Surat Lima Belas: Tamu

21 Maret 2014 § Tinggalkan komentar

Belantara Rasa

Hai Biru,

Pagi itu aku mendapatkan seorang tamu. Seseorang yang tak kukenal, namun mengenalmu. Malika. Dia mengucap namanya sembari memekarkan senyum.

Dia bilang dia adalah seseorang yang dekat denganmu. Aku membuktikannya sendiri ketika melihatmu mengantarnya ke depan pintu. Dia memberimu ciuman di pipi dan memelukmu begitu erat. Aku mengintip semua itu dari balik pintu kamarku dengan perut bergejolak. Dan tepat sebelum perempuan manis itu berbalik pergi, ada air mata jatuh di pipinya.

Sisa hari itu, aku bersikap pura-pura tidak tahu. Aku tidak ingin mencampuri urusanmu. Aku tidak mau tahu. Namun, aku tidak mengingkari risau yang merambati hatiku.

Sebelum aku berangkat bekerja, kamu menarikku ke teras belakang. Minta maaf karena tidak jujur tentang Malika. Kamu mengaku tidak pernah menginginkan perempuan mungil itu. Bhawa yang membuat kalian harus mau tidak mau bersama.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku meninggalkanmu tanpa komentar. Aku tidak marah. Aku bahkan tidak peduli dengan Malika. Aku…

Lihat pos aslinya 253 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Lima Belas: Tamu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: