Menulis Fiksi berdasarkan Setting

3 Mei 2014 § 4 Komentar

Pada suatu waktu kamu pasti pernah punya keinginan: ‘aku harus nulis tentang tempat ini. bikin cerita di sini! pokoknya harus!’. Atau tiba-tiba kamu ditawari untuk nulis dengan latar tempat atau event tertentu. Paling mungkin ketika ada kompetisi menulis berdasarkan tempat tertentu.

Kelihatannya memang mudah karena setting memang bagian yang tak perpisahkan dari cerita. Akan tetapi, gimana biar setting itu jadi sesuatu yang remarkable? Sesuatu pada setting yang bikin ceritanya begulir dan begitu erat? Dan kalau diminta menulis fiksi berdasarkan setting, sudah tentu sudah jadi tugasmu untuk membuat hal itu sebagai salah satu komponen yang istimewa dan punya pengaruh kuat ke cerita, bukan sekadar tempelan aja.

Kalau kamu pernah mengunjungi setting tersebut, ya alangkah beruntung. Kamu punya gambaran langsung apa yang terjadi di sana. Namun, belum pernah pun bukan jadi masalah, karena ada google maps (aku cinta banget sama dia!) dan internet menyediakan informasi yang begitu mudah diakses, kecuali mungkin kalau kamu nulis tentang Area 51 atau daleman Pentagon, haha.

Setting bukan hanya tempat. Namun, juga meliputi waktu, sosial, budaya, ekonomi, orang-orangnya, dan banyak hal yang membuat situasi itu ada.

Sebab, semua orang bisa menulis cerita dengan setting di Paris. Ciuman di bawah menara Eiffel. Akan tetapi, apa yang bikin ciuman yang satu dengan lainnya beda? Itu yang seharusnya digali. Agar ciuman di Parismu bisa lebih dirasakan pembaca dan bikin mereka kebat-kebit. Kamu bisa menambahkan apa yang dirasakan oleh indera si karakter. Misalnya, angin Paris yang baunya beda dengan di Jakarta. Orang-orangnya yang juga kebiasaannya beda. Suara-suara sengau orang-orang asli sana, dan sebagainya. Galilah apa yang bisa dirasakan inderamu. Sebab apa yang dipersepsikan satu karakter tentang satu tempat itu yang bikin istimewa.

Tapi, dari mana sih harus memulai untuk menggali setting agar bisa punya pengaruh kuat pada cerita yang kita buat? Cari keunikan setting tersebut (riset! riset! riset!) dan tentukan sudut pandang ceritamu. Kalau ada serombongan orang pergi ke pantai, semua bakal melihat hal yang sama, tapi mengingat detail yang beda. Semua sudut pandang bisa jadi istimewa, tapi menentukan yang mana yang harus kamu gunakan, itulah yang harus kamu lakukan: memilih. Perempuan dan laki-laki akan mengamati hal berbeda di pantai yang sama. Mungkin, perempuan akan mikirin betapa seksi cowok yang di sana, sedangkan yang laki-laki merhatiin kapan ombak dateng untuk surfing. Pemilihan sudut pandang bisa ditentukan dari tujuan cerita yang mau kamu tulis. Nah, kamu juga bisa memilih sudut pandang lain kaya pasir, batu karang, anak kecil di pantai, ombak, papan surfing. Apa aja! Dunia ini terlalu kaya untuk diceritakan hanya dari sudut pandang Homo sapiens.

Tentunya kamu udah melakukan riset untuk tahu keunikan dan beda tempat tersebut dari yang lain. Pantai di bagian selatan Jawa akan beda dengan yang bagian utara. Pantai di Bali akan beda dengan yang ada di Malibu. Meskipun semua pantai hampir punya komponen pokok yang utama. Kalau pernah mendatangi tempat itu, kamu punya kelebihan daripada yang belum pernah. Kamu pernah mencium aromanya, kamu bisa mendengar hiruk pikuknya (atau sunyinya), kamu bisa merasakan bagaimana tekstur pasirnya di kakimu, dan lain-lain. Sementara, kalau belum pernah, ya coba pakai imajinasinya, atau tanya yang sudah pernah ke sana.

Keunikan yang ingin kamu angkat, padukan dengan sudut pandang, plot, dan tujuan cerita. Kamu bakal dapet frame besar dari ceritamu. Mana kekhasan tempat itu yang mau kamu tonjolkan dan bisa memicu konflik dalam ceritamu. Untuk cerita pendek, bisa spesifik. Kalau untuk tulisan yang lebih panjang, akan lebih banyak eksplorasi dan riset. Untuk tahu seberapa erat setting dengan plot dan karaktermu, maka kalau adeganmu yang misalnya di London itu bisa dipindah ke New York tanpa ada perubahan nasib si karakter, tanpa ada sub konflik yang hilang, maka settingmu itu kurang kuat. Jadi, tali semuanya jadi satu. Karena setting adalah sesuatu yang nggak bisa terpisah dari cerita.

Aku pernah baca novel YA berjudul ‘Anna and The French Kiss‘ karya Stephanie Perkins. Jelas ya settingnya di Paris. Tapi, apa yang bikin Paris-nya Anna beda dengan Paris-Paris yang udah berulang kali kita lihat dan baca? Anna bawa kita menjelajahi bioskop-bioskop kecil yang tersebar di sekitar Paris karena kegemarannya nonton film. Paris-nya Anna bukan sekadar Eiffel, atau Louvre. Itu yang bikin setting Paris di kisah Anna jadi sesuatu yang menarik. Itu baru contoh tempat, contoh paling mudah adalah perbedaan culture di Amerika Serikat dan Inggris. Meski sama-sama berbahasa Inggris. Logatnya beda, kebiasaannya beda, tingkat interaksi orang-orangnya beda–itu semua bisa kamu tunjukin.

Contoh kekuatan setting lainnya, aku contohin dari serial favoritku, True Detective. Bisa nggak ngebayangin cerita itu terjadi di New York atau San Fransisco? Akan sulit! Jelas semuanya bakal berubah banget! Konfliknya berubah, karena konflik TD sendiri berkaitan dengan tradisi di Lousiana. Tempat kejadian pun akan berubah, mungkin si korban nggak akan ditemukan di tengah padang tebu, melainkan atap gedung. Kondisi orang-orangnya pun juga berubah, kayak yang berhubungan dengan sisi religius dan rasismenya. Semua bakal berubah! Kalau di New York mereka nggak akan bisa naik mobil dengan lancar karena pasti macet, nggak akan ada ungkit-ungkit efek badai Andrew dan Katrina, dan nggak akan ada obrolan tentang bagian pulau dari Lousiana yang akan tenggelam 30 tahun lagi. Semua bakal beda.

Ya, jadi setting yang beda bisa membuat isi obrolan pun berbeda. Kalau diminta nulis berdasarkan sebuah kafe di Italia dan kamu nulis tentang orang dua orang yang ngobrol hati ke hati. Tapi ketika semua elemen setting (kafe dan yang berkaitan) dihilangkan ceritamu bisa tetap jalan. Itu berarti settingmu masih sekadar pelengkap saja. Bukan sesuatu yang jadi bagian penting dan berpengaruh kuat dalam cerita.

Menalikan setting dengan plot, bisa dilakukan dengan menjadikannya bagian dari konflik. Seperti di True Detective tadi, pembunuhan yang terjadi adalah bagian dari rahasia gelap dari Lousiana. Itulah yang bikin settingnya nggak akan tergantikan. Atau menautkannya kepada karakter. Seperti, pada Anna and The Frech Kiss, Anna adalah murid pindahan ke Paris. Jadi, dia melihat Paris sebagai kota yang asing dan akhirnya lebur karena bioskop-bioskop tadi. Kalau dia pindah ke kota lain, dia nggak akan menemukan hal yang sama dan mungkin nggak akan sebetah di Paris! Contoh novel-novel lain yang ditulis berdasarkan setting adalah seri ‘Setiap Tempat Punya Cerita’ dari GagasMedia. Kamu bisa baca dan rasain betapa kuat pengaruh setting dalam cerita tersebut, rekomendasiku: London-nya Windry Ramadhina.

Seperti itulah. Jadi, kalau suatu hari kamu diminta menulis tentang Bali dan kamu pengin ngangkat Bebek bengil di Nusa Dua. Kenapa Nusa Dua? Apa yang beda dengan Bebek bengil yang tersohor di Ubud? Apa yang kira-kira karaktermu lakukan dengan Bebek bengil itu? Kalau Bebek bengilnya diganti menu lain pengaruh nggak? Kalau latar ceritanya diganti makan Bebek bengil di Surabaya akan sama atau nggak? Tanya kepada dirimu. Memang kelihatannya repot, tapi kamu butuh usaha lebih untuk membuat setting yang banyak dipakai orang bisa terasa lebih berbeda, istimewa, dan cuma bisa ditemukan dalam ceritamu.

Aku harap ini membantumu untuk menggali keunikan dari sebuah setting. Banyak tempat baru dan unik yang belum pernah diceritakan. Banyak juga tempat yang sudah berulang kali diceritakan–dan itu punya tantangan tersendiri untuk ditulis. Kalau masih bingung dan ada pertanyaan, tulis aja di komen. Aku akan bantu menjawab. Pokoknya, selamat menulis!

§ 4 Responses to Menulis Fiksi berdasarkan Setting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menulis Fiksi berdasarkan Setting at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: