kutinggalkan singgasana marunku. Beranjak keluar dengan dua payung hitam di tangan. Seakan tahu apa yang akan kulakukan, langit tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tumpah ruah air dari langit. Aku membuka payung, lari ke halaman.

Ia masih di sana, pria bermata biru.

Cepat-cepat aku membuka payung yang lain. Menghampirinya, lalu memayunginya. Ia bangkit.

“Terima kasih,” ujarnya, meraih payung dari tanganku.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku, agak berteriak.

Kilatan petir membuat sesaat tempat itu menjadi terang, namun dengan cepat kembali suram.

Air membentuk aliran sungai mini di wajahnya. Tatapannya teracung kepadaku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca. Mestinya ia tersenyum. Setidaknya dengan itu, dingin yang membekukan ini bisa sedikit mencair.

“Kamu baik-baik aja?” Aku mengulang pertanyaanku di tempat yang sama. Tak ada niat beranjak dari situ sebelum ia pergi ke gerbang kayu.

Ia tersenyum, seperti yang kuharapkan.

“Kamu boleh bawa payungnya.”

“Terima kasih.” Ia mendekat, mengecup pipiku.

Aku mematung saat ia menembus tirai hujan, meninggalkanku.

Mama benar, hujan tak pernah bertamu lewat jendela. Butuh beberapa sapa lagi hingga pria bermata biru itu menggantikan hujan yang selalu kutunggu. Ia duduk di birai jendela, aku pada sofa marun, dan si kucing kelabu di pangkuanku. Kami tidak banyak bicara, tetapi menghabiskan berteko-teko teh. Favoritnya adalah teh hitam, aku penyuka teh cammomile.

Kami berbeda. Aku tidak berusaha menyatukannya. Biar saja begini. Selama ia tidak ke mana-mana.

Namun ia selalu pergi sebelum titis-titis air meluncur dari langit. Kadang, pintu kayu berat itu terbuka di tengah hujan. Seringkali hanya beku dengan sikap wibawa laksana gerbang ke dunia lain. Aku menatapnya dari balik jendela yang terbuka, menanti pria bermata biru muncul dari balik gerbang kayu.

Aku tak tahu siapa namanya. Kami memutuskan tak pernah membicarakan itu.

Aku hanya ingin ia selalu kembali tanpa kami mengikat satu sama lain. 

Kami bicara tentang teh. Tentang Buba, kucingnya. Tentang gerbang yang dibuat dari kayu eboni.

Entah apa yang istimewa dengan hujan kali ini. Akan tetapi, ia tetap di sini. Duduk di bingkai jendela, membelakangiku. Menyalang pada petir yang saling bersuka-suka.

Aku harap musim hujan tak usah berakhir.

“Siapa yang biasanya kautunggu saat hujan? Aku sering melihatmu keluar.”

“Seseorang,” jawabnya datar.

“Ia sudah pulang?”

Pria itu menggeleng.

Aku berhenti bertanya.

Hujan-hujan selanjutnya, ia berada di tempat yang sama, ambang jendelaku. Sweter abu-abunya berbercak noda. Ujung-ujung kukunya agak kotor. Aku tak pernah bertanya apa yang ia lakukan di balik gerbang kayu.

“Kamu nggak kerja?”

“Aku pelukis.” Ia tersenyum. ”Terima kasih sudah bertanya.”

Awan gelap sudah tersibak. Hembusan angin segar usai hujan membelai kami, membawa aroma tanah. Ia turun dari birai. Rambutnya bergoyang karena gerakan yang tiba-tiba.

“Terima kasih,” katanya lagi. Tangannya bertumpu di bingkai jendela. Pandangannya menyapaku. Aku hanya tersenyum. Ingin melarangnya pergi, tetapi tak ada sepatah kata yang keluar dari bibirku.

Tidak semua hal harus dikatakan secara langsung.

Karena ia menciumku. Aku menyampaikannya lewat sentuhan bibir kami. Ujung jari-jarinya menyentuh bahuku. Aku membiarkan tanganku membelai permukaan sweter wolnya yang lembut.

Aku melumer, seperti es krim di bawah matahari terik. Seperti tanah yang terbasuh hujan.

Aroma petrichor merayapi penciumanku.

Wangi itu masih tertinggal saat ia menjauhkan bibirnya dariku. Kami bertukar pandangan. Sama-sama bisu selama beberapa jenak.

“Terima kasih,” ujarku, terbata.

Ia mengecup pipiku. Lalu melintasi halaman dan kembali ditelan pagar kayu.

Waktu tak berhenti, ia masih datang berkunjung sesekali. Rambut hitamnya makin panjang. Ia sering menyisir dengan tangan ke belakang, tetapi sia-sia. Helaian rambut itu kembali berjatuhan di sisi wajah dan dahinya. Sweternya abu-abu, kadang hitam, biru gelap, atau merah marun. Aku menyukai merah marun yang membuat paras pucatnya tampak merona.

Aku tak pernah mengatakannya. Kami berciuman. Aku harap ia bisa membaca apa yang kupikirkan.

Tanpa bisa kucegah, musim hujan pun berlalu. Aku benci duduk di tepi jendela ketika sinar hari jatuh penuh ke tanah.

Ia masih sering datang sebentar. Kadang hanya untuk mengajak Buba bermain di halaman.

“Aku akan pergi.”

“Kenapa?”

“Musim hujan sudah selesai di sini.”

“Aku nggak ngerti.”

“Aku masih mencarinya. Dia yang menyukai berjalan di bawah hujan.”

“Tetaplah di sini bersamaku. Jangan pergi.” Akhirnya, aku punya nyali membujuk.

Ia tersenyum.

“Siapa dia?”

“Dia seseorang yang kucintai, Amira.”

Ia tahu namaku. Aku hanya tahu ia pelukis bermata biru yang tinggal di balik gerbang kayu.

“Seorang pianis. Ia pergi ke banyak tempat. Aku tak bisa mengikutinya.”

Matanya yang biru seakan berpendar. Aku menemukan kilasan keperakan. Keindahan yang tak pernah kudapat sebanyak apapun ia menatapku. 

“Sekarang?” Suaraku bergetar. 

“Aku dengar ia bercerai dengan suaminya. Aku mencarinya lagi.”

“Internet?”

“Aku nggak ingin melihat kemesraannya bersama suaminya atau wajah sedihnya ketika ia ditinggalkan.”

Aku menghela napas. Kalimat itu memadamkan cerlang di matanya. Padahal, aku masih ingin melihatnya. “Kamu ingin aku membantumu?”

Ia menggeleng. Aku menelan ludah. Mematung di sofaku. Aku tahu apalagi yang harus kutawarkan. 

“Aku akan pergi.”

“Apa kamu akan kembali?” tanyaku penuh harap. Aku meraih tangannya. Menggenggamnya seolah itu akan kulakukan selamanya, agar ia tetap di sini.

Mata birunya mengingatkanku kepada danau luas di negeri seberang. Tenang dan dalam. Indah dan penuh rahasia. Aku suka apa yang kulihat. Aku tak ingin tahu apa yang ada di dalam sana. 

Sayangnya, bukan seperti itu cinta bekerja. Ia selalu menuntut ingin tahu. Ingin memiliki. Aku mengeratkan jari-jariku pada pergelangan tangannya.

Apa pun yang aku lakukan, aku tahu tak akan mengubah keputusannya.

“Maukah kamu menungguku, Amira?”

 **

Hujan tidak pernah bertamu lewat jendela. Tidak pernah lagi karena jendela itu selalu tertutup. Sofa merah marun sudah kembali ke pojok ruangan, diam di sisi rak buku besar. Pada dinding atasnya terpasang sebuah lukisan perempuan yang duduk di samping jendela. Perempuan yang menunggu pria bermata biru muncul dari balik gerbang kayu.

 Bogor, 26-27 Oktober 2013

§ 8 Responses to Pria Bermata Biru di Balik Gerbang Kayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pria Bermata Biru di Balik Gerbang Kayu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: