Surat Tiga Belas: Pertanda

19 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Belantara Rasa

Hai Biru,

Rindu terberat adalah sewaktu menyadari yang kaurindukan tak mungkin datang.

Dia tidak pernah kembali. Dia tidak pernah menghubungiku lagi.

Sejak kejadian di taman, aku dan Laz menemukanmu tidak sadarkan diri. Bersama Laz, aku membantu memapahmu sampai ke mobil. Aku tidak akan bisa melakukannya sendirian saja. Kami membawamu ke rumahku.

Laz pergi saat aku sibuk mengurusimu. Berlalu seperti hantu.

Aku memang tak punya hak untuk menahannya di sini. Camilla tentu lebih membutuhkannya. Dan kuhabiskan sisa hari menungguimu sambil membaca buku. Gaun yang kupakai kemarin sudah kugantung di balik pintu lemari. Masih ada lain hari bagimu untuk melihatku dalam balutan gaun tersebut.

Senyumku tersungging saat melihatmu tersadar. Kelegaan memancar dalam hatiku. Kamu akan baik-baik saja di tanganku. Andai kamu tahu kekhawatiranku sewaktu menemukanmu tergeletak di dekat bangku tempat pertama kali kita bertemu.

Aku tidak bisa menemanimu setiap saat. Kusediakan buku-buku koleksiku yang masih berada di dalam kardus untuk kaubaca. Mungkin…

Lihat pos aslinya 495 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Tiga Belas: Pertanda at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: