Kuku-Kuku Merah Jambu

15 November 2013 § Tinggalkan komentar

Jika kamu diberi satu kesempatan untuk menghapus memori tentang seseorang, siapa yang kamu pilih?

Pertanyaan itu terlontar pada suatu pagi yang mendung. Aku dan kamu duduk di ranjang dengan berlapis selimut di atas tubuh. Tanganmu memegang mug merah berisi kopi, tanganku memeluk mug hitam dengan teh di dalamnya.

Kalau saja ada bintang jatuh lewat di atas atap atau malaikat di pojok ruangan tiba-tiba iseng mengabulkan permintaan kita, gimana? Kuhidu wangi teh yang menyegarkan. Kamar sempit ini mendadak terasa lebih lapang dan tak sumpek lagi. Pandanganmu mengarah pada boneka teru-teru bozu yang kugantung dekat jendela. Kamu tahu, setiap kata adalah doa.

Tidak semuanya.

Baiklah. Kamu.

Senyummu melebar, matamu berbinar.

Kamu suka aku melupakanmu?

Kita bisa memulai hidup baru. Jawabanmu santai, seolah melupakan seseorang adalah hal lumrah dan mudah.

Itu yang kamu inginkan?

Kamu menggeleng. Tentu saja tidak.

Tanganmu meraih kepalaku, mencium puncaknya. Aku bisa mengendus aroma bangun tidurmu—campuran keringat dan aroma sabun yang menguap. Aku menyukainya, merindukannya setiap pagi.

Bagaimana bisa aku melupakanmu?

Tanganmu berada di pipiku. Mata kita saling tatap. Kamu tahu, seperti ada yang ingin kau ingat tapi tak bisa. Ada lubang-lubang kosong dalam ingatanmu yang tak bisa kau tambal. Seperti habis mabuk berat, paginya kau tak ingat apa-apa.

Mengapa kita membicarakan ini? Jemariku meraih tanganmu, menyusup di antara jari-jarimu yang panjang.

Aku tidak tahu. Kamu memandangiku dengan mata cokelat almond-mu. Aku bermimpi kau meninggalkanku. Ibu jarimu mengelus bibirku.

Kueratkan pelukan jemariku, lalu melepasnya. Ujung-ujung jariku menyusuri sisi wajahmu. Rahangmu yang ditumbuhi rambut-rambut mungil tajam. Tulang pipimu yang tinggi. Hanya bunga tidur. Jangan kau pikirkan. Aku membelai rambutmu yang ikal berantakan. Saat jari-jariku yang kukunya bercat merah jambu tenggelam di sana, rasanya hangat dan halus. Tak ingin lepas.

Kamu. Suaramu yang berat dan beraroma kopi berbisik dekat telingaku. Rambut-rambut di sekitar rahangmu menyapu pipiku. Aku menahan napasku. Andai kamu tahu betapa gugupnya aku ketika kita sedekat ini. Kamu yang kupilih. Memori tentangmu yang akan kuhapus.

Aku terenyak. Hatiku mencelus. Aku tidak ingin kamu melupakan aku.

Kamu terlalu istimewa. Mata almond-mu berpendar. Ada yang menaruh bintang di sana.

 **

Kamu terbangun di tengah kamar kecil yang penuh buku. Kamu menyibak selimut dan turun. Kakimu menyentuh buku lain yang tersebar di lantai. Dari balik vitrase kamu mengintip pada langit yang kelabu. Dalam mimpimu tadi, kamu bertemu seorang perempuan berkuku merah jambu. Perempuan yang kerap muncul di antara lelap tidurmu, tetapi tak pernah kamu tahu siapa dia.

Jendela yang tertutup, kini terbuka. Angin menggoyangkan teru-teru bozu di sisi jendela. Siapa yang menggantungnya, kamu pun tak pernah ingat. Boneka itu sudah ada di sana. Sejak lama.

Suara ketukan membuyarkan lamunanmu. Kamu menyeret langkah, membuka kunci dan menarik pintu hingga terbuka. Kuku-kuku merah jambu muncul di birai pintu.

Bogor, 15/11 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuku-Kuku Merah Jambu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: