Jack #2: Pintu

4 Februari 2014 § 2 Komentar

2013 THR Photoshoot 15

Karena Jack #1 dimulai dari sebuah foto, maka bagian-bagian selanjutnya dari cerita ini juga bakal gue mulai dengan foto yang gue pilih secara random atau bisa juga disesuaikan dengan plotnya. :p

Nuala mendorong pintu yang terbuat dari kayu di hadapannya. Yang kali ini terasa berat, ia harus berusaha agak keras sampai pintu itu mau terayun. Pun bentuknya berbeda dengan pintu-pintu lainnya di istana tersebut. Lainnya mulus dan berpelitur, sementara pintu kayu di depannya  tak mengilap. Kusam dan dimakan usia, serat-seratnya terasa kasar saat Nuala menyentuhnya. Sebagai pengganti kenop, terdapat logam berbentuk lingkaran yang tergantung.

Pintu itu bagai sisi yang lain dari semua kemewahan yang Nuala temukan seminggu terakhir.

Ia melangkah masuk, menutup pintunya tanpa suara.

Ruangan itu kosong. Sisi-sisinya dilapisi dinding kaca tebal. Sehingga letak bangunan utama dan taman yang menengahi bisa terlihat dari situ. Tak ada patung-patung yang senantiasa ditemukan Nuala di setiap lorong. Nyaris tanpa sisi, kecuali sepasang bangku yang berada di pojok. Dinding pembatas dengan ruangan yang lain berwarna putih gading tanpa lukisan atau potret. Langit-langit ruangan itu gelap, minus kehadiran candelier.

Yang sama persis hanyalah kesunyiannya. Hening yang kadang membuat Nuala merasa takut dan tercekik. Selama ia tinggal bersama adik-adiknya, senyap seperti itu mahal harganya. Ia dan saudara-saudaranya selalu punya hal yang dipertengkarkan dan membuat saling bicara.

Seperti biasa, Nuala merapikan busananya sebelum mengetuk pintu kayu lain di hadapannya. Baru pertama ia menginjakkan kaki di sini. Istana itu luas, tidak cukup ia hafal seluruh lorongnya dalam sehari. Ia mengguguh permukaan pintu yang gelap dan halus dengan tangannya yang bersimbah keringat dingin.

Tak ada jawaban. Maka, ia sudah seharusnya masuk sendiri ke sana.

Layaknya kali lain ia membuka pintu di bangunan utama, detak jantungnya selalu menegas. Sulit untuk menghalangi pikirannya menerka-nerka apa yang ada di balik pintu. Meski saat tahu apa yang tersembunyi, kadang-kadang hanya biasa saja. Seringkali hal-hal yang membuat Nuala terpana.

Kehadiran Jack adalah salah satunya.

Kini, ia menduduk sebuah sofa panjang di tengah ruangan. Seluruh dinding ruangan yang Nuala masuki tertutup rak yang penuh buku. Lampu menyala dari sudut-sudut ruangan, pada bagian rak-rak tertentu.

“Nuala.”

Suara Jack membuat Nuala mempercepat langkahnya. Jack menaruh bukunya di atas salah satu meja. Menuang scotch ke gelasnya, dan berdiri menghadap Nuala.

“Ada yang ingin kamu bicarakan kepadaku.”

Nuala tersenyum. Pria itu tidak pernah membalas. Wajahnya seperti terbuat dari besi. Sama halnya dengan matanya yang selalu menyorot tajam, tak pernah redup.

Dari awal berada di sini, Nuala diam-diam mencari informasi tentang kematian keluarga Mirana. Semua media mengatakan itu murni kecelakaan, tanpa faktor kesengajaan. Ia tidak tahu harus percaya, atau menganggap perkataan Jack di hari pertama mereka bertemu hanyalah bualan.

Akan tetapi, siapa yang mau mengaku kepada orang yang baru dikenal kalau ia sudah membunuh?

Antara orang itu memang psikopat atau ia adalah Jack.

Entah mengapa Nuala tidak merasa takut jika itu terbukti. Jack tidak akan menyeretnya dalam masalah ini. Apa yang ia lakukan di sini adalah menjaga Mirana dan setelah Nuala mendapatkan uang cukup, ia akan segera angkat kaki dari sini.

Deham Jack meruntuhkan pikiran-pikiran yang baru Nuala bangun. Keduanya bersemuka. Nuala menarik napas panjang sebelum mulai berkata-kata.

“Aku ingin minta izin untuk pulang. Aku ingin menengok adik-adikku.”

Jack tidak langsung menjawab, ia meletakkan gelas kristalnya dengan hati-hati. “Aku akan pergi selama beberapa hari,” katanya, melihat jam tangan dengan tali kulit hitam yang melingkari pergelangan tangannya.

Nuala menelan ludah. Ia memandangi Jack, berharap pengertian. Tempat tinggalnya tidak jauh dari istana ini, hanya sekitar 15 menit berkendara.

“Kamu harus menjaga Mirana.”

Jack berdiri tegak, merapikan jas biru gelapnya. Pria itu berhenti berjalan setelah beberapa langkah.

“Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?”

Nuala mematung, lalu menggeleng.

“Berhenti bersikap seperti itu. Jawab pertanyaan dengan ya atau tidak.”

“Tidak.”

“Tinggal di sini dan jangan ke mana pun, kecuali melaksanakan pekerjaanmu.”

Jack berjalan lagi. Saat pria itu mencapai pintu, ia menengok kepada Nuala. “Aku punya rahasia tentang orang tuamu, Nuala. Tentang masa lalu mereka. Tentang kematian mereka. Tidakkah kamu ingin tahu?”

Nuala terperanjat. Ia ingin meneriaki pria itu pembohong dan bermulut besar. Akan tetapi, pandangan Jack memakunya. Ruangan itu sejuk, namun punggung Nuala kembali memanas.

“Rahasia?”

“Itulah mengapa kamu berada di sini, Nuala. Kita punya urusan yang harus diselesaikan bersama.”

Jack menyelinap ke balik pintu, menutupnya tanpa debam. Nuala berdiri di tengah ruangan, penuh pertanyaan dalam pikirannya. Selama beberapa saat ia tak bisa bergerak dari situ. Jack memang sosok misterius dan Nuala selalu mencoba curiga. Sayangnya, setiap kali ia melihat Jack dan Mirana berinteraksi, Nuala tidak bisa berpikir tentang itu.

Namun Nuala tahu, seorang psikopat bisa bersikap terlalu manis, juga terlalu kejam. Tubuhnya menggigil. Ia tidak bisa berpikir lebih lanjut. Nuala hanya ingin pulang ke rumah.

Ketika akhirnya Nuala merapatkan pintu kayu, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ada dalam ruangan itu luput dari perhatiannya.

————

bersambung…

§ 2 Responses to Jack #2: Pintu

  • missdeetya mengatakan:

    udah baca tadi malem sebagai pengantar tidur…… makasih lho hohoho🙂
    misteri akan selalu bikin ketagihan! makin diterusin makin addict dan makin merasa kurang….

    btw, kalo jack ‘terpaksa’ menghabisi keluarga Mirana…..gue gak keberatan! *jeritan hati pembaca* :))

  • Adis mengatakan:

    makasih ya dit udah baca. nanti diungkap satu-satu kok, siapa sebenarnya Jack. siapa sebenarnya Nuala. ha! hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jack #2: Pintu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: