Penyihir Hujan

3 November 2013 § 1 Komentar

Hujan turun tiap kali pria bertopi pet itu muncul.

Warnanya putih, hitam, atau kelabu. Lalu seperti itulah suasana yang kauterima setelah hujan berhenti.

Aku kira semua hanya ketidaksengajaan. Di seberang flat yang ia tempati, sebuah toko buku tua kujaga. Belum lama ia tinggal di sini. Sendiri. Selalu terlihat seorang diri. Mantelnya hitam. Syal rajut biru tua melingkari lehernya. Sama setiap kali.

Setiap kali pintu flatnya terbuka, hujan turun tak terkira.

Pada waktu itu, pengunjung toko nyaris tak ada. Aku melamun keluar jendela dengan buku tua terbuka di atas meja. Kata pemilik toko, buku itu berbahaya dan berisi mantra. Ah, aku tidak percaya. Bahkan aku tidak mengerti bahasa yang ditulis di dalam sana.

Suatu hari, tetangga tua yang tinggal di sebelah toko datang kepadaku. Ia membawakan kue kering dan kami bicara hingga hujan turun.

“Olivia, kau lihat pria di seberang sana keluar tadi?”

Hanya kilasan mantelnya yang tertangkap mata karena hujan keburu deras. Aku mengangguk pada Paman James.

“Apa kamu memerhatikannya? Setiap kali ia keluar dari flat, hujan akan turun. Aneh sekali,” gumamnya seraya menatap ke seberang jalan.

Aku menggeleng.

“Ia itu penyihir.”

Mataku melotot.

“Tak ada lagi penyihir, Paman.”

“Kita harus memberi tahu orang-orang kalau ia adalah penyihir. Kalau hujan saja bisa ia panggil. Apalagi setelah itu? Badai? Aku tak mau celaka, Olivia.”

Secepat angin berembus, seakan-akan dinding saling bicara, kabar itu tersebar cepat. Penyihir.

Maka, aku ditugaskan ke rumahnya. Sekeranjang roti kering dibawakan oleh Bibi Martha, yang tinggal di sebelah flat si pria. Aku mengetuk pintunya gemetar. Takut seperti bayangan tak tampak yang menggelayuti punggungku.Pintu flat yang berwarna merah ini sama dengan yang lainnya. Namun entah mengapa ada perasaan berbeda yang muncul dari sana.

Aku hampir mengguguh pintunya lagi, ketika terayun terbuka. Parasnya dihiasi senyuman. Dia dalam balutan mantel dan syal khasnya. Tangannya memegang topi pet putih, belum sempat digunakan.

“Halo, aku Olivia. Tetangga seberang. Aku ingin mengantarkan ini.”

Ia mengenakan topinya cekatan. Lalu meraih bingkisan dariku.

“Terima kasih, Olivia,” ujarnya dari dalam. Tak lama, ia sudah muncul lagi di luar. “Aku tak bisa menjamumu.”

Aku melirik ke arah toko. Orang-orang di sekitar sini, memutuskan mengendanai pria ini dari balik kaca. Sekarang mereka berkumpul di sana. Kalau saja pria ini keluar dan hujan.

“Olivia, aku harus pergi.”

Ia mendorongku turun ke undakan seraya menutup pintu.

Hujan turun setiap kali pria bertopi pet itu muncul.

“Penyihir!”

Sosok-sosok bermunculan. Berseru bertalu-talu pada pria bertopi pet. Bibi Martha menarik tanganku, menjauhkan dari kerumunan. Aku dan pria itu sempat saling tatap. Matanya biru. Hanya sesaat, lalu sosoknya lenyap dalam kepungan.

Hari itu hujan turun sangat lebat.

Seseorang melempar topi petnya sampai ke ujung kakiku. Aku menggigil, tetapi tak beranjak dari sana. Hujan pun berganti gerimis. Darah mengucur dari kepala pria yang tergeletak di trotoar. Mata birunya terbuka ke langit.Titis-titis air sepenuhnya berhenti.

Penyihir hujan sudah mati.

Saat aku akan kembali ke toko yang kosong, kulihat seseorang berlari. Keluar dari toko dengan buku dalam pelukan. Ketika aku mengedipkan mata, sosoknya sudah lenyap.

Aku baru menyadari tak seorang pun melihat Paman James.

§ One Response to Penyihir Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Penyihir Hujan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: