Surat Tiga Puluh: Selamat Tidur (Tamat)

5 April 2014 § Tinggalkan komentar

Setelah tiga puluh hari, tiga puluh surat, akhirnya sampai juga ke surat terakhir. Cukup enjoy juga nulis surat-suratnya Asha ini dan aku cinta Lazarus. Haha. Ah, kalau kamu ngerasa surat ini berakhir ngegantung, ending ceritanya bisa baca di surat-surat punya Biru.đŸ™‚

Belantara Rasa

Hai Biru,

Aku kira bahagia bisa membuatku terlelap.

Ini malam-malam yang lain ketika aku cuma bisa gelisah di atas tempat tidur. Memandang sepetak langit dari sela-sela kerai yang tak tertutup rapat. Aku bilang aku akan tidur kepada Lazarus. Aku tidak mau membiarkannya terjaga setiap saat, dia lebih butuh istirahat dibanding aku.

Dia melamarku tadi, Biru. Kami makan malam seperti biasa. Segalanya berjalan biasa-biasa saja hari itu. Lazarus pulang agak telat karena harus pergi ke kota untuk mengurus beberapa hal. Dia menanyakan, jauh dari romantis, apakah aku pernah memikirkan untuk menikah dengannya. Dia bilang kami sudah lama bersahabat, berbagi banyak hal, menertawai hal yang sama, dan sekarang mengurus perkebunan yang sama. Menurutnya, akan lebih baik kalau kami menikah saja.

Dia bahkan tidak menggunakan kata-kata cinta atau sayang.

Dia menambahkan sudah bertanya ke kakek, orang tuanya, bahkan Bhawa. Aku orang terakhir yang diberitahunya tentang itu.

Permintaan itu dia tutup dengan pernyataan kalau…

Lihat pos aslinya 142 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Surat Tiga Puluh: Selamat Tidur (Tamat) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: