Setiap Orang Berhak Bahagia

6 Juni 2014 § Tinggalkan komentar

Ini adalah kisah tentang aku dan dia. Tentang ujung pencarian. Tentang puncak segala rasa. Tentang hidup yang terasa dua kali lebih nyata. Tentang penemuan. Tentang cinta. Bahwa aku adalah dia. Dia merupa menjadi diriku.

Jika semua terlalu manis, maka akan layak disebut sebagai komedi romantis.

Hidup tak ternyana adalah tragedi. Yang berputar dan kembali. Bahkan ketika kamu pikir sedang benar-benar bahagia.

Beberapa rasa senang dibayar dengan begitu mahal. Tentunya ada yang mau mengeluarkan berapapun yang ia punya untuk itu. Sampai akhirnya, baru menyadari kalau tak ada lagi apapun untuk membeli. Bahagia tak bisa dibeli, begitu katanya. Begitu mudah didapatkan, sekaligus tinggi tak teraih.

Jangan-jangan bahagia itu hanya ilusi. Salah satu isi kotak survival kit yang dijejalkan tuhan ketika menurunkan manusia ke muka bumi.

Kadang-kadang malah tersimpan pada orang lain. Atau, seperti bahagia adalah yang paling berharga di dunia, ada pula yang rela mencurinya.Membayar saja tak keberatan, apalagi kalau hanya merampas hak orang lain? Setiap orang berhak bahagia.

Aku dan dia adalah kemewahan cinta. Sekaligus bukti betapa bahagia bisa menjadi begitu relatif.

1.

“Halo, maaf menganggumu. Boleh aku menitipkan anak-anakku sebentar?”

Aku yang hendak menyuap sushi melongo. Menatap dia yang berdiri di depan meja. Kedua tangannya digandeng oleh dua orang anak kecil. Si lelaki mungkin berumur sekitar tujuh tahun. Si perempuan, yang lebih tua, kira-kira sembilan tahun.

Belum sempat menjawab, dia sudah menyuruh anak-anaknya untuk duduk. “Maafkan aku, kami sebenarnya masih dalam waiting list. Akan tetapi, aku harus bertemu kolegaku sebentar dan aku nggak bisa meninggalkan mereka di luar. Kebetulan ketika masuk ke dalam aku menemukanmu duduk sendirian. Aku tidak akan lama.” Dia mengeluarkan lembaran uang dari atas meja. “Tolong pesankan mereka sushi ya. Biar mereka milih sendiri. Ok?”

Bicaranya cepat dan jelas. Mengingatkanku kepada bos di kantor. Bedanya pria ini bicara dengan lembut dan menganggapku manusia.

Lalu, baru kusadari kalau dia belum pergi. Berdiri di belakang anak-anaknya. Si perempuan memegangi ujung jasnya, seakan tak mengizinkan dia pergi.

“Aku tidak akan lama,” ucapnya dengan nada memohon. Sekali lagi, dia melirik jam tangannya.

Sushi yang terjepit di ujung sumpit jatuh begitu saja ke atas meja. “O-oke,” kataku gugup. “Tapi jangan lama-lama.”

“Aku janji,” balasnya ringkas.

Selanjutnya dia membisiki sesuatu ke telinga anak-anaknya. Mencium pipi mereka. Keduanya menatapku malu-malu dan takut.

“Aga dan Martha tinggal sebentar sama tante ya. Papa ketemu teman dulu sebentar, oke?”

Kedua anak itu menganggu. Lalu, mereka bertukar ‘toss’. Dia menatapku kembali dan aku dengan segera mengerti. Tanpa suara dia kembali menyebutkan nama kedua anaknya sambil menunjuk. Agastya dan Amartha.

Mereka berdua sesopan ayahnya. Anak-anak yang menyenangkan. Agastya senang bercerita. Amartha bilang kalau dia suka menulis, seperti ayahnya. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Sesekali, membantu mereka memakan sushi dan mengelap noda yang tertinggal di sudut bibir.

Hatiku tetap was-was selama duduk bersama mereka. Sesekali aku melihat ke arah pintu masuk. Berharap ayah mereka segera muncul lagi. Beruntung, aku tidak punya jadwal apa-apa setelah ini. Jadi, aku tidak terlalu keberatan menunggui mereka sambil membaca buku. Lagipula, uang yang diberikan olehnya, lebih dari cukup untuk membayari pesanan sushi kami bertiga.

“Apa yang kamu baca?” tanya Agastya.

Black hole? Lubang hitam?” sahut Amartha yang sudah lancar membaca.

“Iya. Lubang di luar angkasa,” sahutku, menutup buku. Memandang mereka berdua dengan tertarik.

“Bentuknya seperti donat.” Amartha menyambar lagi.

“Hmm….”

“Mengapa bentuknya seperti donat?” Pertanyaan meluncur dari bibir mungil Agastya.

“Karena mereka berputar,” jawabku.

“Apa mereka bisa berbentuk seperti cupcakes?” sahut Agastya antusias.

“Whoa, kalian tahu darimana semua ini sih?” Aku terheran-heran.

“Papa yang cerita. Dia bilang sedang menulis tentang lubang hitam.” Amartha menjawab bersemangat.

“Bisa kayak telur dadar?” tanya Agastya lagi.

Saat aku berhenti memperhatikan pintu, saat itulah dia datang. Menenteng dua keranjang donat. Favoritku.

Akhirnya, aku tinggal lebih lama. Mengamatinya mengunyah donat sembari bercerita tentang lubang hitam.

Sebelum berpisah, dia menyerahkan satu keranjang untukku. “Terima kasih,” katanya, berbonus senyuman manis. Aku mengamatinya lebih lekat. Menyusuri garis rahangnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.

“Nggak perlu repot begini,” aku membalasnya. Kali ini dengan tersipu.

Siapapun yang bisa menjelaskan lubang hitam sembari mengunyah donat dengan santai. Ya, dia berhasil mendapatkan hatiku. Saat itu. Juga.

Ini pasti konspirasi dunia.

 2.

“Perkenalkan, Attira, ini istriku, Delima.”

Dia berdiri di antara kami. Perempuan berwajah manis itu tersenyum. Mamanya Amartha dan Agastya. Rambutnya hitam legam. Bibirnya dipulas pewarna peach.

Itu adalah pesta pernikahan kerabatku. Siapa sangka kami akan bertemu di sini. Sudah kubilang, kami adalah konspirasi dunia. Setelah pertemuan pertama, ada-ada saja kejadian yang dengan senang hati menempatkan kami di lokasi yang sama.

Namun, yang seperti ini, jadi yang kali pertama. Seperti, kami magnet dengan kutub berbeda, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab. Sementara, dia menyapa kenalan-kenalannya yang lain, aku mendengarkan Delima bercerita tnetang anak-anak mereka. Suamiku begini, suamiku begitu… Sebegitu menyenangkannyakah memiliki seorang pendamping?

Dari Delima, aku mendapatkan jawaban iya. Matanya bercerita lebih banyak dibanding kata-kata dari mulutnya. Sama seperti yang kutemukan di mata lelaki itu yang biru.

Sejenak aku merasa bagai alien.

 3.

Jill Tarter mencari keberadaan makhluk ekstraterestrial lebih dari tiga puluh tahun. Alasannya, sederhana, karena penasaran. Karena ingin menjawab pertanyaan tertua yang diproduksi manusia. Maka, ketika seorang manusia menemukan sosok yang terasa begitu berbeda sekaligus nyata, sesaat akan seperti saling mengorbit. Dia adalah pesawat luar angkasa. Aku adalah planet.

Kami lebih sering bertemu. Di perpustakaan. Aku membantunya mencatat bahan-bahan riset untuk tulisan. Menemaninya diskusi hingga larut. Sampai akhirnya naskah itu selesai dan dia mendapat tawaran baru.

“Kita nulis bersama?”

“Apa?”

“Ini mimpimu, kan?”

Aku berdiri, bersandar di rak. Ia menimang-nimang sebuah buku tua. Kami ada di bagian perpustakaan yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu, dia salah satunya.

“A-aku belum punya nama.”

“Siapa peduli? Kamu punya bakat besar, Attira. Kamu mau belajar. Aku melihatnya pada dirimu,” ucapnya, menatapku lembut.

Aku menundukkan kepala. Tangannya meraih jari-jemariku.

“Aku percaya kamu bisa. Bukankah pertemuan kita untuk ini semua?” Dia mendekat.

Aku ingin mundur, menjauh. Namun terhalang oleh rak buku. Genggamannya mengerat. Matanya yang biru begitu memikat.

Pertemuan kita untuk ini semua. Ketika pesawat luar angkasa itu memutuskan mendarat di planet antah berantah.

Yang lama kutunggu.

Ciuman ini.

 4.

Pojok perpustakaan yang berbau buku tua itu kini terpolusi oleh feromon. Kini kami punya keleluasaan bertemu terang-terangan. Seakan sekarang aku punya surat izin resmi untuk berjumpa kapan saja dengannya. Sesekali ia mengajakku ke rumah, makan malam bersama Delima, Agastya, dan Amartha.

Aku menolak, namun ia selalu memaksa. Tidakkah ia mengerti betapa beratnya melangkahkan kaki ke sana. Karena sekarang aku bisa membayangkan sudut-sudut tempatnya bercinta dengan Delima. Selama beberapa waktu memori tentang rumahnya begitu lekat dalam kepalaku. Aku mengabaikan permintaannya untuk bertemu. Aku mendatangi perpustakaan yang berbeda untuk melengkapi riset tulisan kami.

Seharusnya aku bahagia semakin luas waktuku dengannya. Akan tetapi, kini itu terasa jadi penghalang. Kami mulai bertengkar. Kadang tentang tulisan. Kadang tentang hubungan. Setelah itu, kami kembali bertukar ciuman. Kami bercinta berulang-ulang. Mencoba lupa. Memaksa untuk menerima kalau hubungan ini hanya ketertarikan fisik semata.

“Aku mencintaimu,” kataku pada suatu hari. Hujan di luar sana. Aku berdiri di tepi jendela besar, duduk di bingkainya. Kugerakkan ujung jariku, mengukir nama dari embun.

Dia menghampiriku. Berdiri begitu dekat. “Aku mencintaimu,” bisiknya.

“Kamu mencintai Delima dan anak-anakmu.”

“Mereka keluargaku. Aku menyayangi mereka, Attira. Aku mencintaimu.”

“Tidak bisakah kamu memilih?”

“Tidak bisakah aku memilih semua pilihan yang ada?”

“Jadi, untuk semua ini kita dipertemukan?” kataku, menatap matanya yang biru.

“Untuk saling jatuh cinta. Ya.”

**

“Dari sudut manapun, kamu salah, Attira. Mau tragis kek. Mau sakit sampai berdarah-darah kek. Posisimu itu nggak menguntungkan sama sekali. Sudah tahu ada lubang hitam masih kamu dekati! Sekarang kamu ada di event horizon, tinggal menunggu waktu sampai kamu kena proses spagetifikasi!”

Luna mencak-mencak kepadaku ketika aku mencurahkan semua ganjalan hati. Cerita tentang aku dan dia yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.

“Tahu nggak, kalau aku jual gosip ini ke media, aku bisa kaya mendadak!” Luna menoyorku.

“Bantu aku keluar.”

“Nggak ada yang bisa lolos dari lubang hitam. Kamu selalu bilang tentang itu, Attira. Nggak ada.”

“Di mana aku sekarang?”

“Nggak ada yang tahu. Bisa jadi kamu hancur jadi butiran atom. Tapi, kamu masih tegak berdiri sekarang.”

“Itu semacam penyemangat ya?”

“Aku senang kamu jatuh cinta. Aku mendukungmu, Attira, meski itu jatuh cinta kepada lelaki yang sudah jadi suami orang lain….”

**

5.

Aku duduk sendiri di restoran sushi. Meneruskan membaca buku. Bulan-bulan sudah berlalu dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Maka, aku memberanikan diri kembali lagi ke sini. Ketika kami menyelesaikan naskah itu, aku bilang padanya untuk menghapus namaku. Tentu saja dia tak mau. Aku sudah meluangkan hidupku untuk naskah itu, aku punya hak atas macam-macam hal yang nantinya berkaitan.

“Aku mau kita sampai di sini saja.”

Dia diam. Bisu begitu lama di kamar hotel yang sengaja disewa selama mengerjakan naskah kami. Mulutnya terkunci berjam-jam setelahnya. Telepon dari Delima, bahkan dari bos kami ia abaikan begitu saja. Sedangkan aku memang sengaja menonaktifkan ponselku selama proses itu.

Setelah lama puasa bicara, dia memandangku pilu. Tatapan mata yang tak pernah kutemukan sebelumnya dari dia yang selalu enerjik dan santun.

“Aku minta sesuatu. Yang terakhir kali,” pintanya sendu.

Aku mematung di kursiku. Memilih diam yang kuanggap sebagai ‘iya’.

“Jangan bergerak,” katanya. Dia berdiri, berjalan ke arahku.

“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku ketika kami berjarak sejengkal. Tremor menyerangku. Bicaraku pun berlepotan gemetar. Biasanya aku akan langsung memeluknya. Menyandarkan kepalaku di bahunya. Mencium aroma di belakang lehernya, campuran wangi sampo dan keringat.

“Aku ingin memelukmu.” Dia meminta izinku.

Untuk kali pertama, ia minta persetujuanku.

6.

Bersama sekeranjang donat, datang sebuah surat.

Kamu bukan alien, Attira.

Kamu juga bukan konspirasi dunia.

Namanya: takdir. Andaikata kamu bertanya.

Semua orang berhak bahagia.

Aku, kamu, mereka.

Semua punya cara yang berbeda-beda.

Satu yang jelas, setiap bahagia punya harga.

p.s. datanglah nanti malam, kusertakan undangan milikmu.

7. 

Malam itu aku putuskan untuk datang. Untuk melihatnya memberi sambutan dengan sumringah di atas panggung. Untuk mengamati dia berserta Delima dan anak-anak mereka. Sayangnya, aku tak bisa sembunyi. Delima memergoki kehadiranku. Agastya dan Amartha menyambutku dengan suka cinta. “Tante lubang hitam!” seru mereka.

Aku dan dia bertukar senyuman. Ciuman basa-basi di pipi. Tempatku duduk hanya beberapa baris di belakangnya. Pandanganku terpaku padanya hingga ruangan itu gelap. Seluruh isi ruangan bertepuk tangan. Aku hanya duduk diam. Mulai merinci betapa pertemuan kami harus dituntaskan lewat undangan seeklusif ini. Mulai menghitung harga cinta kami yang sebesar biaya produksi film ini.

Aku dan dia bisa bersama. Berbahagia. Yang terlalu mahal harganya.

Akan tetapi, setiap orang berhak bahagia, kan?

 

fin.

6.6.14.

happy birthday kak jonah nolan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Setiap Orang Berhak Bahagia at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: