Ramadhan dan Setoples Kenangan

28 Juni 2014 § 5 Komentar

Ramadhan adalah setoples kenangan. Jajanan pasar yang lama tak kautemukan akan muncul. Sahabat yang lama tak bersua datang lewat pesan singkat dan kabar berita. Tetangga-tetangga yang saling bersapa dalam perjalanan menuju mushala. Begitu pula suara tadarus dari masjid di tengah malam buta, begitu sejuk dan menumbuhkan rindu.

Aku menggandeng tangan adikku di tengah pasar tumpah. Hanya berjarak lima belas menit dari rumah, setiap ramadhan lapangan ini bak cendawan di musim hujan. Pedagang makanan kecil tumpah ruah, memadati sudut-sudut yang biasa digunakan anak-anak komplek bermain bola. Pada saat ramadhan, mereka harus mengalah. Mengurangi waktu berlari-lari di lapangan dan menggantinya dengan tadarus di masjid.

Meja di hadapanku warna-warni. Merah muda, hijau, putih, kuning—rona jajanan pasar yang selalu membuat hati senang. Aku meminta si penjual mewadahi lupis dan cenil, beserta beberapa gorengan. Namun, yang sesungguhnya membuatku berhenti di kios itu karena mereka menjual permen susu.

“Emma.”

Namaku dipanggil. Pemuda berkaus gelap dengan logo The Avengers dan kepala plontos itu tersenyum lebar.

“Rory!” sahutku tak kalah semringah. “Apa kabar?!”

“Permen susu?” Dia mengangkat satu kantong ke hadapanku.

“Aku sudah punya,” balasku saat menerima belanjaan dari si penjual.

“Baiklah. Aku akan beli untukku sendiri,” katanya.

Seharusnya aku segera pergi. Akan tetapi, aku terpaku. Menunggu Rory menyelesaikan urusannya dengan si penjual. Aku melirik tubuhnya yang tinggi. Sudah beberapa tahun kami tidak berjumpa. Aku kira dia betah di luar kota. Perjumpaan ini sama sekali tak kukira.

“Untukmu.” Dia menyerahkan sebungkus permen susu. Memaksaku menerimanya. “Pemberian orang tidak boleh ditolak.” Cengiran lebar menghiasi wajahnya.

Kami saling tatap. Matanya yang cokelat gelap menyimpan banyak cerita. Aku tak pernah lupa sorotnya dan kini semua masih sama.

“Aku harus pergi dulu, Emma. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya?” ujarnya.

Aku mengangguk. Dia berjalan mundur beberapa langkah, hingga akhirnya menabrak pengunjung pasar tumpah yang lain. Senyumnya masih tersisa untuknya ketika dia berbalik. Aku masih di situ, menatap punggungnya yang lebar.

Seperti dahulu.

**

Ramadhan adalah setoples kenangan. Aku keluar bersama ibu dan adikku dari rumah untuk salat tarawih di masjid. Suara orang mengaji terdengar sayup-sayup. Sementara itu, masjid yang lain sudah mengumandangkan azan Isya. Beberapa tetangga berjalan bergerombol menuju masjid. Ibu dan adikku berjalan di depan, lebih dulu. Aku masih berdiri di depan rumah, terpaku pada belokan yang sepi. Aku menunggu seseorang muncul di sana.

Seperti dahulu.

“Emma! Emma! Tungguin dong!”

Rory berlari-lari. Sarungnya diselempangkan. Al Quran didekapnya dalam pelukan.

“Jalan ke mushala kan gelap! Kamu pasti takut!”

“Aku nggak takut!”

Kami berdua berjalan cepat-cepat melewati jalan setapak di belakang rumah kosong. Aku merasakan Rory merapat-rapat padaku. Langkah-langkah kakinya cepat. Aku setengah berlari untuk mengimbanginya. Dia takut. Dia tak mau berangkat sendiri.

Pelataran masjid sudah dijubeli sandal-sandal aneka warna. Rory berlari meninggalkanku, berbaur dengan anak lelaki seusianya yang sedang pamer petasan yang dipunya. Aku melengos. Berjalan menuju bagian perempuan. Sudah penuh, namun ibu selalu menyisakan tempat untukku di sebelah beliau.

Sepulang dari tarawih, Rory memanggilku. “Aku punya permen susu. Besok kita berangkat bareng lagi ya!” katanya menyerahkan sebungkus yang sudah lembek kepadaku.

**

Makin dewasa umurku dan Rory, permen susu kian sulit didapatkan. Pernah pada ramadhan beberapa tahun yang sudah lewat, berlalu tanpa kami sempat bertukar permen susu. Ketika itu, aku dan dia sama-sama sudah kuliah di luar kota. Ramadhan adalah salah satu momen yang sudah pasti akan mempertemukan kami lagi.

Aku melihatnya muncul dari ujung belokan. Sajadah tersampir rapi di bahunya. Dia masih setia menggunakan kaos dengan ilustrasi superhero.

“Emma?” sapanya lebih sopan. “Belum berangkat?”

“Barusan ngunci gerbang dulu,” ujarku basa-basi. Sesuai dengan perkiraanku, tempat kuliahnya yang berada di ibu kota, mengubah penampilan Rory. Meski masih jadi penggemar superhero, tetapi dia kelihatan lebih bersih dan gaul.

Dia berjalan di depanku. Selalu, seperti dahulu. Aku beberapa langkah di belakangnya, menatapi punggungnya yang lebar.

“Nonton The Dark Knight Rises yuk,” ajaknya tiba-tiba.

Empat tahun sebelumnya, dia memberikan tawaran yang sama. Lebih tepatnya sedikit memaksa untuk menemaninya nonton The Dark Knight. Dia mengajukan argumen bahwa superhero yang ini beda, bukan sekadar menghancurkan gedung, atau mengalahkan musuh. Kemudian, dia memberiku sekantong besar permen susu, dan aku langsung mau. Setelah itu, gantian aku memerintahkannya untuk menemaniku nonton ulang. Salahnya mengenalkanku kepada The Dark Knight.

Tak lama setelah itu, kami sama-sama harus keluar kota. Dia memberiku kenang-kenangan kaos berlogo Batman. Dia sendiri memakai kaos dengan muka Joker. “Mereka saling membutuhkan satu sama lain.” Aku ingat kata-katanya ketika memberikan kaos itu.

“Aku mau asal kamu bawakan permen susu,” ujarku, membalas tawarannya nonton The Dark Knight Rises.

“Cuma permen susu?” tanya Rory. “Itu sih kecil.” Dia menjentikkan kelingking sambil menyeringai. Malam itu, dia menggunakan kaos bergambar Joker yang sudah agak lusuh.

Aku tak pernah melihatnya lagi setelah permintaan itu dia sanggupi untuk penuhi.

**

Aku pernah berpikir untuk membuat sendiri permen susu. Bertemu dengan teman-teman lama, selain bertukar kabar siapa yang paling sukses, gosip apa yang beredar, seringkali juga memberikan inisiatif untuk bisnis baru. Banyak dari mereka yang merindukan permen susu. Mengapa tidak aku coba untuk meraih kesempatan itu?

Produksi permen susu menurun drastis karena tidak lagi banyak yang memelihara sapi perah. Lahan-lahan yang ditanami rumput gajah berganti menjadi villa-villa cantik. Mengurus sapi lebih repot daripada membangun penginapan sederhana. Kaki gunung berkabut dan berudara sejuk menjadi daya tarik orang-orang dari luar kota. Mereka bilang kami udik, aku pikir mereka hanya orang udik yang tersesat di kota.

Beberapa bulan sebelum ramadhan aku sudah kembali ke sini. Aku terpaksa pulang karena ibuku sakit keras dan butuh seseorang untuk menjaga. Untungnya pekerjaan-pekerjaanku tidak memerlukan kantor. Aku bisa bekerja dari mana saja, kapan saja, bahkan sembari memikirkan membuat permen susu.

“Aku ingin jadi pengusaha permen susu,” ujar Rory suatu kali. “Jadi, aku bisa makan permen susu sebanyak mungkin.”

Aku berjalan di belakangnya. Menatap punggung Rory yang beranjak remaja. Tinggi dan kurus. Rambutnya yang ikal tertutup peci putih oleh-oleh Pak Haji yang baru pulang dari Mekkah.

Cita-cita itu kandas oleh waktu. Rory kini lebih tinggi dariku. Badannya tak lagi ceking. Eskul basket yang dia ikuti di sekolah membuat otot-ototnya bertonjolan. Kulitnya lebih gelap karena terbakar matahari sore. Dia masih senang memakai kaos superhero. Kali ini bertuliskan “Iron man”.

Kami berjalan tanpa suara. Rumah yang dulunya kosong kini sudah ditinggali suami istri baru pindahan dari luar kota. Setapak kecil itu tak lagi gelap dan becek. Berjalan di atas paving membuat kami tak lagi perlu tersandung batu.

“Oh ya, Emma.” Tiba-tiba Rory berhenti. Dia merogoh saku celana panjangnya. “Aku nemu permen susu. Sini tanganmu.”

Rory menjatuhkan beberapa permen tanpa menyentuh telapak tanganku. “Bukan muhrim,” katanya berbisik sambil nyengir.

Lalu dia berjalan mendahuluiku. Aku mengekorinya, mengamati punggungnya yang liat, sembari menggenggam permen-permen susu pemberiannya. Seolah-olah, posisiku di belakangnya adalah yang memang seharusnya terjadi, tak akan ada yang mengusik.

**

Butuh beberapa kali percobaan hingga aku berhasil membuat permen susu. Kala itu, jelang ramadhan. Aku berpikir, mungkin cukup waktu untuk memproduksi agak banyak dan dititipkan untuk dijual di pasar tumpah. Aku berharap ramadhan itu Rory akan kembali ke sini. Entah mengapa mendadak aku menyesal tak pernah berhubungan serius dengan Rory. Kami tak pernah saling menghubungi, meski ketika berjumpa lagi seperti saudara yang sudah lama akrab.

Rory kembali. Malam ini aku menunggunya di depan rumah. Harap-harap cemas menanti dia muncul di ujung belokan. Beberapa menit menunggu dan tak sesosok pun muncul. Aku menghela napas. Menapaki jalan seorang diri menuju masjid. Tanganku memegang sebuah kantong berisi setoples permen susu. Produk yang sama dengan diberi Rory ketika kami bertemu beberapa hari lalu di pasar tumpah. Permen susu buatanku. Kali ini, aku akan mengaku.

Aku membayangkan kaos apa yang akan dipakainya malam ini. Hulk? Watchmen? Green Lantern? Aquaman? Atau yang lain. Tahu-tahu saja aku sampai di pelataran masjid. Dulu ketika kali pertama Rory memberiku permen susu, masjid ini hanya mushala kecil. Sekarang, lampunya terang benderang. Menaranya berjumlah empat dan menunjuk langit penuh kebanggaan. Pengunjungnya makin ramai, banyak di antaranya yang tak kukenali lagi.

Saat aku akan melangkah masuk, aku melihat sosoknya. Rory dengan baju koko warna putih. Peci hitam menutupi kepalanya. Aku hampir memanggilnya dengan suka cita ketika mengetahui ada seseorang perempuan berjalan di belakangnya. Seseorang sudah mengambil posisi itu dariku. Meski berusaha buru-buru masuk, Rory menangkap kehadiranku. Dia memanggilku dengan riang gembira.

“Emma kenalkan, ini Maura, calon istriku.” Rory tersenyum begitu istimewa.

Aku membalas senyum itu. Mengenalkan diriku. Rory memintaku untuk menemani Maura, perempuan yang sudah merebut posisiku untuk memandang punggung Rory.

Ketika selesai tarawih, aku memberi Maura setoples permen susu. “Semoga persiapan pernikahan kalian lancar,” kataku dengan hati pilu.

Aku memandang mereka berdua berlalu. Di antara kami, anak-anak kecil berlarian memainkan kembang api. Tatapanku lurus ke arah Rory yang kian lama makin menjauh. Seperti dahulu. Kali ini, punggung itu tidak lagi jadi milikku.

fin. 28-6-14

§ 5 Responses to Ramadhan dan Setoples Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ramadhan dan Setoples Kenangan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: