Outline, perlu nggak sih?

25 April 2014 § Tinggalkan komentar

Semalem aku ngobrol sama temen yang kebingungan untuk bikin outline. Dia baru memulai untuk bikin novel. Jadi, sebenarnya outline perlu nggak sih?

Tentu aja, perlu. Akan tetapi, kalau memang belum terbiasa dengan outline, rasanya nggak perlu dipaksain untuk membuatnya. Nulis aja sesuai kebiasaanmu, seenaknya, dan senyamannya. Karena untuk tahap awal nulis novel yang paling penting adalah menyelesaikannya. Itu bisa menjadi motivasi nulis draf-draf yang selanjutnya.

Meski nggak menggunakan outline, biasakan untuk mencatat. Bebas aja yang dicatat terutama tentang draf. Misalnya ide yang tiba-tiba muncul, tentang curhatmu mengenai karakter, tentang apa aja. Catatan-catatan ini penting untuk nanti ketika mengedit. Nggak ada ide yang sia-sia! Nggak ada detail yang nggak berguna!

Selain outline, aku terbiasa untuk punya buku catatan yang isinya benar-benar macem-macem untuk satu draf. Aku catat karakterku. Latar yang kupakai. Peta yang kugambar sendiri. Pokoknya hal-hal yang mungkin banget bisa terlupa ketika menulis.

Kalau memang belum terbiasa dengan outline, tapi sudah punya sinopsis. Sinopsis memang cukup untuk bekal menulis, tetapi sinopsis nggak sedetail outline. Untuk itu, coba untuk membelah-belah sinopsis tersebut, ditulis urutan-urutan peradegan. Nggak perlu musingin bab terlebih dahulu. Tulis sesuai adegannya aja. Dari urut-urutan itu, kamu jadi bisa tahu kemajuan menulismu sejauh apa. Nggak sulit kan kalau cuma bikin urutan adegan?

Nah, setelah nulis satu adegan dari daftar tersebut, kamu bikin ringkasannya. Hal-hal penting dalam adegan itu apa aja. Karakter yang terlibat siapa. Setting ceritanya kapan dan di mana. Sederhana aja seperti itu. Lakukan setiap kali menyelesaikan satu bab. Kira-kira seperti itulah proses membuat outline, cuma kali ini kamu membuatnya setelah selesai menulis. Itu nggak apa-apa banget! Seperti petualang yang mendatangi negeri antah berantah dan membuat peta selama perjalanan. Itu sama sekali nggak salah!

Aku sendiri yang sudah mempersiapkan outline sebelum nulis, selalu punya outline revisi setelah nulis. Dan ketika draf terakhir selesai, biasanya aku punya beberapa outline + sinopsis + draf. Haha.

Outline berfungsi seperti peta, agar kamu nggak tersesat ketika menulis. Selain itu, mempunyai outline bisa membantumu untuk menulis sesuai bagian-bagian yang kamu suka duluan untuk nanti terakhir baru disatukan. Jadi, nggak perlu menulis secara linear. Outline juga berfungsi banget ketika mengedit. Biasanya mengedit kan jaraknya jauh dari menulis, outline itu gambaran besar biar kamu ingat lagi dan mudah masuk ke cerita.

Namun, prioritasmu saat ini adalah menyelesaikan tulisan. Pokoknya tulis aja senyamanmu. Punya outline belum tentu bikin nulis lebih cepet kok, haha.

Kalau kamu memang mau serius belajar membuat outline, aku pernah membuat tip-tipnya untuk membantumu memberi gambaran kerangka itu seperti apa. Baca: Tip Menyusun Kerangka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Outline, perlu nggak sih? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: