Jack

31 Januari 2014 § 1 Komentar

Benedict Cumberbatch

Gue lihat foto ini dan langsung spontan nulis ini. Bukan RPF. Enjoy!
Foto milik Dan MacMedan.

Itulah mengapa Nuala membenci istana. Terlalu besar, terlalu gemerlap, terlalu kosong. Langkah-langkahnya terdengar jelas, seakan satu-satunya hidup dalam lorong itu. Lukisan-lukisan indah tergantung di dindingnya yang dilapisi kertas bermotif rumit. Di kepalanya, lampu kristal tergantung setiap beberapa meter. Pada setiap sisi dinding, berdiri patung-patung yang diukir dengan halus dan tampak nyata.

Penerangan lorong itu remang di siang cerah yang ditempuh Nuala sebelum tiba di sini. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat. Berusaha memelankan langkahnya agar hak sepatu tingginya tidak terlalu nyaring menghentak lantai kayu. Seharusnya ia meminta pelayan di depan untuk menemaninya ke aula dalam. Duga Nuala, ia tak akan tersesat di dalam sini. Namun, kelihatannya ia salah–tempat ini lebih sulit daripada yang diduganya.

Sulit. Menakutkan.

Nyali Nuala mendadak ciut, apa ia bisa bertahan bekerja di sini? Clara sudah memperingatkan bahwa menghadapi penghuni rumah ini membutuhkan kerja keras. Akan tetapi, Nuala terpaksa mengambil kesempatan ini. Orang tuanya baru saja meninggal karena kecelakaan dan Nuala kini harus membiayai sekolah adiknya yang masih kecil. Nuala membutuhkan ini.

Nuala menelan ludah ketika tiba di depan sebuah pintu kayu tinggi. Ia tidak merasa seperti putri di istana ini–ia adalah calon pelayan. Ia tidak mengharapkan apa-apa kecuali bayaran untuk hidupnya. Napasnya tertahan saat akan mendorong pintu. Ia menyempatkan merapikan rambut dan pakaiannya. Penampilan adalah yang pertama.

Kiranya pintu itu akan terasa berat, nyatanya dengan sentuhan ringan pintu itu mengayun. Hanya ada satu orang di ruangan itu. Berdiri membelakangi pintu, menghadap jendela yang mengarah ke sebuah taman. Nuala menelan ludah. Udara dalam ruangan itu menggigit kulitnya. Ia menggenggamn tangan, mengeratkan tekad. Dengan jantung berdebar kencang, Nuala maju dengan kaki gemetar.

Di depan sebuah meja dari pualam kelam, Nuala berhenti. Sekarang Nuala bisa mengamati sosok itu dengan jelas. Berdiri kokoh dalam balutan jas biru gelap dan nyaris tidak bergerak. Jangan-jangan sosok itu hanya pahatan seperti yang dilihatnya sepanjang lorong. Mungkin benar kalau Nuala sudah menyusuri lorong yang salah. Ia mengulurkan tangan, berniat meyakinkan diri kalau sosok itu benar manusia sepertinya atau hanya patung.

Gerakan tangannya terhenti. Nuala terhenyak ketika sosok itu berbalik, menghadapnya.

“Maaf,” ujar Nuala, tergesa menarik tangan dan memperbaiki posisi berdirinya.

“Namaku Jack,” katanya dengan suara yang dalam.

Nuala membeku. Membiarkan pria itu mengobservasinya. Dan mengambil kesempatan itu untuk melakukan hal yang sama.

Rambut cokelat pendek pria itu tersisir rapi. Di balik jas biru, ia mengenakan kemeja putih yang begitu serasi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku pantalon yang serona dengan jasnya. Parasnya indah dan terawat, dengan tulang pipi tinggi dan sepasang mata hijau biru.

Sesaat Nuala merasa sedang menatap pahatan lain dalam rumah itu. Sosok di depannya terlalu….

“Selama datang di kediaman keluarga Holstein.”

“Te-terima kasih, Tuan Holstein.”

“Aku bukan bagian dari keluarga Holstein, Nuala,” balasnya dingin. Ia menoleh ke lorong lain yang gelap. Dari dalam sana, berlari seorang anak perempuan berusia delapan tahun dan langsung bersembunyi di belakang Jack.

“Mirana Holstein, Nuala.” Jack menyebutkan nama anak itu. “Satu-satunya yang tersisa dari generasi Holstein.”

Nuala tercekat. Namun, belum sempat ia merutuki kebodohannya tidak mencari tahu dulu mengenai keluarga ningrat ini, Jack sudah kembali bicara. Pria itu memperlakukan Mirana dengan lembut, layaknya ayahnya sendiri.

“Halo, Nuala,” panggil Mirana.

“Hai,” Nuala melambaikan tangannya. Ia tidak tahu harus mengulurkan jabat tangan atau yang lainnya. Sebentar saja, kemudian Jack membisikkan sesuatu kepada anak itu dan ia beranjak meninggalkan mereka berdua kembali dalam ruangan itu.

“Di mana orang tuanya?” tanya Nuala tanpa bisa menahan diri.

“Meninggal. Dalam sebuah kecelakaan yang disengaja.”

Nuala terperanjat. Ia tidak menyadari kalau kakinya bergerak mundur selangkah. Tubuhnya menggigil. Bayangan orang tuanya mengisi pikirannya. Perasaannya terasa tak nyaman. Namun ia tak bisa pergi, tatapan tajam Jack seakan melarangnya untuk pergi.

“Merasa senasib, Nuala?”

Nuala kehilangan kata-kata.

“Siapa yang dengan sengaja melakukan itu kepada orang tua Mirana? I-itu sangat jahat. Mirana kelihatan sangat baik dan menyenangkan,” tanya Nuala terbata, saat kembali bisa menemukan suaranya.

“Banyak alasan untuk mengakhiri keluarga ini,” jelas Jack, menatap ke sekeliling ruangan. “Aku punya banyak alasan untuk melakukannya.”

———–
bersambung.

§ One Response to Jack

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jack at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: