Sebelas Januari

28 Desember 2013 § Tinggalkan komentar

Baru saja mendarat. Sebuah undangan berwarna biru. Berhias pita putih.

Di bagian depan, ada namamu. Ada namaku.

Manis, bukan?

Sebelas Januari. Aku tidak menyangka akan secepat ini.

Butuh waktu tidak sebentar bagiku untuk menyadari betapa kita pantas bersama. Waktu itu, aku butuh sesuatu untuk melepaskan ketergantungan perasaanku pada seorang laki-laki. Dan kamu, belum lama selesai dari hubungan tujuh tahunmu, lalu ditolak oleh sahabatku sendiri.

Sahabatku bilang, kamu mungkin cocok bagiku. Kamu memang tidak terlalu tampan atau kaya, tetapi kamu sabar dan penyayang. Dua hal yang memang aku tahu betul–kita bertiga sudah berkawan dalam bilangan tahun.

Jadi, aku mendengarkan nasehat sahabatku.

Mungkin kita cocok.

Aku mulai mengikutimu–masuk dalam kehidupanmu lebih dari yang sebelumnya. Rasanya aneh, setelah tahunan berteman dan kemudian mencoba untuk jadi spesial. Kita sama-sama canggung, tetapi kita adalah teman yang tidak sebentar.

Kita mulai melakukan berbagai kegiatan bersama. Aku menemanimu. Muncul di antara teman-temanmu. Pembicaraan kita perlahan kian banyak.

Seharusnya kita bersama.

“Aku suka padamu,” kataku pada suatu hari.

Kamu tertawa, agak terkejut. Kemudian tersenyum. “Aku juga.”

“Hmm… Maksudku, aku benar-benar suka kepadamu. Aku dekat karena ingin kita lebih dari sekadar kawan akrab saja.”

Entah dari mana aku mendapatkan keberanian untuk mengungkapkan itu.

“Aku mencintaimu Arka.”

Kamu menyunggingkan senyum. Manis sekali, sampai kupu-kupu dalam perutku ingin ikut mencicipinya.

“Aku tahu.”

Katanya perasaan itu seperti batu, pelan-pelan bisa berlubang karena tetesan air. Namun yang membuat ungkapan itu mungkin tak pernah menghitung waktu.

Aku bersabar. Kita cocok dan sepantasnya bersama.

Sampai aku tahu, kamu masih mencintai sahabatku.

Aku lelah jadi tetes air. Aku berhenti.

Hari ini, ketika melihat nama kita di depan undangan biru–aku menyesal sudah berhenti. Semestinya kita bersama. Bukan kamu dan perempuan itu sebagai calon mempelai, lalu aku jadi seseorang yang diundang ke pestamu.

Sebelas Januari tinggal menghitung jari. Aku tidak akan melewatkan momen itu. Aku akan menunjukkan kalau aku lebih baik dari perempuan itu.

Aku mencintaimu dan kamu tahu.

Kupilih gaun terbaik yang indah melekat di tubuhku. Aku mempercantik penampilanku. Aku melakukan segalanya agar kamu menyesal mengabaikanku.

Kita berdua pantas dan aku yakin itu.

**

Sebelas Januari aku datang ke pestamu. Teman-teman memberiku pujian selangit. Mengatakan akulah bintang pesta–lebih menawan dibanding yang bersanding di sampingmu. Namun aku merendah, tak ada yang mengalahkan pesona mempelai perempuan malam ini.

Ya, tak ada.

Seperti setiap kali aku melihatmu menatap perempuan itu. Dialah bintangmu. Dialah tetes airmu. Kamu tersenyum, bukan seperti yang pernah kamu beri kepadaku. Itu senyum seseorang yang jatuh cinta.

Dia mencintaimu dan kamu juga mencintainya. Aku tahu itu.

Aku tersenyum.

Selamat berbahagia, Arka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sebelas Januari at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: