Pergi ke Bintang

31 Juli 2014 § Tinggalkan komentar

Berdasarkan trailer Interstellar. Bersih dari spoiler kalau kamu udah nonton trailernya.


 

“Aku akan kembali.”

“Kapan?”

Dia tak pernah memberi jawaban. Tak pernah bisa. Dan aku enggan mendengar.

“Kita harus menyelesaikan ini sebelum aku pergi.”

Aku mendengarnya. Suaranya yang tercekat dan coba ditegar-tegarkan. Seumur hidupku kuhabiskan bersamanya. Aku tahu. Aku tahu pilu yang ada di dalam hatinya.

“Murph.” Dia memanggil namaku.

Aku bergelung di atas ranjang. Memunggunginya. Menahan detak jantung yang memburu. Napas yang memburu. Kedua mata yang penuh air bagai tersedak debu.

Dia menyebut namaku kembali. Jika aku punya sepasang orang tua, mungkin semua tidak akan seberat ini. Aku mencoba mengingat bagaimana suara mama ketika memanggilku, namun tak pernah ada sepotong ingatan pun yang muncul. Yang terus berulang adalah ayah yang menyebut namaku. Seperti juga sekarang. Ayah duduk di sisi ranjang. Tangannya terjulur, menyentuh bahuku. Setelah malam yang dingin dan kabar yang menyedihkan, sentuhan itu mengalirkan hangat. Aku merasa lebih lega, tetapi tidak mengurangi ketakutanku sama sekali. Pada akhirnya, aku membiarkannya memelukku. Erat. Dan aku mulai menangis.

**

Aku membiarkannya memelukku. Erat. Ketika itu aku melihat matanya yang biru berlinang. Ekspresinya tampak lelah, dia bagai bunga yang layu.

Pada waktu itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Aku duduk di sebelah kakak laki-lakiku. Tanganku digenggam dan tak dilepaskan. Sementara orang-orang hilir mudik, masuk ke dalam rumah dengan pakaian hitam-hitam. Rumah kami sudah sepi, ketika ayah berjalan menuju kami. Di beranda kami duduk, menatap hamparan ladang jagung. Langit di belakangnya memerah, awan-awan terburai berdarah. Lalu, satu demi satu, bintang mulai muncul. Kami masih di sana. Dia masih mendekapku tanpa suara.

“Ibu kalian pergi ke bintang.”

“Kapan dia akan kembali, Ayah?” tanyaku.

Aku tak pernah mendapatkan jawaban. Ayah hanya bilang suatu hari, kami akan menyusulnya. Lalu, ayah menceritakan pada kami tentang perjalanan ke bulan. Tanggal yang sama ketika ibu pergi. 20 Juli. Puluhan tahun lalu, di kala itu, beberapa astronaut menginjakkan kakinya untuk kali pertama di bulan. Mereka membawa mimpi. Harapan jika manusia bisa mewujudkan apa yang tadinya mustahil. Membangun imajinasi jika suatu hari, manusia kelak bisa berjalan lebih jauh. Usai ayah mengakhiri ceritanya dan mengajak kami ke untuk tidur. Aku bilang kepadanya, apabila aku ingin pergi ke bintang menemui ibu. Aku akan membuatnya menjadi kenyataan.

Ibu tak pernah pergi ke bintang manapun. Dia tak ingin ke manapun. Dia ada di sekitar kami. Saat beranjak dewasa aku tahu, ibu meninggal karena kanker otak. Tubuhnya dikremasi dan abunya disebar ayah di sekitar ladang jagung kami.

Aku tak pernah marah. Kematian dan perpisahan tidak terelakkan. Setiap hari, di sekolah, aku mendengar kabar ada kerabat atau keluarga teman yang meninggal. Dunia memburuk sebagai tempat tinggal. Penyakit bermunculan dan kelaparan jadi makanan. Kematian datang seperti wabah. Tak ada yang bisa mengubah.

Hingga ayah mendapatkan sebuah tawaran. Pergi ke bintang.

Seseorang harus menyelamatkan bumi yang sakit. Bukan salah ayah. Namun, dia yang harus pergi. Aku yang harus menanggung perpisahan ini.

Dia masih mendekapku erat. Tangisku mungkin melukainya. Akan tetapi, aku tidak ingin dia pergi. Tak ada jaminan dia akan kembali. Aku tahu. Aku sungguh tahu sebab dia sudah mengisahkan kepada kami tentang perjalanan aktual ke bintang. Butuh waktu bertahun-tahun. Tak terhitung.

“Aku menyayangimu. Selamanya.”

Dan dia pergi.

Dia pergi.

**

Bertahun-tahun dan ladang jagung itu masih berdiri. Produksinya semakin menurun, akan tetapi aku tetap mempertahankannya. Kenangan-kenangan itu ada di sana. Masa kecilku. Bahkan nyaris seluruh hidupku.

Aku mengambil sesuatu dari bak truk. Pemantik. Aku kira ladang jagung ini bisa menolong, bukan hanya aku tetapi juga orang lainnya. Nyatanya sia-sia saja. Sia-sia saja seperti pesan-pesan yang kukirimkan kepada ayah. Lenyap seperti ditelan langit. Hilang seakan tersapu benda angkasa yang berlalu-lalang.

Bertahun-tahun. Dan harapan kini serupa titik-titik kecil di awang-awang. Indah dan tak tersentuh. Tak ada yang berubah setelah ayah pergi. Justru makin memburuk. Semakin banyak kematian yang kulihat.

Bertahun-tahun. Aku menunggu dan akhirnya putus harapan. Ladang jagung ini hanya kuburan kenangan. Ibu dan ayah. Masa kecilku. Masa depan yang tak pasti. Kelabu dan mungkin akan segera berakhir.

Pemantik itu menyala. Hatiku gulana. Aku menebar pandang ke seluruh landang jagung. Pada orang-orangan sawah yang tak lagi dihinggapi burung. Cuma kenangan yang enggak kuusir dan kubiarkan berada di sana, bertahun-tahun. Pada rumah tua bobrok yang nyaris roboh. Aku sudah lama pergi dari sana.

Bertahun-tahun dan aku berhenti menunggu. Ayah tak akan kembali.

Aku menyentuhkan api di ujung pemantik ke salah satu pelepah jagung. Di ujungnya, bunga-bunganya tumbuh kerdil. Warna tubuhnya yang hijau kotor karena debu. Mereka tak akan hidup lama.

Api menari di depan mata. Aku seakan mendengar jeritan. Aku mendengar suara ayah yang bercerita. Memanggil namaku ketika kami menyusuri ladang jagung. Menceritakan tentang hukum Murphy. Apa yang akan terjadi, sudah pasti akan terjadi.

Ayah akan kembali. Dia pernah berjanji.

**

Di antara kekosongan angkasa, sesuatu meluncur cepat. Bergerak tangkas tanpa terhalang. Saat didekati, terlihat bahwa benda tersebut berputar. Berputar dan terus berlari. Ada cahaya benderang. Lingkaran terang. Gelap gulita di tengahnya. Terlihat dekat, namun masih begitu jauh.

Pada salah satu panel jendela, muncul sebuah wajah. Hidup dan bercahaya. Sejenak dia takjub. Lalu berlalu. Duduk di depan perangkat komunikasi Endurance. Nama pesawat ruang angkasa itu adalah Endurance. Sejenak, dia menyentuh tombol-tombol. Dia masih tidak percaya betapa jauh yang sudah dia lalui. Bangun dari ruang krio, nyaris sama dengan tersadar dari lelap. Sepanjang perjalanan, dia mengingat anak-anaknya. Anak perempuannya yang tak mau melepaskannya pergi.

Dia tetap pergi.

Butuh waktu sebentar saja bagi perangkat itu untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkumpul bertahun-tahun. Satu persatu dia membaca, mengecek video yang dikirimkan untuknya. Bertahun-tahun. Dia tetap sama, seperti itulah ketika dia bercermin tadi. Sementara, dihadapannya, dia melihat perubahan. Pesta prom pertama yang terlewatkan. Upacara kelulusan yang tak bisa dia hadiri. Ulang tahun demi ulang tahun yang tak lengkap. Dan pernikahan. Dan bayi mungil lucu.

Dia menangis.

Dia akan kembali. Dia pernah berjanji.

Tubuhnya terguncang-guncang di kursi. Air mata berjatuhan di pipinya. Terakhir kali dia menangis, ketika meninggalkan anak-anaknya. Dia berjanji untuk kembali. Namun semua itu bohong. Dia akan kembali, pada suatu hari, ketika semua yang pernah dimilikinya hanya tinggal memori.

“Ayah, bertahun-tahun sudah berlalu. Bertahun-tahun kami menunggu kabar darimu. Akan tetapi, tidak ada apapun. Maafkan aku selalu marah kepadamu. Aku tidak pernah memaafkanmu. Aku harap kamu kembali.”

Anak perempuannya kini telah dewasa. Rambut merahnya masih sama. Raut wajahnya begitu mirip istrinya yang telah tiada.

“Mulai sekarang, aku tidak akan menunggumu lagi. Aku harap kamu baik. Aku harap kamu bertemu ibu di bintang yag kautuju.”

Murph menundukkan kepala. Menolak menatap layar.

“Aku menyayangimu. Selamanya.”

fin. 30.7.14

100 hari sebelum Interstellar dirilis. hari yang sama ketika trailer 3 dibagi oleh chris nolan. momen yang sama saat 44 tahun lalu, seorang bayi mungil lahir ke dunia dan diberi nama christopher nolan. happy birthday, mr nolan!

aku nggak bisa nahan diri buat nulis fanfik interstellar, meski filmnya belum rilis dan fandomnya… udah ada kali ya. apalagi setelah lihat trailer 3, lihat hubungan antara murph dan cooper. begitu indah dan menyentuh. dramatis dan tragis.

Kamu bisa nonton trailernya di http://www.interstellarmovie.com/index-intl.php dan masukin kode akses 7201969. Atau nonton di di sini http://www.youtube.com/watch?v=agNJyNrKpxA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pergi ke Bintang at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: