Bubuk Kecemburuan

20 Mei 2014 § Tinggalkan komentar

Midore pernah jatuh hati. Ribuan purnama yang lalu. Ratusan kali matahari kembali ke posisi yang sama. Ia tak pernah lupa. Terlebih setiap kali meracik sari kacang kerdil, kesukaan Jonah.

Namanya Jonah, pemuda dari desa Morgorah. Terletak di kaki bukit yang sepenuhnya ditumbuhi pohon berbunga kristal biru. Salju turun sepanjang tahun. Ajaibnya, di sana, kacang kerdil terus tumbuh.

Perjalanan Midore ke sana untuk melengkapi ujian ramuan. Dari sudut ke sudut tanah Gaia, ia jelajahi. Perkamen berisi catatan hal-hal yang harus ia dapatkan kini sudah rombeng. Seperti halnya pakaian yang melekat di tubuhnya waktu itu.

Tertatih ia menyeberangi salju dengan terompahnya yang reyot. Meski sudah menggunakan mantra yang membuat dirinya anti basah dan dingin, tetapi saja tumpukan salju membatu menyulitkannya. Padahal ini yang terakhir. Kacang kerdil itu harus ia dapatkan demi lulus ujian sebagai penyihir.

Pada mentornya, Ras’a, ia menjanjikan Bubuk Kecemburuan. Sebab ia beranggapan, ramuan cinta sudah diciptakan, mantra untuk mengalihkan perhatian sudah tertulis di kitab-kitab. Namun, sesuatu yang membangkitkan panas hati belumlah ada.

Puluhan purnama digunakannya untuk memeriksa perkamen, tablet, dan kitab-kitab kuno. Matanya perih karena debu. Lututnya penuh memar karena harus memangku buku-buku yang begitu berat. Midore tak pernah menyerah. Mencatat dalam perkamen panjang yang kemudian harus diperiksanya kembali. Ia harus membuat kesimpulan, bahan-bahan apa yang bisa membantunya membuat Bubuk Kecemburuan.

Yang tak disangka oleh Midore adalah dia datang pada bulan ke-19. Pada saat itu, kacang kerdil sulit tumbuh dan menjadi langka. Penduduk desa Morgorah beralih memanen dan menjual bunga kristal biru demi menyambung hidup. Midore nyaris menangis sepanjang jalan melihat ladang-ladang tanpa geliat kepala kacang kerdil. Hingga, ia tiba di depan halaman sebuah rumah seputih salju. Di sana, ia mendengar kikik tawa kacang kerdil. Tanpa pikir panjang, Midore langsung mengetuk pintu rumah tersebut.

Jendela kecil di daun pintu terbuka. Midore melihat sepasang mata biru. Rasanya, ia pernah memandang mata itu. Tetapi tak bisa mengingatnya dengan jelas. Terbata-bata, ia menyampaikan niatnya kepada pemuda itu.

“Aku hanya minta satu, please.”

Pemuda itu bergeming.

“Aku akan memberimu uang, tapi aku tak punya banyak.”

Masih tak ada jawaban. Sampai akhirnya, si pemilik mata biru minggir dari jendela. Midore menangkap suara orang lain. Ia sempat akan menguping, tetapi pintunya keburu terbuka. Nyaris saja Midore jatuh terjerembab.

“Ma-maaf!” Midore membungkuk.

Pemuda tinggi besar itu malah menyuruhnya masuk.

“Untuk apa kacang kerdil itu?!” tanyanya dengan suara serak.

Midore menunduk, memandang satu lagi pemuda yang duduk dekat perapian. Ia yakin, pemuda itu yang tadi bertatapan dengannya di jendela pintu.

Midore dan pemuda yang mengajaknya bicara kini duduk berhadapan.

“Aku membutuhkan kacang-kacang itu untuk mengobati kakakku,” katanya. “Aku tidak bisa memberikannya kepadamu.”

“Tolonglah….” Midore menghentikan permintaannya saat ingat belum tahu nama si pemuda.

“Aku Jonah, dan dia Kris,” tunjuknya pada pemuda di depan perapian.

“Tidak bisakah, Jonah?” pinta Midore memelas. Matanya makin berkaca-kaca. “Aku akan melakukan apa saja setelah aku menyelesaikan ujian untuk menjadi penyihir.”

“Penyihir?” sahut Jonah, memberi pandangan menyelidik. “Kamu penyihir?”

“Calon. Aku masih calon penyihir. Tanpa kacang kerdil, aku tidak akan pernah menjadi penyihir.”

**

Midore menumbuk kacang kerdil dalam keadaan beku. Jonah mengajari metode untuk membuat cekikikan mereka berhenti, sekaligus tidak rewel agar mudah diolah. Rasanya seperti baru kemarin. Midore memukulkan lesungnya keras-keras. Selalu saja seperti ini.

Kini ia terkenal sebagai peramu Bubuk Kecemburuan yang tersohor. Selama itu, ia tak pernah mengangkat murid. Selalu bekerja sendiri. Padahal banyak yang memohon untuk diangkat menjadi penerus. Sebab Midore memelihara rasa was-was. Kecurigaannya tak pernah absen ketika ada pelanggan baru yang berpakaian serba putih. Bayangan Jonah seakan-akan melekat pada sosok itu.

Karena pada suatu hari pernah datang seorang pemuda yang membawa serumpun bunga kristal biru. Datang dari Jonah. Dalam sekali bacaan mantra, bunga itu musnah. Menjadi debu.

Dulu, Jonah pernah memberinya seikat. Begitu cantik. Yang Midore bawa hingga kembali ke rumah. Bunga-bunga yang rapuh itu dijaganya baik-baik. Bersama kacang kerdil, bunga-bunga itu sampai di rumah dalam keadaan sempurna. Midore pun lulus ujian. Semua berkat Jonah.

Setelah itu, mentornya pun mengumumkan ramuan milik Midore. Membuatnya sibuk bukan kepalang dan lupa kembali ke Morgorah. Setelah puluhan purnama, datang kepadanya sepucuk surat.

Jonah akan menikah!

Hati Midore pun hancur.

Sehari semalam ia menangis. Bulir-bulir air matanya jatuh pada sari kacang kerdil yang kemudian ia gunakan untuk membuat Bubuk Kecemburuan.

Setelah beberapa hari, masih dalam keadaan berduka. Seorang pelanggannya mengeluh dan memprotes kerja Midore.

‘Tak ada yang cemburu kepadaku! Semua orang jatuh cinta kepadaku!’

Midore terkejut. Dalam keadaan kalut, ia berusaha membuat ulang Bubuk Kecemburan. Namun, hasilnya tetap sama. Ia gagal total.

Putus asa. Midore pun menempuh perjalanan kembali ke Morgorah. Dengan sisa-sisa Bubuk Kecemburuan yang malah punya efek membuat jatuh yang disimpan dalam botol dari bunga kristal biru, ia pun berangkat. Ia harus tiba sebelum upacara pernikahan Jonah.

Midore datang tepat waktu. Saat akan menuang ramuan dari dalam botolnya pada minuman Jonah, Kris memergoki Midore. Mereka beradu mulut yang berakhir dengan gagalnya rencana Midore.

Sebelumnya, mereka pernah bertemu, aku Kris. Di akademi penyihir. Midore terperanjat. Sekarang, ia ingat, Ras’a pernah menceritakan tentang Kris, penyihir paling cemerlang di akademi.

Tanpa perlu menggerakkan bibir untuk mengucap mantra, ruangan tempat mereka berdiri kini remang. Keduanya masih bisa saling menatap dengan jelas. Midore menggigil di tempatnya berdiri. Botol dari tangannya terjatuh ke lantai.

Sesaat kemudian, ia tahu ada sesuatu yang menyergapnya. Tak terlihat. Membuatnya kaku. Sinar biru terpancar dari tubuhnya, dari ujung rambut dan kaki. Perlahan menyusut hingga sampai tinggal di tengah dadanya.

“Aku mengambil hatimu, Midore, untuk niat burukmu kepada adikku.”

“Jangan. Tolong, Kris. Aku minta maaf.”

“Dia menunggumu bertahun-tahun. Bersedih. Namun kamu tak pernah datang. Kamu ingkar janji. Penyihir tak seharusnya bersikap demikian.”

“A-aku mencintainya, Kris. Aku berani bersumpah,” jerit Midore.

“Kamu tidak perlu memaksanya jatuh cinta dengan ramuan kalau punya hati yang tulus, Midore.”

Sedikit demi sedikit sinar biru itu menembus keluar tubuh Midore. Kris membuka telapak tangannya. Cahaya biru lembut itu mengarah ke sana. Tangan Kris yang lain melambai pelan dan botol kristal dari lantai berpindah ke tangannya.

Ia mempertemukan kedua tangannya. Cahaya biru itu kini berkedut dari dalam botol.

Midore menangis. Jatuh berlutut.

“Maafkan aku,” ucapnya berulang kali.

“Hatimu, Midore.”

Kris berbalik, membiarkan botol itu melayang di udara. Sementara kegelapan kini menyelimuti ruangan seiring kepergian Kris.

Midore tak akan pernah jatuh hati lagi.

 

fin. 20.05.14

hasil ngobrol gaje dengan @_raraa, nyoba nulis dengan genre dongeng, dan nulis bebas. jadi, maafkeun kalau hasilnya berantakan di sana sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bubuk Kecemburuan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: