Bunyi Hujan

4 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Itu bunyi hujan. Itu suaramu. Di sana ada senyummu. Di sini ada milikku.

Ini belum tengah malam dan aku merindukanmu. Apa yang harus aku lakukan?

Aku duduk termangu. Di antara hujan yang derunya menembus jendela. Guntur-guntur yang menggetarkan jendela kaca. Lampu baca menyinari halaman buku yang terbuka. Tulisan yang tersaji di sana, tak lagi terbaca.

Aku melihat wajahmu di sana. Tersusun dari aksara. Senyummu yang teruntai dari kalimat-kalimat. Sinar mata yang mewujud dari sekumpulan tanda baca. Kamu di mana-mana.

Di telingaku, aku mendengarmu membaca. Kisah indah yang berkali lipat menjadi lebih cantik oleh riasan vokalmu yang lembut. Aku seperti daun kering yang tak bisa menahan diri untuk melaju bersama arusmu.

Buku itu adalah yang kauberi. Bertahun lalu. Ada namamu tertulis di halaman depan. Nomor teleponmu. Kontak emailmu. Namun, aku membiarkan buku itu terbuka di bagian tengah. Aku bisa meraih ponselku, mengetik nomormu, lalu membiarkan kamu menyapaku secara nyata.

Aku menutup telinga. Suara hujan masih saja menggema. Aku merapatkan kelopak mata. Bayanganmu terus tampil dan bermain di sana. Senyummu. Matamu. Segalanya. Hal terburuk ketika jatuh cinta adalah tanpa sadar diriku menjadi orang lain–menjadi dirimu.

Aku merindukanmu.

Tidakkah sedikit saja hatimu terketuk?

Ponselku bergetar. Huruf-huruf yang membentuk dirimu dalam kepalaku runtuh dan luruh. Mataku menatap kembali barisan kata. Suaramu lenyap dari telinga. Kalimat yang tertangkap mataku kini seolah kehilangan makna.

Tentu saja itu bukan kamu. Terlalu malam bagimu untuk sekadar mengirimu pesan singkat. Kita sama-sama berada di rumah. Dan aku merindukanmu.

Kupejamkan kembali mataku. Membiarkan gelap menyerbu. Kubangun panggung kecil di dalam sana untukmu. Dari kelam di sana, perlahan muncul dirimu. Tersenyum kepadaku. Memanggil namaku. Aku membalas, memberitahu sedang hujan di sini.

Itu bunyi hujan. Itu suaramu. Di sana ada senyummu. Di sini ada milikku. Di sampingmu ada senyumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bunyi Hujan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: