Tip: Membuat Dialog Sesuai Gender

4 Desember 2013 § 4 Komentar

Kemarin gue udah nulis tentang gimana cara belajar menulis dialog. Gimana latar belakang karakter itu berpengaruh banget kepada cara tokoh berbicara. Salah satu hal yang bikin banyak temen-temen gue merasa kesulitan adalah gimana sih nulis dialog dari tokoh yang lawan jenisnya beda dengan kita?

Ini memang nggak mudah. Ketika nulis Mendekap Rasa (novel duet gue bareng Ifnur), gue kebagian nulis bagian Michael dengan sudut pandang orang pertama. Sewaktu draf pertama dikembalikan editor, komentar beliau adalah: ‘ini bagian Michael masih cewek banget. Kurang tegas. Kurang laki.’ (ya kurang lebih editor gue ngomong begitu). Akhirnya, gue nulis ulang hampir seluruh bagian si Michael ini. Apalagi banyak juga adegan bromance, eh maksudnya curhat-curhatan dengan Narendra juga. Tapi gue cewek, gimana cara nulis yang cowok banget?

Gue akhirnya melakukan observasi, kayak yang gue ceritakan di artikel sebelumnya. Dari ngamatin cowok-cowok ngomong, ngobrol sama cowok, nonton film, baca novel yang karakter utamanya cowok, dan sebagainya. Ya, ya, itu juga semua penulis bisa lakuin, tapi gimana sih penerapan sebenarnya dalam dialog, apa yang ngebedain dialog cowok dan cewek.

Nah, kalau kamu cewek kayak gue, dan mau nulis dialog cowok.

  1. Cowok itu ngomong ringkas. Katanya sih sehari cowok cuma ngomong 6000 kata, sementara cewek 20000 kata. Cowok ngasih jawaban sesuai yang ditanyain, itu kalau yang tanya perempuan. Jawaban cowok biasanya to the point, juga tujuannya ke solusi. Apa adanya. Cowok juga biasanya mengulang pertanyaan atau bikin kalimat retorik. Kalau cowok sama cowok, ya ringkas, tapi banyak joke-joke-nya alias bahasa antar cowok, juga nggak jarang mengasosiasikan seks dalam obrolannya.
  2. Cowok tuh fokus dengan apa yang dilihat. Misalnya aja warna, buat cewek, warna di antara  pink dan ungu itu bisa macem-macem, ada baby pink, ada fuschia. Buat cowok, itu cuma pink atau ungu! Mungkin sih, kalau dia desainer, arsitek, atau seniman yang berhubungan dengan warna akan lebih ngerti bedanya. Atau potongan rambut, kalau nggak panjang ya pendek, keriting atau lurus. Nggak ada potongan bob, potongan apalah (gue juga nggak hafal).  Jadi, cowok tuh, apa yang dilihat, itu yang diomongin. Makanya, mereka kadang-kadang suka nyesel habis ngomong/komentar sesuatu.
  3. Cowok akan ngejelasin sesuatu kalau ‘diminta’ menjelaskan. Ini yang biasa bikin ngambek cewek yang suka pakai sejuta kode (blaah…). Si cewek maksudnya apa, cowok akan jawab sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan si cewek. Kalau di depan cewek juga, cowok suka bingung menjelaskan. Misalnya pertanyaan:

Cewek: “Kamu cinta aku, kenapa?”

Cowok: “Ya pokoknya aku cinta kamu.” (mungkin dipikirannya karena cewek itu seksi, cantik, atau punya inner beauty yang bagus, tapi kan cewek sekali keluar kata sifat, jebreet bakal merembet panjang pertanyaannya.)

Kalau kamu cowok dan pengin nulis dialog cewek:

Inget ya, cewek itu proses komentarnya: dilihat-dipikirin-dirasain-baru dikomentarin. Ada bumbu ‘rasa’ itu yang bikin beda dengan cowok. Itu sih yang paling kentara.

1. Nggak bisa bilang seorang cewek cerewet juga hanya karena sehari-hari ngomong lebih banyak daripada cowok. Tapi, cewek ya gitu, memang ngomongnya banyak. Ketika cewek bicara, dia pengin didengerin (kadang nggak butuh solusi). Banyak bicaranya karena cewek lebih konsen ke detail, serta bikin bumbu-bumbu perasaan serta asumsi dalam bercerita. Banyak yang dikomentarin. Banyak yang ditanyain. Banyak pakai kata sifat, karena kata sifat itu bersifat kode banget.

Misal: “Sayang, aku cantik nggak?”; “Sayang penampilanku jelek banget ya?”

2. Cewek lebih memperhatikan detail dibanding cowok. Bedanya ya udah dijelasin di atas tadi. Buat cewek warna-warna itu banyak, potongan rambut itu berbagai macam, dan hebatnya cewek-cewek hafal.

3. Ketika cewek ngobrol sama cewek, biasanya nggak jauh-jauh dari cowok, fashion terbaru, gosip sekitar, masalah rumah tangga/hubungan. Kalau yang udah deket banget, bisa sampai ke keluarga, finansial, dan seks. Biasanya cewek ketika ngobrol bareng, sambil makan, atau belanja, atau nginep bareng. Isinya, kalau cowok atau fashion, biasanya ngebanding-bandingin mana cowok yang paling ganteng, gaya rambutnya, pakaiannya, gitu-gitu deh. Kalau fashion ya, mana yang paling cocok, apakah perlu beli baju baru, atau sepatu baru yang lagi ditaksir, dsb.

4. Ketika cewek ngobrol sama cowok. Bakal lebih jaim. Lebih kayak keduanya saling menyamakan frekuensi. Jadi, bahasa yang keluar ya standar obrolan gitu. Cewek tetep sih bakal bicara panjang lebar, meski si cowok cuma nanya sedikit.

Contoh:

Di ambil dari cerpen yang judulnya Cinta.

Lola: Aku baru saja menonton Scandal in Belgravia ke-462781927649 kali. hehe… Duh nggak sabar nih nunggu Sherlock season 3. Benedict Cumberbatch awwwww…

(cewek komentar pakai ngungkapin perasaan.)

Martin: Move on, bro! Gue punya Agents of SHIELD nih. Episode terakhir Shingeki no Kyojin juga. Oh ya, Atlantis juga udah gue donlotin nih. Jadi, ngambil Batman vs Superman, kan?

Lola: Duh, kapan sempet ketemu ya? Aku masih ngurusin si Nadira. Kemarin dateng nangis-nangis ke kosan. Aku terjebaaaak nggak bisa keluar. Help!

(cewek yang ngejelasin situasi dengan detail.)

Martin: Gue anterin aja deh.

(cowok, langsung to the point. Cari solusi untuk ngatasin masalah yang ada.)

Lola: Asiiik! Titip piza ya! Satu pan regular. Rasanya pengin aku makan sendiri semuanya.

(cewek pesen sesuatu harus rinci. Itu singkat sik, biasanya ada bumbu-bumbu harus piza jenis ini dan sebagainya.)

Martin: Ok.

Hmm… itu pengalaman gue nulis sih selama ini dan dari pengamatan. Sebenarnya cara paling jitu untuk memerika dialog yang kita buat apakah sudah sesuai dengan gender karakter yang ditulis ya, tanya teman yang sesuai gender itu. Suruh mereka ngecek. Kalau belum pede juga, suruh mereka baca. Bakal kerasa kok bedanya, kalau memang dialog tersebut nggak pas.

Coba juga untuk baca buku-buku yang ditulis oleh penulis yang berbeda gender denganmu. Amati pilihan katanya. Bagaimana cara merangkai kalimat dalam bercerita. Pasti beda. Film dan serial juga cukup membantu, terutama untuk ngamatin dan mendapatkan gambaran interaksi ketika cewek-cewek ngomong, cowok-cewek, dan sebaliknya.

Tip nulis dialog kali ini segini aja sih. Oh ya, kalau misalnya bagian cowok atau cewek ada yang kurang tepat, silakan dikomentari ya. Yang gue tulis di atas juga secara umum, karena sebenarnya setiap individu itu berbeda (nggak semua cowok atau cewek punya karakter seperti yang di atas). Itulah mengapa, kenali karaktermu sebelum mulai sebuah draf! Gue juga masih belajar untuk bisa benar-benar nulis dialog yang maskulin. Semoga tip ini membantu dalam menulis.

Selamat menulis!

§ 4 Responses to Tip: Membuat Dialog Sesuai Gender

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tip: Membuat Dialog Sesuai Gender at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: