Hampir tengah malam #2

25 Juli 2014 § Tinggalkan komentar

Selalu ada kala ketika kamu merasakan itu. Saat nyaris terpejam, namun kantuk tak kunjung datang. Kamu berbaring, menghadap langit-langit. Berdamai dengan gelap.

Pada saat itulah, dimulai dari bisikan yang mendadak terngiang. Tawa yang terdengar jauh. Kaukenali renyahnya, manisnya saat mampir di telingamu. Samar-samar. Seperti raut yang perlahan terbentuk di benakmu. Satu demi satu. Bagaikan ratusan gambar yang ditumpuk bersama, dalam susunan. Mulanya hanya citra, kemudian menjadi gerak. Kenangan yang bertransformasi menjadi montase.

Pada saat itulah, kamu menyalahkan secangkir kopi kauminum sebelum menyeret tubuh ke ranjang. Menumpahkan kekesalan akibat rasa penasaran atau novel yang belum selesai kaubaca. Memikirkan pekerjaan yang masih tersisa. Sayangnya, semua itu tak mampu melawan bayangan yang ada dalam kepalamu. Kamu hanyut. Kamu hanyut oleh nostalgia. Banjir yang manis. Yang menenggelamkanmu tanpa kausadari.

Kau biarkan rindu merenggut waktumu. Matamu masih tertuju pada langit-langit. Sebenarnya kosong, akan tetapi bagimu sekarang bidang itu menjadi layar. Di sana bermain kenangan. Ingatanmu tentang dia dari satu-satunya foto yang kaupunya.

Mendadak kamu terbangun. Letih berduel dengan rindu. Kamu menyilakannya keluar masuk benakmu sesuka hati. Sementara itu, kamu bergerak, menyalakan komputer. Dalam sekejap, kamu terlibat pencarian sebuah foto. Potretnya yang kau sembunyikan dalam folder rahasia. Diletakkan di antara data-data yang tak akan orang lain kira. Kamu sendiri sering mengeluh, mengapa harus menyulitkan dirimu mengaksesnya.

Sejenak ketika potret itu sudah kautemukan dan terpampang di layar, kamu berusaha sibuk dengan hal lain. Menilik pekerjaan yang belum tuntas. Coba-coba berkonsentrasi untuk meneruskannya. Namun, setelah beberapa lama, kamu sadar, rindu itu tak mengizinkanmu. Kamu hanya terpaku, sejak tadi menahan godaan untuk menatap potretnya.

Akhirnya, kamu mengaku kalah. Potretnya memenuhi layar komputermu. Matanya bertatapan dengan matamu. Kamu coba menyentuhnya. Merasakan dinginnya permukaan layar saat itu juga.

‘Apa kabar?’ tanyamu, pilu.

Tak ada jawaban. Sesaat kemudian, kamu terburu-buru mematikan komputer dan meneruskan membaca. Fiksi mungkin bisa membuatmu lupa akan rindu. Beberapa lama kamu membaca, akan tetapi lambat laut aksara-aksara itu seperti menceritakan tentang dirimu. Tentang kita.

Kamu tak pernah bisa lari dari rindu. Kamu tak bisa menghindar karena dia akan selalu bisa menemukanmu.

‘Panggil aku,’ bisikmu.

Kamu tak tahu mengapa mengucapkan itu. Kamu hanya membisu. Sudah kembali terlentang di atas ranjang. Di tengah kelam oleh lampu yang tak kaunyalakan. Tatapanmu terkait ke langit-langit. Andai saja rindumu bisa sampai. Dapat melaju ke tujuan. Tentunya malam-malam menyiksa seperti ini tak akan pernah ada. Harapmu, rindu-rindu yang kaupunya bisa merupa menjadi dirinya. Saat ini juga.

Kamu berharap, berangan-angan sepanjang malam. Sementara rindu merampok waktu. Menenggelamkanmu dalam kenangan bercampur fiksi dalam kepalamu. Hingga malam mulau terkikis. Kamu masih biarkan rindu berbaring di sebelahmu, terus bercerita sedangkan kamu terjaga mendengar ocehannya. Mungkin pagi nanti, rindu itu akan menguap seperti halnya embun.

Ketika pagi datang, rindu masih menetap. Tak kunjung enyah. Kamu terpaksa berdamai lagi. Setidaknya kamu tahu masih hidup karena punya rindu. Meski kepada dia yang tak bisa kaumiliki lagi. Sekarang dan selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hampir tengah malam #2 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: