Pencuri Waktu

14 Januari 2014 § 8 Komentar

“Jangan menangis terus, nanti air matamu habis dan kau tak akan bisa melihat kunang-kunang lagi. Kau lihat? Di bawah lampu penerangan itu….”

Aku menyibak tirai jendela. Memandang lurus ke seberang jalan rumah.

“Aku melihatmu,” sahutku dengan pekikan tertahan.

Langkah-langkahku gesit meringkas jarak. Aku menarik pintu tergesa-gesa. Meluncur dalam dinginnya malam yang menjelang pagi itu. Kakiku menyentuh aspal yang membeku, tetapi aku tak peduli lagi. Cuma kamu yang aku tuju.

Kamu merentangkan tangan, memelukku yang menghambur kepadaku. Tubuhku menggigil dalam pelukanmu yang hangat. Akan tetapi, aku bertahan di situ, merengkuhmu seerat yang aku bisa.

Ketika kamu mengendurkan pelukan. Menyentuhkan dahi kita berdua. Aku dengar suara napasmu. Mengedus aroma parfum favoritmu. Dan kita, berdiri tanpa kata-kata.

“Aku merindukanmu.”

Gigiku gemerutuk. Rahangku mengencang sampai tak bisa bicara. Angin mengembus, membawa udara di bawah titik nol.

Kamu memundurkan wajah, menyodorkan dua kuntum mawar putih. “Aku mencurinya dari pesta. Aku tidak bisa meninggalkan ini di sana karena aku pikir kamu pasti menyukainya,” ujarnya setengah berbisik.

Kita berdua tertawa kecil. Aku meraih tanganmu, membawanya mendekatkannya ke bibirku dan mengecupnya. Kurasa mawar itu juga sama membekunya denganku.

“Aku mencintaimu,” balasmu nyaris tanpa suara. Aku melihat mata abu-abu keemasanmu. Berkilau di bawah lampu tepi jalan.

**

Kita menghabiskan sisa malam duduk berpelukan di sofa. Tanpa banyak bicara. Hanya memeluk dekat satu sama lain. Sampai aku tidak ingin melepaskanmu lagi.

Dua tahun lalu kamu pergi. Selalu berjanji untuk kembali, tetapi nyaris tak pernah kamu tepati. Malam ini, kamu kembali. Muncul begitu saja.

Kamu tahu aku selalu menunggumu. Kamu berjanji untuk mengajakku kembali ke kabin tepi danau untuk melihat kunang-kunang.

Janji yang kamu beri dua tahun lalu.

“Kita bisa pergi ke sana sekarang,” kataku.

Pelukanmu mengencang. Kamu duduk di belakangku. Punggungku menyentuh dada bidangmu.

“Kamu tahu aku nggak bisa, Nuala.”

“Kamu bakal pergi lagi….”

“Aku harus pergi.”

Aku menghela napas.

“Kita akan bertemu lagi, Nuala.”

“Bagaimana jika aku tidak mau menunggumu lagi?” kataku, memainkan jari jemarimu.

“Itu pilihanmu.”

“Aku mencintaimu, Pram.”

Kamu mencium leherku, lembut.

“Andai aku bisa menghentikan waktu,” ucapku, mulai mengkhayal.

Ruangan itu terisi sunyi. Dari jendela, terlihat langit yang sudah berganti warna. Gelapnya digusur oleh warna abu-abu.

“Kamu benar-benar menginginkan itu?” bisikmu, setelah beberapa lama diam.

“Aku nggak ingin kamu pergi.”

“Pejamkan matamu, Nuala.”

“Pram,” desahku. Aku menggenggam tanganmu begitu erat. Menoleh kepadamu yang memandangiku dengan yakin. Matamu seakan berpendar dalam gelap—api yang membara di atas abu.

“Pejamkan matamu,” suaramu begitu halus mengalir di telingaku.

Perlahan, wajahmu tergantikan oleh kegelapan.

**

“Ini tidak mungkin!”

Kamu menggandengku di tengah-tengah waktu yang membeku. Semuanya berhenti. Burung-burung melayang tak bergerak. Orang-orang seperti patung. Mobil-mobil berada di jalanan. Seperti ketika menonton film dan aku menekan tombol ‘pause’.

Bibirmu membentuk senyum.

“Aku mendapatkan semua ini dalam perjalananku. Dua tahun aku pergi dan aku bisa melakukan ini. Untukmu, Nuala.”

Kita berdua berhenti di tengah jalanan yang semestinya padat. Berdiri berhadapan, tanganmu melingkari pinggangku dan tanganku di lenganmu. Dunia milik kita berdua.

“Mungkinkah selamanya?” tanyaku ketika kamu menyudahi ciumanmu.

“Akan ada konsekuensi, Nuala.”

“Asalkan aku bisa bersamamu.”

Tak ada bantahan. Sekali lagi kamu menciumku seolah-olah tak ada orang-orang di sekitar kita. Mereka semua mematung. Tak akan ada yang peduli.

**

Kita bersama. Seterusnya berdua. Berjalan dari kota menuju danau. Hanya dengan berjalan kaki kita bisa sampai ke sana. Karena semua membeku. Berhari-hari kita menempuh rute itu. Tak sekalipun kamu melepaskan tangan dariku.

Seharusnya kita selalu bersama. Seperti ini. Dalam hidup normal yang kita miliki.

“Apa konsekuensinya, Pram?”

“Kamu akan tahu ketika kembali.”

“Kenapa tidak sekarang, Pram?”

Kamu tersenyum tipis. Kulihat matamu yang abu-abu kehilangan keemasannya. Kamu kelihatan bahagia, sekaligus berduka.

“Di mana mawarmu, Nuala?” tanyamu, berhenti di sampingku.

Sekarang kita berdua ada di kaki bukit. Di balik bukit inilah danau itu terletak.

Aku merogoh saku mantel. Merasakan ponselku di dalam sana. Mengeluarkan dua kuntum mawar putih yang tak melayu. Kamu mengambilnya satu, menyelipkanya di telingaku.

“Kamu. Aku melakukan semua ini untukmu, Nuala. Karena aku mencintaimu,” ujarmu, lalu mencium bibirku lagi. “Simpanlah yang satu lagi.”

Aku tak berkata apa-apa. Seluruh kalimatmu seakan membungkamku. Apalagi yang bisa kubalas selain mengatakan hal yang sama: aku mencintaimu. Aku ingin menulis besar-besar di aspal yang kita lewati kalau aku mencintaimu. Aku ingin melukis awan di langit untuk mengungkapkan aku mencintaimu. Aku ingin melakukan semua yang aku bisa khayalkan untukmu, karena aku mencintaimu. Dan kamu tahu. Setiap kali kamu memandangku, aku membacanya dari sana—sorot mata yang tak pernah bohong.

Kita sampai di puncak bukit. Dari sana, aku bisa melihat permukaan danau yang berkilauan karena cahaya pagi. Aku menarikmu agar bergegas. Kita berlari bersama menuruni bukit. Berlomba siapa yang lebih cepat tiba di tepi danau.

Aku dan kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berenang di danau. Kukira airnya akan membeku, ternyata tidak. Rasanya dingin ketika aku memasukkan kaki. Akan tetapi, kamu menarikku hingga aku tercebur. Memelukku erat-erat di bawah air yang menutupi sebagian tubuh kita yang telanjang.

Aku harap ini selamanya.

“Apa aku akan menua ketika kembali?”

“Tidak, Nuala. Seperti kita pergi. Seperti itulah kita kembali.”

“Ini menyenangkan, Pram!” Aku mencipratkan air kepadamu. Kamu tertawa keras-keras sambil membalasku.

Persetan dengan konsekuensi.

**

“Bagaimana agar malam bisa turun?” tanyaku dari balkon kabin. Pemandangan dari situ sangat indah. Bukit-bukit yang hijau terpantul di permukaan danau. Beberapa kali kita menghabiskan liburan di tempat ini. Kamu senang duduk di balkon ini, menyesap kopi dan membaca buku.

Aku menunggu jawaban. Nyatanya, kutemukan kamu terdiam. Tanganmu memegang tepian balkon, pandanganmu lurus ke arah danau.

“Pram, kita ke sini untuk melihat kunang-kunang. Tak ada kunang-kunang di pagi hari seperti ini.”

Aku merapat ke tubuhmu. Memelukmu dari belakang. Merasakan halusnya permukaan kemejamu menggesek kulit wajahku. Kamu masih menggunakan pakaian yang sama dengan malam kita bertemu–setelan pesta lengkap. Kini jasmu sudah kamu tanggalkan. Lengan kemejamu terlipat hingga siku. Kamu melakukannya karena aku menyukainya.

“Aku harus membuat waktunya berjalan kembali, Nuala.” Kamu menengok, tersenyum dan mengusap rambutku.

“Lakukan saja.”

“Lain hari ya.”

“Tidak ada lain hari, Pram. Setiap saat adalah pagi.”

Namun, kali ini kamu tidak menuruti permintaanku. Kamu melepaskan rengkuhanku. Ini yang pertama sejak kita berjumpa. Berbalik ke dalam kabin, meninggalkanku sendirian.

Aku hendak masuk ke dalam, tetapi ada yang memakuku untuk tetap berada di balkon. Pikiranku membayangkan dua tahun yang terlewat. Dua tahun milikmu yang tak kuketahui. Perjalanan-perjalananmu yang tak pernah kamu bagi.

Aku tak tahu apa yang menimpamu. Kamu minta untuk tidak gundah karena itu. Kamu akan baik-baik saja selama aku menepati janji untuk menunggu.

Menanti bukan perkara gampang. Mungkin kamu tidak pernah tahu.

Entah berapa lama aku ada di balkon. Tenggelam dalam kacaunya pikiranku. Sampai akhirnya kamu berdiri di balik pintu, menatapku. Satu demi satu langkahmu membawa mendekat kepadaku. Kamu datang memelukku dan minta maaf. Matamu memerah. Abu-abunya masih bernoda emas. Tak ada yang berubah, tetapi mata tak pernah berdusta.

Kamu mengambil sekuntum mawar dari saku mantelku. Menciumnya. Lalu, meletakkannya di rambutku.

“Aku akan mengabulkan permintaanmu. Jangan menangis, Nuala. Aku melakukan semua ini untukmu. Aku mencintaimu. Kita akan melihat kunang-kunang.” Kurasakan tanganmu yang makin erat merengkuhku. “Pejamkan matamu, Nuala.”

**

Aku merasa seakan terjerembap. Namun, sesaat kemudian aku tersadar duduk di balkon kabin tepi danau bersamamu. Kedua matamu terpejam.

Tatapan berpindah ke langit. Burung-burung kembali berkejaran. Danaunya kembali beriak dan berombak.

“Pram.”

Sapaanku tidak mendapat jawaban.

“Pram.”

Aku mengamati wajahmu yang tirus. Matamu yang tetutup dan dinaungi alis tebal. Bibirmu yang merah gelap. Tulang pipimu yang tinggi.

“Pram,” aku berbisik, mengguncang tubuhmu.

Sekali, tetapi kamu masih tak bereaksi. Jantungku berdebar kencang.

“Pram,” aku mengelus pipimu.

Kamu tersentak. Matamu mengerjap.

“Nuala.”

Aku langsung memelukmu. Betapa bahagianya bisa melihat sepasang mata abu-abu milikmu lagi.

“Kunang-kunang, kamu ingin kunang-kunang, Nuala. Kita harus menunggu sampai malam. Tapi, aku harus pergi,” katamu.

“Pram. Tinggallah barang sehari,” kuraih tanganmu.

“Aku sudah mencuri waktu banyak untukmu.”

“Kunang-kunang, Pram.”

Ponsel di mantelku bergetar. Berkali-kali. Aku mengabaikannya, sampai kamu menyuruhku mengecek siapa yang menghubungiku.

Banyak pesan untukku. Aku mengecek satu-satu. Semua membawa kabar yang sama. Kematian. Ayahku. Ibuku. Adik-adikku. Sahabat-sahabatku.

Aku memandangmu dengan mata berkaca-kaca. Dadaku sesak.

“Aku melakukannya untukmu, Nuala. Agar kita bisa bersama. Aku mencintaimu.”

Bibirku bergetar. Kamu mencuri waktu.

“Aku sudah bilang kepadamu. Akan ada konsekuensinya, Nuala.”

14-1-14

Ditulis buat Mbak Indah, karena nerusin kalimat buat giveaway-nya sih.😀

§ 8 Responses to Pencuri Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pencuri Waktu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: