Boleh aku meneleponmu?

11 September 2014 § Tinggalkan komentar

“Boleh aku meneleponmu?”

Malam menua dan aku belum dapat memejamkan mata. Selepas jam tidur regulerku, terlelap menjadi sulit. Kadang-kadang aku terjaga sepanjang malam. Saat pagi terlalu muda, baru aku bisa bermimpi.

“Boleh aku meneleponmu?”

Pertanyaan itu kembali terngiang. Berulang kali hingga aku bosan. Dilontarkan tanpa nada mengiba atau antusias. Hanya datar. Mungkin diselubungi takut atas penolakan. Mungkin ditemani sungkan karena kita hanya kenalan.

Jadi, aku berusaha mengusir pertanyaan itu. Membiarkan suaramu memenuhi kamarku. Renyah dan menyenangkan. Dalam dan menghanyutkan. Berganti-ganti sesuai cerita yang kaubacakan. Dari dongeng-dongeng Grimm sampai cerita pendek yang lebih moderen. Kamu hanya bilang senang membacakan untuk orang lain. Menggunggahnya ke Soundcloud dan kuunduh diam-diam.

Aku juga suka menulis kisah. Andai kamu tahu. Dan ya, kamu tahu. Lalu kita jadi kenalan.

Jadi, boleh aku meneleponmu?

Namun, malam sudah menua. Kurasa kamu sudah lelap di sana.

Malam ini berlalu dengan pertanyaan itu menggantung dalam kepalaku. Selanjutnya, malam-malam yang ada berakhir dengan pertanyaan yang sama.

**

Malam masih muda pada suatu kala aku menerima sebuah pesan.

Boleh aku meneleponmu?

Aku terdiam lama. Tidak membalas pesan itu. Namun, membacanya berkali-kali. Mengharap setiap deretan kata. Menganalisis struktur kalimat yang kautulis. Apa cerita yang bisa kureka dari pertanyaan itu?

Hingga malam menua, aku tenggelam dalam resah. Jantung yang dipompa kuat-kuat setiap kali melirik layar ponsel. Apa yang harus kuperbuat?

Mengapa jatuh cinta bisa begitu rumit? Padahal, aku hanya perlu menjawab ‘ya’. Datang persis seperti yang kuharapkan. Serupa yang kubayangkan, tetapi itu justru menggelar kengerianku. Apa maksudmu?

Kita hanya kenalan.

Pesan itu terbengkalai tanpa jawaban. Pada akhirnya, ponselku tetap berbunyi. Namamu menari-nari di layar. Cahayanya berkedap-kedip. Aku ingin melompat-lompat di atas ranjangku. Namun, yang kulakukan hanya duduk membisu, memandangi namamu, fotomu, deretan angka yang menjembatani kita berdua.

Butuh dua kali usaha menelepon, sampai aku memberanikan diri menerimanya.

Flora, maaf menganggumu malam-malam. Tapi, aku ingin minta tolong sesuatu.

Aku membisu. Susah bicara.

Flora? Kamu dengar aku?

Tentu saja aku dengar. Aku hanya terlalu menikmati vokalnya secara langsung. Aku ingin dia yang terus bicara.

Flora, kamu udah tidur ya? Aku telepon lagi besok. Ok?

Eh, aku masih di sini, Aldar. Aku dengar kok. Jangan. Jangan pergi. Aku sudah lama menantikan ini.

Suaramu kedengeran aneh, he he. Aku ingin minta tolong dibuatkan cerita. Ya, kalau kamu nggak keberatan sih.

Cuma dibuatin cerita? Aku nggak keberatan sama sekali. Kapan mau diambil, Aldar?

Nanti aku telepon lagi ya. Dibuat aja dulu, Flora. Tema ceritanya terserah kamu aja. Fiksi ilmiah boleh. Dongeng anak juga oke. Atau thriller juga aku terima.

Duh, malah bingung.

Aku telepon lagi besok, Flora?

Aku mengangguk. Kamu tidak melihatnya, tetapi tahu itu saatnya memutuskan panggilan.

**

Boleh aku meneleponmu? Ceritanya sudah selesai kutulis.

Tentu saja, Flora.

Tanganku gemetaran saat mencari namanya di daftar kontak. Aldar. Ada di daftar teratas. Namun, untuk memutuskan menghubunginya butuh lima menit lebih. Bagaimana jika dia tidak menyukai cerita yang kutulis?

Aldar?

Suaraku gemetaran.

Aku sudah nunggu dari tadi. Ayo Flora, bacakan cerita yang kamu buat. Aku benar-benar penasaran.

Aku kira aku sudah bicara padanya lewat telepon. Nyatanya aku masih diam dan mematung. Kertas-kertas terserak di hadapanku. Penuh coretan, alih-alih tulisan tanganku. Aku berusaha keras mengarang cerita terbaik untuk Aldar. Satu. Dua. Tiga. Aku terus merasa gagal. Tak ada yang indah untuk suaranya yang renyah.

Jadi, malam-malam kembali datang ketika aku bergulat dengan pertanyaan yang sejak dulu kupelihara.

“Boleh aku meneleponmu?”

Pertanyaan yang bersarang di benak. Mengakar bagai benalu. Namun, aku tak pernah berani mencerabutnya. Aku menunggu. Jika, Aldar menghubungiku lagi, aku sudah punya cerita. Satu. Dua. Tiga. Aku akan menuturkan tentang mimpi yang jadi nyata.

11/9/14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Boleh aku meneleponmu? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: