Pasir di Ujung Mata Pada Suatu Pagi

1 Februari 2014 § Tinggalkan komentar

Kepada Morpheus,

Ketika aku bangun pagi ini, tak ada mimpiku yang bersisa. Mungkin aku memang tidak bermimpi, atau sesederhana melupakannya. Seperti yang kamu bilang pada seorang anak perempuan yang pernah kamu temui dalam  salah satu perjalananmu. Ia bertanya mengapa setiap kali ia terbangun ia tidak ingat bagaimana untuk terbang, padahal di dalam mimpi ia tinggal merentangkan tangan dan voila! Meluncurlah ia ke angkasa!

Jawabmu, dalam mimpi kadang kita akan ingat, tetapi saat terbangun kita akan lupa.

Tidak adil memang. Namun, kamu tidak selamanya keji dengan merampas semua yang kamu miliki ketika aku atau lainnya melangkah keluar dari semestamu. Sedikit-sedikit ada yang tertanam karena mimpi dan tak pernah bisa aku lakukan. Adegan-adegan pendek yang menyenangkan. Adegan-adegan singkat yang mengerikan. Semua itu datang dalam mimpi dan sebagian kuharapkan bisa terjadi, sebagian aku tahu tak akan pernah terealisasi.

Itulah mimpi. Itulah harapan.

Kamu adalah Raja dari Mimpi-Mimpi, Pangeran dari Kisah-Kisah. Kamu yang menyebarkan pasir ajaib di mata kami yang akan tertidur agar mendapatkan mimpi indah. Kamu adalah pemilik semua yang tak ada di dunia nyata. Fragmen-fragmen indah dan menakutkan dalam kepala, dalam bunga-bunga tidur. Dan aku adalah anak kecil yang penuh mimpi–kamu boleh memilikiku. Namun biarkan aku mengingat semua yang pernah terjadi dalam mimpi-mimpi yang kamu hadirkan.

Atau pada suatu hari izinkan aku berkunjung ke istanamu, mampir ke perpustakaan yang kamu miliki. Perpustakaan paling luar biasa yang pernah bisa kubayangkan. Perpustakaan penuh buku-buku yang hanya ditulis di dalam kepala–entah karena ceritanya terlalu berharga sehingga tak ingin dibagi atau memang mereka terlalu malas menuliskannya. Biar aku melihat rak berisi namaku, biar aku baca yang seharusnya kutulis di dunia. Biar aku bisa menuliskannya di dunia, bukan hanya sekadar angan-angan belaka.

Akan tetapi, kamu tak akan mengizinkannya, iya kan? Kecuali, Destiny, kakakmu mengintip buku di tangannya dan mengatakan suatu hari kita akan bersimpang jalan. Jadi, aku menunggu. Menunggu untuk bertemu di sudut mimpi yang kupunya, Dream.

Pada suatu pagi, saat aku menemukan pasir emas di ujung mata, aku tahu kita sudah bertemu. Mungkin aku lupa, tetapi seperti itulah setiap kali terbangun. Dan, aku akan memimpikannya lagi, pertemuan-pertemuan kita selanjutnya.

Karena ketika seseorang berhenti bermimpi, ia sudah mati.

Selamanya milikmu,

A

———-

*catatan: Dream (Morpheus) dan Destiny adalah karakter dari novel grafis The Sandman, karya Neil Gaiman. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pasir di Ujung Mata Pada Suatu Pagi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: