Sepasang Sandal di Serambi

21 Juli 2014 § Tinggalkan komentar

Dari balik lokasi persembunyian, aku mengamati sasaran. Di antara lalu lalang orang yang mendaki undakan, serta anak-anak kecil yang berlarian riuh, sasaranku kini berada. Aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Menghitung dalam hati, seperti yang sudah kulatih selama ini. Tepat sesuai perkiraan, di samping pilar ketiga dari sebelah utara, sasaranku berhenti. Aku segera berbaur di tengah orang-orang. Menyeberangi beberapa anak tangga, dari selatan menyerong ke utara. Kini aku hanya berjarak beberapa anak tangga dari sasaranku. Dia tidak menyadari kehadiranku. Saat dia meninggalkan tangga, aku langsung mendaki sisa undakan. Berhenti tepat di sisi sandal idaman! Sepasang sandal gunung hitam dengan tali berhias pola-pola warna biru.

 

**

 

Dia selalu tepat waktu. Dalam beberapa hari saja, aku bisa menemukan kebiasaan itu. Dia selalu berada di tempat yang sama. Aku sudah hafal hanya dalam beberapa kali amatan.

Sekarang, aku berdiri di balik pembatas, mengintip dari sela-selanya. Mengerling sesekali pada jam di tangan. Tiga puluh detik lagi! Aku mulai membilang sembari memandang lurus pada sasaranku. Kali ini tidak boleh lepas lagi. Sekitarku sudah sepi, jadi aku tahu rencana ini akan berjalan sukses.

Lima detik!

Aku menahan napas. Benar saja, tepat saat detik ke nol, dia berdiri. Aku berjalan. Dia masih tidak menyadari kehadiranku. Dari pintu, kami sama-sama menuju ke utara, pada pilar ketiga. Pada sandal idaman. Pada sandalku.

Bersamaan kami turun mengambil sandal. Posisi sandal warna merah jambu punyaku yang persis di sebelah miliknya, membuat kami agak hampir bersentuhan. Duh, aku membayangkan mengendus aroma pengharum pakaiannya yang semerbak lembut. Aku mengkhayalkan seperti di iklan pasta gigi, saat aku pura-pura jatuh kemudian dia menolongku.

Namun, tentu saja itu tidak terjadi.

Dia hanya tersenyum dan menyilakanku mengambil sandal duluan. Senyumnya, duh, seakan langsung menghangatkan udara di sekitarku. Aku mendadak kegerahakan di balik mukena. Dan dia masih tersenyum. Hingga seolah di sekelilingku muncul bunga-bunga yang mekar entah dari mana.

“Eh, makasih,” ujarku.

Dia hanya tersenyum dan melepas pecinya. Pandanganku tak berpaling saat dia merapikan rambutnya yang lebat. Begitu indah. Aku masih berdiri di situ (mungkin sambil melongo) saat dia berlalu.

 

**

 

Agar aksiku tidak mencurigakan, aku membeli beberapa sandal baru. Aku memaksa meminjam sandal milik adikku sampai ibuku. Jadi, setiap hari dia akan menemui sandal yang berbeda di samping miliknya. Dia tidak akan curiga awalnya, meski setiap pulang tarawih jelas akan tahu kalau aku pemilik sandal yang pasti ada di sebelahnya.

Herannya, dia tidak pernah berniat berganti posisi. Kami sering bertemu seusai salat, dia tersenyum, menyilakan aku memakai sandal lebih dulu, kemudian dia berlalu.

Apa salahku?

Apa karena aku menunggu-nunggu dia menyapa duluan?

Aku menjadi resah dan gelisah. Salatku tak tenang saat sadar bahwa Ramadan tinggal tersisa tiga belas hari lagi. Aku tidak mungkin hanya lagi-lagi bertukar senyum, sementara setiap malam aku meleleh melihatnya mendaki undakan masjid. Mengamati lengan kemeja birunya yang terlipat hingga siku. Sikap dan bicaranya yang santun kepada semua orang. Serta senyumnya yang serasa keju panas dan wangi.

Aku menelan ludah. Berangkat ke masjid dengan hati bergetar. Dia terlihat alim, sesuai dengan persyaratan calon mantu yang diminta ibuku. Minimal dua dua syarat sudah berhasil dilewatinya, seiman, dan alim. Tentunya, dia juga sudah melewati syarat-syarat milikku, sisanya bisa kami kompromikan nanti.

Kutunggu kehadirannya di balik pilar sebelah selatan. Dia tidak pernah terlambat, apalagi melewati adzan. Sekarang, adzan sudah berkumandang dan sosoknya belum juga muncul. Aku menempel makin erat ke pilar, mulai khawatir dia tidak akan datang. Sampai iqamat terdengar, aku masih berada di situ. Aku tahu, telat memang tidak ada dalam kamusnya.

Telat atau tidak hadir sama sekali. Hari ini, dia memilih yang kedua.

 

**

 

Ketidakhadirannya ternyata melampai tiga hari. Aku tidak menemukan sosoknya berjalan dengan senyum tertera di wajahnya. Aku tidak mendengar sapaan halusnya kepada orang-orang yang ditemui. Masjid yang isinya sekarang tinggal setengah dari jamaah di awal Ramadan ini terasa makin kosong melompong.

Pada salah satu sujudku di kala salat isya, aku menyadari sesuatu yang membuatku nyaris menangis. Bahwa selama ini aku datang ke masjid bukannya berniat beribadah malah memikirkan pemuda yang sekarang entah di mana. Pemuda yang melambungkan angan-anganku begitu tinggi. Pastilah, niatku yang tidak benar itu yang menjadikan rencana-rencanaku tidak direstui Allah.

Jadi, pemuda berkemeja biru yang digulung sesiku dengan senyum bak keju itu masih disimpan jauh-jauh dariku sampai aku bisa memperbaiki niat.

Dia benar-benar tak pernah lagi terlihat. Aku meninggalkan masjid lebih cepat karena tak ada lagi yang kutunggu. Suatu hari, aku datang untuk mengenangnya. Mengenakan sandal serupa yang kupinjam paksa dari sepupuku. Merasakan setiap langkah. Jadi, seperti inilah apa yang dirasakan setiap kali kakinya menjejak tanah. Kesat dan mantap.

Aku menaruh sandal itu di tempat yang dulu selalu menjadi tahta sandalnya. Menatap keramaian yang tak lagi sama. Aku pun masuk ke masjid, dengan doa bisa bertemu lagi dengannya.

 

**

 

Pernah dengar tentang “pancingan”? Semacam mitos yang beredar di kalangan perempuan yang berisi pesan kalau ingin jodoh sesuai yang diinginkan, maka belilah benda yang kira-kira sesuai dengan sasaran kita itu. Seperti salah satu temanku yang sudah kebelet nikah, dia selalu menyisihkan gajinya untuk membeli kemeja pria, selalu kotak-kotak, selalu berukuran M. Sampai sekarang, dia masih jomlo-jomlo saja sih. Temanku itu yakin usahanya hanya kurang gigih saja.

Karena itulah, aku tidak mengikuti aktivitas itu. Lebih baik kalau uangnya aku belikan buku. Saat itulah, ketika aku sedang membaca novel Gone Girl yang baru kubeli di serambi masjid (aku memang senang dan sering membaca di situ), aku melihat salah satu sandal yang tertumpuk di undakan. Aku melotot. Itu sandal yang kupakai! Sandal gunung dengan corak biru! Segera saja aku bangkir, memeriksa keberadaan sandal pinjaman. Ternyata masih ada. Jadi, apakah dia sudah kembali?

Aku buru-buru bersembunyi di balik pilar ketika serombongan pemuda keluar dari masjid. Aku ikut mengambil sandalku, kemudian bergabung dalam kerumunan. Aku harus tahu siapa yang memakai sandal yang sama dengan milik pemuda berkemeja biru.

Ternyata sama sekali tidak sulit untuk tahu.

Tentu saja bukan orang yang kukira. Aku memandangnya. Pemuda dengan kaos hitam dan celana jins kusam. Dia tidak berambut lebat dan indah, tapi botak—maksudku, potongannya super pendek. Pipinya begitu chubby, mengingatkanku kepada pemuda yang pernah menolakku beberapa tahun lalu. Akan tetapi, pemuda ini jelas bukan orang yang pernah menyuruhku untuk move-on itu. Sama sekali bukan. Aku salah pancingan.

Dan dia tersenyum. Untukku.

Rasanya berbeda. Aku ingin keju bakarku.

 

**

 

Selama sepupuku belum menagih, aku masih tetap memakai sandal itu. Pada suatu malam, aku menemukan sandal yang sama di samping milikku. Aku melihat si chubby di belakangku, mengantre untuk mengambil sandal. Masih banyak tempat di dunia ini, kenapa dia harus mengambil posisi di sebelah sandalku?

Dia tersenyum lagi.

“Yang punya sandal ke mana?” tanyaku.

“Eh,” dia mendongak.

Aku tidak tahu mengapa aku melontarkan pertanyaan itu. Memangnya sandal itu hanya punyaku dan dia?! Di seluruh kota ini mungkin ada ratusan orang memiliki sandal yang sama.

“Oh ya, itu sandal Alfa, abangku. Dia tinggalin.”

Hatiku mencelus. Sekarang aku tahu jawabannya mengapa dia tak pernah muncul lagi. Tinggal? Apa maksudnya pergi. Pergi ke mana? Semoga dia baik-baik saja. Bukan pergi yang aneh-aneh. Tahu, kan? Musim mudik sudah serupa musim bencana nasional. Aku berharap dia bukan “pergi” yang itu.

“Pe-pergi ke mana?”

“California.”

Aku melongo. Lega dan kaget sekaligus. Jauh banget!

“Dia dapet beasiswa di sana,” jelas si chubby. Ya ampun, senyum dan suaranya yang serak-serak basah ternyata paduan yang enak di telinga.

Aku mengangguk-angguk, kami sama-sama menuruni tangga masjid. “Kuliah film?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Caltech.”

Aku melongo untuk kedua kali. “Genius ya.”

Kami berdua sama-sama berhenti di teras. Anak-anak berlarian memainkan kembang api di tangan. Suara orang mengaji sudah terdengar. Suara-suara favorit ketika Ramadan.

“Dia bakal pulang buat lebaran?”

Lawan bicaraku masih diam saja, dia malah membalas sapaan beberapa pemuda yang hendak kembali ke masjid untuk mengaji. Dia sama sekali jauh dari perilaku alim, meski masih terhitung sopan dan ramah.

“Ah, jelas nggak ya. Jauh banget.” Aku menjawab sendiri. Lagi pula, lebaran tinggal menghitung hari.

Aku hendak pamit saat dia mengajakku bicara lagi.

“Kamu yang baca Gone Girl kemarin, kan?”

Aku nyengir. “Iya.”

“Kalau sudah selesai baca, boleh pinjam?”

Kali ini, aku terperanjat. Terkejut ada yang mau meminjam buku koleksiku. Selama pulang ke kota kecil ini, aku nyaris tidak menemukan partner membaca yang setara.

“Nanti, aku pinjemin Inherent Vice,” katanya.

“Inherent Vice yang diadaptasi jadi film sama Paul Thomas Anderson. Boleh! Mau!” Aku nyaris terlonjak.

Kami berdua sama-sama berjalan pulang. Sepanjang jalan kami mengobrolkan buku dan film tanpa henti. Duh, senang sekali bisa bertemu seseorang yang nyambung seperti dia. Aku bahkan lupa sejenak jika aku pernah naksir abangnya. Betapa hati mudah sekali dibolak-balik ya.

“Namaku Gamma, Aili.” Dia tersenyum padaku sebelum pergi. Senyum yang aku tandai rasanya seperti kue putri salju bikinan ibuku yang lembut dan lumer di mulut. Saat itu, aku baru menyadari bahwa arah rumahnya berlawanan denganku. Akan tetapi, aku yakin sandal gunung yang kokoh itu akan melindungi kaki-kakinya sampai kami bertemu lagi esok hari.

fin.21.7.14

Gone Girl, novel thriller karya Gillian Flynn. Diadaptasi ke layar lebar oleh David Fincher.

Inherent Vice, novel karya Thomas Pynchon. Diadaptasi ke layar lebar oleh Paul Thomas Anderson.

Dua-duanya sama-sama dirilis di New York Film Festival akhir bulan September.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sepasang Sandal di Serambi at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: