Menulis Novelisasi

8 Februari 2014 § 4 Komentar

Bareng keluarnya novelisasi ‘7 Misi Rahasia Sophie’ ini aku dapat lumayan banyak pertanyaan tentang gimana caranya mengadaptasi skenario jadi novel. Pertama-tama, ternyata belum banyak yang familier dengan bentuk buku yang seperti ini ya. Padahal ini udah lumrah banget, lewat penerbit GagasMedia (yang nerbitin 7MRS) aja udah banyak adaptasi dari skenario film jadi buku, satu yang aku masih punya adalah Brownies yang diadaptasi oleh Fira Basuki.

Di luar, konsep buku seperti ini juga udah sering ditemukan. Biasanya film-film yang sukses dan dapat banyak penonton bakal ngeluarin berjenis-jenis tie-in, salah satunya bentuk novelisasi ini, contohnya kayak Star Trek Into Darkness (2013) yang diadaptasi oleh Alan Dean Foster, dan Pacific Rim (2013) yang diadaptasi oleh Alex Irvine. Biasanya sih novel adaptasi ini terbitnya nggak akan jauh-jauh dari filmnya terbit.

Novel-novel adaptasi dari skenario film. Brownies (2005) dan Star Trek Into Darkness (2013). Foto: koleksi pribadi.

Novel-novel adaptasi dari skenario film. Brownies (2005) dan Star Trek Into Darkness (2013). Foto: koleksi pribadi.

Gimana sih bisa dapet kesempatan untuk mengadaptasi skenario film jadi novel? Tawaran datang dari pihak penerbit. Jadi pada suatu hari aku dihubungi editorku dan ditawari itu. Gitu sih. Setelah aku mengiyakan, editorku mengirimkan skenario yang harus dikerjakan dan tentunya tanggal deadline. Sebelum ngasih tanggal editorku udah wanti-wanti kalau yang dibutuhkan untuk job itu adalah nulis cepat dalam waktu singkat. Karena merasa bisa dan itu tantangan baru, aku sih ngiyain aja langsung.😀

Jadi, waktu pengerjaannya aku dikasih sekitar delapan hari.

Apa sih yang harus dilakukan kalau naskah udah di tangan? Ya yang jelas dibaca. Satu sampai beberapa kali, seperlunya. Catat semua karakter dan sifat-sifatnya. Adegan-adegan penting. Adegan-adegan yang belum lengkap. Setting yang dipakai. Hal-hal kecil yang harus diriset sendiri.

Begitu-begitu bisa makan waktu sehari-dua hari. Setelah itu, membagi-bagi adegan-adegan di dalam skenario jadi bagian-bagian yang akan ditulis jadi novel. Karena skenario kan bentuknya dialog dan deskripsi adegan yang minim, maka akan ada adegan yang dijadikan satu adegan dalam cerita. Ada yang posisinya diatur ulang dalam draf novel. Ada juga dialog ini itu yang nggak bisa serta merta dimasukkan jadi bagian dari novel. Itu teknis sih. Kalau terbiasa membaca novel dan biasa menulis, nanti instingnya bakal keluar sendiri.

Menulis novelisasi ini keuntungan buat yang biasa menulis fanfiksi terlebih yang suka canon (sesuai dengan cerita asli) dan bertahan in-character. Karena dalam fanfiksi kan kita juga pinjem karakter milih orang lain dan kita kasih cerita sendiri. Sebenarnya menulis novelisasi ya hampir mimpir dengan itu. Tetapi, ini nggak bisa sesuka hati, harus sesuai pakem. Hoho….

Ketika menulis…. Ya seperti nulis novel biasa aja. Justru lebih mudah dan cepat karena udah ada panduan adegannya. Kan tadi udah mendata macam-macam yang belum lengkap dalam cerita. Ya, paling nambahin itu aja dalam cerita. Menjelaskan yang belum terjelaskan. Menembel adegan ke adegan lain di skenaria yang dirasa bolong dengan adegan baru di dalam novel. Kedengaran familier, kan, kalau sering nulis fanfiksi.

Nah, kalau ada yang nggak jelas. Seperti persetujuan nambahin adegan ini itu, ada baiknya dikonsultasikan sama editor sih. Karena nggak semua novelisasi boleh menjelaskan lebih jauh daripada yang ada di filmnya (coba baca dan nonton Star Trek Into Darkness lalu bandingkan).

Ketika menulis ini kecepatan menulismu diuji. Bisa nggak dengan waktu yang tersisa bisa menuliskan seluruh cerita. Yang begini sih, sarannya ya bikin jadwal dan patuhi aja setiap hari.

Selesai menulis, tentu aja langsung aku kasih drafnya ke editor. Meskipun kelihatan kayak kejar tayang, tetap aja naskah ini lewat prosedur serupa dengan naskah regular. Ada editing, lalu revisi sana sini, proofreading, sampai akhirnya cetak.

Kelihatannya sederhana ya? Sebenarnya nggak begitu juga. Hal yang harus diperhatikan lainnya adalah gimana caranya biar saat mengadaptasi nggak sekadar menyalin aja dari skenario menjadi bentuk novel. Aku juga nggak tahu apakah menulis menggunakan karakter (dan cerita) orang lain jadi masalah bagi penulis lain. Kalau iya, bilang ya di komentar, nanti mungkin aku bisa bantu gimana caranya bisa masuk ke karakter yang nggak ditulis dan diciptakan sendiri.

‘7 Misi Rahasia Sophie’ sudah beredar bukunya sekarang, juga filmnya. Kisahnya tentang remaja, tetapi sama sekali nggak biasa. Tentang Sophie yang mengajak Marko untuk melakukan tujuh misi yang nggak dirasa masuk akal. Misi-misi rahasia yang ternyata punya maksud besar. Ceritanya manis dan heartwarming. Aku nggak bisa ngomong lebih banyak lagi tentang ceritanya. Tapi, beda, beda dengan yang biasa aku tulis.🙂

Foto punya @jiaeffendie

Foto punya @jiaeffendie

§ 4 Responses to Menulis Novelisasi

  • luckty mengatakan:

    Penasaran, banyak yang bilang ‘7 Misi Rahasia Sophie’ nih, semoga kesampaian nonton plus baca bukunya… :))

    Oya, Brownies jadi novel pilihanku saat mata kuliah Komunikasi Interpersonal, tugasnya disuruh ‘bedah film’ yang didominasi komunikasi interpersonal, tiap individu gak boleh sama, dan untungnya cuma aku yang kepikiran ngambil novel ini x)

  • adin dilla mengatakan:

    Jadi pengen baca. Saya sendiri emang suka jenis novel yang diangkat dari film. Pernah baca novelisasi Tentang Dia, dan saya positif untuk itu.

    http://bukuguebaca.blogspot.com/2014/01/resensi-novel-tentang-dia.html

  • Adis mengatakan:

    Brownies aku baca pas masih SMA haha. Waktu masa itu lagi rame film drama lokal dinovelin. Kayaknya ada beberapa judul lain yg familier, tapi nggak kebeli bukunya. Maklum masih muda. Beli buku masih disantun ortu!😀

  • Adis mengatakan:

    @ adin dilla iya harus baca! Wah, Tentang Dia rasanya aku cuma nonton aja. Terima kasih udah mampir ya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menulis Novelisasi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: