Kemarin (Si Gagak)

7 Januari 2014 § Tinggalkan komentar

“Dia balik lagi!”

“Siapa? Siapa?” sahut Laras menyambut antusiasmeku.

“Inget cowok yang tinggal satu lantai denganku? Flat paling ujung?” Aku mendekatkan wajahku, bicara dengan suara lebih rendah.

“Si Gagak?” seloroh Laras. Cengiran memenuhi wajahnya. “Kamu pasti senang banget ya? Udah berapa lama? Tiga tahun? Dua tahun?” tanyanya, membuat angka dengan jarinya.

“Dua! Dua tahun!” ujarku begitu riang, seolah-seolah aku akan meloncat dari bangku kapan saja. “Dan dia kelihatan baik. Baik banget. Lebih tampan daripada dulu.”

“Ah, bagus! Tapi, dia masih sendiri?”

Aku kembali menganggukkan kepala. “Tentu aja dia sendiri. Aku akan tahu kalau ada orang yang dibawa ke flatnya. Dia kan harus lewat flatku dulu untuk sampai ke sana,” ujarku terkikik.

“Kapan dia kembali?”

“Kemarin sih.” Aku terkekeh.

**

Kemarin ada seorang lagi penghuni baru di gedung ini. Flat paling ujung yang sudah lama kosong itu akhirnya terisi. Aku keluar dari flatku ketika dia sedang memindahkan barang-barangnya. Ia mengangkat kotak-kotak miliknya sendiri. Saat berpapasan, secara tidak sengaja aku melihat isinya—buku. Wow, dia punya kesukaan yang serupa denganku.

Aku memberikan senyum terbaik untuknya, tetapi itu diabaikan. Mungkin dia sedang sibuk membereskan barangnya dan lelah. Mengangkat semua kardus ke lantai empat flat tanpa lift ini memang lumayan melelahkan.

Di bawah, aku melihat kalau kardus berisi kardus itu bukan cuma satu. Benar sih, bisa jadi dia letih membawa semua barangnya. Saat aku kembali dari toko dan kedai kopi langganan, dia sedang memilih kardus mana lagi yang bisa diangkut.

“Mau dibantu?” tawarku.

Dia terkesiap mendengar pertanyaanku. Menatapku beberapa saat, seperti aku sosok mencurigakan. Matanya berwarna hijau kebiruan dan sekarang sedang menelitiku dari atas sampai bawah.

“Tidak perlu,” jawabnya.

Tanpa terima kasih. Ia berlalu dari hadapanku, mengangkat kardus lain.

“Oke,” sahutku, menatap punggungnya yang lenyap di belokan tangga.

**

Kemarin, saat aku kembali dari membeli kopi di kedai sebelah, aku mendapatkan kejutan yang sama sekali tak pernah kusangka.

“Hei.”

Langkahku terhenti. Seperti baru saja terkena kutukan yang mengubahku menjadi batu, aku berdiri. Sorot mataku terpaku pada sosok yang baru saja menyapa.

“Apa kabar, Demi?”

Matanya hijau biru.

**

Matanya hijau, kadang-kadang kelihatan biru. Dia selalu berpenampilan yang didominasi warna hitam atau abu-abu. Tetapi, dia sama sekali tidak mirip dengan sekumpulan muda-mudi gotik yang suka berkumpul di ujung jalan. Lebih kasual, tampak terpelajar dengan kaca mata berbingkai hitam yang kadang-kadang dipakainya.

Dia tidak pernah bicara dengan penghuni lain di gedung ini. Bahkan, aku yang terhitung tetangga flatnya. Kami hanya kadang-kadang berpapasan di koridor. Aku selalu memberinya senyum, yang rasanya hampir selalu dibalas dengan terpaksa olehnya.

Dia punya nama, tetapi kami penghuni flat yang selalu wajib berkumpul di Sabtu terakhir setiap bulan—sepakat menjulukinya si Gagak.

Mungkin dia tahu kalau kami menjulukinya si Gagak. Mungkin juga tidak. Toh, dia tidak pernah peduli dengan apapun, kecuali buku-bukunya.

**

Aku mendengar ketukan di pintu flat. Malas-malasan aku membukanya karena sedang sibuk mengerjakan paper. Sambil menyesap kopi dari gelas plastik kedai kopi sebelah, aku menarik daun pintu.

Wow. Nyaris saja gelas plastik itu meluncur dari tanganku.

“Hei. Demi.”

Aku terganga. Namun buru-buru menyadari sikapku yang tolol itu.

“Hei. Rav—Nararya, ya?”

Dia menyunggingkan senyum yang melelehkan saat itu juga. Kutundukkan kepala, malu untuk menatapnya. Jantungku menggedor-gedor dada. Momen ini adalah yang lama kunanti. Sejak tiga tahun lalu. Sejak kali aku mengaku jatuh cinta.

“Aku mau mengembalikan bukumu.”

Itu dua tahun yang lalu. Dua tahun tiga bulan tepatnya.

**

Di lantai koridor aku menemukan sebuah buku. Nama di halaman sampul dalam—Nararya Amish. Aku menoleh ke arah pintu flat paling pojok yang tertutup. Seingatku, tadi pagi-pagi sekali dia sudah keluar dari flat. Kami berpapasan ketika aku turun membeli sarapan di kedai kopi sebelah.

Mantelnya hitam panjang. Syal abu-abu melingkar di lehernya. Dia mendahuluiku, tanpa menyapa meski sudah hampir setahun kami tinggal di gedung yang sama. Saat melewatiku, dia membawa serta wangi pinus. Aku terdiam beberapa saat di depan pintu. Mengamati bahunya yang lebar, rambutnya yang ikal, dan segalanya. Segalanya yang bisa kutangkap dengan mata kecilku.

Di situ aku menyadari kalau setiap pagi aku keluar di waktu yang sama. Ketika aku mendengar pintu flat ujung tertutup, saat itulah aku tergesa beranjak dari flat untuk membeli sarapan. Setiap pagi, aku menatap punggung itu, bahu itu, sosok si Gagak dengan pakaian gelapnya. Setiap pagi—dia adalah sarapan wajibku.

Aku tidak pernah melewatkan satu pagi pun.

**

“Kamu nggak minum kopi?”

Dia tersenyum. “Aku lebih memilih teh,” katanya, mengaduk tehnya perlahan.

Aku menyuap panekuk beroles madu. Berusaha untuk tidak bolak-balik mengerling ke arahnya. Di hadapanku dia duduk dan mulai menyesap tehnya. Ini meja favoritku, di pojok kedai kopi langganan. Tempat aku biasa menghabiskan sarapanku seorang diri selama empat tahun terakhir sambil memandangi kesibukan orang-orang yang berangkat bekerja.

Buku yang dia kembalikan ada di atas meja dan jadi saksi kecanggungan kami berdua. Sempat kukira buku itu hilang karena aku lupa meletakkannya entah di mana. Aku hampir menangis karena itu buku favoritku—Sandman Omnibus #10 dengan tanda tangan Neil Gaiman. Hingga beberapa bulan lalu setelah membereskan rak dan menemukan foto dari sebuah pesta, aku ingat di mana buku itu berada. Tentu saja, harta sepenting itu tidak akan kupindahtangankan begitu saja. Namun karena orang yang meminjam juga sangat berharga, aku rela-rela saja.

Buku itu masih baik-baik saja. Malah, nyaris seperti tak pernah disentuh.

“Kamu suka itu? Sandman?”

“Aku membacanya ketika sekolah menengah. Salah satu favoritku.”

“Wow. Kita sama dong!” sahutku gembira.

Sepanjang pagi kami menghabiskan waktu membicarakan The Endless dan semua event dalam komik Sandman, dimulai dari si Gagak dalam cerita, Matthew. Entah mengapa dia memilih itu, mungkin ingin menyindirku. Tetapi, aku tidak peduli. Dia tidak seburuk dan segalak yang pernah kubayangkan, justru sangat menyenangkan diajak bicara.

Seperti mimpi yang jadi kenyataan.

**

Entah dari mana fantasi itu datang. Suatu pagi aku membuka pintu flat, menatap ke ujung lorong. Aku melihat si Gagak, berjalan dengan langkah-langkah tegap. Bukannya tidak mengacuhkanku, tetapi justru dia berhenti.

Di hadapanku. Memberiku tatapan lewat bola mata hijau birunya.

Aku mundur, menempel ke pintu yang tertutup. Mendongak, membalas pandangannya. Degup di dadaku bergemuruh.

Namun dia belum berhenti mengarahkan tatapannya kepadaku.

Sebentar lagi aku pasti jatuh. Sekarang saja seperti berdiri di atas agar-agar.

“Pagi, Demi,” sapanya, tersenyum.

Dia menyebut namaku. Untuk kali pertama.

Aku mengerjapkan mata. Lorong itu kosong. Aku mulai berfantasi setelah mimpi-mimpi di dalam tidurku.

Akan tetapi, dia memang pernah menyebut namaku. Sekali.

**

“Demi, mau menemani ke pesta pernikahan sahabatku?”

Panekuk di mulutku nyaris jatuh kembali ke piring. Buru-buru aku mengunyah sebelum itu sungguhan terjadi dan dia menarik permintaannya.

Pikiranku menjadi kacau balau. Apa ini bagian dari mimpi? Atau cuma khayalan pagi, seperti aku yang selalu membayangkan bisa duduk berhadapan seperti ini membicarakan tentang Sandman dulu. Dan kemudian, hari ini semua itu terjadi.

Aku membuka mulut, berusaha menjawab. Kalau tidak mungkin dia akan membatalkan ajakannya itu.

Namun, mulutku hanya bergerak-gerak tanpa sepatah kata keluar. Astaga, kenapa aku harus bertingkah seperti ikan mas koki di saat genting seperti ini?

“A-a-kamu serius? Acaranya kapan?” Akhirnya aku bisa bicara. Aku menarik napas panjang, tapi belum lega.

“Akhir pekan ini. Kamu sudah punya acara?”

Aku menggeleng. “Tidak. Eh, maksudku. Aku bisa. Aku akan menemanimu, Nara. Dengan senang hati.”

“Terima kasih,” balasnya manis, tersenyum lagi.

Kerasukan apa sih orang ini?

**

Aku mengetuk pintu. Di tanganku tergenggam buku yang waktu itu tertinggal di koridor. Sudah sebulan lamanya buku itu tergeletak di mejaku. Setiap kali aku akan mengembalikannya, belum-belum aku sudah merasa malu duluan. Maka, selama sebulan itu aku menyiapkan pidato terbaikku dan segudang alasan untuk si Gagak saat mengembalikan buku.

Kuguguh pintu sekali lagi.

Terdengar derit pintu yang ditarik.

Mata hijau biru si Gagak terarah tajam kepadaku. Sama seperti kali pertama kami saling sapa—tidak, cuma aku yang menyapanya.

“Aku mau mengembalikan buku. Waktu itu, tertinggal di koridor dan aku lupa terus untuk mengembalikan.”

“Kalau kamu tidak ingin mengembalikannya, kamu bisa menyimpannya. Aku sudah tidak butuh.”

Pintu itu terbanting di depanku yang gemetaran.

Aku memeluk buku itu. Berbalik, menjauhi pintu. Hatiku patah.

**

Selain karena selalu berpakaian gelap, kata-katanya yang seperti pisau, benar-benar membuat aku dan segenap penghuni sudah yakin melabelinya sebagai si Gagak.

Tak ada lagi yang berani menyapanya. Bahkan untuk mengundang kumpul-kumpul setiap Sabtu akhir bulan, kami sudah malas.

Hanya aku, karena kami selantai, masih sering tersenyum kepadanya. Aku merasa bersalah karena insiden buku tersebut. Saat itu, aku mulai mencari tahu tentangnya. Mengapa sikapnya begitu dingin seperti itu. Padahal dia cukup manis.

Aku tidak menemukan apa-apa. Hal itu malah membuatku makin penasaran. Sosoknya jadi begitu menarik di mataku.

Kupikir aku mulai jatuh cinta.

**

Itu beberapa bulan sebelum genap dua tahun si Gagak tinggal bersama kami. Lalu, suatu hari kami semua menemukan sebuah undangan pesta.

Si Gagak akan pergi ke luar negeri selama dua tahun. Entah untuk apa. Dan dia, mengadakan pesta perpisahan.

Kami, penghuni gedung, berkumpul mendikusikan itu. Haruskah kami meramaikan pestanya? Haruskah kami memberi hadiah perpisahan seperti tradisi yang sudah-sudah?

Dimulai dari satu orang yang tak bisa hadir karena ada pesta lain. Alasan demi alasan pun bergulir. Hampir semuanya tidak bersedia hadir. Aku hanya diam.

Karena aku merasa sesak.

Dia akan pergi.

Pada malam pesta, aku datang. Flatnya sepi. Hanya ada beberapa orang yang tak kukenal. Aku menaruh buku yang dulu ditolaknya dan hadiah perpisahan. Dia menyambutku. Menyapaku dengan namaku.

“Hei, Demi.”

Selama sisa pesta kami tak lagi saling bicara. Esoknya, dia sudah pergi.

**

Laras menatapku, dia sama sekali tidak memotong cerita yang meluncur dari mulutku. “Kalian beneran pergi ke pesta?”

Aku mengangguk. “Pesta pernikahan sahabatnya. Orang menyebalkan itu ternyata punya sahabat.”

“Ya, dia juga manusia biasa.”

“Ya sih. Kurasa itu malam terbaik dalam hidupku. Kayak fantasi jadi realitas, Laras. Aku dulu selalu membayang-bayangkan itu. Kalau orang sedingin dia, ternyata sebenarnya hangat.” Aku tersenyum, mengenang malam itu.

“Ah, I am happy for you, Demi. Seperti yang selama ini kamu inginkan?”

Pertanyaan itu tak kujawab. Aku membisu, sibuk dengan memori semalam. Aku dan Nararya bersenang-senang. Kami berdansa. Kami tertawa dan bertukar cerita. Kami pergi ke toko komik untuk membeli seri Sandman Overture terbaru. Membicarakannya sepanjang malam di kedai kopi samping gedung ini. Di meja pojok favoritku, seperti pagi sebelumnya.

Dua tahun membuatnya berubah banyak. Terlalu banyak.

“Kenapa sekarang dia baik begitu ya, Ras? Dia nggak lagi seperti gagak, lebih kayak burung merpati. Jinak-jinak burung merpati.”

“Ya, semua orang berubah seiring waktu, Demi.”

“Itu terlalu banyak,” kataku.

“Kamu nggak tahu apa saja yang terjadi kepadanya dua tahun belakangan ini, Demi.”

Laras masih terus mencoba menenangkan kegelisahanku. Kami bertukar tatapan. Dia tahu semua ceritaku dengan Nararya. Bagaimana ketika dulu aku mulai mengaguminya, hingga ketika berbulan-bulan aku bersedih karena dia pergi dan aku belum sempat mengungkapkan perasaanku.

Sekarang, Nararya kembali. Harapan yang dulu menguap, kini seakan kembali lagi ke tanganku. Mengejutkan. Aku belum benar-benar percaya, tetapi pertemuan kami dan semua yang sudah kami lakukan itu bukanlah mimpi.

Aku menghela napas. “Aku tahu kalau aku buta tentang apa yang terjadi kepadanya. Tetapi, aku ngerasa kayak bersama orang asing. Itu bukan si Gagak yang kukenal. Dia beda. Dia lebih baik, aku tahu. Tetapi, dia jauh berbeda.”

“Nggak ada yang sama selamanya, Demi. Yang nggak akan berubah itu cuma kenangan.”

“Aku masih mengingatnya. Sikapnya yang dingin dan tak acuh. Seperti semuanya baru terjadi kemarin. Kemarin, seperti aku jatuh cinta kepadanya dan kemisteriusannya. Dan hari ini, ketika dia kembali setelah dua tahun, dia seperti orang yang tak pernah kukenal.”

Akan tetapi, aku tahu kemarin tak akan pernah kembali lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kemarin (Si Gagak) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: