Hampir tengah malam

9 Juli 2014 § Tinggalkan komentar

Hampir tengah malam. Aku mendengarkan komposisi piano melankolis, lalu menulis ini. Kamu, bisa menganggap ini untukmu.

Aku masih mengerjakan hal yang harus kuselesaikan, ketika tiba-tiba aku diam. Layar yang menampilkan rangkaian-rangkaian kalimat mendadak buram. Aku hanyut. Aku selalu kehilangan jejak waktu saat mengenangmu.

Hampir tengah malam. Aku mendengarkan piano melankolis, lalu terngiang suara tawamu. Bisikmu ketika mengucapkan namaku.

Aku menginginkan itu sekarang, di tengah pekerjaan yang belum kutuntaskan. Kata-kata yang tersusun di layar membentuk wajahmu. Aku melihatnya bergerak. Kerut-kerut di sekitar mata yang muncul tiap kamu tersenyum. Gerakan anggun kepalamu tiap kali menoleh. Helai-helai rambut yang berjatuhan setiap kali kamu mengangguk.

Hampir tengah malam. Aku mendengarkan komposisi piano melankolis, lalu kukenang dirimu. Satu-satunya yang bisa kulakukan.

Aku bisa saja membuka laci meja yang menyimpan setumpuk potret. Potretmu. Potret kita. Sengaja kutumpuk dan kuikat menjadi satu dengan pita biru. Pada suatu waktu, aku ingin menjauhkannya dari hidupku, tetapi aku tak pernah kuasa melakukannya. Aku masih merasa perlu memperbaiki bayanganmu di dalam kepalaku setiap beberapa waktu. Aku tak mau kauluntur. Aku mau kau hidup selama aku bernapas.

Meski kita tak pernah bisa bersama.

Hampir tengah malam. Aku mendengarkan komposisi piano melankolis, lalu aku membayangkan kehadiranmu di sini. Harapan yang hadir serupa amukan ombak dahsyat. Laksana badai petir yang menyambar tak kenal arah. Alam selalu memberi tanpa bisa kita tolak. Keinginan ini adala isyarat alam, datang dengan begitu natural. Lebur dalam hati. Hidup menjadi bagiannya. Aku selalu merasakannya.

Meski aku tak pernah bisa memilikimu. Aku terus menginginimu.

Hampir tengah malam. Aku mendengarkan piano melankolis, lalu aku akan memejamkan mata.

Kutinggalkan semua pekerjaan yang sedianya menyita. Berdamai dengan gelap yang akan mengantarku. Selalu ada bagian diriku yang terjaga untukmu, meski ragaku lelap. Di dalam mimpi, aku selalu berharap bertemu. Sebab, di sana satu-satunya semesta yang mengizinkan kamu menjadi milikku. Yang membuatmu berbalik menginginiku. Seperti yang selalu aku impikan.

Hampir tengah malam. Aku masih bisa menulis begitu banyak kata-kata untukmu. Mengungkapkan sesuatu yang mungkin sudah kau ketahui. Mengulangnya lagi dan lagi. Sampai aku puas. Sampai telingamu panas.

Hampir tengah malam. Aku menghentikan komposisi piano melankolis. Kamu tetap di sana. Di sudut pikir. Aku memejamkan mata, memanggil gelap. Kamu tetap di sana. Di sudut kenangan. Saat itulah, dunia yang katanya luas ini, menjadi tak berarti. Karena kamu sudah menjadi bayanganku. Kamu ada, karena aku membuatmu ada.

Hampir tengah malam. Tinggal gelap dan sunyi di sisiku. Selamat bermimpi, sayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hampir tengah malam at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: