Surat Empat Belas: Purnama dan Potret

19 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Belantara Rasa

Hai Biru,

Waktu itu menjelang pagi ketika aku terbangun. Udara dingin membuatku bangun dan kutemukan pintu menuju teras belakang yang terbuka. Di sana, aku menemukanmu duduk begitu serius menghadap laptop. Jari-jarimu mengetuk keyboard, membuat suara-suara lain yang berpadu dengan derik jangkrik dan sayup-sayup orang mengaji dari surau. Aku berdiri di ambang pintu, mengamatimu yang sedang tenggelam dalam dunia khayalmu. Pada waktu itu, aku berharap tahu apa yang sedang mengambang dalam kepalamu dan kamu tumpahkan menjadi kata-kata.

Aku tidak selamanya bisa diam-diam karena kamu memergoki kehadiranku. Aku tersenyum dan kamu malah gelagapan—seperti maling yang baru saja ketahuan. Kutempati bagian sofa yang kosong di sampingmu. Ah, purnama masih menggantung di langit.

Dan kita membicarakan itu. Basa-basi.

Aku menyuruhmu diam. Kembali masuk ke dalam, menyeduhkan teh madu untukmu dan sekaleng bir untukku. Kuraih iPod di atas nakas kamarku.

Kuserahkan secangkir teh itu untukmu dan menyuruhmu ikut mendengarkan sebuah lagu. Aku mulai bersenandung.

I’m…

Lihat pos aslinya 189 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Empat Belas: Purnama dan Potret at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: