Venus

25 April 2014 § 2 Komentar

“Itu Venus,” tunjukmu, “tepat di bawah bulan.”

Pagi yang berbeda. Kali ini entah di mana. Di antara Jawa tengah dan Jawa Barat. Seharusnya seperti itu, kalau semua sesuai rencana.

“Terang banget,” kataku, disusul suara seruputan mie instan.

“Bagus ya?”

“Bagus banget.”

Kamu membisu. Meneruskan ritual rokok pagimu. Sedangkan aku menikmati mie rebus di sebuah warung pada halaman masjid. Ini benar-benar ampuh untuk mengusir dinginnya angin subuh.

Ini adalah perjalanan yang sama-sama tak pernah kita kira. Ide yang muncul mendadak pada suatu senja ketika sama-sama terperangkap jebakan kota. Setelah lama mobil yang kita tumpangi tak bergerak sedikitpun, kamu bilang ingin pergi dari sana.

Liburan? Aku sih setuju saja. Kamu bilang lewat akan lewat jalan darat. Kamu tak pernah tahu. Itu dulu ritual keluargaku, sebelum tiket pesawat berharga terjangkau seperti sekarang. Aku mengiyakan. Aku akan mengorek-ngorek ingatan tentang itu.

Dalam kondisi terburuk, kita masih punya GPS.

Saat itulah, bencana dimulai. Kamu enggan menyalakan GPS. Pokoknya jalan terus! Bilangmu berapi-api. Sekarang, setelah beberapa jam berlalu sejak keluar gerbang tol Purbaleunyi dan kita masih di sini.

Aku melirikmu yang masih memandangi Venus. Langit menjelang pagi itu begitu cerah. Banyak bintang bermunculan. Kalau aku mau bertanya, kamu pasti akan menjelaskan semua. Wajahmu terang oleh campuran sinar lampu warung yang hidup segan mati tak mau, bercampur dengan cahaya bulan yang hampir sabit.

“Kamu nggak mau?” tanyaku, menggeser sedikit mangkuk mie. Aroma kaldunya meruap bersama asap. Sejak tadi kudekatkan mukaku ke sana. Rasanya hangat dan enak sekaligus.

Kamu menoleh. Aku berhenti menarik mie dengan mulutku. Ikut mematung.

“Kamu kayak monster.”

“Makasih,” jawabku, memasukkan seluruh mie di sendok ke dalam mulutku cepat-cepat. “Nggak buruk jadi monster mie. Seenggaknya aku nggak akan kelaparan karena bisa makan tubuhku sendiri.”

Senyummu tersungging. Tanganmu menyambar gelas belimbing berisi kopi hitam. Wanginya menggelitik hidungku. Bercampur dengan aroma mie. Mengingatkanku kepada masa kecil yang kuhabiskan di rumah kakek. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Kita jadi ke rumah kakekku?” Aku menyeruput teh manis panas dalam gelas.

“Mau ke mana lagi?” balasmu, sambil menyalakan rokok yang kedua.

“Masih jauh lho.”

Alismu terangkat. Kamu meniup asap rokok dari mulutmu. Diam dan sudah tahu. Aku telah mengulang pernyataan itu berkali-kali. Perjalanan Jakarta menuju Jawa Timur tidaklah singkat. Aku hanya khawatir kamu terlalu lelah. Meskipun kita berbagi jatah menyetir, namun tetap saja–aku cemas. Kamu biasa menggunakan penerbangan kelas satu sih.

“Ini bukan sekadar liburan, kan?” Aku mengganti posisi tubuhku. Menghadap ke arah jalan raya yang tak usai dilewati kendaraan. Di seberangnya hamparan sawah yang samar-samar terlihat karena cahaya bulan.

“Capek di kota.”

“Lebih capek nyetir sepanjang malam, kan.”

Kamu terkekeh. “Nggak juga. Lebih capek dengerin kamu ngomong sepanjang malam. Kayak burung beo.”

“Biar kamu nggak ngantuk!” ujarku sengit sambil melayangkan cubitan ke lenganmu yang liat.

Sebelum sempat mencuri kesempatan mencubit untuk kali kedua, kamu menangkap tanganku. Menggenggamnya erat-erat. Mengelusnya dengan ujung ibu jarimu.

Aku berubah kalem. Seperti kucing yang patuh kepada pemiliknya.

“Itu Venus,” ulangmu. “Bintang pagi.”

“Aku tahu. Sayang kita nggak bawa kamera ya.”

“Nggak ada yang ngalahin ngeliat secara langsung,” ucapmu. “Gimana kalau kita pindah ke sini aja? Biar bisa lihat Venus setiap hari?”

Tawaku berderai. “Kamu serius?”

Pertanyaanku tak terjawab. Angin berembus kencang. Menyebabkan atap seng warung sederhana itu bergucang dan berkeriut-keriut. Membawa udara sejuk yang bercampur dengan emisi kendaraan yang terus lewat. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Itu Venus.”

“Kamu kenapa sih?” Untuk ketiga kalinya kamu mengatakan hal yang sama. Itu membuatku membaca tanda-tanda ada sesuatu yang tidak beres denganmu.

Mendadak kamu berdiri. Membuang puntung rokok dan melumatnya dengan ujung sendal jepit. Kedua tanganmu tersimpan di saku jins. Kamu mengenakan sweter favorit, warna abu-abu, hadiah tambah tahun dariku.

“Kamu bilang mau pergi setelah terang?” Aku tetap duduk di bangku kayu panjang. Memberimu tatapan penasaran yang tak kamu balas.

Kamu memunggungiku seraya menendangi kerikil-kerikil kecil di dekat kakimu.

“Hei,” panggilku setelah beberapa lama. Kini ganti kusesap sisa kopi milikmu di gelas belimbing.

Langit sudah makin cerah sekarang. Rona kekuningan mulai mewarnai tempat yang sebelumnya disinggasanai bulan dan Venus. Planet itu sendiri masih bertahan dan menawan. Seakan ini menyapa setiap orang yang menyempatkan untuk bangun pagi, lalu menatap angkasa.

Aku akhirnya bangkit. Mengambil posisi di sebelahmu yang sudah menyulut rokok baru.

“Itu Venus,” kataku. “Dia hampir pulang.”

Kamu mengangguk.

“Ada apa denganmu?” kusodorkan gelas berisi kopi. Kamu menggeleng.

“Dia terlalu indah untuk pergi, bukan?”

“Dia harus pergi,” bantahku.

“Aku nggak mau.”

“Apa?!” sahutku menahan tawa. “Kalau kamu nggak setuju. Coba aja culik dia. Simpan di kamarmu, biar bisa kamu lihat setiap pagi. Dasar aneh!”

“Rasanya nggak perlu kalau aku punya kamu.”

“Apa?”

“Kalau, hmm, kamu jadi Venus.”

Aku mengerutkan kening, nyaris tergelak. Tatapanmu tertuju kepadaku, namun kamu hanya membatu. Tak tertular tawaku. Seolah sekarang aku mendapat label yang sama dengan apa yang kuucap kepadamu tadi.

“Kamu nggak mau?” tanyamu tercekat.

“Kenapa sih harus Venus bukan yang lain?”

“Karena aku pengin lihat kamu setiap pagi. Setiap bangun tidur.”

Aku hampir menyemburkan kopi dari mulutku. Memandangimu terkejut. Tak pernah menyangka itu akan keluar dari mulutmu. “Aku ingin jadi komet, bukan planet.”

Kamu mencibir. “Terlalu lama kalau aku harus nunggu komet Halley lewat untuk melamarmu, Eliana.”

Perutku berdesir. Kutundukkan kepala. Meski aku tahu, kamu tidak akan berhasil mengenali rona di wajahku. “Setelah ratusan kilometer. Setelah bertahun-tahun kita berteman. Akhirnya itu yang keluar dari mulutmu?” Sekarang, aku menyampaikan kalimatku agak lebih serius.

“Aku nggak tahu harus gimana mengatakannya,” ucapmu. “Aku berusaha romantis, tapi kayaknya gagal ya.”

“Ya….”

“Mau jadi komet?” potongmu dengan cepat. Rupanya usahamu belum berhenti.

Aku tersenyum. Menatap Venus, lalu wajahmu. Kutinggalkan kamu untuk mengembalikan gelas kopi ke warung. Kamu tetap di situ. Tak lama, aku berbalik, menggandeng tanganmu menuju mobil.

“Ayo, perjalanan masih panjang.”

Kita bertukar senyuman. Langit kini terang dan Venus sudah beranjak pulang. Aku bukan Venus yang terbit dan tenggelam. Aku bukan komet yang sekali-kali datang lalu menghilang. Aku adalah Eliana-mu, Pram. Selamanya.

§ 2 Responses to Venus

  • Armanduth mengatakan:

    kok gue suka yaa? berasa banget suasana kalau abis nyetir malam, capek plus pegel2nya nyetir jakarta-bandung, dan harum indomie-kopi disela-sela aroma embun dini hari. makasih buat ceritanya adis! kangen deh roadtrip lewat jalur selatan lagi🙂

  • Adis mengatakan:

    iyaaa, roadtrip di jawa itu sesuatu yang harus dijalani minimal sekali dalam seumur hidup. dan gue udah berkali-kali. haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Venus at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: