Pengelana Bintang

8 Mei 2014 § Tinggalkan komentar

Malam itu, pada waktu masih terlalu banyak bintang di angkasa. Kamu menggenggam tangannya di bawah langit yang kelam. Besok akan kembali terang, bilangmu kepadanya. Jari-jari kecilnya mengerat di antara telapak tanganmu saat itu juga.

Namun lebih baik seperti ini. Cakrawala laksana beledu. Bintang-bintang seperti permata. Kamu menyisir rambut gelapnya yang duduk di sampingmu. Kepalanya terkulai ke lenganmu. Pandangan kalian sama-sama terpaku pada mutiara-mutiara yang seolah disebar di antariksa.

Kalian selalu menyukai pagi. Di bawah langit yang biru. Menyusuri ladang jagung yang baginya bagai hutan rimba. Tak ada yang benar-benar bisa disebut rimba sekarang, semua sudah habis. Angin mengoyangkan pelepah-pelepah jagung, membuat mereka seolah bernyanyi. Semua itu begitu indah ketika hari terang. Matahari dan dedaunan seakan mengobrol tak ada habis-habisnya.

Malam itu, semua berbeda. Lampu rumah tua itu tak menyala. Sejak tadi kalian hanya duduk di beranda. Bintang di atas sana terlalu banyak untuk dihitung. Bahkan kalau kamu dan dia harus duduk hingga matahari kembali lagi.

“Ke mana kamu akan pergi, Pa?” tanyanya.

Ke mana? Kamu membisu. Bukan kamu tak tahu. Kamu bisa menunjuk dengan akurat pada satu petak langit.

“Aku akan kembali secepatnya.”

Kamu merasakan tangannya yang mencengkeram lengan bajumu. Tak perlu kata-kata untuk tahu kalau dia tak setuju dengan keputusanmu. Akan tetapi, kamu sendiri pun tak bisa membantah. Pergi bukan hanya untukmu. Kamu pergi untuk semuanya.

Kepalamu tertunduk. Malam makin dingin. Posisi bintang-bintang di langit perlahan bergeser. Di beranda itu kalian masih bertahan. Besok, malam tak akan sama kali bagi kalian.

“Bagaimana aku tahu kamu akan kembali?”

“Aku akan kembali.” Hanya itu yang bisa kamu katakan. Kamu ingin berjanji. Namun, janjimu terhenti di rongga mulut. Kamu tak bisa. Kamu mungkin tak akan kembali.

“Hei, Attira, lihat ke atas sana,” ujarmu, mendongak. Kamu bangkit, menarik tangannya—Attira, anak sulungmu yang baru dua belas tahun. Kamu berjalan mundur dengan senyum yang lumer di wajah. Angin berembus lembut, kembali mengajak ladang jagung itu bersenandung.

Dengan langkah lemah, dia mengikuti dan menurutimu. Sayangnya, seakan ada pemberat di lehernya, membuat enggan menatap pada apa yang kamu lihat. Perlahan, senyummu memupus. Genggamanmu mengerat. Bola matamu berputar, mengenali bintang-bintang, mengejanya satu demi satu dalam ingatan. Kamu tahu. Kamu seolah sudah mengenal mereka semua.

“Attira, please.”

Akhirnya, kamu memohon. Pelan-pelan malam akan makin terkikis. Waktu pun habis.

Dia malah langsung memelukmu. Kamu kira dia akan terisak. Akan tetapi, itu tidak terjadi. Dia selalu lebih kuat daripada yang kamu duga. Kamu harus percaya. Kamu mencobanya, sampai detik ini untuk itu.

“Aku akan pergi ke sana.” Pada satu sisi langit, telunjukmu terarah.

Kaurasakan dekapannya merenggang. Ia mundur, memberi jarak untuk kalian berdua. Tangan kalian masih menjadi satu.

“Kamu akan tahu ketika aku pulang, Attira.”

Dia menghadap angkasa. Mengingat dengan jelas arah yang diberikan olehmu.

Pengelana bintang, sebutnya dalam hati. Ayahku adalah pengelana bintang. Aku harus mengerti kalau suatu hari akan datang saat ia pergi.

Sayangnya, tak ada kepergian yang mudah dihadapi. Ia tahu. Kamu tahu. Kalian berbagi rasa yang sama.

“Aku menyayangimu, Attira.”

Keduanya bertatapan. Di bawah langit yang dihuni terlalu banyak bintang, kalian mencoba untuk saling mengerti.

“Aku pasti kembali.”

 

 8.5.14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pengelana Bintang at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: