Kupu-Kupu di Pohon Mengkudu

24 Desember 2013 § 2 Komentar

Kita berdiri di sana. Di bawah pohon mengkudu yang dipenuhi kupu-kupu. Letaknya di samping tiang lampu dari kayu penuh lumut tepat di depan pagar rumah kakek.

Aku ingat ketika kakek menanam pohon itu, katanya untuk obat nenek. Aku mengamati di sisi beliau yang menaruh bibit pohon mengkudu. Kamu di seberang jalan, turun dari sepeda yang kebesaran untuk tubuhmu, ikut memerhatikan kakek.

Ternyata kamu menunggu. Ketika kakek selesai, kamu meminta izin untuk mengambil beberapa mangga yang menjulur di luar pagar. Dan kakek, memperkenalkan kita.

Di bawah pohon mengkudu yang dipenuhi kupu-kupu kita selalu bertemu. Kamu datang dengan sepedamu, mengajakku ke bukit untuk mencari jangkrik. Aku meninggalkan buku favoritku di rumah. Membiarkan tanganmu menggenggamku selama kita mendaki bukit.

Itu, dua puluhan tahun lalu.

Bukitnya kini masih ada. Penuh pohon-pohon jati yang batangnya makin besar. Di antaranya ada rumpun-rumpun bambu tinggi melengkung. Salah satunya, aku yakin, adalah saudara rebung-rebung yang pernah kita ambil dulu.

Pertemuan kita hanya sekali setahun. Setiap kali ayah dan ibuku mengajak untuk bertemu kakek. Nenek sudah meninggal beberapa belas tahun lalu. Pohon mengkudunya tetap dibiarkan tumbuh. Buahnya bergantungan. Tetap bopeng-bopeng dan berbau masam. Akan tetapi, kupu-kupu putih kehijauan itu senang sekali terbang di sana.

Kamu pernah mengajakku menghitungnya. Pada suatu pagi, ketika aku akan kembali ke kota. Aku dan kamu bersua di bawah pohon mengkudu. Kabut sudah menguap, diusir larik-larik cahaya matahari yang sampai ke tanah setelah beberapa hari hujan tak henti.

Itu, belasan tahun lalu.

Tulang pipimu tinggi, wajahmu tirus, tubuhmu kurus. Akan tetapi, kamu punya senyum yang lebih dari segalanya. Sorot mata yang berpendar menyenangkan. Segalanya hangat saat kamu ada.

“Kamu pergi lagi.”

“Tahun depan aku kembali. Aku janji.”

Kamu mengalihkan tatapan dariku. Mulai meneliti dahan-dahan mengkudu. Aku malah memindahkan pandanganku ke permukaan tanah—beberapa buah mengkudu matang jatuh, berserakan di dekat kakiku.

“Lima belas.”

“Apa?”

Telunjukmu yang panjang terarah pada kupu-kupu yang terbang ke sana sini. Dari satu bunga ke bunga yang lain.

“Lebih dari dua puluh tiga!” seruku.

“Kamu nggak ngitung!” Kamu mengacak rambut ikalku.

“Aku ngitung!”

Kamu tertawa. Aku akan merindukanmu. Aku tahu.

“Jarak justru bakal bikin kita kangen terus.”

Itu, kalimatmu pada suatu kali. Kita sudah sama-sama melewati remaja. Aku masih terus datang dan kadang-kadang berpisah. Rasanya tetap sama. Pedih saat meninggalkan gerbang rumah kakek yang berwarna putih. Haru sewaktu menatap bukit-bukit perlahan kian menjauh. Aku ingin kembali.

Namun, perjalananku itu untuk pulang ke rumah, bukan?

Aku harap bisa membawa pohon mengkudu, serta kamu ikut kembali ke rumahku. Agar kita bisa bersama, terus, dan seterusnya.

Kamu, selalu menjadi alasan aku kembali ke rumah kakek. Tahun-tahun berlalu, akhirnya tiba saat rumah itu tak lagi berpenghuni karena kakek pergi menyusul nenek. Anak-anak kakek menolak untuk menempati rumah tersebut. Akulah yang akhirnya mengusulkan untuk meninggalinya.

Meski berat pindah dari kehidupan kota ke desa di kaki gunung—aku melakukannya. Setelah sekian tahun berlalu, aku bisa membalas kepergian-kepergianku dengan menetap. Untukmu. Aku melakukannya untukmu.

Tak ada lagi jarak. Rindu cuma datang saat malam memisahkan. Paginya, kita bersemuka kembali. Bertukar senyum sewaktu kamu pergi bekerja dengan sepeda motormu, sementara aku menyapu halaman. Hidup bisa sesederhana ini. Aku lupa rasanya terjebak macet. Aku lupa rasanya ketika telinga penuh oleh suara kendaraan. Aku mendengar angin yang bernyanyi. Aku mendengar burung yang saling merumpi. Aku memandangi puncak-puncak bukit berkabut. Dan aku punya pohon mengkudu penuh kupu-kupu.

Sore-sore kadang kamu bertandang membawakan jajanan pasar. Aku menyajikan mangga atau pepaya matang yang kupetik sendiri dari halaman. Lalu kopi. Dan cerita-cerita. Kamu masih kurus dengan tulang pipi tinggi—jejak remajamu selalu tinggal di benakku. Kamu bilang aku banyak berubah—aku yang selalu berganti gaya rambut setiap kali kembali ke sini. Semua bisa berubah, tetapi hati kita tetap sama.

Seperti juga status kita, iya, kan sepupu?

Biar hanya kupu-kupu di pohon mengkudu itu yang tahu kalau hati kita sudah satu sejak dulu.

§ 2 Responses to Kupu-Kupu di Pohon Mengkudu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kupu-Kupu di Pohon Mengkudu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: