Penonton

2 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Aku adalah penonton.

Pada suatu hari, aku akan melompat dari kursi yang kududuki. Menembus layar yang membuat dunia kami begitu berbeda.

**

Aku melihatnya di balik uap. Panas dari mug berisi teh menyengat tanganku. Malam itu cerah dan cahaya terang lampu mobil menembus pekat. Membelok ke halaman berumput yang akrab di mataku.

Kehadirannya seperti ritual. Dimulai beberapa bulan lalu saat aku menyadari tak lagi sendiri.

Saat mobil itu berhenti. Sinar dari lampu jalan menembus kacanya. Di dalam sana duduk seorang pria. Air matanya jatuh.

**

Sejak saat itu aku selalu menunggu di waktu dan tempat yang sama. Dia, pria tegap berkulit cokelat gelap, adalah tetangga baruku. Kami belum sempat berkenalan. Kesibukan menyeretnya dari rumah sebelum langit berubah biru sampai kembali gelap. Bintang-bintang sedang berada di atas kepala ketika dia turun dari mobilnya dan menengadah.

Dia tidak pernah menatapku.

Aku mengamati dasinya yang berantakan. Kemejanya yang tergulung hingga siku. Jasnya yang disampirkan di bahu.Aku tidak butuh itu semua. Aku ingin matanya yang entah berwarna apa. Aku ingin memandang kaca-kaca yang terbentuk di sana. Tempat air mata yang bergulir di sudut pipinya itu berasal.

**

Bulan sudah kembali purnama ketika kali pertama pandangan kami bertemu. Mata yang terluka. Aku mencoba tersenyum kepadanya. Aku mencoba sebaik mungkin. Namun ekspresinya hanya seperti batu. Tanpa aku tahu apa senyumku berhasil, dia sudah berlalu.

Matanya berkilau karena cahaya lampu.

**

Purnama yang lain terlewat. Aku seperti penonton setianya. Air mata itu sudah surut. Kaca-kaca di sana sudah pecah. Matamu sakit.

Aku ingin mengatakan kepadanya. Aku hanya belum menemukan cara terbaik untuk menyampaikannya. Yang aku bisa hanya membaginya dengan sosok lain dalam diriku.

**

Namanya Laz. Lazarus.Yang mati dan dibangkitkan kembali. Begitu kisah yang kutahu tentang nama yang melegenda itu. Tentang dia. Aku sama sekali buta.

Dari mana aku mendapatkannya? Ibu RT yang sering bersua ketika berbelanja membaginya dengan cuma-cuma. Laz, seorang duda, yang anak perempuannya sedang koma.

Aku menyempatkan untuk mengintip anak perempuan itu. Tak kusangka ada dia di sana. Duduk diam, tenang tapi tak ada kenyamanan. Setengah diriku menyuruh untuk menghampirinya. Setengah lagi meminta pergi dari rumah sakit.

Aku benci tempat ini. Sedikit lagi, sampai semuanya selesai.

**

Kutinggalkan keranjang itu di depan rumah. Setelah beberapa langkah, aku berbalik. Menatap gelisah pada rumput, pada keranjang di kaki pintu. Sekarang, empat purnama yang sudah lewat sejak pertama kali melihat cahaya mobilnya, aku baru memberanikan diri.

Dari balik kaca mobil, di bawah pancuran cahaya benderang, aku melihat air mata itu lagi semalam. Bukan sebulir, dua bulir. Di balik setir, tubuhnya berguncang-guncang. Wajahnya basah dan pilu.

Aku menontonnya selama itu. Sejak mobilnya datang hingga dia keluar dari sana seakan tak terjadi apa-apa. Dasinya menggantung lemas. Kemejanya tak lagi terkancing. Kali ini, bukan hanya matanya yang sakit, dia tampak begitu nelangsa.

Aku menelan ludah. Susah payah meminum tehku yang sudah tak beruap. Aku tergugah. Ingin meraupnya dalam pelukan.

Inilah apa yang bisa aku lakukan. Berjalan tanpa suara di atas rumput. Pandanganku tak lepas dari keranjang di depan pintu. Kali ini air mataku yang jatuh.

**

Hari itu datang. Ketika aku memutuskan untuk berhenti menjadi penonton. Bangkit dari bangku dan melewati layar. Seperti apa yang aku lakukan barusan.

Aku mendengar kabar itu dari ibu RT yang berbagi dengan tak sabar. Anak perempuannya akhirnya terlepas. Aku menengadah ke langit saat mendengar itu. Tak ada bintang, tak ada awan. Hanya biru yang membentang.

Saat aku masuk ke dalam taksi, mobilnya masuk ke dalam halaman. Aku menyesal, mengapa terburu-buru pergi. Aku bahkan belum tahu warna matanya. Di bawah cahaya matahari sekarang, tentu warnanya akan nyata. Bukan gelap seperti setiap malam.

Aku memandanginya selagi bisa. Aku akan pergi. Mungkin tak akan kembali. Mungkin suatu hari aku akan datang lagi. Untuk menengok bayi perempuan cantik dalam keranjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Penonton at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: