Sembunyi

19 Februari 2014 § Tinggalkan komentar

“Kenapa harus takut jatuh cinta?”

Kamu yang pertama kali bertanya. Jauh sebelum aku punya maksud mengutarakannya. Rasa itu ada di dalam hati, tetapi aku terlalu ngeri untuk meluapkan.

Aku mengendikkan kepala. Menatapmu dengan pandangan luas lalu sempit. Sisanya kubiarkan sosokmu kabur, aku memilih mengamati sisa awan di langit senja.

“Aku menyukai itu. Jatuh cinta,” kataku.

“Jadi kenapa?” desakmu, seakan-akan kamu tahu jawaban itu sudah di ujung lidah.

Kubiarkan pertanyaanmu menganggur sementara aku mengaduk teh yang kamu seduhkan. Bungkus-bungkus cokelat terserak di ujung kakiku. “Aku jatuh cinta kepada seseorang ketika aku meyakini mencintai orang lain.”

Kamu tertawa kecil, lalu mengeras. Tubuhmu terguncang-guncang di kursi plastik merah yang kusam. Permukaan teh madu pada cangkir berona gading dengan tulisan ‘Big Hug Mug’ yang kamu dapatkan di eBay.

“Ya biarkan saja.”

“Itu namanya egois!” protesku. Aku menyesap teh camomille sambil memandangimu sengit. Cangkir itu berderak ketika kuletakkan dengan keras di atas lantai.

“Memangnya apa yang mau kamu lakukan?” tanyamu, kali ini serius. Alismu yang tebal nyaris bertaut. Kerut-kerut di sisi luar kelopak matamu terlihat jelas.

Aku mengambil cokelat oleh-oleh dari sahabatku yang setengahnya sudah kamu habiskan sendiri. “Aku tidak tahu. Aku seharusnya tidak seperti itu,” jawabku pelan, menggigit ujung cokelat itu.

“Manusia berubah, Kayra. Jangan begitu khawatir.”

“Itu artinya aku nggak setia?”

“Siapa yang bilang?”

Bungkus cokelat di tanganku melayang ke arahmu. Kupandangi wajahmu lagi dengan tampang cemberut. Namun, kamu seolah-olah tidak tersentuh oleh sikapku.

“Kamu sendiri yang bilang itu. Kamu sendiri yang melabeli dirimu nggak setia, Kayra.” Senyum merambah bibirmu, melebarkannya dengan suka cita. Sebab pada saat itulah kamu selalu terlihat nyata.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bertanya hanya karena gelisah, Kayra. Tanya dirimu. Aku tidak bisa memberi pertimbangan apa-apa tentang masalah ini.”

Aku menghela napas. “Sudah kuduga. Sia-sia saja bercerita kepadamu, Martin.”

Kamu mendengus dan mencibir. Menaruh dengan lembut mug yang sudah kosong. “Apa yang kamu ingin dengar dariku?”

“Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu pilih?”

“Aku memilih untuk jatuh cinta. Nggak berusaha menghentikannya. Jatuh cinta itu momen yang berharga. Tapi, akan lebih baik kalau kamu mencoba untuk menyembunyikannya.”

Jawabanmu kudengar sambil membaca pesan singkat yang masuk ke ponsel. Saat aku mengangkat pandangan, kamu sedang melakukan hal yang sama kepadaku.

Aku ingin bertanya lebih banyak. Namun, aku menyukai ketika kamu membisu. Berwujud seperti arca yang patuh. Lagi pula aku harus pergi.

“Sudah dijemput?” tanyamu, bangkit dari bangku. Kamu meraih cangkirku dan milikmu. Ingin hati aku melarangnya karena punyaku masih berisi setengah. Seperti kamu menginginkan aku untuk pergi.

Aku menganggukkan kepala. “Cokelatnya aku tinggal buatmu aja ya.”

Dari balkon tempat kita duduk, terlihat sebuah mobil berhenti di depan halaman rumahmu. Dari dalam sana muncul pria yang tampak seperti baru pulang kantor. Lengan kemeja abu-abunya dilipat hingga siku. Pria itu berdiri di sisi mobilnya, menatap kepadaku, melambai, dan tersenyum.

“Jadi, aku harus menyembunyikannya,” kataku padamu yang berdiri di sebelah.

“Brama salah satu cowok yang paling aku percaya, Kayra. Seharusnya kalian bisa jadi pasangan paling hebat.”

Aku tertegun. Tak mampu lagi memproduksi kata-kata. Kuberikan senyum tipis sebelum pergi. Kamu bilang aku harus menyembunyikannya, maka aku melakukannya. Kukunci mulutku, hatiku, agar kamu tak perlu tahu aku sedang jatuh cinta kepadamu, bahkan di saat sekarang–sewaktu Brama menggandeng tanganku.

————-

Cuma lagi butuh banget nulis sesuatu tapi nggak tahu apa yang mau ditulis. Jadinya, ya begini aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sembunyi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: