Alvumauris

16 Agustus 2014 § Tinggalkan komentar

“Alina, kenapa menangis di luar?”

Sandra menghampiri balita perempuan yang duduk di undakan depan rumah. Sebenarnya dia tahu, itu pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Sebab Sandra mengerti apa yang terjadi. Dia menatap jendela rumah tetangganya itu sebelum duduk di samping Alina.

Keduanya sama-sama diam. Sandra mengelus bahu Alina pelan-pelan. Dia kenal anak perempuan itu sejak masih bayi. Dulu, dia sering ikut menjaganya di sela-sela libur bekerja. Suara-suara itu terdengar lagi. Teriakan yang bersahutan seolah tak akan berhenti. Di sisinya, Alina menutup telinga. Sandra merengkuh Alina dalam pelukannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata. Sesak memenuhi ruang benaknya. Tumbuh seiring dengan kebencian pada dirinya sendiri.

 

**

Sandra membenci pagi itu. Dia tidak seharusnya telat. Ini hari besar yang harus dilewatinya. Satu fase yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Dia menghentikan mobilnya sembarangan di lobi, meminta tolong pada valet yang ada. Kemudian lari terbirit-birit ke salah satu ruang hotel yang diadakan untuk konferensi pers.

Dia tidak sempat mandi, tidak sempat berganti pakaian. Padahal sejak dua hari lalu dia sudah menyiapkannya untuk hari ini. Perwakilan dari PR perusahaannya menunggu dengan wajah tidak sabar ketika pintu lift yang ditumpangi Sandra sampai di lantai tujuan. Dia menyeret Sandra sambil mengomel. Kalau saja Sandra bukan gadis kesayangan perusahaan itu, mungkin saja dia bisa diperlakukan lebih buruk.

Kursi-kursi sudah dipenuhi para wartawan yang tidak sabar. Mereka yang menerima undangan dengan perihal pengumuman misterius. Sesuatu yang sudah dinanti sejak lama. Sesuatu yang akan membuat perubahan di negeri tersebut.

Kini, setelah terlambat setengah jam, Pharmakorgana siap untuk memberitahu dunia.

Bersiap-siaplah untuk “Alvumauris”.

**

“Alvumauris” adalah ramuan yang berasal ekstrak herbal dan formula rahasia dari Pharmakogana. Hasil penelitian selama bertahun-tahun dari tim riset perusahaan tersebut, yang dipimpin seorang ilmuwan muda dan cantik, Sandra Serkov. Dalam waktu singkat “Alvumauris” laris manis di pasaran. Meningkatkan kinerja pekerja di berbagai lini karena mengurangi rasa galau dan sedih akibat rindu. Menimbulkan rasa tenang dan dorongan untuk melakukan pekerjaan terus-menerus.

Sandra menjadi selebriti. Sekarang dia duduk di sofa merah, khas dari talkshow Jimmy Chow yang begitu populer. Dia merasakan keringat di punggungnya. Mencoba untuk mempertahankan tatapan dari seluruh penonton di studio. Jangan menunduk. Jangan menunduk. Akan tetapi, Sandra tidak pernah terlalu cakap menghadapi banyak orang.

“Jadi, Miss Sandra Serkov, ceritakan kepada kami dari mana mendapatkan ide untuk Alvumauris? Apakah cerita ini termasuk ‘classified’ seperti halnya bahan-bahan untuk Alvumauris dan lokasi pembuatannya yang sangat rahasia?” Jimmy melontarkan pertanyaan yang disambut dengan tepuk tangan.

Belum pernah Sandra mendapatkan pertanyaan itu. Mereka yang peduli kepada sains dari Alvumauris tidak akan pernah mengira bahwa alasan Sandra begitu sederhana.

**

Sama sekali tak pernah mampir dalam pikirannya, pindah ke lingkungan Autumn Hills akan menjadi tiket masa depannya yang cerah. Rumah barunya, townhouse mungil dengan desain modern minimalis dan halaman kecil di belakang. Baru saja Sandra mengetahui kalau tetangga depannya adalah penulis fiksi ilmiah favoritnya. Dan dia, Jonathan Marret, jauh lebih muda daripada yang Sandra pikirkan. Jonathan dan istrinya, Lisa, baru saja memiliki seorang anak perempuan bernama Alina.

“Aku baru diterima kerja di Pharmakorgana,” ujar Sandra kepada pasangan suami itu ketika mereka makan malam bersama.

“Perusahaan bagus. Reputasinya baik di masyarakat. Agak kontroversial, tetapi mereka selalu bisa membuktikan bahwa produknya manjur,” sahut Jonathan, sambil saling lirik bersama Lisa.

“Kamu tahu cerita di balik nama Pharmakorgana, Sandra?” Gadis itu mengernyitkan dahi, mengalihkan lagi tatapan kepada Lisa. Baru saja dia sadari terlalu lama memandangi Jonathan yang sedang menyesap wine.

Sandra menggeleng.

Phar-ma-kor-ga-na. Nama itu berasal dari frasa fata morgana,” Lisa mencondongkan tubuh, merendahkan suaranya.

“Aku bukan sarjana bahasa.”

Lisa tertawa kecil. “Fata morgana adalah ilusi optik yang muncul di dekat horizon. Misalnya, saat udara panas, kamu seakan-akan melihat ada air di kejauhan.”

Sandra mengangguk. “Pharmakorgana dari fata morgana….”

“Lihat saja produk-produk yang jadi unggulan mereka, penghilang kebencian, pendorong daya lupa, pengabur persepsi pada waktu.” Jonathan tertawa. Tubuhnya berguncang-guncang seiring dengan suara renyahnya memenuhi ruangan. “Namun itu yang aku kagumi dari mereka. Ada di batas realitas dan fiksi. Tunggu saja sampai mereka membuat ramuan cinta.”

Kedua pasangan itu tertawa sembari menggenggam tangan satu sama lain. Sandra ikut-ikutan tertawa dan mengeratkan pegangannya ke leher gelas berisi wine yang kini kosong.

**

“Sandra, boleh aku minta tolong?”

Sandra mengucek mata. Ketukan pintu dari Jonathan membuatnya bangun dari tidur. Ini hari Sabtu. Hari libur bagi Sandra.

“Lisa sedang berada di luar kota. Sementara, aku baru saja mendapatkan email dari editorku tentang revisi yang harus kusetorkan hari ini. Maukah kamu membantuku menjaga Alina?” ujar Jonathan. Matanya dihiasi kantong gelap. Tampaknya ini minggu yang berat baginya, sama dengan Sandra.

Setengah hati Sandra menyeret badannya ke rumah depan. Jonathan tidak memberinya kesempatan untuk mandi, apalagi sarapan. Dia hanya menjanjikan kalau Sandra boleh membaca draf yang sedang dikerjakannya itu nanti.

Untungnya Alina tidak rewel dan gampang akrab. Mereka main-main di halaman belakang sampai Jonathan memanggil untuk makan siang. Sandra meminta izin untuk pulang, tetapi pria manis itu melarang. Terpaksa, Sandra ikut makan siang bersama Jonathan dan Alina. Seperti keluarga kecil. Sandra merasa hangat dan senang berada di sana. Dia sudah lupa kapan terakhir duduk semeja untuk makan bersama keluarganya.

**

Beberapa bulan sudah berlalu sejak hari pertama Sandra di Pharmakorgana. Dia masih tinggal di townhouse kecilnya. Hanya seorang diri. Interior tempat itu nyaris tidak bertambah, hanya tumpukan buku yang semakin banyak dan sebuah meja kecil di dekat jendela halaman belakang yang tak pernah dipindah posisinya. Jonathan senang menulis di sana, sembari mengamati Alina bermain dengan Sandra.

Kunjungan-kunjungan mereka berdua kini menjadi rutin. Sandra selalu berharap deadline bagi Jonathan datang terus menerus. Sehingga ketukan bernada khas Jonathan di pintunya akan terdengar lagi dan lagi. Kini, Sandra akan memasak dengan senang hati. Bahkan, dia sudah tahu apa makanan kegemaran pria itu.

Akan tetapi, kesenangannya itu seringkali hanya sementara. Di tengah-tengah, selalu saja ponsel Jonathan berdering. Lisa menelepon entah dari kota apa, entah dari negara mana untuk bilang rindu kepada pria itu dan anak perempuannya. Setiap kali, muncul kata itu dari bibir Jonathan, Sandra ingin menutup telinga, namun yang hanya dia bisa lakukan adalah membuang muka.

“Nggak berat ya? Terpisah gini, kangen-kangen terus?” tanya Sandra setelah telepon singkat itu selesai.

Jonathan menatapnya. Matanya biru sedalam lautan. Senyumnya terbit perlahan, menampakkan lesung pipi.

“Bahkan, kalau dia ada di sebelahku, aku tetap rindu. Mungkin yang berat kalau kangennya hanya sebelah tangan.”

Sandra membeku. Hatinya mencelus dan merintih. Pedih sekali.

“Aku lihat hal tersebut sekarang jadi fenomena di kalangan anak muda. Jadi alasan ketika mood mereka memburuk yang menyebabkan produktivitas kerja menurun. Kalau itu terjadi terus menerus bisa berbahaya.”

Tatapan Sandra tak berpindah. Jonathan mengatakan apa yang sedang dialami Sandra sekarang dengan jitu.

Akan tetapi, Sandra yakin pria itu tak pernah tahu. Tak pernah mengira sedalam apa Sandra merindukannya setiap hari.

**

“Jadi, Miss Sandra Serkov, ceritakan kepada kami dari mana mendapatkan ide untuk Alvumauris?”

“Aku jatuh cinta kepada seorang pria. Pria itu sudah berpasangan dan aku kurang beruntung karena pria itu selalu rindu kepada pasangannya. Itu alasanku menciptakan Alvumauris.”

Untuk menghapus rindu Jonathan kepada Lisa. Juga meluruhkan rindu banyak orang lainnya agar mereka bekerja seperti robot. Tak ada persepsi. Tak ada empati. Tak ada emosi. Sekarang, semua itu terjadi. Menjadi kenyataan yang tak terelakkan.

Sandra diminta untuk menciptakan ramuan cinta. Akan tetapi, dia ketakutan. Sama seperti rindu, cinta adalah perasaan. Dia sedang jatuh cinta kepada Jonathan. Cinta yang murni. Terbayang di kepalanya, jika cinta dikontaminasi zat kimia buatan. Cinta apa itu? Sandra memilih meninggalkan Pharmakorgana.

Meskipun begitu, bukan berarti ramuan cinta itu—Amoris, belum selesai Sandra buat ketika melangkah keluar dari perusahan obat terbesar itu.

**

Tahun setelahnya, meski produksi “Alvumauris” sempat dihentikan, karena terjadi peningkatan angka perceraian, penurunan tajam jumlah pernikahan dan kelahiran anak, produk tersebut masih beredar secara diam-diam. Dijual dalam bentuk sachet tak bermerek. Bahkan, Sandra tahu benar kalau pemerintah masih memesan dalam jumlah besar. Mereka butuh pekerja berkualitas.

Sandra menghabiskan hari-harinya dari satu terapis ke terapis lain. Dimulai pada suatu malam ketika ada yang melempari mobilnya dengan telur. Beberapa kali dia mendapatkan kiriman tikus mati di depan rumahnya. Jonathan membantunya menyingkirkan itu. Akan tetapi, hubungan mereka mendingin. Itulah kenapa, Sandra buru-buru menyempurnakan formula Amoris. Dia tidak ingin pria itu jarang tersenyum seperti sekarang.

Dia duduk, mendekap Alina. Membenci dirinya sendiri. Sementara kedua tangannya memeluk Alina, dia tidak bisa memblokir suara-suara dari dalam rumah. Berbulan-bulan sudah hal seperti ini terulang lagi dan lagi. Jonathan dan Lisa yang bertengkar, menjerit, dan mengumpat satu sama lain.

Sandra merindukan tawa renyah dan senyum berhias lesung pipi. Kini hal itu langka. Bahkan, dia lupa kapan terakhir kali melihatnya.

**

Sandra dan Alina berada di saluran air bawah tanah. Mereka berdua berhati-hati meniti tangga. Berjalan di lantai logam terburu-buru. Sandra berdiri di salah satu pipa besar yang mengalirkan air ke seluruh kota.

“Kita akan mengosongkan seluruh isi vial ini ke sana, Alina.”

Pada saat itu, cahaya terang menyorot ke arah Sandra. Sekelompok orang berseragam mengarahkan pistol serempak, mengagetkan Sandra dan membuatnya menjatuhkan vial-vialnya ke lantai. Pecah berantakan. Suara air memenuhi telinganya. Cairan dari vial yang pecah mengalir dan menguap dengan cepat. Hilang sudah kesempatannya.

Sandra hendak menarik Alina untuk lari, akan tetapi satu tembakan mengenai kakinya dengan cepat. Perempuan muda itu jatuh tersungkur. Pecahan vial melukai wajahnya. Sementara itu, seorang polisi perempuan mendekati Alina dan menggendongnya.

Samar-samar, Sandra mendengar.

Penculiknya sudah tertangkap.

**

Tak ada yang tahu keberadaan Alina. Jonathan dan Lisa mencari di sekeliling kompleks. Akan tetapi, sama sekali tak menemukannya. Sampai ada salah satu asisten rumah tangga yang memberitahu mereka kalau dia melihat Alina bersama Sandra.

Beberapa hari Sandra tidak kembali ke rumah. Saat rumah itu digeledah, ditemukan sebuah laboratorium rahasia berisi bahan-bahan kimia. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Entah apa yang akan dilakukan Sandra kepada Alina.

Jonathan dan Lisa berpelukan. Saling menguatkan. Mereka ingin saling menyalahkan, tapi tahu itu tak ada gunanya. Justru mereka sadar kalau lenyapnya Alina adalah kesalahan mereka. Alina harus kembali.

**

“Alina, ayo ikut aku.” Sandra berdiri. Dia punya rencana. Alina menatapnya, ke rumah, lalu ke wajah Sandra. Karena Alina tidak segera menjawab, Sandra menggendong anak itu. Membawanya lari ke dalam rumah, menjauh dari pertengkaran kedua orang tuanya.

Mereka berdua menuju basemen.

“Sandra, mau apa kita di sini?” Alina memegangi ujung mantel Sandra di ruang gelap itu. Saklar lantai itu ternyata rusak, dia harus meraba-raba dinding untuk sampai ke lemari yang dituju.

Sandra menemukan lemarinya. Alina masih sesenggukkan dan berulang kali meminta agar boleh kembali kepada papa. Namun, Sandra melarang. Dia membuka gembok di lemari tersebut. Ketika terbuka, cahaya terang dan uap dingin keluar dari sana. Di dalamnya, berjajar vial-vial berisi cairan warna merah jambu, Amoris. Sandra mengambil semua persediaannya. Dia mengalah, menanggalkan kesempatan untuk membuat rindunya kepada Jonathan terbalaskan.

Dia tak pernah mencintaiku. Tak akan pernah.

“Kita akan menyelamatkan ayah dan ibumu, Alina.”

Dan semua orang di kota ini.

fin. 7-8-14.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Alvumauris at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: