Memori

29 Oktober 2013 § Tinggalkan komentar

Nggak semua orang mendapatkan kesempatan memberi ucapan selamat tinggal.

Jadi, dia akan pergi. Pulang. Kembali. Pindah. Entah apalah namanya. Yang jelas, setelah ini akan ada jarak antara kami. Jarak yang mungkin bisa aku atau dia seberangi suatu hari nanti.

Tak ada yang tahu.

Aku duduk lemas di sofa kesayanganku. Beberapa menit sekali pandanganku beranjak ke jam dinding. Jarum panjangnya terus bergerak. Aku harap aku bisa menghentikan waktu. Lalu berlari menuju dia yang mungkin sedang menungguku. Lalu, di kala yang tak berjalan itu, kami akan habiskan berdua, bersenang-senang sampai tak punya daya lagi. Apapun asalkan bersamanya.

Katanya waktu itu ilusi, tetapi perpisahan tak bisa dihindari. Bermenit-menit aku melamun dengan gelisah. Ponselku sudah berulang kali bergetar, tetapi kuabaikan. Aku ingin menghilang saja. Melewatkan momen ini dengan terlelap sangat pulas. Dan semua berlalu, tanpa kutahu, tanpa perlu kuingat. Berpura-pura lupa akan janji. Tetapi dia terlalu istimewa untuk diingkari. Aku ingin melihat matanya untuk, mungkin, yang terakhir kali. Mendengar suaranya memanggil namaku secara langsung.

Dia menungguku. Kami janji untuk bertemu.

Jarum panjang itu tak punya hati, dia terus berlari padahal aku meminta berhenti. Ponselku bergetar untuk kesekian kali. Astaga, ini sudah saatnya. Aku harus datang sekarang atau tidak sama sekali.

Aku bergegas pergi dengan berat hati. Perasaanku merana, tetapi aku coba menyembunyikannya dengan dandanan rapi. Aku tidak ingin dia melihatku buruk sebelum perpisahan kami. Mungkin nanti aku akan meminta berfoto dengannya demi mengabadikan memori. Agar bisa kukenang sebulan, setahun, atau sampai entah kapan.

Sepanjang jalan aku berandai-andai kalau saja uangku tak terbatas. Aku bisa mengunjunginya kapanpun aku mau. Aku akan mengundangnya datang ke sini sesuka hati. Tetapi jarak yang ada pun menghabiskan waktu yang mestinya bisa digunakan untuk bertemu. Pertemuan bisa diciptakan dengan uang, tetapi waktu nggak pernah bisa dibeli.

Kurasakan mataku berkaca-kaca. Aku nggak boleh menangis! Aku nggak bisa membiarkan dia tahu betapa pilu hatiku sekarang. Perpisahan ini sudah kami bicarakan sejak lama. Pertemuan-pertemuan yang kami rencanakan. Janji untuk selalu saling menyurati dan berkabar lewat apapun. Akan tetapi, menjalani perpisahan ini seperti menoreh luka dalam hati. Cedera yang hanya bisa terobati saat dia kembali.

Kembali, itu entah kapan akan terjadi lagi. Tak ada yang tahu.

Aku sampai di tempat kami berjumpa. Mematung dari sisi berlawanan hanya untuk mengamatinya. Di situ, air mataku mencuri keluar. Aku menghapusnya dengan kasar. Dia tak seharusnya pergi. Kami tak semestinya berpisah.

Untuk terakhir kali, bisakah waktu berhenti sejenak saja? Mungkin nggak sejenak, sejam atau dua jam, atau selamanya biar kami terus berada di peron ini berdua.

Dia melihatku, meneriakkan namaku, dan melambaikan tangan. Aku mulai berjalan ke arahnya. Menyeberangi peron, menghapus jarak yang ada antara kami. Ketika aku sampai di dekatnya, dia langsung menghampiri dan memelukku. Lama sekali. Dia memelukku seperti selamanya.

“Kamu lama banget.”

Aku tersenyum. Ia melonggarkan pelukannya, menggenggam tanganku erat-erat.

“Sebentar lagi keretaku datang.”

Aku menganggukkan kepala.

“Menurutmu apa kita akan bertemu lagi?”

“Iya, tentu saja.”

Dia mencium punggung tanganku. Setelah itu, kami sama-sama membisu hingga bising kereta mengalahkan semua suara yang ada. Genggamannya mengerat saat itu juga.

“Keretaku,” katanya tersenyum.

Aku menganggukkan kepala lagi, tersenyum. Mulutku terlalu kaku untuk bicara. Semua energi yang aku punya kucurahkan untuk membendung tangis. Aku nggak ingin dia pergi.

“Aku masuk sekarang ya?” ujarnya.

“Hati-hati.”

Dia nggak beranjak ke manapun. Tetap di situ. Aku mengamati penumpang lain yang naik ke atas kereta. Para pengantar yang tampak sedih atau bahagia. Pelukan-pelukan. Doa-doa. Ucapan perpisahan.

Nggak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan perpisahan.

“Kamu harus pergi.”

“Iya.” Dia tersenyum tipis. “Aku harus pergi.”

Genggamannya terlepas dariku. Sekarang kami berdiri berhadapan. Pandangannya tertuju ke arahku. Lalu, dia mencium pipiku. Tanpa sepatah kata, dia berbalik.

Satu langkah, dua langkah, tiga…. Aku berhenti menghitung. Memandang punggungnya yang menjauh. Mencoba merekam semua yang bisa masuk dalam ingatanku. Dia memasuki gerbong. Di tempat yang sama aku menatapnya menyusuri gang antar bangku hingga ia menemukan kursinya.

Aku mundur selangkah. Air mataku jatuh tak tertahan.

Waktu tak mau berhenti. Kereta perlahan bergerak. Aku tetap di situ. Menjadi saksi kepergiannya. Aku berharap bisa menghilang dari momen ini, tetapi ternyata aku tak bisa.  Tubuh kereta itu sudah lenyap. Pengantar sudah berlalu dari sini. Aku masih bertahan sendiri.

Dan dia pergi.

Aku punya memori.

Bogor, 29/10/13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memori at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: