Tips: Membuat Dialog

29 November 2013 § 7 Komentar

Waktu itu ada beberapa temen yang minta saran gimana sih caranya bikin dialog. Mereka bilang kesulitan bikin dialog ya karena susah aja, akhirnya berputar-putar di deksripsi. Padahal, dialog itu penting dalam sebuah cerita. Dialog itu yang mengalirkan cerita, yang bikin tokoh jadi berkarakter dan hidup, dan tempat banyak informasi serta clue-clue dalam cerita bisa disebar.

Sebaiknya memang sebuah tulisan itu imbang antara dialog dan narasi, terutama untuk novel. Terjebak di narasi-deskripsi bisa bikin cerita yang ditulis nggak beranjak ke mana-mana. Terlalu banyak membubuhkan dialog tanpa deskripsi bikin cerita yang ditulis kayak terbang pakai roket–alias alurnya kecepetan dan nggak dapet ‘feel‘ ceritanya.

Gimana sih cara belajar membuat dialog?

Belajar dialog itu sebenarnya kan nggak sulit. Setiap hari kita berdialog, baik sama orang lain atau diri sendiri. Kita punya dua telinga buat nguping dialog orang lain juga. Itu cara belajar paling baik: dengan mengamati sekitar.

Beda orang yang diamati akan beda struktur dialog yang muncul. Nggak cuma itu, bahkan kata-kata dan bentuk-bentuk dialognya pun beda. Kita sendiri bisa bereksperimen kok dengan ngamatin obrolan sendiri. Gimana kita ngobrol sama orang tua, gimana ngobrol dengan sebaya, gimana ngobrol dengan orang asing. Ini bisa jadi riset paling mudah. Selain itu, dengan ngobrol langsung, bisa dapet bonus: ekspresi lawan bicara ketika berdialog.

Ini cara paling aktual untuk bikin dialog yang realistis dalam cerita yang ditulis.

Jadi, ketika sedang nunggu-nunggu sendiri, jangan twitterran mulu, coba dengerin suara-suara di sekitar. Itu sumber inspirasi banget!

Cara lainnya, adalah tentu dengan membaca buku. Buku yang kamu suka banget atau merasa tulisannya oke, jangan cuma dibaca sekali. Sempatkan waktu untuk menelaah isinya, gimana si penulis menyusun dialog? Baca sampai kamu nemu polanya. Dengan menganalisis tulisan, kamu bisa belajar gimana memecah dialog. Apa harus panjang berparagraf-paragraf, atau lebih enak pendek-pendek dengan diselingi deskripsi sikap/tingkah si tokoh ketika berdialog.

Nah, apalagi sekarang zaman twitter. Banyak banget contoh obrolan/dialog via teks di twitter yang bisa diamati. Gimana cara sekelompok cewek-cewek ngobrol tentang cowok idaman, tentu beda dengan cara cowok-cowok ngebahas cewek polwan seksi. Itu bisa banget jadi bahan belajar. Juga, bisa jadi perbandingan gimana cara cowok can cewek itu berdialog, mengeluarkan ide.

Gue sendiri suka belajar dari nonton film/serial dan baca skenario. Karena film kan, selain adegan yang bikin film itu bergerak, faktor kedua adalah dialognya. Skenario, mostly, isinya dialog. Kamu bisa belajar banget gimana cara bikin dialog yang hidup dari situ. Kalau sempat bandingkan juga dengan filmnya. Jadi, nonton filmnya/serial, baca skenarionya, setelah itu bandingin. Di situ, kamu bisa curi ekspresi dan intonasi ketika si karakter ngomong.

Sering kali, ketika gue nulis, yang gue tulis adalah dialog duluan. Deskripsi dan narasi bisa nyusul kemudian. Kenapa? Biar ceritanya bergerak dan nggak stuck di satu tempat. Jadi, sewaktu gue macet di adegan yang satu, gue bisa tetep ngerjain yang lain, nggak malah nyuekin draf dan akhirnya nggak selesai-selesai.

Kalau ketika nulis kepikiran dialog cantik tetapi belum tahu mau ditaruh di mana, CATAT! Itu gunanya kamu punya gadget atau buku catetan yang dibawa ke mana-mana. Jangan sampai ide line cantik itu menguap.

Ketika nulis, jangan terbebani juga untuk bikin dialog yang berbunga-bunga dan quoteable. Itu muncul sendiri kok, sejalan dengan percakapan yang dilakukan. Dalam obrolan sehari-hari pun, coba perhatikan ketika ngobrol, ‘baris’ yang jleb itu bisa tiba-tiba muncul dari obrolan yang tadinya nggak penting atau sepele. Contoh:

“Wah Sherlock season tiga udah keluar airdate-nya. Horeeee!” aku bersorak.

“Eh, itu tayang weekly ya? Januari kelar, Sherlock-nya ikut kelar. Terus ntar nunggu berapa tahun lagi?” tanyanya.

Sejenak kami sama-sama membisu. Rasa senang dan pilu itu bisa datang bersamaan, ternyata. 

“Kasian amat ini fandom Sherlock BBC. Mana (Steven) Moffat ngejanjiin cliffhanger lagi,” keluhnya sendu.

 Aku malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar itu. “Nunggunya itu lho yang bikin nggak kuat.”

“Gila, mana cuma dua minggu lagi tayangnya. Habis itu kita di-php-in lagi.”

“Ya, bukannya hidup emang gitu ya? Nunggu dan nunggu lagi.”

Obrolan itu cuma secuplik dialog panjang. Nah, di sini juga dibutuhin kejelian kamu untuk memotong dialog. Mana yang memang dibutuhkan mana yang nggak. Kalau gue tulis semua dialog itu, bisa-bisa kalian kabur duluan sebelum selesai baca tips ini. Gimana cara menyaring mana dialog yang perlu dan yang nggak?

Jelas, esensinya dalam cerita apa? Cuma buat nambah halaman? Atau memang dialog itu butuh untuk menggambarkan suasana? Biasanya pertimbangannya, dialog jadi penting, karena ingin menunjukkan karakteristik tokoh atau menceritakan apa yang nggak disebutkan dalam deskripsi. Jadi, apa yang udah disebut dalam dialog, nggak terulang dalam deksripsi/narasi, atau sebaliknya.

Tapi, memang ada obrolan yang harus diset, karena penting atau menggerakkan cerita. Yang begini sih, harusnya memang dikonsep dulu. Apa-apa aja yang mau diomongin. Yang begini ditulis aja dulu, nanti pas editing baru dimatengin.

Kalau mau bikin dialog udah keberatan dengan pikiran harus bikin kalimat yang ‘quoteable‘, bisa-bisa terjebak nyusun dialog yang nggak realistis. Gue pernah bikin dialog yang gue suka banget, penuh metafora, penuh ironi, lah pokoknya mendayu-dayu gitu deh. Kemudian, gue ditelepon editor gue cuma untuk ngeganti kalimat itu! Gue disuruh ngucapin kalimat itu di depan dia. Dan… errr… emang kalau diomongin rasanya aneh betul. Rasanya mustahil ada orang ngomong kayak gitu, kecuali lagi main teater.

Nah, dengan ngucapin dialog yang kamu bikin, itu cara jitu buat ngetes tingkat kerealistisan/kenyamanan dialogmu. Kalau pas baca sendiri terasa aneh, ya edit dong, bikin yang enak dibaca. Kalau belum ada inspirasi gimana ngebuatnya, ya tadi, ngobrollah dengan orang lain, nonton film/serial, atau baca-baca buku.

Dialog yang ‘quotable‘ dan baik, bakal muncul ketika kamu udah kenal dengan karaktermu. Cara mereka bicara lewat dialog membantu banget menggambarkan karakter. Pilihan-pilihan kata setiap tokoh itu beda. Cara bicara setiap tokoh pun beda. Saat mereka berhadapan dengan tokoh yang lain, juga bakal beda nada bicaranya. Latar belakang tokoh pun bakal berpengaruh banget dengan cara mereka ngomong. Nah, itu gunanya kamu berkenalan dengan karaktermu sebelum menulis, ngisi biodata mereka, ngerancang latar belakang, dan nentuin gimana cara mereka bicara. Dua orang jenius yang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, bakal beda banget cara bicaranya, bahkan ketika menghadapi situasi yang sama.

Di bawah ini, gue kasih dua contoh dialog dari serial, adegan perpisahan (sorry for spoiler). Doctor dan Sherlock adalah dua karakter yang sama-sama cerdas (jenius kali ya). Di bawah ini adalah ketika mereka ngomong dengan orang terdekat mereka sebelum…

*coba diperhatikan* *maap ngasih contoh dalam bahasa inggris, yang kepikiran itu aja dan gampang dapetnya.*😀

Doctor Who, season 7 episode 13, The Name of The Doctor

Clara: What’s that?
The Doctor: What were you expecting, a body? Body’s are boring. I’ve had loads of them. That’s not what my tomb is for.
Clara: Doctor, explain. What is that?
The Doctor: The tracks of my tears.
Dr. Simeon: Less poetry, Doctor. Just tell them. 
The Doctor: Time travel is damage. It’s like a tear in the fabric of reality. That is the scar tissue of my journey through the universe. My path through time and space. From Gallifrey to Trenzalore. 

Sherlock, season 2 episode 3, The Reichenbach Fall.

Watson: Sherlock, are you okay?
Holmes
: Turn around and walk back the way you came.

Watson: No, I’m coming in. 
Sherlock: Just. Do as I ask. Please.
Watson: Where?
Sherlock: Stop there.
Watson: Sherlock.
Sherlock: Okay, look up. I’m on the rooftop. 
Watson: Oh god.
Sherlock: I— I— I can’t come down so we’ll just have to do it like this.
Watson: What’s going on?
Sherlock: An apology. It’s all true.
Watson: What?
Sherlock: Everything they said about me. I invented Moriarty. 
Watson: Why are you saying this?
Sherlock: I’m a fake.
Watson: Sherlock—
Sherlock: The newspapers were right all along. I want you to tell Lestrade, I want you to tell Mrs. Hudson and Molly. In fact, tell anyone who will listen to you. That I created Moriarty for my own purposes.
Watson: Okay, shut up, Sherlock. Shut up. The first time we met—the first time we met—you knew all about my sister, right?
Sherlock: Nobody could be that clever.
Watson: You could.
Sherlock: I researched you. Before we met I discovered everything that I could to impress you. It’s a trick. Its just a magic trick.
Watson: No. Alright, stop it now.
Sherlock: No, stay exactly where you are. Don’t move.
Watson: Alright.
Sherlock: Keep your eyes fixed on me. Please, will you do this for me?
Watson: Do what?
Holmes
: This phone call, it’s… it’s my note. That’s what people do, don’t they? Leave a note.

Watson: Leave a note when?
Sherlock: Goodbye, John.
Watson: No. Don’t— 

Kerasa kan bedanya?

Dua-duanya, Doctor dan Sherlock, terdengar hopeless, tetapi gimana cara menyampaikannya berbeda banget. Pilihan-pilihan katanya pun beda. Tapi, meski begitu dengan kejelian nyusun dialognya, rasa harunya tetep ada (apalagi kalau udah nonton, haha!).

Dialog itu mencirikan karaktermu. Membuat mereka lebih hidup. Dialog yang hidup bisa menyeret pembaca masuk dalam cerita yang kamu tulis. Ngebuat pembaca ngerasa dekat karena pernah mengalami situasi yang sama–obrolan yang sama.

Menyusun dialog memang penting dan nggak bisa sekejapan mata untuk jadi ahli. Pede aja dengan dialog yang kamu bikin, ketika bikin karakter–kamulah yang paling kenal dengan karaktermu.  Gue sendiri masih belajar untuk bikin dialog yang efektif dan hidup. Apa yang gue bagi cuma secuil dari pengalaman nulis yang masih sebentar. Intinya adalah latihan, baca, latihan, baca, dan latihan.

Semoga membantu dan selamat menulis!😀

§ 7 Responses to Tips: Membuat Dialog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tips: Membuat Dialog at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: