Janji Biru

1 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Aku mendengar bisikanmu dalam kepalaku. Di antara alunan biola, ketukan tuts piano, ada suaramu di sana. Jauh. Namun begitu jauh dan tak tersentuh. Sebab aku di sini hanya sendiri.

Kita punya janji untuk bertemu lagi. Sepuluh tahun lalu saat kamu pergi. Janji yang kaubawa terbang ke angkasa, menembus langit yang sebiru matamu. Janji yang bertahan di sini, tertanam di tanah setengah subur, berebut hara dengan jejeran pohon kakao berbuah lebat.

Aku menunggu. Memejamkan mata. Membawa sentuhanmu kembali dalam khayal. Ujung jarimu di bahuku. Deru napasmu di leherku. Dan matamu, yang kubilang seperti lautan dalam saat kuintip dari jendela pesawat yang membawa kita pulang. Mata pemilik tatapan yang tak bisa kuingkari.

Sepuluh tahun. Setiap kali aku melihat langit berubah dari gelap menuju cerah. Di antaranya ada warna matamu. Pada saat itu kudengar bisikanmu. Yang terakhir sebelum kamu meninggalkanku. Katamu, hatimu selalu di sini. Hatimu menetap di sisiku.

Aku merindukanmu. Serasa hatiku bisa meledak karena tanggungan rindu. Sepuluh tahun, aku tinggal bersama imaji kehadiranmu. Bisikmu pun kian hari meredup. Aku sering mengunci diri di ruangan yang paling sunyi, agar aku bisa mencapai lagi suaramu yang serak dan hangat. Memeluk pigura berisi potretmu yang tak tersentuh debu. Mendekap buku favoritmu yang lusuh. Mengenang tiap kali kaumenyebut namaku. Berulang kali. Terus menerus.

Kini kisikan itu perlahan memudar. Yang kudengar hanya gesekan senar biola atau ketukan pada tuts piano. Kamu berjanji untuk kembali untuk mengambil hati. Kamu memberitahuku mungkin akan lama pergi. Sepuluh tahun dan terus bertambah. Bolehkah aku mengatakan kalau aku lelah?

Kelopak mataku rapat. Kelam menyerbu. Titik-titik bermunculan dan berkerlip. Jauh, jauh, dan terus mengarung jauh. Aku membayangkan di mana kamu berada sekarang. Di antara bintang-bintang yang menggoda. Lalu menembus nebula dengan kabutnya yang biru. Perlahan memadat dan berubah menjadi lautan dalam yang kulihat dari angkasa. Biru itu adalah matamu.

Lalu tersebutlah sebuah nama. Dari suara yang serak dan hangat. Di ruangan itu aku hanya sendiri. Kamu memang tak bisa benar-benar pergi. Di dalam hati imaji tentangmu tak pernah mati. Kita punya janji yang terpatri dan harus ditepati.

Bahwa kamu akan kembali. Bahwa aku akan menanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Janji Biru at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: